“Bye bye ... .”
Kyra tersenyum santun seraya melambaikan tangannya pada perempuan paruh baya itu. Setelah pintu lift tertutup barulah ia berbalik ke arah Gerald yang berdiri tepat satu langkah di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di d**a. Perlahan wajahnya naik, iris matanya nyalang, menantang lelaki itu.
“Kau!” Kyra mendengus. “Kau benar-benar menyebalkan!” seru Kyra seraya berlalu meninggalkan Gerald.
FLASHBACK
“Gerald ... kau sedang apa? Siapa perempuan ini?”
Kyra dan Gerald menoleh secara bersamaan, menatap ke arah sumber suara.
“Ma ... .” ujar Gerald.
Kening Kyra mengerut. “Ma?” tanyanya. Matanya mengerjap sesaat kemudian melepaskan pelukan tangannya dari tubuh Gerald. Ia mundur beberapa langkah kemudian meneguk ludahnya kasar, ia pun membungkuk sesaat seraya membasahi bibirnya. Berusaha menyapa perempuan itu dengan sopan.
“Selamat siang Ma’am."
Gerald melirik Kyra sesaat sebelum mendekat ke arah ibunya. “Ma ... sedang apa Mama di sini? Kenapa tak bilang akan datang?”
“Memang Mama tak boleh datang melihat anak Mama? Dan ... Gerald. Mama tak tahu kau punya kekasih.”
Mata Kyra membulat sempurna saat mendengar kalimat itu. Apa katanya? Kekasih? jangan gila! Mana mau ia jadi kekasih lelaki itu! lelaki yang menyebalkannya hampir tak ada obat.
“Ma! Bukan. Dia bukan kekasihku.”
“Benar. Ma’am ... saya bukan kekasih orang ini! Tak mungkin saya mau menjadi kekasihnya.” Jawab Kyra dengan cepat. “Dia ... sangat menyebalkan. Aku jamin tak ada yang mau padanya.”
“Apa kau bilang?” Gerald memicingkan matanya.
“Memang benar, kau menyebalkan. Mau apa?”
“Sudah sudah ... .” perempuan paruh baya itu menyela. “Jadi ... namamu siapa sayang? Kenalkan aku Gloria, ibu Gerald, lelaki yang menyebalkan ini.”
Kyra tersenyum kaku seraya menyambut uluran tangan Gloria. “Kyra ... Ma’am.”
“Baik Kyra. Ayo masuk. Makan siang sudah siap. Kita makan siang bersama.”
Kyra dan Gerald saling melirik begitu Gloria berbalik berjalan di depan mereka. Kyra memutar bola matanya kesal seraya mendengus. Seumur hidupnya ia tak pernah berpikir akan terjebak seperti ini dengan Gloria, sebab Gerald pernah mengatakan tak pernah ada yang datang ke apartemen ini tanpa dia undang. Namun nyatanya? Gloria datang tanpa di undang.
“Mama dengar ada masalah di kantormu Gerald. Bagaimana sekarang, kau sudah mendapatkan desain baru?” tanya Gloria sesaat setelah mereka bertiga duduk di meja makan.
“Sudah Ma. Aku sudah mengatasinya.”
“Cepat sekali. Baguslah.”
“Mama datang hanya untuk menanyakan itu?”
Gloria mengangguk tapi kemudian bersedekap menatap ke arah Gerald dan Kyra secara bergantian dengan iris mata yang menatap dengan penuh selidik.
“Tapi sepertinya tidak ... ada hal penting yang ingin Mama tanyakan.”
Kyra bergedik mendengar kalimat itu. curiga dengan pertanyaan yang akan perempuan paruh baya itu layangkan.
“Jadi ... sebenarnya Kyra ini siapa Gerald?”
“Kyra?” Gerald terlihat gugup, lelaki itu menatap ke arahnya seraya membasahi bibir sesaat sebelum menatap ke arah Gloria lagi. “Dia ... Ah! Dia designer baru Gerald Ma. Iya ... Kyra designer baru.”
Kyra menarik ujung bibirnya, tersenyum sangsi, kaku setelah mendengar kalimat yang baru saja dikatakan lelaki itu. Kalimat yang membuat hubungan mereka terdengar semakin janggal.
“Oh! Jadi kanvas yang ada di ruang kerjamu juga milik Kyra?”
“Iya Ma.”
“Itu artinya kalian tinggal bersama?”
Uhuk!
Kyra segera menutup mulut dengan kedua tangannya, lalu menyeka mulutnya dengan cepat. “Tidak. Ma’am tidak begitu.”
“Tidak begitu?” kening Gloria mengerut, menatap mereka berdua dengan tatapan penuh rasa curiga. “Lalu ... bagaimana dengan kamar di sebelah kamarmu Gerald?”
Gerald berdehem sesaat, lalu meneguk setengah gelas air yang berada di depannya, sebelum menjawab pertanyaan itu. mengulur waktu, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal untuk dikemukakan.
“Ah! Itu. Karena project hampir gagal dan Gerald membutuhkan desain dengan cepat, jadi Gerald meminta Kyra menginap.” Ujar Gerald. “Begitu Ma ... tenang saja ... tak ada apapun Ma. Kami tak melakukan apapun.”
Iris mata Gloria semakin memicing.
“Ma ... .”
Gloria menghembuskan nafas. “Baiklah ... terserah kau saja. ayo makan. Setelah ini Mama harus segera pulang, Adikmu tiba-tiba menelpon sambil menangis. Mama tak mengerti kenapa dia semakin hari semakin manja?”
“Papa terlalu memanjakannya.”
.
.
.
“Kyra! Hei! Kenapa kau marah?” Gerald meraih lengannya hingga langkahnya terhenti, membuatnya berbalik ke arah lelaki itu.
“Kenapa kau marah kau bilang? Dengar! Memang sejak kapan aku jadi salah satu designer-mu?”
Gerald mendesah seraya mengencangkan pegangan pada lengannya. “Kyra .. come on. Memang kau mau aku sembut pembantu? Asal kau tahu, aku tak pernah menggunakan jasa pembantu untuk membersihkan rumah. Itu akan terdengar sangat aneh di telinga ibuku.”
“Aku rasa jujur lebih baik Master daripada kau berbohong dengan gagap. Kau lebih terlihat seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Kau tahu? Karena kata-katamu itu membuat hubungan kita terdengar semakin aneh. Kau ... seperti sedang berkencan sembunyi-sembunyi!”
Gerald mendengus. “Lalu ... apa masalahnya? Toh kita tidak benar-benar berkencan bukan? Kita tidak sedang menyembunyikan hubungan dari siapapun.” Gerald menghela nafas sesaat seraya menatap ke arahnya. “Kyra ... dengarkan aku. Aku memang serius menjadikanmu designer.”
Kyra tersenyum masam, sesaat kemudian memutar bola mata, menghindar dari tatapan Gerald. Malas. “Kau pikir aku mau jadi designer-mu?”
“Lalu untuk apa kau menggambar untukku jika tak mau?”
Kyra mendesis seraya memutar bola matanya. “Iseng, yasudah ... jangan gunakan gambar itu. Apa susahnya? Lagipula belum tentu aku mau menggambar untukmu lagi. Jadi ... kau ... jangan terlalu percaya diri.” ujar Kyra seraya berusaha melepaskan genggaman tangan Gerald yang begitu kencang.
Gerald menghela nafas. “Jadi kau menolak jadi designer perhiasan di perusahaanku?” tanyanya. “Gaji yang kau dapat tak sedikit Kyra. Kau akan mendapatkan berkali lipat dari hasil kerja part-time-mu di café. Kau yakin akan menolaknya begitu saja?”
Kyra pun menghela nafas, membiarkan Gerald mencengkram lengannya, tak ada gunanya juga ia melawan, tenaga lelaki itu lebih besar, ia kemudian menatap lelaki itu dengan iris mata tajam, menelisik. “Apakah ini artinya aku tak perlu menjadi budakmu lagi?”
“Siapa bilang? Enak saja. Kau menjadi pembantu untuk membayar kesalahanmu Kyra, sebagai rasa tanggung jawabmu yang tak bisa kau ganti dengan uang. Pekerjaan ya pekerjaan, kau akan mendapatkan bayaran dari ini tapi tidak mengurangi masa kerjamu di sini sebagai pembantu.”
Rahang Kyra mengatup, matanya memicing. “Dasar licik! Kau benar-benar licik Gerald!” Kyra mendesah. “Sebenarnya apa maumu Gerald?! Apa?! Kau benar-benar membuat kepalaku pusing!!! Kenapa kau banyak sekali maunya? Kenapa banyak sekali menuntut?!”
Kening Gerald mengerut. “Apa? Gerald?!”
“IYA! Gerald! Apa?! Kau tak suka aku panggil begitu?! Kau saja seenaknya padaku, memang kau pikir aku tak bisa?”
“Siapa bilang aku tak suka?” Gerald menyeringai seraya menundukkan wajah menjadi sejajar dengan wajahnya dan kedua tangan yang mulai merambat memegangi pinggangnya. Mata Kyra mengerjap sesaat seraya memundurkan wajahnya, membuat jarak antara diantara mereka. tapi sayang ia terkunci oleh kedua tangan yang memegangi pinggangnya itu.
Gerald menyeringai. “Kau tahu Kyra ... Aku ... justru sangat menyukainya. Coba saja kau memanggilku sayang ... atau ... suami? Ku jamin akan kupotong masa kerjamu.”
Mata Kyra membulat sempurna. Lalu dengan gerakan cepat ia menginjak kaki Gerald lalu mendorong tubuh lelaki itu dengan sekuat tenaga hingga pegangan lelaki itu terlepas lalu terjerembab sendiri ke atas sofa.
Bruk!
Kyra menyeringai. “Suami matamu! Jangan mimpi!”
***
Sementara itu di kediaman utama keluarga Rexford, menuju waktu makan malam Gloria tengah memasak ditemani oleh seorang asisten rumah tangga kepercayaannya. Gloria terus mengaduk masakan dengan sesekali berujar pelan, menceritakan sang putera.
“Kau tahu sendiri Reynalda. Gerald tak pandai berbohong. Jadi sekalipun dia mengatakan mereka tidak berkencan. Aku tak percaya.”
“Anda harus percaya putera anda Mrs. Rexford. Mungkin saja benar ... Mr. Gerald memang tidak berkencan dengan gadis itu.” ujar asisten rumah tangganya, Reynalda.
“Tapi Reynalda, kau tahu sendiri bagaimana ekspresi Gerald kan saat berbohong? Dia sangat tak pintar berbohong. Dia paling tak bisa menyembunyikan apapun dariku.” Gloria menghela nafas. “Padahal aku tak masalah jika mereka memang berkencan. Aku pun tak pernah masalah mau gadis dari kalangan manapun, yang terpenting gadis baik-baik. Selama dia baik dan memiliki sopan santun, aku akan menerimanya dengan lapang d**a. Tapi kenapa Gerald sangat berusaha menyembunyikannya?”
Gloria menatap ke arah Reynalda lagi. “Reynalda ... apakah mungkin gadis itu yang minder dan meminta Gerald merahasiakannya? Karena aku melihat ... dia sangat sederhana. Sangat berbeda dengan puteriku yang manja itu.”
Reynalda terkekeh kecil. “Terkadang berada dalam kondisi yang berbeda level dengan pasangan membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri Mrs. Rexford. Apalagi jika berada di level yang jauh dibawah keluarga ini. Mungkin ... bisa jadi dugaan anda benar Mrs. Rexford.”
“Kalian sedang membicarakan apa?”
Gloria segera berbalik kemudian tersenyum saat melihat sosok lelaki bertubuh tinggi tegap masuk dengan stelan jas yang masih tampak rapih. Dia Jackson, suaminya.
“Jackson ... Gerald sepertinya punya kekasih.” ujar Gloria seraya tersenyum lebar, tapi kemudian senyumannya luntur sebelum melanjutkan ucapannya. “Tapi sayang sekali ... dia berusaha menyembunyikannya dariku meskipun tak berhasil. Dia memang anak yang tak pandai berbohong.”
Jackson terkekeh pelan. “Kau ini ... yasudah biarkan saja, sampai dia mengaku sendiri. Mungkin dia membutuhkan privasi.”
“Begitu ya?”
Jackson mengangguk kecil. “Dia sudah dewasa, dia tahu jalan yang harus dia ambil. Oh ya ... dimana Adara? Tadi dia tiba-tiba menelponku sambil menangis.”
“Dia menelponmu juga?” Mata Gloria membulat lalu menggelengkan kepalanya perlahan. Setelah itu ia menghela nafas panjang.
“Dia menangis hanya karena masalah sepele Jackson ... ini karena kau yang terlalu memanjakannya.”
“Tak apa memanjakannya, dia kan puteri kita satu-satunya.”
“Terserah kau lah ... Aku pusing.” Ujar Gloria seraya membalikan tubuhnya kembali memulai memasak setelah memastikan suaminya beranjak pergi menemui puteri mereka.
“Adara dan Gerald benar-benar berbeda. Terkadang aku malu padamu Reynalda. Puterimu sangat mandiri bahkan tak mau memanfaatkan kemudahan yang akan kami berikan. Jangankan itu ... mengenal kami saja dia tak mau.”
Reynalda tersenyum tipis. “Maafkan puteri saya Mrs. Rexford. Puteri saya hanya ingin mendapatkan mempunyai hutang budi, dia sangat ingin meraih semua keinginannya tanpa ada campur orang lain. Jangankan pertolongan anda ... bahkan pertolongan kami, orangtuanya saja terkadang tak di terima.”
“Benarkah?” Gloria menghela nafas kemudian tersenyum. “Aku jadi ingin segera mengenal puterimu Reynalda. Dia ... sangat hebat.”
Gloria menghembuskan nafasnya lagi, lalu termenung ... memikirkan cara berpikir sepasang anaknya yang sangat berbeda.