Alvaro masuk kedalam apartemennya dengan perasaan yang berbunga-bunga, bisa sesenang itu Alvaro sekarang hanya karena nanti malam akan makan malam bersama dengan Angel.
Alvaro bahkan sengaja tidak makan siang agar bisa makan yang banyak malam nanti bersama dengan Angel, membayangkan makan malam bersama Angel saja sudah membuatnya kenyang.
Drt..drt...
Alvaro dengan malas mengambil ponselnya diatas nakas, sebenarnya Alvaro sangat malas untuk bangun dari tempat tidur. Tapi, karena suaranya menganggu tidur siangnya Alvaro akhirnya mengangkat panggilan.
"Alvaro, Leon kecelakaan" ujar Dean ketika Alvaro baru saja mengangkat panggilan yang ternyata dari Dean.
"kata kan dirumah sakit mana" jawab Alvaro bangkit dari tidurnya.
"Rs. Medika cepatlah datang"
Alvaro tidak menjawab lagi ia mematikan panggilan dan mengambil jaketnya, ia harus kerumah sakit sekarang. Sahabat konyolnya itu kecelakaan, sekarang Alvaro merasa tidak tenang sekarang.
Sampai dirumah sakit Alvaro menanyakan dimana Leon dirawat kepada suster yang berjaga, sampai dilorong IGD Alvaro menemukan Dean sedang duduk sambil menundukan kepalanya.
"bagaimana keadaan Leon?"
"kau bisa lihat sendiri, dokter bahkan belum keluar dari dalam sana" jawab Dean membuat Alvaro langsung menutup rapat-rapat mulutnya. Alvaro duduk disamping Dean, mereka sama-sama diam tidak ada yang membuka suara dari mereka hingga dokter keluar dari ruang operasi.
"bagaimana keadaan teman kami dok?"
"pasien berhasil melewati masa kritis dan operasi berjalan dengan baik" jawab dokter membuat kedua sahabat itu mengangguk kan kepala mereka.
"kami boleh menjenguknya dok?"
"tentu saja boleh, setelah pasien dipindahkan keruang rawat inap. Kalian bisa melihatnya, saya permisi."
Setelah dokter pergi Alvaro dan Dean langsung pergi keruang inap Leon, Leon hanya memilik Alvaro dan Dean di Negara ini karena kedua orang tuanya berada diluar negri dan tidak mau tahu menau masalah Leon. Untuk sedikit info, Leon itu anak orang kaya tapi kedua orang tua nya sangat sibuk untuk mencari uang sehingga putra mereka terlantar.
Alvaro masih beruntung, setidaknya kedua orang tua nya masih satu negara dengannya sehingga mereka bisa saling bertatap wajah secara langsung. Tidak seperti Leon, Leon kecelakaan seperti ini belum tentu kedua orang tuanya menyempat kan diri untuk datang menjenguk.
Dean dan Alvaro berada dirumah sakit hingga malam, dan Leon belum juga membuka matanya. Diantara keduanya tidak ada yang meninggalkan rumah sakit sampai Leon sadar.
"minum.." ujar Leon lemah membuat Alvaro dan Dean langsung tersadar dan menatap Leon yang sudah membuka matanya.
"sialan, akhirnya kau sadar juga" ujar Alvaro sambil menyenggol kaki Leon yang diperban.
"aagh, sakit bodoh" umpat Leon lemah.
"dia sudah sembuh" ujar Dean memberikan Leon air putih.
"sembuh p4ntatmu!"
"benar dia sudah sembuh, kalau begitu kau tinggal disini. Besok aku, hari ini aku ada janji" ujar Alvaro bangkit dari duduknya,
"janji apa nyet?" tanya Dean mengerutkan kening.
"jelas bukan untuk bertemu dengan tante-tante" jawab Alvaro membuatnya mendapat lemparan kulit jeruk.
"s**t!" umpat Dean membuat Alvaro dan Leon terkekeh.
"aku duluan, bye"
Alvaro melirik jam tanganya, sudah pukul 9 malam, bisakah Alvaro keapartemen Angel sekarang. Waktu makan malam sudah lewat, tapi walaupun begitu Alvaro tetap datang keapartemen Angel.
Alvaro menekan bel apartemen Angel, baru akan menekan lagi Angel keluar membukan pintu untuknya.
"aku kira kau tidak datang" ujarnya mempersihkan Alvaro masuk kedalam apartemen Angel.
"maaf membuat mu menunggu, temanku kecelakaan" jawab Alvaro jujur, Angel menganggukan kepalanya.
"keadaan temanmu sudah baik-baik saja?"
"hmm baru sadar barusan dan aku langsung kesini"
"lalu siapa yang menemai nya dirumah sakit?" tanya Angel lagi karena kalau Alvaro disini berarti temannya ditinggal bukan.
"ada Dean yang menjaganya"
"aku panaskan dulu, sudah dingin soalnya" ujar Angel membuat Alvaro menganggukan kepalanya. Alvaro tidak bisa menyembunyikan senyumya, ia terus menatap Angel yang sedang memanaskan makanan didapur.
"manis sekali" ujar Alvaro tidak sadar kalau Angel sudah didepannya.
"apa nya yang manis?" tanya Angel membuat Alvaro tersenyum canggung sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"kopi, aku mau minum yang manis-manis" jawab Alvaro
"oh, kau makan lah. Aku akan membuatkan mu kopi" ujar Angel hendak pergi namun ditahan oleh Alvaro.
"nanti saja, sekarang kita makan" kata Alvaro membuat Angel menganggukan kepalanya.
Mereka makan malam bersana, seakan otak nya kembali berfungsi Alvaro langsung menatap tajam kearah Angel.
"jangan bilang kau menungguku dan kau belum makan malam?" tanya Alvaro membuat Angel menganggukan kepalanya.
"benar, kalau kau datang aku sudah makan bagaimana? Lagian makan sendiri itu tidak enak, jadi aku menunggumu"
Alvaro membuka mulutnya lebar-lebar, didalam hati ia berteriak kencang saking senangnya.
"kalau makan sendiri tidak enak, ayo makan bersama untuk kedepannya" ujarnya setelah memutar otaknya, walaupun ia sedang senang sekarang Alvaro harus mengatur topik yang tepat.
"hah?"
"kan kita tetanggan, jadi bisa kan kita makan bersama. Setidaknya makan malam dan sarapan"
"boleh juga, kau datanglah kapanpun. Aku akan memasak untukmu" jawab Angel membuat Alvaro menelan ludahnya agar tidak bersorak senang.
"kalau aku datang tapi kau tidak ada bagaimana?" tanya Alvaro memnbuat Angel memutar bola matanya dengan malas.
"kan jaman sudah canggih, Yan. Kau bisa menghubungiku"
"bagaimana mau menghubungimu, aku tidak punya nomor ponselmu?"
"setelah makan akan ku berikan" ujar Angel membuat senyum Alvaro terbit, baiklah sekali melempar dua tiga burung yang kena. Selain akan sarapan dan makan malam bersama, Alvaro juga akan mendapatkan nomor ponsel Angel.
Setelah makan malam bersama Alvaro tidak mau menjadi parasit jadilah ia membantu Angel mencuci piring,
"biar aku saja," ujarnya ketika Angel ingin mencuci piring.
"baiklah" jawab Angel lalu duduk diruang televisi sambil menonton. Sedangkan Alvaro sedang mencuci piring sekarang, sesekali Angel melihat Alvaro yang mencuci piring.
"sudah?" tanya Angel ketika Alvaro duduk disebelahnya, Angel menganggukan kepalanya,
Alvaro merabah saku celananya lalu memberikan ponselnya pada Angel, Angel mengerutkan keningnya namun detik kemudian ia mengangguk paham. Angel mengetikan nomornya diponsel Alvaro lalu memberikanya lagi pada Alvaro.
Alvaro menelpon Angel sampai ponsel Angel berdering, Angel menunjukan pada Alvaro. Alvaro tersenyum lalu menamai Angel diponselnya.
"Angel" ujar Alvaro setelah menyimpan nomor Angel, Angel menatap Alvaro membuat Alvaro salah tingkah.
"kenapa? Ada cabe di gigiku?" tanyanya membuat Angel menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"tidak, bagaimana kau tau nama panggilanku Angel?"
"sungguh Angel? Padahal aku ingin satu-satunya yang memanggilmu Angel" jawab Alvaro membuat Angel terkekeh.
"bisa saja kau ini, biar ku tebak. Kau ini pasti playboy"
"mana mungkin aku playboy Angel, tebakanmu salah"
"biasanya kalau mengelak iya"
"ck, kelihat sekali ya dari wajahku?"
"hm"
"baiklah, aku playboy yang sudah bertobat" ujar Alvaro membuat Angel tertawa. Cantik sekali, Alvaro terjerat lagi kedalam pesona Angel.