Tempat kuliah lumayan jauh dari rumah. Naik angkutan baru naik KRL sampe kampus.
Dijalani El dengan senang hati. El dan Ol panggilan Olin,
"Kebetulan banget yaa. Keterima di jurusan yang sama, memang sudah janjian sepakat untuk ngampus sama.
Olin kost dekat kampus, kalau ada kuliah tambahan atau kegiatan kampus sampai larut Ellen biasanya tidur denagn Olin, seperti selama masa orientasi El tidur di kostan Ol.
Masa orientasi sudah selesai, saat ini sudah mulai kuliah.
“Ol aku seneng banget looh bisa kuliah ditempat yang sama.” El membuka pembicaraan.
“Iya hanya kita yang tau gimana susahnya hidup, ngirit uang makan, ga berani nongkrong di kantin. Untuk makan selalu bekal.
“Elu kan dapat jatah dr tuanmu. Kenapa harus ngirit banget.” Ujar Olin
“Teteplah kita harus jaga-jaga ke depan siapa tau ada keperluan yang mendadak, aku selama ini ga mau memakainya.”
“Gue berharap dapat beasiswa ke Eropa atau ke Australia. Aku ingin sekali jadi orang sukses, ingin membahagiakan ibu dan bapakku, mereka sudah tua ga perlu bekerja lagi.”
“Elu ketemu mereka padahal baru tiga tahun, tapi elu sayang banget ya,”
“Jadi apa gw kalau dulu mereka ga menerimaku, aku akan jadi gembel dijalanan. Tuhan begitu baik menggerakkan hati mereka untuk merawatku.”El terharu.
“Ayo Ol, bentar lagi jam kuliah.” Ol dan El bergandengan tangan.
“Dosen kita hari ini ganteng banget, suka curi-curi pandang sama elu.” Olin bersemangat,”
Lu sekarang dah kuliah harus membuka diri pertemanan yang lebih luas, terkadang info diketahui dari teman.
“Iya Ol dulu kita nutup diri supaya ga sakit hati dihina miskin. Sekarang kita ga kekurangan karena dapat beasiswa.”
“Siapa lagi yang akan membully elu biar miskin lu pinter dan cantik.”
“Ngomong-ngomong lu ga naksir tuan mu katanya ganteng sekali.”
“Nggaklaah, dia itu seperti bulan kelihatan dekat terang benderang tapi tidak bisa dijangkau.
Jangankan untuk cinta, untuk menatap saja gw ga berani.”
Mereka duduk bersebelahan di kelas ga lama kemudian dosen datang.
Sekarang El membuka diri untuk ikut berbagai kegiatan, karena untuk dapat beasiswa tidak hanya nilai bagus, tapi ikut aktif nggaknya kita ikut berpengaruh.
“Hai El, mau pulang ? bareng yuk.” Gladwell seniornya di kampus ngajak bareng.
Gladwell adalah cowok terpopuler di fakultasnya, seperti biasa tipikalnya ganteng kaya pintar, di gilai banyak cewek.
“Nggak Glad.” El menggeleng.
“Kenapa nggak,” Gladwell adalah mahasiswa yang paling gencar mendekati El.
“Nggak bisa, aku harus kerja part time hari ini.”
“Ya sudah aku antar ke tempat kerja.”
Akhirnya El nyerah.
“Kamu ga cape harus nyambi kerja?” Gladwell membuka pembicaraan.
“Ya lumayan juga, tapi disini banyak waktu luang tamu ga begitu banyak yang datang, trus santai karena bukan perusahaan, walau bayaran nya ga sebesar di perusahaan lumayan bisa
mengurangi beban orangtuaku.”
Gladwell makin respek dengan sifat El. Padahal dengan wajah yang cantik dia bisa mencari orang kaya untuk menjadi pacarnya.
Gladwell pun meminjamkan buku yang dia beli untuk referensi tambahan yang di perpustakaan ga ada. Dia selalu memberikan buku-buku referensi untuk di baca.
Makin sini El makin dekat dengan Gladwell. Karena Dia membawa Aura positif pada El.
El kerja sebagai resepsionis dan pengajar di bimbingan selain ngajar, resepsionis waktunya ga terlalu padat jadi bisa disambi belajar.
***TBC