Pagi itu langit di luar jendela masih berwarna abu-abu. Matahari belum sepenuhnya muncul, seolah ikut menunda hari yang tidak ingin ia jalani.
Aluna duduk di tepi ranjang, menatap lantai tanpa benar-benar melihat. Pertemuan hari ini terus berputar di kepalanya, membuat perutnya terasa tidak nyaman sejak bangun.
Arka Mahendra.
Nama itu kembali muncul.
Seseorang yang belum ia kenal, tapi sudah ikut campur dalam hidupnya.
“Luna, kamu sudah bangun?”
Suara ibunya terdengar dari luar kamar, diiringi ketukan pelan di pintu.
“Iya, Bu,” jawab Aluna, sedikit meninggikan suara.
“Jangan lama-lama ya, kita harus siap.”
Aluna menatap pintu beberapa detik setelah suara langkah ibunya menjauh.
"Kita harus siap."
Seolah ini acara penting, seolah ini sesuatu yang harus berjalan lancar.
Padahal baginya ini sesuatu yang ingin ia hindari.
Ia akhirnya berdiri, berjalan ke kamar mandi, dan membasuh wajahnya dengan air dingin.
Hari ini tetap akan datang dan ia tidak bisa lari.
Meja makan pagi itu terlihat lebih rapi dari biasanya.
Ibunya sudah duduk dengan pakaian yang lebih formal, rambutnya disisir rapi, meski wajahnya masih terlihat pucat. Ayahnya juga tampak lebih siap, mengenakan kemeja yang jarang ia pakai di rumah.
Aluna duduk pelan di kursinya.
“Ibu, ini cuma ketemu, kan?” tanyanya, mencoba memastikan.
Ibunya mengangguk. “Iya, cuma ketemu.”
“Bukan langsung membahas hal lain?” lanjut Aluna.
Ayahnya menatapnya sekilas. “Semua tergantung dari pertemuan hari ini.”
Jawaban itu tidak benar-benar menenangkan.
Aluna hanya mengangguk kecil, lalu mengambil gelas di depannya.
Tangannya terasa sedikit dingin.
Waktu berjalan lambat, setiap menit terasa lebih panjang dari biasanya.
Aluna beberapa kali melihat ke arah jam dinding, berharap waktu berhenti atau setidaknya melambat lebih jauh.
Namun kenyataannya tidak sampai akhirnya suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.
Aluna langsung menegang.
Ibunya berdiri lebih dulu. “Sepertinya sudah datang.”
Ayahnya ikut berdiri, merapikan kemejanya.
Aluna tetap di tempatnya.
Untuk beberapa detik, ia hanya diam, mencoba mengatur napasnya.
Namun langkah kaki dari luar rumah semakin mendekat.
Pintu dibuka dan suara sapaan terdengar.
“Selamat pagi,” ujar seorang pria dengan nada sopan.
“Pagi, silakan masuk,” jawab ayah Aluna.
Aluna akhirnya berdiri.
Refleks dan saat ia menoleh ke arah pintu ruang tamu ia melihatnya.
Pria itu masuk dengan langkah tenang. Tingginya di atas rata-rata, bahunya tegap, dan cara berjalannya menunjukkan kepercayaan diri yang tidak dibuat-buat. Ia mengenakan kemeja berwarna gelap yang rapi, dipadukan dengan celana panjang yang sederhana tapi terlihat mahal, wajahnya tidak banyak menunjukkan ekspresi.
Tatapannya tajam, tapi tidak kasar dan saat mata mereka bertemu ada jeda yang tidak bisa dijelaskan.
“Inilah Aluna,” kata ibunya, memecah suasana.
Aluna tersadar.
“Luna, ini Arka.”
Pria itu mengangguk sedikit. “Aluna.”
Suaranya tenang dan dalam.
Aluna membalas dengan anggukan kecil. “Mas,”
Sapaan itu terasa asing di lidahnya.
Mereka tidak berjabat tangan.
Percakapan awal berlangsung cukup formal.
Ayah dan ibu Aluna yang lebih banyak berbicara, menanyakan pekerjaan, keluarga, dan hal-hal umum lainnya. Arka menjawab dengan singkat, tetapi tetap sopan.
Aluna lebih banyak diam, sesekali ia mencuri pandang ke arah pria itu.
Arka terlihat tenang, tidak gugup, tidak juga terlihat terganggu.
Seolah situasi ini adalah sesuatu yang biasa baginya dan itu membuat Aluna sedikit kesal.
"Kenapa dia terlihat setenang itu?" Pikirnya.
Sementara dirinya merasa seperti sedang dipaksa masuk ke dalam sesuatu yang tidak ia inginkan.
“Luna,” panggil ibunya tiba-tiba, “temani Arka sebentar ya.”
Aluna langsung menoleh. “Bu,”
“Ibu sama Bapak mau ke belakang dulu,” lanjut ibunya, seolah tidak memberi ruang untuk menolak.
Beberapa detik kemudian, mereka benar-benar pergi.
Meninggalkan Aluna dan Arka berdua di ruang tamu, suasana langsung berubah.
Lebih sunyi dan lebih canggung.
Aluna menarik napas pelan sebelum akhirnya membuka suara.
“Aku nggak mau basa-basi,” katanya.
Arka menoleh padanya. “Baik.”
“Aku juga nggak akan muter-muter,” lanjut Aluna. “Aku nggak setuju dengan perjodohan ini.”
Kalimat itu keluar jelas tanpa ragu.
Arka tidak terlihat terkejut,.ia hanya menatap Aluna beberapa detik sebelum berkata, “Aku tahu.”
Aluna mengernyit. “Kamu tahu?”
“Iya,” jawab Arka singkat.
“Terus kenapa kamu tetap datang?” tanya Aluna.
Arka bersandar sedikit, tapi tetap menjaga jarak. “Karena ini bukan cuma soal setuju atau tidak.”
Aluna menghela napas, merasa familiar dengan kalimat itu.
“Kamu juga pakai alasan yang sama,” katanya.
“Ini bukan alasan,” balas Arka tenang. “Ini situasi.”
Aluna menatapnya tajam. “Situasi yang dibuat orang lain.”
“Dan sekarang kita ada di dalamnya,” jawab Arka.
Jawaban itu membuat Aluna terdiam sejenak.
“Aku punya seseorang,” katanya akhirnya.
Kalimat itu keluar lebih pelan, tapi jelas.
Arka mengangguk. “Aku tahu.”
Aluna sedikit terkejut. “Dari siapa?”
“Orang tuamu,” jawab Arka.
Aluna mengalihkan pandangannya, ada rasa tidak nyaman mengetahui hal itu dibicarakan.
“Namanya Nara, kan?” lanjut Arka.
Aluna langsung menoleh. “Kamu nggak perlu tahu sejauh itu.”
“Aku cuma memastikan,” kata Arka datar.
Aluna menghela napas.
“Aku mencintai dia,” katanya pelan, kali ini tanpa ragu.
Arka tidak langsung menjawab.
“Lalu kamu mau apa dari pertemuan ini?” tanya Aluna.
Arka menatapnya lebih dalam.
“Aku mau kamu lihat semuanya dengan jelas,” katanya.
“Jelas bagaimana?” tanya Aluna.
“Bahwa ini bukan sekadar pilihan pribadi,” jawab Arka. “Ada hal lain yang ikut terlibat.”
“Seperti bisnis keluarga?” sindir Aluna.
Arka tidak tersinggung. “Kalau kamu mau menyebutnya begitu.”
Aluna berdiri.
Ia tidak nyaman duduk terlalu lama dalam percakapan itu.
“Aku nggak akan menikah dengan orang yang bahkan tidak punya alasan untuk menginginkanku,” katanya.
Arka ikut berdiri.
“Siapa bilang aku tidak punya alasan?” tanya Arka.
Aluna menatapnya, sedikit terkejut dengan perubahan nada suaranya.
“Dari cara kamu bicara,” jawab Aluna.
Arka terdiam sejenak.
“Terkadang,” katanya pelan, “alasan tidak selalu perlu dijelaskan di awal.”
Kalimat itu membuat Aluna bingung, namun sebelum ia sempat membalas.
“Luna,” suara ibunya terdengar dari arah belakang.
Mereka berdua langsung menoleh.
Orang tua Aluna kembali masuk ke ruang tamu.
“Gimana? Sudah kenalan?” tanya ibunya.
Aluna kembali duduk, menenangkan diri.
“Sudah, Bu,” jawabnya singkat.
Sejak itu, ia tidak banyak bicara lagi.
Pertemuan itu berakhir menjelang sore.
Saat mobil Arka akhirnya pergi, Aluna berdiri di teras, menatap jalan yang kembali sepi.
Angin sore berembus pelan, ia menghela napas panjang.
“Dia orang yang baik,” kata ayahnya yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Aluna tidak langsung menoleh. “Versi Bapak.”
Ayahnya tersenyum tipis. “Versi kenyataan.”
Aluna menggeleng pelan. “Semua orang sekarang suka pakai kata itu.”
Ayahnya tidak membalas.
Beberapa detik mereka hanya berdiri dalam diam.
“Bapak tidak maksa kamu hari ini,” kata ayahnya akhirnya.
Aluna menoleh.
“Tapi waktu kita tidak banyak.”
Kalimat itu membuat dadanya kembali terasa berat.
Malam itu, Aluna kembali ke kamarnya.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya.
Nama Nara ada di sana.
Namun untuk pertama kalinya ia ragu untuk menekan tombol panggil.
Bukan karena ia tidak ingin bicara, tapi karena ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Tentang pertemuan tadi, tentang Arka, tentang perasaan yang mulai berubah sedikit demi sedikit.
Aluna merebahkan tubuhnya.
Menutup mata, bamun bayangan itu kembali muncul.
Tatapan Arka yang tenang.
Cara bicaranya yang tidak bisa ditebak dan satu kalimat yang terus terngiang "Terkadang, alasan tidak selalu perlu dijelaskan di awal."
Aluna menghela napas panjang.
“Kenapa jadi seperti ini,” Ia berbisik pelan.
Malam itu pikirannya tidak benar-benar beristirahat.