Paula menghentikan langkahnya diambang pintu, ia menghela nafas lalu menatap ke arah Algio yang berjalan satu langkah di depannya dengan tatapan malas. Beberapa saat yang lalu ia terpaksa mengikuti lelaki ini setelah dia benar-benar bersikeras menunggunya selesai bekerja. Ia benar-benar terpaksa saat berpikir untuk ikut, ia hanya tak ingin adu mulut atau bertengkar lebih banyak lagi. Sungguh ... ia hanya sedang malas.
“Kenapa?” Algio berbalik ketika menyadari ia menghentikan langkah.
“Tak bisakah kau berbicara saja sekarang? Kenapa kita harus memasuki restaurant begini?”
Algio menyunggingkan senyumannya, lelaki itu bergerak mendekat lalu menggiringnya memasuki restaurant Italia itu. “Duduk ... ini buku menunya.” Ujar Algio seraya memberikan sebuah buku menu sesaat setelah ia dipaksa duduk.
Paula menghela nafas lagi, membuka setiap lembar menu itu tanpa minat sama sekali kemudian menutupnya kembali tanpa tahu makanan apa yang harus ia pesan. Ia sudah katakan ia sedang malas bukan? Berarti itu termasuk juga dengan makan malam ini. I
“Sudah ada yang kau inginkan?” tanya Algio dengan sangat tenang.
“Pasta saja, pasta apapun terserahmu.” Jawab Paula.
Algio pun memanggil pelayan lalu menyebutkan berbagai makanan yang lelaki itu pesan dalam bahasa Italia yang sangat lancar, bahasa yang tidak ia mengerti sama sekali. Dan ... Ok. Ia tak peduli tentang itu sebab dalam pikirannya saat ini ia hanya ingin pulang.
“Jadi ... apa yang ingin kau katakan?” tanya Paula sesaat setelah pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua. ”Kau menungguku selesai bekerja lalu membawaku kemari bukan untuk pamer kau lancar bahasa Itali ‘kan?”
“Tentu saja bukan ... aku hanya ... .”
“Atau kau ingin membuktikan kau benar-benar lelaki kaya raya?” tanya Paula dengan cepat, ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah seringaian.
“Kau tak perlu melakukannya.” ujar Paula. “Bagaimanapun kau ... .” Paula menghela nafas menatap Algio lagi. “Aku tak pernah benar-benar tertarik padamu dan tak berminat untuk tertarik denganmu sekalipun kau memang orang kaya. Jadi jika kau datang untuk menjeratku sebaiknya jangan lakukan itu.”
“Kenapa?”
Paula mendelik. “Sudah kukatakan aku tak tertarik.”
Algio menghela nafas. “Oh! Baiklah. Aku pun sekarang sedang tak bermaksud mengatakan itu. Aku datang dan menunggumu hanya ingin makan malam denganmu, sebagai permintaan maafku atas semua yang Adara katakan terhadapmu dan temanmu. Tadinya ... aku pikir temanmu pun ada di sana, tapi sepertinya tidak. Tapi tak masalah jika sekarang hanya bersamamu. Aku bisa menemui temanmu lain kali.” Algio menyunggingkan senyuman tipis padanya. “Jadi ... jangan salah paham.”
Algio mendengus kecil seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ternyata masalah itu. “Kau tak perlu melakukannya, kau tak bersalah. Selama ini Adara memang memperlakukan kami dengan sangat buruk, tanpa sebab yang jelas. Tak perlu di pikirkan. Lagipula hanya tersisa satu semester dan setelah itu ... bye bye ... aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi.”
“Apakah Adara benar-benar buruk pada kalian? Maksudku ... setiap waktu?”
“Seperti yang kemarin kau dengar.”
“Aku benar-benar minta maaf Paula ... Adara memang sangat manja dan segala sesuatu harus dia dapatkan, dia juga tak pernah bisa untuk tersinggung. Aku harap kau mengerti.” Jelas Algio lagi.
Paula bersedekap. Ia menatap Algio dengan tangan yang bertumpu di atas meja. “Kau memiliki hubungan apa dengan Adara? Kenapa kau harus bertanggung jawab meminta maaf? Kau suaminya?”
Algio tergelak dengan kepala yang menggeleng beberapa kali. “Mana mungkin? Dia ... hanya adik dari temanku. Secara kebetulan kemarin Kakaknya meminta bantuanku untuk menjemputnya.”
“Ah ... begitu?” gumaman Paula. “Sudahlah ... jangan membicarakannya lagi. aku muak.”
“Jadi kau memaafkannya?”
“Aku tak akan pernah benar-benar memaafkannya kecuali dia sendiri yang meminta maaf. Tapi aku tak memiliki dendam, aku tak memikirkan ucapannya lagi. Tak berguna juga.” Jawab Paula.
Algio menghela nafas. “Baiklah ... aku mengerti.”
Tak lama setelah itu para pelayan datang membawa makanan pesanan mereka, membuat keduanya tak terlibat percakapan lagi sampai akhirnya pulang meninggalkan tempat itu.
***
Selepas makan malam dan kembali ke apartemen, Kyra tak langsung beristirahat. Kyra memilih memasuki studio, duduk di depan kanvas dengan beberapa goresan abstrak di atasnya. Mencoba menggambar dengan sisa ide yang ia miliki kemarin dan ide yang terlintas beberapa saat lalu, saat Gerald memeluknya dan juga menciumnya di sela-sela mereka berdansa.
Wajah Kyra serasa terbakar saat membayangkan ciuman itu. Ciuman kedua mereka yang ... terasa begitu romantis. Ciuman yang tak pernah ia duga sama sekali akan ia dapatkan lagi dari Gerald.
.
.
.
Oh! Sialan!!!
“Lepas Gerald! Apa yang kau lakukan? Lepaskan kedua tanganmu!”
“Kita sedang berdansa Sayang ... memang apa lagi yang sedang kita lakukan?”
Kyra menggeliat dalam pelukan itu, mendorong Gerald agar lelaki itu menjauh. Akan tetapi Gerald tak mengindahkannya. Gerald justru semakin mengeratkan pelukan pada pinggangnya sehingga tubuh mereka semakin berimpit, berdempetan begitu rapat hampir tanpa jarak, jika saja Kyra menahan d**a Gerald dengan kedua tangannya, berusaha menjauhkan tubuh mereka, berusaha memberi jarak agar tak terlalu intim.
“Lepas Gerald.” Desis Kyra seraya menggeliatkan tubuhnya. “Kau ... lagi-lagi kau membodohiku!”
“Aku? Tidak. Aku tak melakukannya.”
“Tapi kau sudah merencanakan ingin berdansa seperti ini denganku kan?!” seru Kyra tak terima. “Kau! Ternyata ... selain kejam kau juga penuh intrik Gerald. Kau benar-benar licik. Berapa puluh wanita yang sudah kau tipu dengan trik kotor seperti ini?”
Gerald terkekeh kecil dengan kepala yang menggeleng perlahan. “Tidak sayang ... bukan licik, hanya bermain cerdik.”
“Berhenti memanggilku sayang atau ... .”
“Atau apa?” sergah Gerald seraya mencondongkan wajah ke arah wajahnya.
Kyra menggeliat kembali berusaha melepaskan pelukan erat dari kedua tangan Gerald di pinggulnya. Tapi sayang sekali ... percuma. Pergerakannya tak membuahkan hasil. Jangan tanya seerat apa pelukan lelaki itu! Sangat erat. Sampai-sampai ia bisa merasakan bentuk tubuh atletis sempurna dari tubuh Gerald, d**a bidang, beberapa kotak di perut bahkan terasa begitu menempel dengan perut ratanya, juga tangan sekeras batu yang tentu saja membuatnya semakin sulit melakukan apapun.
“Gerald!”
“Hm?”
Kyra menatap berang pada Gerald yang menatapnya dengan tatapan intens. Ia mencebik ketika lelaki itu memberikan senyuman tipis yang sangat ia benci.
“Berhenti menggeliat Kyra, kau akan membangunkan adikku jika terus melakukan itu.”
Blush!
Apa katanya? A—adik?
Mata Kyra mengerjap, menatap ke arah Gerald yang sudah mencondongkan wajahnya, hingga ujung hidung mereka bersentuhan ringan. A—adik apa?
Gerald menyeringai. “Kau merasakannya? Dia ... mulai tegang.”
Seketika mata Kyra membulat sempurna setelah menyadari maksud dari ucapan lelaki itu. “Gerald sialan! Kau benar-benar! Dasar lelaki kejam! Licik! Dan m***m! Enyah saja kau! Menyebalkan!”
Gerald tergelak hingga menumpukan kepala pada bahunya yang terbuka. Lelaki itu tertawa begitu puas, hingga tubuhnya bergetar hebat.
“Tak ada yang lucu!”
“Kau lucu sayang ... lihatlah wajah panikmu.” Tangan kanan Gerald naik membelai wajahnya yang terasa sangat panas, malu setelah menyadari adik yang di maksud oleh lelaki itu.
“Aku bercanda sayang ... aku tidak semesum itu.” Kali ini Gerald tersenyum lembut seraya melepaskan pelukan di pinggangnya. Kedua tangan Gerald berpindah, menangkup wajahnya, mengelus kedua pipinya dengan begitu lembut menggunakan ibu jari.
“Tenanglah ... Kyra. Aku pandai mengendalikan diri. Aku bukan lelaki m***m, apalagi lelaki hidung belang ... dan ... satu hal yang harus kau tahu ... hanya kau yang aku perlakukan seperti ini. Aku tak pernah bersikap manis pada perempuan manapun sekalipun ... pada adikku.”
Mata Kyra membulat lagi, Gerald kembali terkekeh kecil. “Maksudku adik perempuanku.”
Kyra meneguk ludahnya kasar, tangannya naik bermaksud menepis kedua tangan lelaki itu dari wajahnya, tapi ... lagi-lagi tak berhasil, tangan sekeras batu itu tak bisa ia singkirkan dengan mudah.
“Gerald! Lepaskan!” Kyra menatap Gerald kembali, memperhatikan iris mata lelaki itu yang kini bergulir, sedikit turun menatap ke arah bibirnya. Secara naluri Kyra meneguk ludahnya kasar lalu membasahi bibirnya setelah itu ia gigit. Gugup.
Namun dengan cepat Gerald meraih dagunya, menjauhkan bibir bagian bawahnya dari gigi-giginya yang menggigit ujung bibir itu. Membuat kedua belah bibirnya terbuka.
“Kyra ... Aku ingin menciummu.”
Mata Kyra mengerjap saat bibir Gerald benar-benar meraup bibirnya, melumatnya dengan lembut dari bibir bagian bawah lalu berganti ke bibir bagian atas. Kyra memejamkan matanya sesaat setelah merasakan desiran hangat yang mulai merambat masuk memenuhi dadanya seiring dengan ciuman yang semakin intim.
Bibirnya perlahan ikut bergerak bersamaan dengan itu sebelah tangan Gerald memeluk pinggangnya lagi, tangan yang lain menekan tengkuknya memperdalam ciuman mereka.
.
.
.
“Kyra ... .”
Kyra terjengit, matanya mengerjap beberapa saat ketika mendengar bisikan Gerald tepat di belakang telinganya. Ketika ia hendak berbalik lelaki itu dengan cepat memeluknya dari belakang, menumpukan kepala pada pundaknya.
“Aku memanggilmu beberapa kali. Kenapa kau tidak menyahut?”
“A—aku sedang melukis.”
“Aku tak melihat sedikitpun cat baru yang tergores di kanvas.”
“Ah? I—itu ... .” Kyra mengerjapkan matanya lagi, lalu membasahi bibirnya gugup. Berusaha mencari alasan terbaik tapi otaknya tak bekerja sama sekali. Tak menemukan alasan yang bagus, yang masuk akal.
“Kau melamun Kyra?”
“A—ku sedang berpikir, ya ... aku sedang berpikir. Aku sedang mencari inspirasi.”
“Lukisanmu terlihat indah meskipun baru beberapa persen.”
“Hah?”
Mata Kyra mengerjap lagi kemudian menatap kanvas yang dipenuhi dengan warna merah muda dan biru.
Gerald terkekeh kecil lalu mengusak kepalanya sesaat. “Kau benar-benar melamun Kyra? Kau ... membayangkan apa sampai tak sadar membuat lukisan?”
Kyra memandang kanvas di depannya, apa yang sedang berusaha ia gambar ini? Bagaimana bisa secara tak sadar ia melakukannya? Apakah karena ... bayangan itu?
Kyra terkesiap saat merasakan kecupan hangat ia terima di puncak kepalanya. Jantungnya perlahan berdegup dua kali lebih kencang, seiring dengan kecupan dan pelukan serta bayangan yang hinggap dalam ingatannya.
Kyra mengeratkan genggaman tangannya pada kuas di tangan kanan saat merasakan debaran jantungnya ini terasa semakin hebat. Hingga punggungnya pun dapat merasakan detakan jantungnya itu.
Tunggu ...
Kyra melirik Gerald yang kini menumpukan kepala pada bahunya lagi dengan ujung matanya.
Apakah debaran jantung sekencang ini adalah debaran jantung miliknya? Atau ... debaran jantung mereka berdua?
“Ge—.”
“Biarkan aku begini. Sebentar saja.”
Kyra diam, tak berusaha mengurai tangan Gerald yang melingkupi tubuhnya kala pelukan itu semakin mengerat.
“Ke—kenapa?”
“Karena ... .”
“... Kau membuatku nyaman Kyra ... .”