15. Kerisauan

1739 Words
Gabriel melirik ke arah Kyra yang kini tengah membantunya melayani pengunjung café, sahabatnya itu terus tersenyum, menyapa dengan ramah seolah tak ada lelah. Perempuan itu berjalan dari satu pelanggan ke pelanggan lain membawakan menu lalu mengambil pesanan, terus menerus seperti itu hampir tanpa jeda. Akhir pekan ini mereka memang sangat sibuk, pelanggan terus berdatangan silih berganti. Membuatnya tak bisa mengambil jeda sedikitpun untuk beristirahat, apalagi ditambah dengan Paula yang hari ini ijin tak bisa masuk.   “Wah ... café benar-benar ramai.” Ujar Kyra sesaat setelah akhirnya bisa duduk dibalik counter, mengambil jeda istirahatnya.   “Kenapa Ky?”   “Hng?” perempuan itu mendongak. “Kenapa apa Gab?”   “Kau sedang ada masalah dengan lelaki itu? Tumben sekali kau bisa keluar dari apartemen hampir selama sepuluh jam.”  Ujar Gabriel seraya mencuci beberapa gelas bekas pelanggan.   “Tidak juga. Dia sedang kembali kerumah orangtuanya jadi ... aku bisa mengambil waktuku untuk keluar.”   Kening Gerald mengerut. Setelah menyimpan gelas terakhir ia menoleh kearah Kyra yang kini tampak termenung, melamun, menatap kosong ke arah etalase.   “Katakan Kyra. Kau tak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dariku.”   Kyra menghembuskan nafas kasar lalu menoleh ke arahnya. “Aku ... sedikit merasa bersalah.”   “Hm?”   “Kemarin kami berbicara tentang sebuah hubungan, aku tak tahu dia bercanda atau serius saat mengatakan tentang hubungan itu tapi aku menganggapnya serius. Aku mengatakan akan menolaknya jika dia coba-coba menyatakan perasaan padaku.” Kyra menghela nafas lagi. “Lalu ... begini. Setelah percakapan itu dia mengatakan akan pulang ke rumah orangtuanya. Pagi ini bahkan kami tak bertemu sama sekali.”   Kyra mendongak menatap kearahnya dengan iris mata yang tampak mengkhawatirkan. “Gab ... apakah aku bersalah? Apakah menurutmu aku harus menarik kata-kataku dan meminta maaf?”   Gabriel menyilangkan kedua tangannya di d**a. Lalu menghela nafas perlahan. “Jangan memikirkan hal itu terlalu serius Kyra, apalagi hingga berpikir kau akan menarik kata-katamu. Biarkan saja ... Bisa saja dia pulang ke rumahnya karena memang sudah lama tak pulang bukan? Jadi jangan terlalu di pikirkan Kyra.”   “Tapi Gabriel ... aku merasa bersalah.”   “Tak perlu merasa bersalah. Lelaki jarang sekali memikirkan terlalu dalam tentang hal itu. Kau hanya perlu bersikap normal. Kecuali jika memang dia membahasnya lagi, barulah kau bisa menjelaskan maksud dari ucapanmu itu.” ujar Gabriel yang membuat Kyra menghela nafas panjang.   Ponsel Kyra berdering pertanda sebuah panggilan masuk. Kyra memang membawa ponsel saat membantunya melayani pelanggan, ia bahkan sempat melihat beberapa kali Kyra mencuri waktu melihat ponselnya, seolah sedang menunggu seseorang memberi kabar. Tapi ia tak mempermasalahkan itu, toh Kyra bukan karyawan di sini lagi. Perempuan itu hanya berniat membantu.   “Gab ... sudah ada di depan, menjempurku. Aku akan pergi sekarang ya?” ujar Kyra seraya melepaskan apron dengan cepat.   “Bye Gab ... sampai berjumpa lagi.” ujar Kyra lagi sebelum akhirnya perempuan itu beranjak pergi setelah ia mengangguk kecil memberi jawaban.   Gabriel menghela nafas panjang dengan kepala menggeleng kecil. Kyra ... memang hanya akan menjadi Kyra. Perempuan itu akan selalu merasa bersalah setelah melakukan sesuatu yang buruk sekalipun sebenarnya hal itu benar untuk dia lakukan.   “Sepertinya aku harus merekrut beberapa pegawai lagi.”   Gabriel menoleh ke arah Adelia yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Lalu tersenyum. “Cukup satu atau dua Miss.”   Adelia mengangguk kecil seraya menggunakan apron bekas pakai Kyra sebelumnya. Senyuman Gabriel bertahan saat iris matanya masih berfokus menatap Adelia yang kini berpenampilan layaknya karyawan. Sampai akhirnya ia menghela nafas kecil kemudian kembali berfokus pada kopi yang sedang ia buat.   “Dua gelas latte dan satu gelas americano, di kemas ... .” ujar seorang perempuan yang kini berdiri dihadapannya.   Gabriel mendongak, mengalihkan pandangan pada gadis itu. Perlahan ia menghela nafas saat melihat sosok cantik itu kini tengah tersenyum aneh di hadapannya.   “Gabriel? Aku bilang dua gelas latte dan satu gelas americano.”   “Baik. Tunggu sebentar.” Ucapnya seraya mengalihkan pandangan dari perempuan itu.   “Kalau tak salah ... baru saja ... aku melihat Kyra.” Perempuan itu menghela nafas. “Sayang sekali kami tak bertemu, padahal aku sangat ingin berbicara dengannya.”   Gabriel membasahi bibirnya sesaat sebelum menatap perempuan itu lagi. “Beruntung kau tak datang saat Kyra masih di sini Adara. Jika sebelumnya sudah sampai, kau pasti akan mengganggu kenyamanan pelanggan kami.”   “Ugh! So sad ... kenapa kau berpikiran buruk padaku Gabriel? Tentu ... aku tak akan melakukannya.”   Gabriel yang tengah menyiapkan minuman pesanan perempuan itu menahan nafas, menahan gejolak emosi yang selalu saja bersarang setiap ia berhadapan dengan perempuan itu.   “Sebaiknya anda mengambil tempat duduk terlebih dahulu Miss. Kami akan memberikan minumanmu setelah selesai kami sajikan.” Adelia datang menyelamatkannya. “Silahkan.” Lanjut Adelia lagi diiringi dengan sebuah senyuman yang begitu tenang.   Gabriel menghela nafas ringan kemudian mengalihkan pandangannya pada Adelia, membuat keduanya saling berpandangan beberapa saat. “Terimakasih.” Ujar Gabriel yang hanya dijawab dengan tepukan di bahu.   ***   Suasana dalam mobil terasa begitu canggung. Begitu Kyra memasuki kendaraan itu ia hanya menyapa Gerald seadanya lalu keheningan menyelimuti mereka. Kyra sesekali melirik Gerald dengan ujung matanya, ketika mulutnya terbuka untuk berujar, beberapa saat kemudian terkatup kembali saat merasa suaranya tercekat di tenggorokan. Hingga Kyra hanya bisa menghela nafas panjang kemudian kembali diam, mengubur semua niatnya untuk bertanya pada lelaki itu hingga mereka berdua sampai di dalam lift.   “Sepertinya hari ini kau bersenang-senang.”   Kyra mengerjapkan matanya sesaat sebelum mendongak menatap Gerald yang sedang menatap lurus ke arah pintu lift.   “Ah ... itu. Aku hanya membantu saja karena Paula hari ini tak datang.”   Hening kembali. Tak ada kalimat yang terlontar lagi baik dari Kyra maupun Gerald, hingga lift yang mereka tumpangi sampai ke unit apartemen Gerald. Kyra menghembuskan nafas sebelum keluar dari dalam lift, kemudian berjalan mengekori Gerald.   “Apakah kau sudah makan malam?” tanya Kyra.   “Belum. Aku sengaja ingin makan malam bersamamu.” Jawab Gerald seraya menanggalkan jaket. “Apa aku tak mengatakan akan pulang saat makan malam?”   Kyra menggeleng kecil. “Seharian ini kau tak mengirimku pesan.”   Gerald menoleh menatap ke arahnya. “Benarkah?”   Kyra mengangguk kemudian beranjak ke dapur, meninggalkan Gerald dengan langkah cepat. Menghindari kecanggungan yang masih saja membelenggu perasaannya. Bagaimanapun ini adalah pertemuan pertama mereka lagi setelah percakapan tadi malam. Ia sudah katakan bukan Gerald pergi tanpa menemuinya terlebih dahulu? Ditambah lelaki itu tak mengirimnya pesan sama sekali selama seharian ini. Hingga ... membuatnya terus menduga-duga. Apa yang terjadi pada lelaki itu? Apa yang dipikirkan lelaki itu? dan ... bagaimana ia harus menghadapinya? Banyak sekali pertanyaan yang bersarang dalam pikirannya hingga membuat perasaan canggungnya semakin membesar.   “Seharusnya kau memberitahu jika memang akan makan malam di apartemen. Aku bisa pulang lebih dulu dan menyiapkan semuanya.” ujar Kyra saat Gerald berdiri di sampingnya, meneguk segelas air mineral.   Gerald tersenyum lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada kitchen set dengan iris mata yang mulai menatapnya. “Rasanya sudah lama sekali aku tidak menemanimu masak jadi aku berpikir untuk masak bersama.”   Kyra mengerjapkan matanya kemudian mencebikkan bibir. “Membantu apa? Kau hanya menggangguku.”   “Memang kenapa?” tanya Gerald seraya menarik pinggangnya, membuat tubuhnya limbung hingga terjatuh dalam pelukan lelaki itu. Gerald bahkan kini tak segan-segan membenamkan wajah ke cerukan lehernya dengan tangan lain merambat mulai memeluknya semakin erat. “Memang ... kau tak rindu pelukanku?” bisik Gerald. “Padahal aku pulang cepat karena sangat merindukanmu.”   Kyra mendengus, ia meneguk ludahnya kasar sesaat sebelum menjauhkan tubuh Gerald. Mendorong d**a lelaki itu agar memberi jarak diantara mereka berdua. Gerald menatapnya diiringi dengan senyuman menggoda. Rasanya  sekarang ia menyesal telah merasa bersalah. Benar kata Gabriel. Ia tak perlu memikirkan perasaan lelaki itu terlalu banyak, sebab dia pun terlihat tak memikirkan kejadian tadi malam.   “Membual. Mana ada yang rindu tak mengirim pesan sama sekali? Sudahlah ... awas, hentikan omong kosongmu Gerald. Airnya sudah mendidih.”   Bukannya menyingkir, Gerald justru mematikan kompor kemudian memeluk pinggangnya lagi.   “Gerald. Kau bilang ingin makan malam. Menyingkir atau tak ada makan malam untuk kita berdua.”   “Shh ... .” tangan kanan Gerald naik, telunjuk lelaki itu kini berada di depan bibirnya. “Berhenti mengomel. Bibirmu sangat menggoda saat kau terus berbicara.”   “Gerald! Kau!”   “Apa?” Gerald tersenyum seraya memainkan ibu jari dipermukaan bibirnya. Tak hanya itu, Gerald bahkan menyerukan ibu jari itu dibelahan bibirnya lalu merambat turun menarik dagunya sampai kedua belah bibirnya terbuka.   “Gera—.” Ucapannya terhenti ketika bibir tebal lelaki itu mulai meraup bibirnya, melumatnya dengan kasar secara bergantian. Lelaki itu bahkan menambahkan lidahnya, membuat ciuman mereka semakin intim dan panas.   “Ge!” Kyra mendorong d**a Gerald dengan kencang hingga wajah lelaki itu menjauh darinya. “Apa yang sedang kau lakukan?!”   “Menciummu. Apa lagi?”   Kyra menghela nafas. “Kenapa ... ? Kenapa kau selalu saja menciumku Gerald? Kenapa? Ada apa denganmu?”   “Aku menyukainya. Aku menyukai bibirmu.”   “Kita bukan sepasang kekasih yang bisa saling berbagi ciuman Gerald. Kita juga bukan dua orang yang sedang jatuh cinta. Kau tak mencintaiku, kau melakukannya hanya karena nafsu dan itu salah! Kau tak bisa melakukan ini terus menerus padaku Gerald.”   Kyra membasahi bibirnya sesaat lalu meneguk ludahnya kasar ketika iris matanya bertemu dengan iris mata Gerald yang menatapnya dengan begitu dingin dan tajam. Gerald tak mengatakan apapun setelah beberapa saat ia berucap seperti itu membuatnya semakin panik dan takut. Apalagi ia bisa merasakan nafas memburu yang keluar dari hidung lelaki itu tepat di wajahnya. Membuatnya semakin takut akan intimidasi yang baru pertama kali ia rasakan ini.   “Ge ... sadar. Jangan begini. Kau membuatku takut Gerald!”   Biasanya ketika mereka sedang bersitegang Gerald akan menimpali setiap ucapannya. Gerald selalu membalas ucapannya dengan tajam hingga membuatnya bisa mengeluarkan sisa emosi yang bersarang dalam hatinya. Tapi sekarang ... lelaki itu diam, dia hanya menatapnya semakin tajam. Membuatnya semakin takut.   Jika boleh memilih ... lebih baik Gerald menimpali semua ucapannya dan terus menerus membuatnya kesal daripada harus seperti ini.   “Kyra ... bagaimana jika ternyata aku men—.”   “Gerald ponselmu tertinggal di rumah.”   Deg!   Jantung Kyra berpacu dua kali lebih cepat ketika mendengar suara yang terdengar tak asing di telinganya itu. Tubuhnya menegang, kaku dengan iris mata yang perlahan bergerak ke arah ruang tengah. Rahangnya mengatup, nafasnya tercekat, kedua tangannya pun mulai terkepal dengan sempurna ketika melihat sosok perempuan yang berada dalam pikirannya benar-benar berdiri di sana. Menatap ke arahnya dengan pandangan yang sulit di artikan.   “A—Adara.”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD