NARA dan ARKA

1263 Words
Aluna berbaring di atas ranjangnya, menatap langit-langit kamar yang sudah sangat ia kenal sejak kecil. Namun kali ini, ruangan itu tidak lagi terasa nyaman. Ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang membuatnya sulit untuk benar-benar beristirahat. Pikirannya tidak berhenti bergerak. Pertemuan siang tadi terus berulang di kepalanya, seperti potongan-potongan yang tidak mau hilang. Cara Arka berbicara, nada suaranya yang tenang, dan kalimat-kalimatnya yang terasa aneh. Tidak memaksa, tidak juga membujuk. Tapi tetap membuat Aluna tidak bisa mengabaikannya. Ia membalikkan tubuhnya ke samping, meraih ponsel yang tergeletak di dekat bantal. Layar menyala. Nama Nara masih ada di sana. Seharusnya mudah, seharusnya ia tinggal menekan tombol panggil, seperti biasanya, lalu menceritakan semuanya tanpa ditahan. Namun kali ini ia tidak langsung melakukannya. Ada rasa ragu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Seolah ada sesuatu yang mengganjal, setelah beberapa detik, akhirnya ia tetap menekan tombol itu. Panggilan tersambung. “Halo?” suara Nara terdengar. “Nara,” panggil Aluna pelan. “Iya, Luna. Kamu kenapa?” tanya Nara, langsung menangkap nada suaranya. Aluna terdiam sejenak. “Aku tadi ketemu dia,” katanya akhirnya. “Dia?” ulang Nara. “Yang dijodohin itu.” Hening sejenak di seberang sana. “Gimana orangnya?” tanya Nara. Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun justru membuat Aluna bingung. Ia tidak tahu harus menjawab bagaimana. “Dia normal,” jawab Aluna akhirnya. “Normal?” Nara terdengar sedikit heran. “Maksudnya?” Aluna menghela napas pelan. “Nggak aneh, nggak nyebelin tapi juga nggak bisa dibilang baik.” “Jadi kamu nggak suka?” tanya Nara. Aluna tidak langsung menjawab. “Aku nggak kenal dia,” katanya pelan. “Ya bagus,” sahut Nara cepat. “Berarti nggak ada alasan buat lanjut.” Aluna tersenyum tipis, meski tidak terlihat. “Kalau cuma soal itu, mungkin gampang,” katanya. “Terus apanya yang susah?” tanya Nara. Aluna duduk perlahan di atas ranjang, memeluk lututnya. “Dia tahu tentang kamu,” ucapnya. “Dari siapa?” tanya Nara. “Orang tua aku.” Di seberang sana, Nara menghela napas. “Ya wajar sih,” katanya. “Terus?” “Dia nggak peduli,” lanjut Aluna. “Bagus dong,” jawab Nara. “Berarti dia juga nggak serius.” Aluna menggeleng, meski lagi-lagi tidak terlihat. “Bukan gitu,” katanya pelan. “Cara dia nggak peduli itu aneh.” “Kenapa aneh?” tanyanya heran. Aluna terdiam sejenak, mencoba mencari kata yang tepat. “Sepertinya dia sudah tahu semua ini bakal terjadi,” ucapnya akhirnya. Nara tidak langsung menjawab. “Luna,” katanya kemudian, “jangan terlalu dipikirin.” “Maksud kamu?” tanya Aluna. “Ini cuma perjodohan, bukan sesuatu yang kamu pilih,” jawab Nara. “Selama kamu nggak mau, ya nggak akan terjadi.” Aluna menunduk, ia ingin percaya itu, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. “Aku takut, Nara,” katanya pelan. Suaranya hampir seperti bisikan. “Takut apa?” tanya Nara, nadanya langsung berubah lebih lembut. “Aku takut, aku nggak bisa nolak.” Kalimat itu akhirnya keluar. Jujur, tanpa ditahan. Hening, cukup lama. “Kenapa kamu bilang begitu?” tanya Nara akhirnya. Aluna menutup matanya. “Karena ini bukan cuma soal aku,” jawabnya. Nara terdengar menghela napas panjang. “Luna,” katanya, kali ini lebih serius, “kalau kamu terus mikirin orang lain, kamu bakal kehilangan diri kamu sendiri.” Kalimat itu menancap dalam. Namun tidak serta-merta memberi jawaban. “Aku nggak tahu harus gimana,” ucap Aluna. “Pilih aku,” jawab Nara tanpa ragu. Aluna terdiam, jawaban itu terlalu cepat. Terlalu pasti dan justru membuat hatinya semakin berat. “Sesimpel itu menurut kamu?” tanyanya pelan. “Iya,” jawab Nara. “Karena dari awal, kita sudah memilih satu sama lain.” Aluna menunduk, ia ingin mengatakan iya, namun seperti ada sesuatu yang menahannya. “Aku capek, Nara,” katanya akhirnya. “Boleh kita lanjut besok aja?” Nara terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Iya, istirahat ya.” “Iya.” Panggilan itu berakhir, namun perasaan yang tersisa jauh dari kata selesai. Keesokan paginya, suasana rumah kembali seperti biasa. Namun bagi Aluna, semuanya terasa berbeda, ia membantu ibunya di dapur, meski lebih banyak memperhatikan daripada benar-benar bekerja. “Kamu nggak tidur ya semalam?” tanya ibunya sambil menuang teh. Aluna tersenyum kecil. “Tidur kok, Bu.” Ibunya menatapnya sejenak, seolah tidak sepenuhnya percaya. “Kalau capek, istirahat aja,” kata ibunya. “Iya,” jawab Aluna. Beberapa detik berlalu dalam diam. “Ibu,” panggil Aluna pelan. “Iya?” sahut ibunya. “Kalau aku nolak apa yang bakal terjadi?” tanya Aluna. Ibunya berhenti sejenak. Pertanyaan itu jelas tidak mudah dijawab. “Kita cari cara lain,” jawab ibunya akhirnya. “Cara lain seperti apa?” tanya Aluna lagi. Ibunya tidak langsung menjawab dan itu cukup menjadi jawaban. Aluna menunduk, ia sudah menduga. Tidak ada cara lain atau setidaknya tidak ada cara yang mudah. Siang harinya, ponsel Aluna bergetar. Nomor yang tidak dikenal muncul di layar. Aluna menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat. “Halo?” ucapnya hati-hati. “Halo. Aluna?” Suara itu langsung ia kenali yaitu Arka. “Iya,” jawab Aluna singkat. “Maaf mengganggu,” kata Arka. “Aku cuma ingin memastikan kamu tidak keberatan kalau aku menghubungi kamu.” Aluna sedikit terdiam. “Ngobrol aja langsung,” jawabnya. “Tentu,” balas Arka. “Kalau begitu, aku akan langsung ke intinya.” Aluna menunggu. “Aku tidak ingin pertemuan kemarin jadi satu-satunya dasar kamu menilai situasi ini,” lanjut Arka. Aluna mengernyit. “Maksudnya?” “Aku ingin kamu punya waktu untuk benar-benar mempertimbangkan semuanya,” jawab Arka. “Dan kamu pikir dengan ngobrol sama kamu bakal membantu?” tanya Aluna. “Aku tidak tahu,” jawab Arka jujur. “Tapi setidaknya kamu tidak membuat keputusan dalam keadaan marah.” Kalimat itu membuat Aluna sedikit terdiam. “Aku tidak marah,” katanya. “Baik,” jawab Arka tenang. “Kalau begitu, kamu tidak keberatan kalau kita bicara lagi?” Aluna ragu sejenak. “Aku nggak janji apa-apa,” katanya akhirnya. “Itu sudah cukup,” balas Arka. Percakapan itu berakhir tidak lama setelahnya, namun meninggalkan sesuatu yang sulit dijelaskan. Sore hari, Aluna duduk sendiri di teras rumah. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan kemarin. Ia menatap jalan di depannya, yang tidak terlalu ramai. Pikirannya kembali dipenuhi banyak hal. Nara, Arka dan keluarganya. Semua seperti saling tarik-menarik, tanpa memberi ruang untuk bernapas. Ia menghela napas panjang. “Luna.” Suara ayahnya membuatnya menoleh. Ayahnya duduk di kursi sebelahnya. “Kamu lagi mikir, ya?” tanya ayahnya. Aluna tersenyum tipis. “Kelihatan, ya?” Ayahnya mengangguk. “Bapak nggak mau kamu merasa sendirian,” kata ayahnya pelan. Aluna menatapnya. “Tapi aku memang sendirian di keputusan ini, Pak,” jawabnya jujur. Ayahnya tidak langsung membalas. Ia hanya menatap ke depan, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Kadang,” katanya pelan, “dalam hidup, kita harus memilih sesuatu yang tidak kita inginkan.” Aluna menunduk. “Aku tahu,” katanya. “Tapi itu tidak berarti kamu tidak punya pilihan,” lanjut ayahnya. Aluna mengernyit sedikit. “Maksud Bapak?” Ayahnya menoleh padanya. “Pilihan kamu adalah bagaimana kamu menjalaninya.” Kalimat itu terdengar aneh, namun juga masuk akal. Aluna terdiam. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak hanya memikirkan “menolak” atau “menerima”. Tapi bagaimana jika ia harus menghadapi semuanya? Dan malam itu, Aluna mulai mempertimbangkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan. Bukan tentang cinta, bukan tentang siapa yang ia pilih tapi tentang apa yang akan ia lakukan, jika ia benar-benar tidak bisa lari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD