14. Penolakan

2651 Words
Satu minggu ... dua minggu ... tiga mingu ... hingga empat minggu berlalu. Setiap hari tak ada yang berubah dari kegiatan Kyra. Bangun pagi, menyiapkan keperluan Gerald, memasak, sarapan bersama Gerald, membereskan apartemen kemudian dilanjut dengan kegiatan random, kadang ia di apartemen saja, terkadang ia pergi ke café menemui teman-temannya, setelah itu pulang menyiapkan makan siang atau terkadang tidak melakukannya saat Gerald sedang sangat sibuk, siangnya Kyra terkadang secara random membuat desain atau memikirkan konsep project Gerald untuk setiap musim, dilanjut dengan memasak untuk makan malam mereka di sore hari, lalu malamnya selepas makan malam mereka berdua akan berjibaku di studio. Kyra melanjutkan lukisannya sementara Gerald bekerja atau tak melakukan apapun dan hanya duduk di sisinya, melihatnya menyapukan warna-warna pada bagian kanvas yang putih.   Tentang kebiasaan Kyra ... perlahan semuanya berubah. Kyra memang masih sering minum minuman beralkohol, entah itu Vodka yang kadar alkohol tinggi ataupun Cocktail yang berkadar alkohol rendah. Ia terkadang minum sendiri atau minum bersama Gerald untuk menghapus penat. Selain itu ... setelah hari dimana Gerald mulai menggodanya dengan sebuah pelukan dan pheromone maskulin yang lelaki itu miliki, Gerald sering sekali mencuri pelukan darinya, entah saat pulang atau akan berangkat kerja atau pun saat ia sedang bekerja melakukan apapun, seperti melukis atau mencuci piring. Beruntunglah Gerald tak pernah melakukan hal lebih dari itu, sekalipun ia sedang dalam keadaan mabuk, dan itu ... salah satu yang ia kagumi dari Gerald.   Sebenarnya ... banyak sekali yang terjadi hingga Kyra tak bisa menceritakannya satu persatu, banyak sekali trik yang selalu lelaki itu gunakan untuk menjebaknya dan bodohnya ... ia selalu terjebak oleh trik itu. Contohnya ... setiap weekend Gerald selalu menculiknya untuk fine dining dari restoran di hotel yang satu ke restoran lainnya. Sungguh ... ia sangat sebal pada lelaki itu, tapi pada akhirnya ia tak pernah bisa melawan karena melawanpun akan sangat percuma, pada akhirnya ia yang akan kalah.   Seperti sekarang ... Jum’at malam itu Gerald membawanya kesebuah restoran modern dengan konsep glamour classic setelah pulang kerja. Ia dan Gerald kini duduk bersebrangan disebuah meja yang berada di lantai tertinggi hotel Archilles, udara memang dingin ... namun tawa hangat menyelimuti mereka berdua. Suasana pun terasa semakin hangat dengan cahaya lampu temaram yang terpancar dari dalam gedung dan juga lampu-lampu kecil yang terbelit disepanjang pagar pembatas.   “Kali ini ... apa lagi Gerald? Kenapa fine dining lagi?”   Gerald tersenyum kecil. “Hadiah untukmu atas kerja kerasmu sepanjang minggu ini.”   Kyra mendesis seraya memutar bola matanya. “Alasan itu lagi, tidak kreatif.”   “Kalau alasannya karena ingin memanjakanmu, apakah sangat kreatif?”   Kyra tertegun. Lagi ... Gerald mengatakan kalimat-kalimat seperti itu. Bibirnya mencebik, seraya mengalihkan tatapannya ke arah lain, menghindari tatapan Gerald. “Kau tak perlu memanjakanku Gerald, aku tak terbiasa dengan hal itu.” ujar Kyra seraya mengalihkan pandangan ke arah gedung-gedung pencakar langit yang menjadi pemandangan malam mereka.   “Ky ... .”   “Hm?”   Kyra terdiam ketika iris matanya terkunci oleh iris mata Gerald.   “Mau berdansa denganku?”   Kyra tak langsung menjawab. Biasanya Gerald akan membuatnya berdansa dengan lelaki itu tanpa ia sadari, dengan trik yang selalu lelaki itu gunakan. Tapi kali ini ... untuk pertama kalinya selama mereka makan malam bersama, Gerald meminta untuk dansa dengannya secara baik-baik.   Iris mata Kyra bergulir, seiring dengan Gerald yang mulai bergerak berjalan ke arahnya. Lelaki itu menghentikan langkah tepat dihadapannya, lalu mengulurkan tangan kanan.   Kyra menghela nafas lalu membalas uluran tangan itu, lalu berdiri kemudian masuk ke dalam dekapan Gerald yang mulai memeluknya dengan hangat.   Perlahan suara musik klasik mulai terdengar begitu indah, tenang dan sangat romantis. Tubuh mereka pun mulai bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti alunan lagu.   “Tak biasanya kau meminta. Biasanya kau tiba-tiba melakukan sesuatu lalu mengajakku berdansa setelah aku dalam pelukanmu.”   Gerald terkekeh kecil lalu menatapnya tepat hingga iris mata mereka saling bertemu. “Kau ini aku seperti itu kau bilang aku penuh trik. Aku mengajakmu baik-baik kau heran. Jadi ... aku harus bagaimana?”   Kyra menarik ujung bibirnya. “Ini ... terasa lebih baik.”   Gerald tesenyum, terlihat senang setelah mendengar jawabannya.   Selama beberapa saat tak ada percakapan diantara mereka. Saat Gerald mengeratkan pelukannya, Kyra menyandarkan kepalanya pada bahu Gerald, menikmati alunan musik sekaligus kehangatan yang menguar begitu nyaman dari tubuh Gerald. Kehangatan yang tanpa sadar menjadi candu untuknya.   “Kyra ... aku melakukan ini hanya ingin membahagiakanmu. Aku ingin ... kau merasakan kebahagiaan yang kurasakan.”   “Kalau kau ingin membahagiakanku, kau bisa membahagiakanku dengan cara yang lebih sederhana Gerald. Tak perlu harus membawaku fine dining di tempat-tempat mewah seperti ini. Ini ... bukan gayaku.” Kyra menghela nafas lalu mengangkat kepalanya, menatap Gerald. “Kalau orangtuamu tahu ... mereka akan curiga Gerald! Mereka akan menduga yang tidak-tidak!”   “Hm? Benarkah?”   Kyra mendesis dengan mata memicing, menatap curiga. “Jangan bilang kau sengaja melakukan ini agar orangtuamu salah paham? Agar kau bisa menjadikanku kekasihmu?”   Gerald terkekeh kecil. “Aku tak berencana seperti itu ... tapi jika memang hal itu terjadi ... aku rasa tak buruk bukan?”   Mata Kyra membulat. “Apa kau bilang? Tak buruk?” Kyra mendengus seraya melepaskan pelukan itu lalu kembali duduk di tempatnya.   Gerald menatap Kyra sesaat sebelum kembali mendudukan diri pula di tempat semula. Ia menghela nafas menatap Kyra yang tampak tertekan.   “Ada apa Ky?”   Kyra mendengus. “Boleh saja menurutmu jika hal itu terjadi tak buruk Gerald. Tapi bagiku itu ... sangat buruk. Aku tak pantas bersama seseorang yang derajatnya sangat amat jauh lebih tinggi daripadaku. Seumur hidupku aku hanya berharap hidup nyaman meskipun sederhana. Daripada hidup mewah yang akan membuatku tak nyaman. Jadi ... jangan berpikir tentang ide itu menjadi nyata Gerald. Karena jika sampai hal itu terjadi. Aku akan menolak.”   Gerald menatapnya dengan intens tanpa ada senyuman dan tatapan bersahabat. Lelaki itu menatapya dengan tatapan dingin. “Benarkah?”   “Aku sudah memperingatkanmu Gerald. Aku tak main-main tentang ini. Aku tak akan segan menolakmu. Tanpa berpikir dua kali.” Tegas Kyra tanpa mengindahkan Gerald yang sudah mengatupkan rahang dan mengepalkan kedua tangan.   Gerald tersenyum masam. “Baiklah ... aku mengerti. Habiskan minumanmu setelah ini kita pulang.”   Kyra mengangguk kecil seraya meneguk minuman berwarna merah pekat itu dalam satu kali tegukan. Entah mengapa setelah mengatakan itu atmosfir antara dirinya dan Gerald terasa lain. Kehangatan yang terjalin antara mereka pelahan terasa mulai mendingin, membuatnya terasa kaku dan canggung. Sekaligus membuat hatinya sedikit merasa bersalah. Apakah ia salah bicara?   Kyra menggelengkan kecil kepalanya. Sudahlah jangan dipikirkan.   “Kyra ... ayo.”   “Gerald. Minggu depan jangan membawaku fine dining.” Ujar Kyra seraya menatap Gerald lagi, ia membasahi bibirnya sesaat setelah merasakan tatapan dingin lelaki itu menusuknya.   “Kenapa?” tanya Gerald tak terima.   “Tunggu saja minggu depan. Giliranku ... memberimu kejutan.”   Gerald terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. “Baiklah ... ayo ... sekarang kita pulang.”   Kyra meringis pelan menyesali ucapannya. Apa yang baru saja ia katakan? Apa yang harus ia berikan minggu depan pada lelaki itu? Apakah ... ia harus pura-pura lupa?   “Gerald tunggu!” Kyra meraih lengan Gerald menggamit lengan itu, memeluknya. Sedikit berusaha mencairkan suasana.   “Baru saja kau mengatakan akan menolakku tapi sekarang kau memelukku seperti ini.”   “I—itu ... tak ada hubungannya. Itukan jika hal itu terjadi. Sekarangkan tak terjadi apapun, mengapa aku harus menjauh. Benar bukan?”   Kyra meringis sesaat setelah mengatakan itu.   Kau memang gila Kyra. Apa yang baru saja kau katakan.   “Besok pagi aku berencana pulang ke rumah orangtuaku. Kau bisa gunakan waktumu seharian penuh untuk bermain dengan temanmu atau ... apapun. Aku ... akan kembali sebelum makan malam.”   “Kau marah dan kecewa sampai kau berniat kabur?”   Gerald tergelak lalu menoleh ke arahnya. “Kau ... benar-benar sangat percaya diri Kyra. Kau pikir aku sedang patah hati atau gimana?”   Kyra mengedikkan bahu. “Ya ... siapa tahu kan kau patah hati karena jawabanku? Seperti pejuang terbunuh sebelum berperang.”     ***   “Sepertinya aku benar-benar pejuang yang terbunuh sebelum berperang.” Ujar Gerald sesaat setelah menyimpan gelas di atas meja makan. “Ini benar-benar lucu ... aku bahkan di tolak sebelum menyatakan perasaanku Reynalda. Apakah itu tidak terdengar menyedihkan?”   Perempuan paruh baya yang sedang memasak seorang diri di dapur menoleh ke arahnya seraya tersenyum lembut. “Wow. Gadis seperti apa yang menolakmu Mr. Gerald? Seharusnya untuk lelaki sepertimu tak akan sulit mendapatkan pasangan. Apalagi di tolak sebelum menyatakan perasaan.”   “Tapi kenyataannya begitu.” Gerald menghela nafas panjang seraya meneguk air mineral miliknya lagi. “Dia mengatakan tak ingin hidup dengan seseorang sepertiku. Dia mengatakan levelku sangat amat jauh dengannya. Padahal selama ini ... aku tak pernah memandang rendah status sosial seseorang. Ataukah ... aku terlihat seperti itu Reynalda?”   “Tidak Mr. Gerald. Kau anak lelaki yang sangat baik, kau tak terlihat seperti itu bahkan sejak pertama kali aku mengenalmu. Setiap orangtua mungkin ingin menjadikanmu menantunya karena kebaikan hatimu. Tapi ... ada beberapa hal yang harus kau pahami Mr. Gerald. Ada sekelompok orang yang lebih memilih menghindar dari orang-orang sepertimu dengan anggapan mereka takut direndahkan. Seperti aku ... aku cukup tahu diri, sekalipun kau baik dan terkadang aku berpikir aku ingin menjadikanmu menantuku tapi aku sadar diri, lebih baik tidak menjadikanmu menantuku daripada nanti anakku mendapatkan hinaan dan cibiran.” Reynalda menghela nafas. “Tak sedikit yang akan memandang rendah kaum seperti kami ketika memutuskan menikah dengan seseorang yang levelnya lebih tinggi Mr. Gerald. Terutama dari lingkungan terdekatmu.”   “Tapi orangtuaku tak begitu Reynalda. Orangtuaku membebaskanku memilih siapapun untuk pendamping hidupku.”   Reynalda terkekeh kecil. “Mr. Gerald ... kau ingin mendengarkan ceritaku? Sedikit ... tentang masa laluku.”   Gerald duduk miring, menatap ke arah Reynalda yang masih sibuk berjibaku dengan bahan masakan. “Apa itu? ceritakan ... .”   Reynalda menghela nafas. “Dulu ... aku pernah memiliki kekasih, mungkin ... sama sempurnanya sepertimu, muda, tampan, mapan dan yang pasti ... kaya raya. Orangtuanya pun menerimaku dengan baik, mereka memperlakukanku dengan sangat baik seperti puteri mereka sendiri, tapi saudaranya yang lain selalu memandangku sebelah mata, menghinaku hingga mengatakan bahwa aku bersamanya hanya karena harta yang dia miliki. Awalnya aku bertahan, dia pun berusaha meyakinkanku. Tapi lambat laun, ketika semakin lama kami bersama hinaan yang kudapatkan benar-benar semakin parah, sampai membuatku frustasi. Jika yang dihina hanya aku mungkin ... aku masih bisa menerimanya, tapi mereka juga menghina orangtuaku, mereka mengatakan orangtuaku sengaja menjualku agar aku bisa hidup senang, agar kami bisa bergelimangan harta. Tak hanya itu, kami pun sering mendapatkan serangan-serangan dan ancaman yang sangat membahayakan kami. Setelah itu ... aku merasa tak kuat lagi, akhirnya aku meminta untuk mengakhiri hubungan itu, kami pun berpisah lalu setelah itu aku bertemu dengan suamiku. Sederhana ... tapi kami bahagia sekalipun harus berjuang bersama-sama dari titik terendah.”   Reynalda barbalik sesaat menatap ke arah Gerald. “Mr. Gerald ... mungkin menurutmu akan mudah menghadapi berbagai hinaan dan cibiran, kau mungkin bisa menganggapnya sebagai angin lalu. Tapi percayalah ... bagi kaum sepertiku ... itu sulit. Sangat sulit. Jadi mungkin ... calon kekasihmu juga berpikir hal yang sama seperti yang kupikirkan.”   Gerald termenung mencerna setiap kalimat yang Reynalda tuturkan padanya. Apakah itu yang Kyra pikirkan? Apakah hal itu juga yang membuat Kyra memberinya peringatan?   Ingatannya melayang pada peracakapannya dengan Algio beberapa minggu lalu tentang Adara yang menghina dua orang gadis di café hingga salah seorang dari gadis itu menyerang balik Adara. Ketika Algio mengatakan bahwa gadis itu adalah gadis dengan peringkat terbaik dan Kyra juga mengatakan dia merupakan mahasiswa terbaik, saat itu ia sudah sadar bahwa Kyra lah yang Algio maksud. Tapi ... apakah benar alasannya karena hinaan Adara?   “Ugh! Aku cemburu. Kau sepertinya mengatakan segalanya pada Reynalda tapi tak mengatakan apapun padaku.” Gerald menoleh ke arah tangga, menatap ke arah Gloria berjalan mendekat kearahnya. “Kau sebenarnya anak siapa? Anakku atau anak Reynalda?”   Gerald terkekeh kecil kemudian bangkit lalu memeluk sang ibu yang tengah merajuk.   “Aku merasa tak berguna. Setiap ada sesuatu kau pasti bertanya pada Reynalda.” Lanjut Gloria lagi dengan wajah merengut, cemburu.   Gerald terkekeh lagi seraya menggelengkan kepalanya. Memang benar ... selama ini ia lebih banyak bercerita pada Reynalda daripada Gloria. Bukan ... bukan karena ia tak nyaman dengan ibunya sendiri, hanya saja ibunya terlalu sibuk mengurus pekerjaan sehingga ia merasa tak tega jika harus membebani ibunya lagi dengan masalahnya yang tak seberapa. Lagipula untuk masalah ini ... Gerald belum bisa mengatakan apapun pada orangtuanya. Ia tak mau mereka semua ikut campur, apalagi hingga menyentuh Kyra atau memaksa Kyra. Terlebih ... ia dan Kyra belum memiliki hubungan apapun.   “Jadi ... kau benar-benar sudah memiliki kekasih? Apakah gadis itu? Gadis yang tinggal di apartemenmu itu Ge?” tanya Gloria terus-menerus diiringi dengan senyuman lebar. “Akhirnya ... Mama akan segera mendapatkan menantu. Kau harus membawanya kemari Gerald, ajak makan malam bersama keluarga kita.”   “Lihat ... bagaimana bisa aku bercerita padamu Ma jika aku belum mengatakan apapun saja kau sudah seperti ini.”   Gloria menghela nafas panjang. “Baiklah baiklah ... maafkan Mama. Mama hanya tak sabar untuk melihatmu menikah Gerald. Mama ingin segera memiliki menantu lalu menimang cucu ... ” Gloria tersenyum lebar. “Pasti menyenangkan saat ada suara bayi lagi di rumah ini.”   “Ma ... cukup.”   “Iya iya! Kau ini ... tak bisa ya melihat Mama-mu ini bahagia? lagipula Gerald apa susahnya kau segera melamar dia? Aku yakin dia akan menerimamu atau ... kau bisa menghamilinya dulu Ge agar dia mau tak mau menikah denganmu segera.”   “Bagus jika ingin menikah, bagaimana jika dia melarikan diri sepertimu Gloria?” Jackson muncul bersamaan dengan Adara di sampingnya.   “Itukan berbeda! Kau menghamiliku saat kita tidak saling mengenal!”   “Tetap saja ... kau kabur. Padahal bisa saja kau meminta pertanggung jawabanku.”   Gerald menggelengkan kepalanya seraya terkekeh pelan. Lihatlah ... meminta saran orangtuanya tak pernah sesuai harapan. Mereka selalu saja memberikan saran-saran aneh yang tak bisa ia terima.   “Biarkan Papa mengenal kekasihmu terlebih dulu Ge, mengenal lebih dekat pada Papa, Mama dan Adara. Dia harus mengenal kita lebih jauh agar keraguannya hilang. Agar dia sesegera mungkin ingin kau nikahi.”   Gerald menggelengkan kepalanya perlahan. Mengenal mereka semua? Mengenal ... Adara? Sepertinya itu bukan ide bagus. “Dia bukan kekasihku Pa. jangan mengada-ada. Mama hanya bergosip.”   “Bukan kekasih tapi fine dining setiap akhir pekan?”   “Memang bukan Pa ... kami hanya rekan kerja.”   Jackson menghembuskan nafas. “Sudahlah Ge ... jangan di tutupi. Jika memang kau memiliki kekasih dan belum siap mengenalkannya pada kami tak apa ... tapi jangan menyangkalnya begitu.” Ucap Jackson. “Lakukanlah seperti yang kau inginkan. Papa dan Mama berjanji tak akan mendesakmu untuk menikah dalam waktu dekat, yang terpenting .. kau bahagia jika memang sudah memiliki pilihan hatimu sendiri.”   Gerald menarik ujung bibirnya. “Terimakasih Pa. Yasudah ... aku ke toilet sebentar.”   . . .   “Dia pasti menghindar.” Gumaman Gloria sesaat setelah Gerald menjauh. “Selalu saja seperti itu.” lanjutnya seraya mendengus pelan.   Gloria mengalihkan pandangan pada Reynalda yang sedang menata meja makan dengan berbagai jenis makanan. “Rey ... apa yang Gerald ceritakan tadi? Apakah masalahnya cukup berat?”   Reynalda menyunggingkan senyumannya. “Maafkan saya Mrs. Rexford. Itu rahasia Mr.Gerald ... saya tak bisa mengatakannya.”   “Tapi aku ibunya.”   “Sudahlah Glory biarkan Gerald menyimpan rahasianya sendiri, jangan mengganggunya. Jangan membuat Gerald jadi tak percaya siapapun. Seperti yang aku katakan ... dia pasti akan memberitahu kita nanti ... saat dia siap.” Jackson mengalihkan pandangan pada Reynalda. “Pastikan kau mendengarkan keluh kesahnya dengan baik Rey jika dia mengatakan sesuatu.”   “Baik Mr. Rexford.”   Adara menghembuskan nafas perlahan seraya menimang gelas di tangan dengan jemari. “Ma ... kau bilang Gerald tinggal bersama kekasihnya itu kan?”   Gloria mengangguk kecil. “Memang kenapa Dara?”   Adara menarik kedua ujung bibirnya. “Adara ... hanya berpikir untuk berkunjung ke apartemen Gerald nanti ...   Untuk mengenal ... calon kakak ipar.”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD