Kayla menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Aku tidak bicara jika aku akan berhenti, Mama. Sakit hati itu masih membekas. Bahkan, Aunty Kasih pun meninggal karena ulah Miranda. Dia adalah bomerang yang harus dimusnahkan! Bukan dengan tanganku. Melainkan karena penyesalannya."
Laras tersenyum kembali. "Tidurlah. Sudah malam. Sudah berapa lama, kamu bekerja sebagai sekretaris Jason?"
"Baru mau dua minggu. Dua hari setelah Bisma menikah, aku mencari tahu suaminya Miranda. Dan ternyata, pucuk dicinta ulam pun tiba. Dia sedang membutuhkan sekretaris karena sekretarisnya cuti melahirkan."
"Begitu. Baguslah. Setidaknya kamu bisa merebut hati Jason dan membuatnya melupakan janji yang sudah dia berikan kepada Miranda."
Kayla tersenyum tipis. "Dia juga bicara seperti itu. Tidak pernah sekali pun mengkhianati Miranda. Tapi, karena kehadiranku ... dia mengingkari semuanya. Aku sudah merusak otaknya agar mencintaiku."
"Dan kamu berniat untuk mencintainya balik?" tanya Laras kemudian.
Kayla mengendikan bahunya. "Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Aku tidak mau jadi orang munafik. Jika ternyata nanti aku mencintainya, padahal aku sudah bersumpah tidak akan mencintainya."
Laras terkekeh pelan. "Mama pulang. Lusa, Mama mau traveling dengan Crish ke Labuan Bajo."
Perempuan itu lantas bangun dari duduknya kemudian pamit pulang. Kini, hanya ada dirinya di dalam unit apartemen itu. Setelahnya, ia pun masuk ke dalam kamarnya.
Membuka seluruh pakaiannya untuk membersihkan diri, berendam di dalam bath tub. Ia teringat kembali dengan ucapan sang mama mengenai Kasih yang meninggal dunia akibat bunuh diri. Diakibatkan oleh Miranda yang sudah membuatnya patah hati bahkan mencuri Jason darinya.
"Kenapa Aunty Kasih harus bunuh diri? Seharusnya Aunty juga sama sepertiku. Melawan! Hhh! Ini sih, namanya lemah. Aunty terlalu lemah."
"Siapa yang lemah?"
Kayla lantas menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah sumber suara. matanya membulat dengan sempurna kalau melihat Jason berdiri tepat di depannya. Tengah membuka seluruh pakaian yang dia kenakan.
"Jason! Sejak kapan kamu ada di sana? Kenapa tidak memberi tahu aku terlebih dahulu, kalau kamu akan ke sini?" seru Kayla menatap Jason tak percaya, jika pria itu bisa berada di depannya.
Jason menerbitkan senyum menyeringai. "Hei! Pemuas nafsuku. Kamu sendiri yang memberi kode akses untuk masuk ke dalam apartemenmu. Jadi, jangan salahkan aku jika aku datang kembali untuk meminta kamu memuaskan nafsuku," bisiknya kemudian menggigit telinga Kayla gemas.
"Euuhh!" Kayla melenguh pelan. "Tapi, Jason. Kenapa kamu datang kembali?"
Pria itu terkekeh pelan. "Aku ada di resto dekat sini. Dua jam lamanya menunggu mamamu pulang. Akhirnya pulang juga. Aku tidak bisa melupakan semua permainanmu, Honey!" Jason kembali berucap dengan suara sensualnya.
Kayla tersenyum miring. "Begitu rupanya. Kamu datang hanya untuk aku puaskan, heum?" ucapnya sembari mengusapi bibir Jason yang sudah basah.
"Itulah posisimu di luar jam kantor. Aah! Di jam kantor pun bisa, jika ada waktu."
Kayla berdecih pelan. "So! Apa yang ingin kamu lakukan padaku?"
Jason menggendong tubuh Kayla, keluar dari dalam bath tub. Kemudian menarik wajah itu dan meraup bibir perempuan itu dengan ganas.
"Jangan bertanya, apa yang akan aku lakukan padamu, Honey! Tentu saja aku minta dipuaskan," bisiknya parau.
Bahkan, sinyalnya sudah terpancar, begitu nyata dan keras. Kokoh bagai beton yang berdiri tegak.
"Oh! Setelah ini, ada yang ingin aku tanyakan padamu, Jason."
Jason kembali meraup bibir itu. Kemudian menggigitnya karena gemas. "Tanyakan saja. Asalkan puaskan aku dulu. Aku tidak bisa konsentrasi jika adikku tidak diberi masuk ke dalam gua barunya."
Kayla tersenyum menyeringai. Lantas perempuan itu mengambil alih. Memegang pedang pusaka itu lalu melahapnya. Erangan pun keluar dari mulut Jason. Tangannya menjambak rambut Kayla lantaran menahan rasa nikmat yang tengah dia rasakan.
"Oohh!! Shiitt! f**k you, Honey!" raung Jason menikmati permainan Kayla.
Perempuan itu pantas dijuluki pemuas nafsu bosnya. Tak ayal jika Jason berpindah hati kepada Kayla. Bahkan, perempuan itu bisa mengalahkan permainan yang Miranda berikan padanya.
Sampai akhirnya pergulatan yang hanya memakan waktu lima belas menit lamanya itu selesai. Lantaran waktu sudah menunjuk angka dua belas malam.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Jason sembari mengeringkan rambutnya.
Kayla melingkarkan tangannya di leher jenjang milik Jason. Bibirnya tersenyum manis kemudian menghela napasnya dengan panjang.
"Jika ada wanita yang jauh lebih hebat dariku, apakah hatimu akan berpindah ke sana? Habis manis sepah dibuang. Apakah kamu akan melakukan hal yang sama, yang sudah kamu lakukan pada Miranda?"
Jason mengecup bibir Kayla singkat. "Sepertinya, aku hanya akan berkhianat kepada kamu saja. Jika terus mencari yang lebih, tidak akan dapat. Cukup berpindah dari satu hati ke hati yang lain. Yaitu kamu. Bisa kah, kamu percaya padaku?"
Kayla tersenyum manis mendengarnya. "Lalu, bagaimana dengan Kasih? Butuh berapa lama, kamu berpindah ke hati Miranda, setelah kepergiannya?"
Jason lantas mengerutkan keningnya setelah mendengar Kayla menyebut nama ‘Kasih’ bahkan bertanya tentang hatinya untuk Kasih dulu.
“Dari mana kamu tahu, tentang Kasih?” tanya Jason penuh curiga.
Kayla menghela napas pelan. “Bagaimana ceritanya, kamu mengenal Kasih tapi tidak mengenal mamaku?” Kayla balik bertanya.
“Aku tidak paham maksud kamu, Kayla. Apa hubungannya, Kasih dengan mamamu? Memangnya mereka saudara?” tanyanya benar-benar tidak paham dengan ucapan Kayla.
Perempuan itu lantas terdiam. Jason tidak mengenal mamanya. Ia hanya menatap Jason yang tengah memperlihatkan wajah bingungnya.
“Kasih. Dia meninggal karena ulah Miranda yang sudah merebut kamu,” kata Kayla menjelaskan.
Jason tertawa campah. “Honey! Kamu tidak tahu apa-apa tentang masa lalu itu. Miranda tidak pernah merebutku dari Kasih. Dia sendiri yang memilih pergi bersama pria lain, bahkan tidur dengannya!”
Kayla tersenyum campah. Ia kemudian menghela napasnya dan manggut-manggut dengan pelan. ‘Begitu rupanya. Dia masih menganggap Aunty Kasih telah mengkhianatinya. Baiklah. Akan aku perlihatkan semuanya setelah Miranda pulang dari luar negeri,’ ucapnya kemudian tersenyum menyeringai.
“Oh! Aku pikir, kamu sudah mengkhianatinya dengan menikahi Miranda.”
Jason menggeleng dengan pelan. “Mamaku lebih menyukai Miranda. Dan orang tuaku menunjukkan sifat asli Kasih. Dia berkhianat dan ketahuan oleh orang tuaku. Mereka semakin membencinya. Pun denganku.”
Hati Kayla semakin panas. Emosinya meletup-letup karena ternyata Miranda juga meracun pikiran orang tua Jason.
‘Pantas saja, Mama marah banget ke si Miranda. Ternyata, hatinya benar-benar busuk. Astaga! Aku harus mengorek semua kisah mereka dan … tugasku jadi double. Haaiis! Tapi, aku penasaran dan rasanya ingin sekali membombardir si Miranda itu. Dan mertuanya.’
Kayla menolehkan kepalanya dengan cepat kepada Jason. “Itu artinya, mamaku juga tidak akan pernah menyukaiku?” ucapnya sembari tersenyum pasi.
Jason mengendikan bahunya. “Mereka sudah menyayangi Miranda layaknya anak sendiri. Karena sudah memberinya dua orang cucu. Laki-laki dan perempuan. Kakakku sudah meninggal. Dan hanya aku satu-satunya yang bisa memberi mereka cucu. Itulah alasan kenapa mamaku sangat menyayangi Miranda.”
Kayla kembali tersenyum pasi. Dalam keluarga Jason, Miranda memiliki power yang cukup membuatnya bisa bertahan dengan Jason. Ia pasti akan dikuliti habis-habisan oleh Miranda dan juga mama Jason—Rosalina.
“Siapa nama orang tuamu? Dan … apakah papamu juga menyayangi Miranda, layaknya mamamu?” tanya Kayla ingin tahu.