Bab 3

1086 Words
Seperti biasanya setiap wekend atau libur bekerja, aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke club. Leon dan Dean sekarang sudah hilang entah kemana, yap aku selalu pergi dengan dua orang itu. Aku sudah mengenal mereka luar dan dalam sama hal nya dengan meraka. Aku menatap malas orang-orang yang sedang menari dan menghilangkan stres, biasanya aku adalah orang yang paling bersemangat jika masuk kedalam club. Tapi, kali ini aku merasa bosan. Gadis-gadis cantik yang menghampiriku saja tidak ada yang menarik perhatianku. Aku meminum wine ku dengan sekali teguk, huh melegakan sekali. Ck, aku tersenyum melihat Leon sedang make out ditengah panggung. Pria itu sama saja sepertiku, pemburu wanita. "Alvaro?" panggil seseorang membuatku mencari sumber suara, aku mengangkat sebelah alisku. Siapa? Jujur saja aku tidak tahu siapa wanita yang datang menyapaku, dari sekian banyak wanita yang pernah ku temui pasti aku akan mengingatnya walaupun melupakan namanya. Wanita ini sama sekali belum bertemu denganku, "kita sudah bertemu sebelumnya, tapi kau tidak melihatku" ujar nya membuatku mengerutkan kening, jadi bagaimana? "namaku Laura, temannya Keira dan kita pernah bertemu dipesta ulang tahun Keira" Ah, ternyata temanya Keira. Laura mendengatkan dirinya padaku. Badan kami menempel, aku bahkan bisa merasakan gundukan p4yud4ra nya, aku menghela nafas dan mundur selangkah. Payud4r4 buatan saja bangga sekali, sebagai pria walaupun tidak melihatnya aku bisa tahu dengan jelas kalau punya Laura itu palsu. "mau menari bersamaku?" tawarnya sambil menunduk sehingga aku bisa melihat payud4ranya. Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku, lalu menambah wineku. Laura pergi setelah aku menolaknya, jujur saja aku menyukai wanita yang agresif seperti itu tapi lain untuk sekarang. Didalam benakku hanya ada Angel seorang dan sampai sekarang aku belum juga mendekatinya. Bahkan aku yang bisa meminta para wanita memberikan nomor ponsel mereka dengan hanya mengkedip mata, dengan Angel sampai sekarang aku belum juga mendapatkan nomor ponselnya. Aku mempertajam penglihatanku diatara kelap kelibnya club aku melihat ada Adam disana, ck. Bahkan dia sekarang sedang make out dengan wanita dan wanita itu bukan Angel. Walaupun aku hanya melihatnya dari belakang tetap saja, aku sudah hafal betul postur badan Angel. Lisa? Aku tersenyum sinis, dugaanku ternyata benar ada yang tidak beres di antara mereka berdua. Entah siapa yang menggoda siapa yang jelas itu menjadi kartu untuku. Aku mengambil ponselku dan merekam Adam dan Lisa yang sedang make out. "Sedang apa?" tanya Dean yang entah kapan berada disampingku. "mengabdikan aset" jawabku asal, dan Dean ia tidak bertanya lagi. Ia memesan wine lagi untuk dirinya. "dari mana kau?" tanyaku sambil meminum wine ku. "biasa, ada tante gemes tadi" jawab Dean sambil menyengir. Yap, tipe idaman Dean adalah tante-tante. Sebenarnya bukan tante-tante hanya wanita yang lebih tua drinya. "Leon mana?" tanya nya balik, mungkin karena tidak menemukan Leon. Aku menggelengkan kepalaku, ditengah kerumunan tadi Leon sudah tidak tampak lagi, pasti sekarang dia sudah menyewa kamar untuk dirinya dan wanita yang make out dengannya. "aku pulang duluan" ujarku membuat Dean menahan tanganku. "lepaskan, jijik b******k" ujarku membuat Dean tertawa kencang, dasar pria ini untuk temanku. Kalau tidak entahlah akan kuapakan pria ini. "cepat sekali kau pulang? Tidak seperti biasanya, coba lihat itu body nya aduhai. Temuilah" ujar Dean sambil menunjuk wanita yang sedang menari tapi matanya terarah pada kami. "aku bosan, kau bayari minumanku" "ck, bayar sendiri!" jawab Dean sambil menghentak-hentak kan kakinya seperti wanita, "aku miskin kalau kau lupa" ujarku membuat Dean mencibirku. "kalau miskin mainnya jangan kesini bos" ujarnya membuatku terkekeh. "kau yang mengajak kau juga yang harus membayar" "kembalilah kekehidupanmu, Yan" "tunggu lah 2 bulan lagi, aku pergi" "hm" Setelah itu aku benar-benar pulang, tidak pergi kemana-mana atau mampri keapartemen wanita. * Angel sekarang sedang menyesap kopinya sambil melihat langit malam dibalkon apartmennya, ia kehilangan ide untuk kelanjutan novelnya. Mencari ide untuk kelanjutan novel itu mudah-mudah susah, kalau sedang lancar Angel akan menulis tanpa henti jika sedang mengambat seperti ini jadinya. Angel hanya memandang langit malam sambil menyesap kopinya. Angel menghirup banyak-banyak udara malam lalu masuk kedalam apartemenya. Setelah mencuci gelas nya Angel tidur. Karena mau dipaksakan bagaimana pun tetap saja kalau ide sedang menghambat tidak akan bisa melanjutkan menulis. * Pagi-pagi sekali Alvaro bangun dari tidurnya, perutnya sangat lapar. Lalu Alvaro mengingat bahwa semalam ia tidak makan sama sekali. Alvaro menggoreng omlet hanya itu saja keahliannya, selain itu tidak ada yang bisa ia masak. Bisa dikatakan kulkas Alvaro semuanya telur dan makanan cepat saja. Bukankah begini lah kehidupan pria yang mencoba mandiri. Dan sayangnya ini telur terakhir Alvaro, Alvaro memakan omletnya dengan lahap. Apapun rasanya jika lapar semuanya terasa sangat enak. Alvaro mempertimbangkan apakah ia harus ke mini market atau tidak karena uangnya sudah menipis dan sekarang akhir bulan. Alvaro menghela nafas kasar lalu mengambil jaketnya. Ia harus belanja sekarang setidaknya untuk beberapa hari kedepan sebelum ia menerima gaji bulanan. "hai, pagi" sapa Alvaro ketika ia kembali bertemu dengan Angel. "pagi" "mau kemana?" tanya Alvaro sok akrab sekali. "kemini market depan" jawab Angel sambil tersenyum. "sama, aku juga mau kesana. Bersama bagaimana?" tawar Alvaro membuat Angel menganggukan kepalanya. "boleh" Alvaro tidak dapat menyembunyikan senyumnya, ia sangat senang karena bisa pergi kemini market bersama Angel. Mata Alvaro melotot ketika melihat noda merah dibelakang Angel. Alvaro yang paham itu noda darah apa langsung melepaskan jaketnya dan memasangkannya dipinggang Angel. "eh?" Angel kaget, sedangkan Alvaro tidak tau mau berkata apa. Alvaro menggaruk lehernya yang tidak gatal "anu..anu..kau berdarah" ujar Alvaro membuat Angel langsung tersadar kalau ini memang jadwal bulanannya. Untung saja mereka masih didalam lift dan didalam lift hanya ada mereka berdua. "terima kasih, Alvaro" ujar Angel setulus-tulusnya. "Sama-sama" "kau pergi saja, aku akan naik lagi" ujar Angel ketika lift sudah dilantai dasar. "hm" Alvaro tidak bisa menghentikan Angel karena ia tahu betul posisi Angel walaupun dia seorang pria. Sampai dimini market Alvaro mengambil telur dan beberapa mie instan. Sebelum membayar Alvaro mengambil pembalut untuk diberikan pada Angel, mungkin saja wanitanya sudah kehabisan stok pembalut atau kalau masih ada ya disimpan saja. Alvaro tidak malu membeli pembalut toh Alvaro sudah sering membeli pembalut untuk kakak perempuannya dan ibunya, itu bukan masalah besar bagi Alvaro. Karena tidak tahu Angel tinggal diunit berapa, Alvaro memekan seluruh bel dilantai 8. Dan senyum nya mengembang ketika unit apartemen nomor 258 itu milik Angel. "kenapa Alvaro?" tanya Angel membuat Alvaro langsung memberikan pembalut untuk Angel. Mata Angel berbinar menatap pembalut yang diberikan oleh Alvaro. "terima kasih Alvaro, aku bahkan masih tidak tau harus memesan pembalut pada siapa" "baguslah kalau begitu" "sekali lagi terima kasih" "terima kasih terus, bagaimana kalau nanti malam kau undang aku makan malam disini. Aku bosan memakan ini" ujar Alvaro sambil menunjuk belanjaannya, Angel menganggukan kepalanya. "boleh, nanti malam datang saja kemari" "oke"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD