El skarang sudah selesai sekolah nunggu kuliah masih lama, jadi banyak di rumah, belajar bahasa Inggris lebih dalam, dan mengambil alih pekerjaan ibu angkatnya, dulu selagi sekolah ibunya melarang, sekarang ketika libur yang banyak kerja El.
“El,…” pintu kamar diketuk mang Soleh.
“Ada apa Pak.” El kaget ga biasanya bapaknya mengetuk kamar.
“Ibumu ga enak badan, tolong buatkan minum dan sarapan untuk Tuan muda,”
‘Ibu sakit pak?” El langsung ke kamar ibunya.
“Bu jangan kerja dulu biar El yang ngurus semuanya, ibu istirahat saja. El bikinkan bubur biar bisa minum obat.” El sangat khawatir melihat ibunya demam.
“Hanya demam, jangan mengkhawatir kan ibu.”
“Setelah beres semua kerjaan, ibu nanti ke dokter yaa El sama Bapak antar.”
El beranjak ke dapur untuk menyediakan sarapan, hanya roti dan selai. Karena waktunya sangat mepet tadi ngurus ibunya dulu bikin bubur.
Ketika Willy datang.
“Maaf tuan, saya ga sempat buatkan sarapan hanya ada roti dan selai, Ibu tadi sakit.”
“Iya ga apa-apa, tolong bikin kopi.” Willy ga lepas pandangan dari El yang pake kaos oblong longgar dan hotpants, rambutnya di cepol ke atas memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Dalam keadaan polos begitu mempesona
“Tuhan menciptakan anak ini lagi seneng kali ya, begitu sempurna.” Gumam Willy.
“Apa tuan ?” El tanya, karena ga kedengaran gumaman Willy.
“Ga apa-apa. Mana kopinya .” Willy gelagapan.
“Katanya kamu sudah selesai SLTA nya,”
“Sudah tuan, terima kasih telah membantu membiayai sekolah saya. Saya diterima di universitas x, dan dapat beasiswa penuh dengan tunjangan hidup. Jadi ke depan tuan ga perlu
lagi membiayai saya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.”
Willy mengangguk.” Kamu kan tetep perlu buat beli keperluan lain lagi selain keperluan sekolah.”
“Saya akan berusaha kerja paruh waktu atau menjadi guru les di bimbingan belajar.”
“Ga usah kerja, nanti terganggu kuliahnya.”
“Ahh Tuan juga kuliah sambil kerja bisa, padahal tuan ga butuh uang bukan.”
El menjawab sambil tersenyum.
Deg… aduh senyumnya menawan sekali.
“berbeda El kuliah sarjana dengan master, kalau master banyak waktu yang longgar. Ga sepadat sarjana strata satu.”
“Ngambil jurusan apa kuliahnya El?”
“Tadinya ingin di kedokteran, tapi takut lama dan biayanya tinggi, akhirnya saya memilih di jurusan Bisnis Internasional” jawab El
“Wah sama kalau gitu, kalau ada yang ditanyain masalah kuliah boleh tanya, nanti magang di kantor saya saja. Lagian sekarang saya sudah selesai masternya kalau kamu mau tanya tinggal ketok saja kamar atau ruang kerja saya, ga usah sungkan.”
El mengangguk, “Makasih sebelumnya.”
***TBC