11. Jebakan

1696 Words
  “Aku serius dengan tawaranku. Pikirkan dengan baik.”   Kyra mendesah seraya meneguk minuman bersoda yang berada di hadapannya, setelah itu mendengus pelan. Sudah lebih dari delapan belas jam yang lalu mereka membahas itu tapi pikirannya terus menerus dihantui oleh tawaran Gerald yang seolah tak ada habisnya lelaki itu layangkan. Hampir setiap menit setelah mereka bagun tidur pagi ini Gerald selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Secara langsung, chat atau telepon. Lelaki itu terus menghantuinya, terus berusaha membuatnya luluh dan menyanggupi keinginan lelaki itu.   .   Kyra ... bagaimana? Kau sudah memiliki keputusan? Aku masih menunggu jawabanmu. Ingat. Aku ingin kau menjawab seperti yang aku inginkan. Sampai bertemu nanti malam sayang ... Siang ini aku tak pulang.   .   “Gila.” Ujarnya lirih seraya membenturkan keningnya pada meja beberapa kali sesaat setelah melihat kalimat manis yang Gerald berikan padanya lagi. “Dasar lelaki gila.” Umpatnya lagi dengan suara yang lirih.   “Kyra.”   Kepala Kyra terangkat dengan cepat kala seseorang yang sedang ia tunggu sudah tiba di hadapannya. “Gab. Cepat sekali. Aku rasa area kampus dengan tempat ini cukup jauh.”   “Hng?” Gabriel mengerjap sesaat. “Aku kebetulan sedang jalan di daerah sini. Sedang mencari inspirasi.”   “Ahh ... begitu. Pantas saja cepat.” Ujar Kyra malas setelah itu mendorong sebotol minuman bersoda yang lain pada Gabriel. “Maaf aku memintamu datang jauh-jauh kemari, aku sedang malas pergi kemanapun.”   “Tak masalah.”   “Kau tak bertanya kenapa aku ada di daerah ini?” tanya Kyra seraya menatap ke arah Gabriel yang tengah menenggak minumannya. Hari ini ia memang meminta Gabriel menemuinya di sekitaran apartemen Gerald, sengaja sebab ia berniat menceritakan selain itu pikiran Gabriel juga sudah lebih dewasa daripada lelaki seumurannya. Sehingga ia memang selalu meminta pendapat lelaki itu dalam berbagai hal untuk mengatasi solusi. Seperti sekarang, saat ia kalut dengan teror yang ia terima dari Gerald.   “Aku pikir kau akan bertanya itu setelah sampai di sini.” Lanjut Kyra seraya meneguk minumannya lagi.   “Bukankah kau memintaku datang untuk menceritakan semuanya?” Gabriel menghela nafas panjang. “Jadi kau sekarang tinggal di daerah ini?”   Kyra mengangguk kecil. “Tempat majikanku berada di daerah ini.”   “Gerald Rexford?”   Kepala Kyra mendongak dengan cepat menatap ke arah Gabriel. “Kau tahu?”   “Hanya menebak. Jadi benar ... Gerald Rexford?”   Kyra menghembuskan nafas panjang seraya meneguk minuman bersodanya lagi. “Benar. Aku terjebak dengannya Gabriel. Malam itu aku mabuk, aku muntah hingga membuat pakaiannya kotor sampai tak terselamatkan lagi. Lalu keesokan hatinya dia memintaku untuk bertanggung jawab dengan menjadi asisten rumah tangga yang hampir sama seperti b***k selama empat bulan.”   “Lalu?”   “Kemarin kami ketahuan oleh Ibu Gerald sedang berada di rumah itu. Gerald pun mengatakan bahwa aku adalah designer barunya. Dia mengatakan bahwa aku sedang menangani project bersamanya. Padahal aku bukan designer dan aku pun tidak sedang menangani project dengannya.” Kyra mendesah. “Setelah Ibunya pulang dia memintaku untuk benar-benar menjadi designer di perusahaannya, alasannya karena di malam sebelumnya aku menggambar beberapa design perhiasan untuknya. Aku pusing ... bagaimana aku harus menjawab permintaan lelaki itu Gabriel? Dia bahkan hingga mengiming-imingiku gaji tinggi.”   Gabriel menatap Kyra dengan tatapan lembut. “Bukankah itu bagus? Kau bisa segera mengganti rugi semua kerugian yang kau lakukan terhadapnya dengan uang yang kau dapatkan.”   “Jika memang bisa aku tak memerlukan solusi darimu Gab. Sayangnya ... tidak Gab. Sekalipun aku mendapatkan pekerjaan darinya dan mendulang uang banyak aku tak akan dibebaskan begitu saja. Dia bilang dia tak membutuhkan uang untuk rasa bertanggung jawabku, dia mengatakan pertanggung jawabanku tak bisa dihargai dengan uang.” Kyra menghela nafas.   “Kau benar-benar terjebak Kyra.”   Kyra menatap Gabriel dengan cepat. “Hah?”   “Ya ... kau sebenarnya benar-benar terjebak Kyra. Pada akhirnya kau tak akan pernah bisa menolak tawaran kerja itu sekalipun kau sekarang memikirkan cara menolaknya.”   “Pasti ada cara untuk menolaknya Gab! Pasti! Aku yakin itu.”   “Tidak Kyra. Sebab ... jika kau tak menjadi designer-nya seperti yang telah dia katakan pada ibunya, Ibu Mr. Rexford pasti berpikir bahwa kau dan Mr. Rexford berkencan dan tentang kau menjadi designer bisa di anggap sebagai alasan Mr. Rexford untuk menyembunyikan hubungan kalian.” Gabriel menghela nafas panjang. “Dia pun ... pasti akan menggunakan alasan ini untuk menjeratmu hingga akhirnya kau ... benar-benar tak bisa menolak. Aku jamin itu.” jelas Gerald panjang lebar.   “Oh! s**t! Jadi ... aku benar-benar terjebak Gab?”   Gabriel mengangguk kecil tanpa memberikan ekspresi yang berarti.   Kyra mendesah perlahan seraya mencengkram rambutnya. “Pantas saja kemarin dia tak mengatakan bahwa aku pembantunya pada Mrs. Rexford! Jadi karena ini?”   “Gerlad Rexford mendapatkan gelar Genius Bussinesman tentu saja bukan tanpa alasan bukan?”   Kyra meringis, seharusnya memang tak akan pernah ada niatan yang benar-benar tulus yang keluar dari mulut lelaki itu. pasti saja penuh intrik dan juga penuh tipu muslihat. Sayangnya ... ia selalu tak bisa lepas dari tipu muslihat itu. Ia bahkan selalu terjerat sebelum sempat menghindar.   “Gerald sialan! Aku pikir aku sudah cukup pintar akan memanfaatkan tinggal di sana demi mencicipi minuman mewah. Ternyata dia lebih picik!”   “Kau yang terlalu polos Kyra. Sampai-sampai dia dengan mudahnya menjebakmu.”   “Oh ya ... ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan padamu Kyra.”   “Apa itu?”   “Tentang Adara. Aku melihat untuk pertama kalinya kau melawan Adara kemarin. Ada apa? Kenapa kau melakukan itu?”   “Sakit hatiku sudah tak bisa dibendung lagi Gabriel. Lagipula café itu daerah kekuasaan Miss Adelia, aku yakin CCTV di sana tak akan tembus kemanapun. Jadi ... aku hanya melampiaskan semua hal yang sudah sangat mengganggu pikiranku setiap berhadapan dengannya.”   “Berhati-hatilah padanya Kyra. Kalau bisa ... sebaiknya kau hindari dia saja seperti biasanya. Abaikan dia apapun yang dia lakukan padamu. Jangan mencoba untuk menghadapinya, apalagi menentangnya. Cukup abaikan. Anggap saja angin lalu.”   Kyra mendengus. “Aku merasa aku sudah cukup dalam menahan diriku Gabriel. Dia sudah sangat-sangat keterlaluan, mulut kotornya sudah benar-benar tak tertahankan lagi. Seolah tak terdidik dengan baik.” Kyra mendengus pelan. “Kau tahu Gab, terkadang aku bingung padanya. Bagaimana bisa dia sesombong itu padahal Miss Adelia saja yang jelas-jelas salah satu pewaris Archilles tidak sombong sama sekali. Tapi dia ... lagaknya sudah seperti penguasa dunia saja. Seperti semua orang hanya hidup di sekelilingnya.”   “Lalu ... apakah dengan melawan ada untungnya untukmu?”   Kyra menggeleng kecil. “Aku justru merasa buruk telah mengeluarkan kata-kata yang sangat tak pantas untuknya Gabriel, aku selalu sakit hati dengan ucapannya yang tajam, lalu aku membalas ucapannya dengan ucapan yang tak kalah tajam. Aku merasa tak ada bedanya antara aku dan dia. Menang jadi abu kalah jadi arang.”   “Kalau begitu ... jangan lakukan lagi. Cukup abaikan, anggap angin lalu. Jika bisa ... jangan sampai kau berpapasan dengannya lagi. Kau mengerti maksudku Kyra?”   Kyra mengangguk kecil, setelah itu ia menatap ke arah Gabriel lagi. menatap lelaki itu dengan tatapan penuh selidik. “Aku tebak. Kau tahu sesuatu tentang Adara kan? Kau tahu dia berasal dari keluarga mana?”   Bungkam. Gabriel tak menjawab kedua pertanyaan itu sama sekali.   ***   “Coba saja kau kemarin datang ke kampus menjemput Adara.” Ucap Algio setelah mereka kembali ke ruangan Gerald selepas menyelesaikan sesi meeting pagi hingga siang ini.   Gerald terkekeh kecil. “Ah ... ya ... Aku mendengar dari Mama dia pulang dalam keadaan menangis. Apakah sesuatu terjadi padanya?”   Algio terkekeh seraya mengangguk. “Seseorang membentaknya. Membalas semua perkataan Adara dengan sangat berani. Dia bahkan tampak tak ragu saat melawan Adara dengan mengatakan Adara hanya gadis manja yang mengandalkan orangtua. Kau tahu ... dia juga berani menyenggol bahu Adara lalu pergi begitu saja.”   “Kau bisa membayangkan wajah Adara?” lanjut Algio lagi. “Wajahnya sangat merah, aku rasa marah sekaligus malu. Karena selama ini bahkan tak pernah ada yang berani membalas kata-katanya.”   Gerald menggelengkan kepalanya sesaat. Adara memang adiknya yang sangat manja, di usianya yang menginjak 22 tahun Adara masih saja manja seperti anak remaja, padahal seharusnya dia sudah beranjak dewasa. Gerald terkadang bingung harus menghadapi sikap kekanak-kanakan Adara dengan cara seperti apa, sehingga ia lebih cenderung mendiamkannya saja. Tak berusaha memanjakan atau mengabaikannya sama sekali. Ia benar-benar hanya bersikap biasa saja.   Sekilas orang lain mungkin menduga ia tak menyayangi Adara, tapi percayalah sebenarnya ia sangat menyayangi adiknya lebih dari apapun.   “Siapa yang memulai pertengkarannya?” tanya Gerald.   “Adara. Sebenarnya gadis itu tak melakukan apapun, dia tidak mencari gara-gara. Tapi Adara yang tiba-tiba datang, langsung menghina kedua gadis itu. Ucapan Adara sangat tajam sampai aku tak berniat melerai mereka saat salah satu gadis itu membalas ucapan Adara. Aku pikir selama orang itu tak berniat menyakiti Adara ... aku biarkan saja.” Algio menghela nafas. “Aku juga berpikir... itu mungkin saatnya bagi Adara untuk belajar menghadapi realita hidup yang keras. Agar dia siap menghadapi dunianya sendiri nanti, agar tak terlalu bergantung pada kalian.”  “Kau benar Algio, harus ada seseorang yang berani pada Adara dan tak mungkin orang itu adalah kami, keluarga intinya.” Gerald menarik ujung bibirnya. “Aku jadi penasaran gadis macam apa yang berhasil membuat Adara sampai menangis begitu.”   Algio terkekeh kecil mendengarnya. “Hanya seorang gadis mungil yang berpenampilan sangat sederhana Algio. Benar-benar gadis biasa tapi kata Adara gadis itu selalu mendapatkan nilai terbaik, Adara tak pernah melampauinya sama sekali.”   Satu alis Gerald naik, “Mahasiswa terbaik ya?”   Algio mengangguk. “Kau tahu sendiri selama sekolah tak ada yang bisa mengalahkan Adara, jadi sekarang ... aku pikir Adara mungkin merasa tersaingi dan tak terima selalu di kalahkan, makanya Adara terlihat sangat memusuhinya.”   Kepala Gerald menganguk-angguk kecil lalu menghela nafas. “Baguslah. Aku harap Adara bisa berubah.” ujar Gerald seraya mengambil dokumen yang harus ia periksa lagi.   Ponsel Gerald berdering saat ia mulai kembali berfokus pada pekerjaannya. Ternyata sebuah pesan balasan dari perempuan yang sedang sangat ia tunggu, Kyra.   .   Baiklah Gerald, aku mau. Tentu saja dengan berbagai syarat yang harus kau penuhi.   .   Good. Kalau begitu bersiap. Membicarakan syarat sekaligus fine dinning. Aku akan menjemputmu.   .   Gerald tersenyum penuh kemenangan.     Sampai kapanpun ... kau tak akan pernah bisa menolakku Kyra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD