03 Tak Disangka

1012 Words
Ketika mulai sekolah, sebenernya sekolah sudah berjalan 1 bulan, tapi Ellen meyakinkan akan berusaha mengejar ketinggalan. Dan ternyata memang Ellen mampu mengejar ketinggalan. Sekarang Ellen ga maau manggil Bi Ijah bibi dia manggil bi Ijah Ibu dan Mang Soleh di panggil Bapak, katanya biar berasa manggil orangtua. Makin kesini Ellen makin kelihatan bersih bening, Bi Ijah sampai terkagum-kagum. Karena waktu datang ke sini kulitnya kusam ga terurus, kurus, banyak lebam mukanya ga terurus. “Kang, ga nyangka yaa, anak kita Ellen setelah terurus baru kelihatan begitu cantik dan bening.” Bi Ijah ngobrol dengan suaminya. “Badan Ellen mulai berisi, bersih dan yang terutama pintar dan rajin,” beruntung sekali kita memungut dia. Ellen sangat menghindari ketemu dengan Willy jadi kalo bantu Bi Ijah selagi willy tidak di rumah atau lagi kamar, jarang juga papasan karena kamar Ellen terpisah dengan rumah induk, keluar masuk ruang belakang lewat samping ada pintu terpisah. Setelah sekolah Ellen dilarang membantu banyak karena Bi Ijah ingin Ellen belajar. Tak terasa Ellen hampir setahun tinggal bersama Bi Ijah. “Bu, Bapak, maaf ga bisa bantu minngu ini El semesteran, ingin fokus belajar. Mau ngejar beasiswa.” “Iya ga apa-apa, ibu mengerti.” Jawab Bi Ijah. “El mau jadi anak yang membanggakan Bapak sama Ibu” Willy tiap bulan nambahin gaji Bi Ijah untuk kebutuhan Ellen. Ellen tidak menyia-nyiakan kesempaatan yang diberikan padanya untuk benar-benar meraih impian. Ga terasa waktu berlalu, setelah setahun pembagian raport kenaikan kelas, Ellen juara 1 di kelasnya. “El juara kelas, makasih bu, bapak, karena kebaikan kalian El bisa sekolah.” El segera memeluk ibu bapaknya ketika sampai rumah. “Kamu ga usah banyak membantu ibu, kamu belajar saja yang rajin, Ibu akan berusaha untuk menyekolahkanmu sampai kuliah.” “Terima kasih Bu,” Ellen terisak sangat terharu. = = = = = Hari berganti, tak terasa hampir 3 tahun El sudah numpang di rumahnya Willy. Walaupun sibuk sekolah, selalu membiasakan berenang karena rumah majikannya ada kolam renang. Dia selalu mencari waktu berenang kalau tidak ada Willy. El tahu jadwalnya willy kerja. Selagi ada ayahnya dulu, El selalu berenang sama ayahnya. Karena ayahnya sangat menyukai olah raga renang. Akhirnya El pun menyukai olahraga renang. Sekarang kalo dia sedang berenang merasa sedang dekat bapaknya. Suatu hari dengan santainya, El berenang, dia tidak sadar willy ada di kamarnya, dan ibunya lupa tidak memberi tahu Willy ada di rumah. Tiba-tiba willy terganggu suara berisik dari arah kolam renang, jendela kamar willy menghadap kolam renang. Dia melihat ke kolam renang, Kaget ada perempuan yang renang dengan lincahnya. “Siapakah dia, berani-beraninya renang di sini “ gumam Willy. Willy pun turun, penasaran ingin tahu siapa yang renang disitu. Dia berdiri depan kolam renang yang ujungnya jadi tujuan akhir El yang sedang berenang. Ketika sampai diujung, El sangat kaget. Dia menenggelamkan diri saking malunya. Tapi akhirnya naik juga. “Tuan, maaf saya berenang tidak minta ijin tuan “ El menunduk. “Kamu siapa “ “Tuan ga ingat, saya Ellen yang dulu pingsan di tolong tuan.” El cepet-cepet ambil handuk untuk nutupin badan nya. “Haah El yang dulu pingsan,” Willy kaget, “ ya sudah teruskan renangnya kalo masih mau.” El mengangguk. “Kita jarang sekali ketemu, sekalinya ketemu sekilas itupun kamu selalu memakai jacket hoodie longgar. Kalau ketemu di jalan aku ga akan hapal looh.” Willy sedikit ramah karena ternyata cewek ini El. “Gila bagus banget bodynya El, cantik sekali. Ga nyangka bisa secantik itu.” Batin Willy. Willy beranjak masuk lagi ke rumah. Ternyata di sekolah juga El menjadi kembang sekolah, tapi cowok-cowok ga berani mendekat, selain dingin, cantik dan yang paling membuat cowok ga berani karena juara umum. Cowok-cowok jadi minder. Padahal El berikap dingin juga karena minder untuk bergaul dengan teman-temannya. Belum sekalipun mengajak temannya ke rumah. Dia hanya punya teman 1 sebangku, namanya Caroline di panggil Olin atau Ol. Olinpun walau ga miskin tapi keluarga sangat sederhana. Jadi cukup mengerti pada kesulitan Ellen. Waktu berjalan tak berasa, El bener-bener fokus belajar selain ingin mengejar beasiswa, El pun ingin menjadi anak yang membanggakan ibu bapak angkatnya. Mereka sangat menyayangi El. Sekarang hari kelulusan, Bi Ijah dan mang Soleh datang ke sekolah, semua ga nyangka karena penampilan yang sangat sederhana, bisa mempunyai anak yang pintar, cerdas dan sangat cantik tinggi semampai. Untuk mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan, pembagian kelulusan disekolah El yang datang dan mengambil orangtuanya. Bi Ijah dan mang Soleh terisak menangis haru ketika diumumkan nilai tertinggi adalah Ellen dan mendapatkan beasiswa di universitas terbaik. Willy POV Daddy, asli orang Inggris, Mommy orang Indonesia, setelah selesai sarjana aku pulang ke Indonesia. Di rumah saya sendirian, orang tua dan adiku tinggal di Inggris, aku di Jakarta karena ngurus perusahaan Daddy, sekalian nerusin sekolah master di disini. Sebenarnya cita-citanya ingin sekali jadi dosen. Aku jarang sekali dirumah, apalagi siang hari. Selain sibuk, kebanyakan aku nongkrong di Bar sobatku Xen, untuk melepas penat seharian. Hidupku monoton, kerja, kuliah master, pergi ke bar bersenang-senang dengan cewek. Pulang ke rumah hanya tidur. Hari itu, kebetulan ada perlu pulang ke rumah untuk membawa berkas yang ketinggalan. Ketika di gerbang sebelum pintu terbuka ada yang nubruk mobil. Setelah di bawa ke rumah Bi Ijah minta anak itu untuk tinggal di rumah. Setelah di ceritakan keadaan nya, kasihan juga akhirnya aku perbolehkan anak itu tinggal, lumayan untuk nemenin dia. Aku amat jarang melihat anak itu, apalagi ada pintu terpisah di samping , jadi boleh di bilang ga pernah lewat pintu depan, sekalinya melihat dia selalu pake jacket hoodie yang nutup kepalanya. Dan kalaupun ketemu selalu menunduk. Aku bangun tidur dia sudah berangkat, aku datang dia sudah dikamarnya, sabtu minggupun seringnya kumpul bersanma teman-teman. Ketika liat dia pake baju renang di depanku, aku sangat terkejut, badannya begitu putih mulus berisi, semampai wajahnya sangat menawan, ga nyangka anak yang dulu dekil bisa secantik itu. Sampai kamar aku kepikiran terus. Aku orang yang tidak percaya cinta. Cewek bagiku hanya untuk pemuas semalam saja. Ketika melihat El memakai baju renang sungguh hasratku terpancing. Aku berusaha mengenyahkan pikiran kotorku, “Jangan ganggu dia, dia sudah dianggap anak Bi Ijah.” bathinku ***TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD