Sesuatu yang Harus Dibayar

1316 Words
Aluna tidak langsung keluar dari dapur setelah ibunya selesai berbicara. Ia tetap berdiri di sana, memandang meja yang tadi ia pakai menyiapkan minuman, meski sebenarnya tidak lagi benar-benar melihat apa pun. Pikirannya seperti berhenti di satu titik tepat di kalimat terakhir yang diucapkan ibunya. "Kita lagi butuh bantuan." Kalimat itu terdengar sederhana, namun dampaknya tidak. Ini bukan sekadar permintaan, ini tekanan dan yang lebih menyakitkan, tekanan itu datang dari orang yang paling ia sayangi. “Luna,” Suara ayahnya terdengar dari arah pintu dapur. Aluna menoleh. Ayahnya berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi yang tidak mudah dibaca. “Ada waktu sebentar?” tanya ayahnya. Aluna mengangguk pelan. “Iya, Pak.” Mereka tidak bicara di dapur, ayahnya mengajak Aluna ke ruang tengah, tempat yang tadi menjadi saksi pertemuannya dengan ibunya. Sekarang ruangan itu terasa lebih sunyi, seolah menyimpan sesuatu yang belum selesai. Aluna duduk di ujung sofa, sementara ayahnya mengambil kursi di depannya. Tidak ada yang langsung bicara, beberapa detik hanya diisi oleh suara jam dinding. “Apa yang Ibu kamu bilang tadi benar,” ujar ayahnya akhirnya. Aluna menunduk, jemarinya saling bertaut. “Aku sudah dengar,” jawabnya pelan. Ayahnya mengangguk, ia tampak menarik napas sebelum melanjutkan. “Bapak tahu ini berat buat kamu.” Aluna tersenyum tipis, tanpa mengangkat kepala. “Kalau tahu berat kenapa tetap dilakukan, Pak?” Pertanyaan itu keluar lebih jujur dari yang ia rencanakan. Ayahnya tidak langsung menjawab. “Kita tidak punya banyak pilihan, Luna,” katanya pelan. Aluna akhirnya mengangkat wajahnya. “Selalu itu alasannya.” Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup untuk menunjukkan perasaannya. Ayahnya menatapnya dalam. “Karena memang itu kenyataannya.” “Kenyataan versi siapa?” tanya Aluna cepat. “Versi yang sedang kita hadapi sekarang,” jawab ayahnya. Jawaban itu membuat Aluna terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, mencoba menahan sesuatu yang mulai naik di dadanya. “Apa sebenarnya yang terjadi, Pak?” tanyanya kemudian, kali ini lebih serius. “Jangan cuma bilang ‘butuh bantuan’ dan aku berhak tahu.” Ayahnya terlihat ragu, namun kali ini ia tidak menghindar. “Usaha Bapak lagi ada masalah besar,” ujarnya pelan. Aluna menunggu. “Tiga bulan terakhir, kita rugi cukup banyak,” lanjut ayahnya. “Ada beberapa proyek yang gagal dan ada juga yang ditipu.” Aluna langsung menegang. “Ditipu?” Ayahnya mengangguk. “Iya, sama rekan kerja lama dan Bapak terlalu percaya.” Nada suaranya berubah di bagian akhir, lebih berat, seperti ada penyesalan yang ia tahan. “Sekarang posisinya kalau kita nggak dapat bantuan dalam waktu dekat,” lanjutnya, “kita bisa kehilangan semuanya.” Aluna menatapnya tanpa berkedip. “Semuanya?” “Rumah ini, usaha itu dan semua yang kita punya.” ucapnya lirih. Kalimat itu membuat napas Aluna terasa tertahan. Ia tidak pernah membayangkan situasinya sejauh ini. “Kenapa aku baru tahu sekarang?” tanyanya pelan. “Karena Bapak nggak mau kamu ikut pusing,” jawab ayahnya. “Tapi sekarang aku dipaksa ikut, kan?” balas Aluna. Ayahnya terdiam dan diamnya menjawab semuanya. Aluna mengalihkan pandangannya, menatap ke arah jendela. “Jadi,” ia membuka suara lagi, lebih pelan, “perjodohan ini bentuk bantuannya?” Ayahnya mengangguk. “Om Mahendra bersedia bantu, tapi,” “Tapi aku harus menikah dengan anaknya,” sambung Aluna. Ayahnya tidak membantah. Aluna tertawa kecil, tapi tidak ada yang lucu. “Jadi aku ini jaminan?” katanya pelan. “Jangan bilang begitu,” sahut ayahnya cepat. “Terus harus bilang apa, Pak?” tanya Aluna, menatapnya lagi. “Kalau bukan itu?” Ayahnya menghela napas panjang, terlihat kelelahan. “Ini bukan soal jual beli, Luna,” katanya pelan. “Ini soal saling membantu.” Aluna menggeleng pelan. “Kalau harus pakai aku sebagai syarat itu bukan membantu, Pak.” Dan untuk pertama kalinya, Aluna benar-benar merasa sendirian di rumahnya sendiri. Siang itu, Aluna keluar rumah tanpa banyak bicara. Ia hanya bilang ingin mencari udara, dan orang tuanya tidak melarang. Mungkin karena mereka tahu ia memang butuh waktu. Langkahnya membawanya ke ujung jalan, ke tempat yang dulu sering ia datangi saat masih tinggal di sana, sebuah warung kecil yang masih berdiri, tidak banyak berubah. Ia duduk di kursi plastik yang sedikit pudar warnanya. “Es teh, Bang,” katanya pelan pada penjual. “Iya, Neng,” jawab pria itu ramah. Aluna menunggu dalam diam. Beberapa menit kemudian, segelas es teh manis diletakkan di depannya. Ia langsung mengambilnya, tapi tidak langsung diminum. Ponselnya ia keluarkan. Nama Nara ada di sana, selalu ada. Jarinya ragu beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Tidak butuh waktu lama, panggilan itu langsung tersambung. “Halo?” suara Nara terdengar. “Nara,” panggil Aluna pelan. “Ada apa?” tanya Nara, langsung menangkap sesuatu dari nada suaranya. Aluna menarik napas panjang. “Aku mau cerita.” “Iya, cerita aja. Aku dengerin,” jawab Nara. Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat pertahanan Aluna runtuh sedikit. “Mereka, mau jodohin aku,” ucapnya akhirnya. Hening di seberang sana. “Siapa?” tanya Nara, suaranya berubah serius. “Anak temannya Bapak.” “Dan kamu?” tanya Nara lagi. Aluna menatap gelas di depannya, esnya mulai mencair. “Aku nggak mau,” jawabnya jujur. “Ya udah, selesai,” kata Nara cepat. Aluna tersenyum pahit. “Nggak sesimpel itu.” “Kenapa nggak?” tanya Nara. Aluna terdiam sejenak sebelum menjawab, “Keluarga aku lagi butuh bantuan.” Nara tidak langsung bicara. “Dan bantuannya datang dengan syarat ini,” lanjut Aluna. “Jadi kamu harus nikah sama dia?” tanya Nara, suaranya mulai naik. Aluna menutup mata sejenak. “Kurang lebih begitu.” “Ini nggak masuk akal, Luna,” kata Nara. “Ini hidup kamu.” “Aku tahu.” “Terus kenapa masih dipikirin?” desak Nara. Aluna membuka matanya lagi. Tapi ia tidak mengatakannya. Sebaliknya, ia hanya berkata pelan, “Aku nggak bisa egois.” “Dan ini bukan egois,” balas Nara tegas. “Ini hak kamu.” Aluna terdiam. Ia ingin setuju dan sangat ingin, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. “Aku ke Medan,” kata Nara tiba-tiba. Aluna langsung menggeleng. “Nggak usah.” “Aku harus ke sana, Luna.” “Nara, jangan,” ucap Aluna pelan. “Aku lagi nggak butuh itu sekarang.” “Terus kamu butuh apa?” tanya Nara. Pertanyaan itu membuat Aluna terdiam cukup lama. Ia sendiri tidak tahu. “Aku cuma butuh waktu,” jawabnya akhirnya. Nara menghela napas. “Oke,” katanya pelan. “Tapi jangan hadapi ini sendirian.” Aluna tersenyum tipis, meski Nara tidak bisa melihatnya. “Iya.” Namun di dalam hati, ia tahu ia tetap akan sendirian. Sore hari, Aluna kembali ke rumah. Suasana masih sama tenang, tapi terasa berat. Ibunya duduk di ruang tengah, seperti tadi pagi. “Kamu dari mana?” tanya ibunya. “Keluar sebentar,” jawab Aluna. Ia duduk di samping ibunya. Beberapa detik, tidak ada yang bicara. “Dia mau ketemu kamu,” kata ibunya tiba-tiba. Aluna menoleh. “Siapa?” Ibunya menatapnya. “Arka.” Nama itu kembali disebut dan entah kenapa, kali ini terasa lebih nyata. “Kapan?” tanya Aluna pelan. “Besok.” Jantungnya berdetak lebih cepat. “Ibu nggak maksa kamu buat langsung setuju,” lanjut ibunya. “Ibu cuma mau kamu kenal dulu.” Aluna menunduk. “Kalau aku tetap nolak?” tanyanya. Ibunya terdiam sejenak, lalu menggenggam tangan Aluna. “Ibu nggak akan maksa,” jawabnya lembut. Namun Aluna tahu kenyataannya tidak akan sesederhana itu. Malam itu, Aluna kembali ke kamarnya. Ia berdiri di depan jendela, menatap jalan yang mulai sepi. Lampu-lampu rumah satu per satu padam, namun pikirannya tetap menyala. Besok ia akan bertemu dengan seseorang yang tidak ia pilih. Seseorang yang mungkin akan menentukan hidupnya ke depan dan di sisi lain ada seseorang yang sudah ia pilih sejak lama. Aluna memejamkan mata, napasnya terasa berat. “Kenapa harus seperti ini,” Bisikannya pelan. Dan malam itu tidak ada jawaban yang datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD