12. Jebakan Lain

1885 Words
“Aku sudah katakan kita akan fine dining bukan?”   Kyra mengangguk kecil dengan sangat santai untuk menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Gerald. Seolah tak ada yang salah pada dirinya.   Sementara itu Gerald menatap Kyra dari ujung kaki hingga ujung rambut. Menelisik penampilan perempuan itu dengan seksama. Memastikan ia tak salah melihat jika Kyra hanya menggunakan sneakers, skinny jeans dan hoodie croptop, dengan rambut yang di kuncir ekor kuda. Penampilan yang lebih pantas dipakai untuk jalan-jalan bersama teman, daripada dipakai untuk fine dining.   Gerald menatap Kyra sangsi. “Kau yakin fine dining dengan pakaian ini?”   “Tentu. Memang kenapa?” Kening Kyra mengerut, ia pun mengikuti arah pandang Gerald yang masih menelisik penampilannya. “Oh!” serunya ketika menyadari maksud dari ucapan Gerald. Kyra tersenyum masam. “Memang apa yang kau harapkan dari aku Gerald? Aku bukan gadis dari kalangan atas yang memiliki gaun mewah untuk pesta dan acara semacam fine dining. Hidupku hanya kampus, café dan rumah. Tak ada waktu untuk makan malam mewah seperti yang kau katakan. Tentu saja ... aku tak memiliki gaun seperti yang kau harapkan. Kau ingat Gerald ... aku bukan gadis kaya raya!”   “Siapa bilang kau bukan orang kaya Kyra?”   Bibir Kyra mencebik. “Memang kenyataannya seperti itu. Untuk apa aku tutupi?”   “Kau kaya hati, kau juga kaya dengan ide brilian. Kaya tak harus melulu tentang harta Kyra.”   Kyra tertegun. Sesaat kemudian iris matanya mengerjap, menatap ke arah Gerald lagi yang kini tengah tersenyum begitu lembut padanya. “Apa yang kau katakan? Sudahlah! Ayo!” seru Kyra seraya beranjak memasuki lift, meninggalkan Gerald yang justru hanya terkekeh kecil di tempat sama.   Wajah Kyra memanas melihat tingkah Gerald. Malu. Ia tahu lelaki itu pasti tengah menertawakan tingkahnya. Dia pasti sedang meledeknya dalam hati.   “Jadi pergi tidak?!” seru Kyra kesal.   Gerald melangkahkan kaki masuk ke dalam lift yang sama dengan bibir yang masih terlihat menahan senyuman. “Jadi kok, jadi. Kau sudah tak sabar ya makan malam bersamaku?”   Kyra tak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya memutar bola mata, mengalihkan pandangan ke arah lain, mengabaikan Gerald. Tak memedulikan tingkah menyebalkan lelaki itu.     . . .   “Bukankah kau bilang kita akan makan malam? Kenapa kau membawaku ketempat seperti ini?” tanya Kyra sesaat setelah kendaraan yang mereka tumpangi berhenti didepan sebuah bangunan dengan nama Gloria’s Tailor, yang ia tahu tempat itu merupakan salah satu butik ternama milik keluarga Rexford.   “Jangan terlalu banyak bertanya. Ayo. Semua orang sudah menunggumu.”   “Semua orang?” Kening Kyra mengerut. “Apa maksudmu?”   Gerald keluar lebih dulu dari dalam kendaraan itu, tak lama kemudian Gerald membuka pintu mobil di sampingnya lalu tanpa berkata lebih lanjut lelaki itu menarik tangannya. Memaksanya keluar dari dalam kendaraan itu, menyeretnya masuk ke dalam tempat tersebut.   “Hera ... .” Panggil Gerald, sampai seorang perempuan berpakaian rapih mendekat ke arah mereka. “Kau sudah mengerti bukan dengan yang kukatakan sebelumnya?”   Perempuan itu mengangguk santun kemudian tersenyum tipis. “Tentu Sir ... .” jawab perempuan itu sebelum menatap ke arahnya. “Mari Miss ... ke arah sini.”   “Hah?” Kyra menatap Gerald dengan kening berkerut. “Ge ... .”   “Miss ... .”   Kyra menggeram. “Kau!” ia menunjuk wajah Gerald yang mengabaikannya. Lelaki itu meraih jarinya, menggenggam tangan kanannya kemudian mencium pungung tangannya dengan cepat. Membuat iris mata Kyra seketika membulat sempurna.   “Bersiaplah. Aku akan menunggumu di sini.” Ujar Gerald sebelum Kyra di tarik oleh dua orang memasuki sebuah ruangan yang tidak Kyra mengerti.   Oh! Sialan! Gerald sialan!!!   ***   Paula menghembuskan nafasnya perlahan sesaat sebelum berjalan ke arah salah satu pelanggan baru yang berada di sudut ruangan. Ia hanya menatapnya selama beberapa saat sampai akhirnya mendekat ke arah lelaki itu dengan langkah gontai.   “Silahkan ... ini menunya.” Ujar Paula seraya memberikan buku menu ditangannya.   “Paula ... .”   Langkah Paula terhenti ketika sebuah tangan meraih tangan kanannya. Ia menghela nafas panjang kemudian berbalik ke arah lelaki itu.   “Sir ... tolong hormati saya. Saya sedang bekerja.”   Lelaki itu, Algio. Dia melepaskan tangannya dengan cepat, lalu menatapnya seraya tersenyum tipis. “Ah! Maaf. Aku hanya ingin mengatakan, aku akan menunggumu sampai jam kerjamu selesai. Ada beberapa hal yang harus aku katakan padamu.”   “Tak perlu. Silahkan pergi jika anda tak berniat membeli apapun.”   “Segelas americano.” Lelaki itu tersenyum lagi padanya.  “Aku akan menunggu.”   Paula mendengus. “Kepala batu.” ujarnya kemudian beranjak meninggalkan Algio.   ***   “Kau benar-benar sudah merencanakan semuanya dengan sangat rapih Gerald.” Ujar Kyra sarkas sesaat setelah ia mendudukkan diri di tempat duduk yang bersebrangan dengan tempat duduk Gerald.   Iris mata Kyra bergulir menatap sekeliling ruangan yang tampak kosong, sepi tanpa ada pelanggan lain. Tapi Kyra tak bodoh dengan berpikir restaurant ini sepi atau tak laku. Ia tahu ... restaurant ini kosong bukan tanpa alasan. Tapi Gerald sengaja mengosongkan tempat ini.   “Sejak kapan kau merencanakan ini?” tanya Kyra.   Gerald menarik ujung bibirnya. “Kemarin.”   “Kau benar-benar akan membuatku menerima tawaran itu Gerald?” Kyra menatap Gerald seraya menghembuskan nafasnya, berusaha setenang mungkin. “Sekalipun aku menolak kau akan membuatku menerima tawaran itu bukan?”   “Tentu.” Gerald terkekeh kecil. “Ternyata kau lebih pintar dari dugaanku Kyra. Kau dapat memahami maksudku dengan cepat tanpa harus membuang waktu lebih banyak lagi.”   “Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau pikir aku bodoh? Kau merendahkanku? Asal kau tahu Gerald aku yang terbaik diangkatanku! Tak ada seorangpun yang bisa menandingi nilai akademikku di kampus.”   Sebelah alis Gerald naik. Menatapnya dengan tatapan penuh tanya. “Kau terbaik?”   “Tentu saja! Apa-apaan ekspresi wajahmu itu? Kau pikir aku perempuan bodoh? Ingat ini Gerald ... aku tidak seperti perempuan lain yang mudah di bodohi. Jadi ... jangan berpikir kau bisa membodohiku lagi!” tegas Kyra memberikan peringatan keras.   Gerald terkekeh kecil setelah mendengar ucapannya. “Baiklah baiklah ... aku tahu ... kau pasti tak akan bisa terbodohi lagi Kyra. Setidaknya ... orang lain tak akan mudah menipumu.”   Kening Kyra mengerut. “Orang lain? Tentu saja kau pun tak akan pernah bisa menipuku lagi Gerald! Sampai kapanpun kau tak akan pernah bisa menipumu lagi. Aku tak akan pernah masuk dalam jebakanmu lagi.”   Gerald kembali terkekeh seraya menggelengkan kepalanya sesaat. “Kau sangat yakin sayang ... tapi ... baiklah. Aku percaya padamu. Jadi sekarang ... jawabanmu?”   “Kau pikir aku memiliki jawaban lain? Tentu saja jawabanku hanya satu. Yes, Master! Aku akan memenuhi keinginanmu.” Kyra mendengus setelah menyelesaikan kalimatnya. “Aku pastikan setelah ini kau tak bisa menjebakku lagi Gerald.”   “Ya ... aku percaya sayang ... Jadi sekarang ... kau sudah memutuskan akan memanggilku seperti apa? Master? Gerald? Atau sayang? Sekarang aku akan membebaskanmu memanggilku apapun Kyra, kau tak perlu memanggilku master lagi.”   Kyra mendengus lagi setelah mendengar pertanyaan itu. Ia tak boleh terpancing emosi lagi, tidak ... jangan berbuat hal memalukan di tempat ini Kyra ... pikir Kyra.   “Jangan senang dulu Mr. Rexford yang terhormat. Aku memiliki beberapa hal sebagai syarat.”   Alis kiri Gerald naik, menatapnya dengan tatapan penuh tanya.   “Aku sudah katakan di chat. Aku memiliki syarat untuk jawaban itu.” lanjut Kyra seraya menyunggingkan senyumannya.   Gerald menghela nafas panjang. “Baiklah. Apa itu? Katakan.”   “Pertama, aku tak ingin bekerja di kantor. Aku hanya akan mengerjakan pekerjaanku di apartemen.”   Gerald mengangguk tanpa berpikir dua kali. “Ok. Lagipula kita tinggal bersama. Aku tak akan keberatan.”   “Kedua, kau harus menepati janji akan membayarku dengan bayaran tinggi, jika bayaran bulan pertama tak sesuai dengan keinginanku aku akan berhenti bekerja.”   Gerald pun mengangguk tanpa berpikir panjang. Kyra menarik ujung bibirnya sesaat seraya menatap Gerald. Lelaki itu ... tak tahu saja bahwa kedua ini adalah salah satu caranya untuk lolos di bulan kedua nanti. Ia akan melakukan apapun agar keluar dari jerat lelaki ini termasuk mengatakan hal tak masuk akal tentang bayaran tak sesuai, berapapun nominal yang lelaki itu berikan.   “Ketiga, jika kau ingin aku memberikan desain terbaik kau harus memberikanku minuman terbaik juga. Aku rasa koleksimu tak ada yang buruk bukan?” tanya Kyra seraya tersenyum penuh kemenangan saat melihat Gerald mengeluarkan ekspresi lain.   Gerald menatapnya dengan kening mengerut.   “Aku bisa menggambar kemarin karena segelas minuman yang aku ambil darimu.” Kyra menatap Gerald lagi yang masih belum memberikan reaksi apapun. “Ah! Sepertinya kau sayang ya pada minuman koleksimu itu?”   Gerald menghembuskan nafas seraya menatapnya dengan tatapan tajam. “Aku bukan memikirkan minumannya Kyra. Tapi ... kesehatanmu. Jika kau harus terus menerus minum untuk mendapatkan inspirasi, lambat laun kesehatanmu yang akan terganggu.”   “Tapi hanya cara itu yang bisa membuatku mendapatkan ide bagus.”   “Kau sudah mencoba dengan cara lain?” Tanya Gerald.   Kyra menggeleng ragu. “Tapi tak ada cara yang lebih mudah daripada itu. Jadi ... .”   “Seharusnya ada Kyra ... pasti ada cara lain.”   “Contohnya?” tanya Kyra dengan malas.   Gerald menatap iris matanya dengan intens selama beberapa saat sebelum memberikan jawaban.   “Pheromone ... lelaki yang kau cintai.”   Kyra tertegun. Bola matanya membesar diiringi dengan detak jantung yang secara perlahan mulai berdetak dua kali lebih cepat. Hatinya mendadak hangat hingga membuat wajahnya terasa memanas.   “A—apa?”   Gerald bangkit, lelaki itu kemudian meraih tangannya, membuatnya bangkit tepat dihadapan lelaki itu. Tak lama kemudian secara mendadak Gerald memeluknya, memeluk pinggangnya, merapatkan tubuh mereka dengan tangan kanan menekan tengkuknya hingga bersandar di pundak, terbenam diantara lekukan leher lelaki itu.   Aroma maskulin seketika memenuhi rongga hidungnya. Aroma yang menunjukan dua sisi, kuat dan lembut secara bersamaan.  Aroma air laut, citrus, tonka bean vanilla. Wangi yang nyaman, yang membuat imajinasinya melayang jauh, hingga ia bisa membayangkan dirinya berada di pinggir pantai, dibawah hangatnya senja, sehangat aroma ini. Aroma yang juga membuat hatinya mulai terasa penuh akan kehangatan.   Bersamaan dengan itu alunan musik romantis perlahan berputar memenuhi ruangan itu, menambah suasana hangat yang sudah terbangun karena kedekatan mereka. Gerald perlahan membawa tubuhnya bergerak mengikuti alunan musik tersebut.   “Dance with me darl ... .”   Seketika kelopak mata Kyra terbuka, ia kemudian menegakkan tubuhnya menghadap Gerald, menatap lelaki itu dengan iris mata yang memicing, menatap lelaki itu curiga.   Gerald memberinya senyuman seraya mengeratkan pelukan pada pinggangnya. Membuat tubuh mereka bersatu hingga tak ada kesempatan baginya untuk memberontak, menjauh dari lelaki itu.   Mata Kyra perlahan mengerjap.   Apakah kali ini ia terjebak lagi?   Oh! Sialan!!!   ***       “Jackson! Lihat. Gerald benar-benar berkencan! Hera mengatakan dia membawa seorang gadis ke tempatku, dan mendandaninya untuk fine dining. Manager Reesha’s Hotel juga mengatakan Gerald mereservasi restaurant hanya untuk berdua.” Gloria memegang lengan suaminya dengan senyuman yang merekah sempurna. “Gerald benar-benar berkencan Jack ... sepertinya anak kita akan segera membawa menantu.” lanjut Gloria diiringi dengan senyuman yang semakin lebar penuh dengan kebahagiaan.   Jackson mengelus kepala Gloria sesaat lalu mengecup puncak kepala sang istri dengan begitu lembut. “Kita tunggu saja sayang ... cepat atau lambat Gerald pasti akan jujur. Sebab ... jika dia membawa gadis itu masuk dalam lingkungan kita seperti itu, aku yakin ... Gerald tak bermaksud menyembunyikannya. Kita hanya perlu menunggu, sedikit lagi.”   Gloria mengangguk penuh semangat. Akhirnya penantian yang sudah lama sekali ia tunggu akan segera akan segera terwujud. Ia ... akan segera memiliki menantu.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD