9. It’s a -not- Good Day

3056 Words
  “Lihat saja nanti! kalau dia masih berani mengatakan itu aku bersumpah akan menyumpal mulutnya dengan kotoran sapi!” Geram Paula ketika ia baru saja duduk seraya mengepalkan tangannya.   “Kalian kenapa?” Gabriel mendekat, lelaki itu membawa dua gelas minuman.”Minumlah. Wajah kalian terlihat menyedihkan.”   “Thank you Gab.” Ujar Kyra. Ia menghela nafas panjang sesaat setelah menenggak minuman bersoda itu.   “Jadi ... ada apa?” tanya Gabriel lalu duduk.   “Adara! Perempuan laknat itu sungguh menyebalkan Gabriel. Demi Tuhan! Apakah dia harus mempermalukan kita seperti itu? Gab! Dia mengatakan bahwa Kyra mendapatkan penilaian terbaik karena Kyra menjajakkan tubuhnya pada team penilai! Apa dia gila? Team penilai saja kita semua tak tahu! Tapi dia berani mengatakan hal itu! Dia ... benar-benar tak berotak!” umpat Paula.   Ya ... beberapa saat lalu sebenarnya ada yang terjadi lagi dengan mereka. Setelah dari kantin meredakan emosi sebelumnya, mereka mendapatkan kabar bahwa dosen yang memanggil mereka sudah datang. Ketika mereka kembali di sana tentu saja ada Adara bersama dengan gadis-gadis lain yang sama menyebalkannya dengan Adara. Saat pengumuman hasil semuanya masih diam meski Kyra merasakan bahwa ada aura negatif yang menguar di sekitarnya, setelah mereka keluar dari ruangan itu barulah perempuan itu mencacinya lagi.   “Kali ini kau memberikan apa lagi pada team penilai? Hah? Kau menjajakkan tubuhmu agar kau mendapatkan nilai terbaik? Aku tak menduga kau ternyata serendah itu. Menggunakan segala cara untuk mendapatkan yang terbaik dan mendapatkan apapun. Rendahan!”   Kyra menghela nafas ketika kalimat perempuan itu kembali menyapa ingatannya. Saat itu ia tak membalas Adara, selama ini ia pun tak pernah membalas Adara sama sekali. Bukan ia tak berani, tapi alasan pertama adalah Adara anak dari penyumbang terbesar di fakultas mereka, kedua karena area kampus penuh dengan CCTV yang bisa sangat merugikannya. Ia ... benar-benar bukan takut. Ia hanya berusaha untuk bermain cerdas, agar tak terjebak tingkah kekanak-kanakan perempuan itu.   “Sebenarnya aku heran. Kenapa dia selalu saja mengatakan hal itu? Kenapa dia selalu berusaha menghina kita berdua? Ok. Aku akui aku memang mencari lelaki kaya untuk menjamin kehidupanku. Tapi ... aku tak benar-benar melakukannya, aku hanya membual tentang kalimat itu, jangankan menjajakkan diri membiarkan lelaki menyentuh tubuh kami saja tidak. Tapi dia! Kenapa dia berkata seolah aku telah menjajakkan tubuhku pada setiap lelaki kaya raya?! Apalagi saat kau tak bersama kami Gab, dia seolah tak ragu menghina kami berdua.” Paula mendengus, masih dengan perasaan dongkol. “Seharusnya tadi kau datang bersamaku! Bukan malah di sini.”   “Miss Adara sendiri, aku harus membantu membereskan bahan makanan. Sudahlah ... lupakan. Mungkin dia hanya tak terima Kyra selalu menjadi yang terbaik sementara dia selalu ada di posisi dua atau tiga.” Ujar Gabriel. “Kalian tahu sendiri, dia anak orang berada. Dia pasti sangat manja. Tak heran lagi.”   “Tapi tetap saja!!! apakah dia perlu menghina dengan cara seperti itu?! Tidak Gabriel! Tidak!”   “Kyra-nya saja biasa saja dikatai begitu, kenapa kau yang heboh Paula?” Adelia datang bergabung denga mereka bertiga. “Tenangkan dirimu Paula, jangan gegabah. Dia benar-benar anak orang berada. Jika kau cari gara-gara dia bisa dengan mudah mempermasalahkanmu. Lebih baik kau diam seperti Kyra.”   “Tapi Miss ... dia sudah sangat keterlaluan.” Ujar Paula lagi.   Kyra menghembuskan nafas, ia menepuk-nepuk bahu Paula sesaat sebelum kembali berujar. “Dia memang semakin keterlaluan Miss, jika aku sedang dalam keadaan buruk mungkin saja aku sudah membalas perkataannya.”   “Adara terlahir manja, aku melihat dia sangat manja. Jadi ... kalian tak perlu terlalu memikirkannya. Dia ... hanya mencari perhatian.” Adelia menghela nafas. “Aku mengerti perasaan kalian, kalian pasti terluka. Tapi jika melawanpun tak akan pernah ada hasilnya. Tak berguna. Adara akan tetap menjadi Adara. Tak ingin kalah dari siapapun.”   “Gab!” Paula tiba-tiba berseru. “Jangan-jangan ... alasan saat kami bersama kau dia tak pernah menghina kami gara-gara dia menyukaimu?” tanya Paula dengan suara yang cukup lantang. Beruntung café itu belum buka, jadi tak ada yang terganggu.   Kyra dan Adelia terdiam seraya menatap Gabriel secara bersamaan. Sementara yang di tatap hanya diam, dia tak mengatakan apapun.   “Wah! Kalau benar ... ini gila. Aku tak heran jika dia membenci kami. Karena dia tak bisa mendekatimu.” Lanjut Paula lagi.   Adelia mengalihkan pandangannya lagi sesaat sebelum menatap Gabriel lagi yang masih tak memberikan tanggapan apapun. Lelaki itu hanya tersenyum masam seraya meneguk minuman bersodanya.   “Tak masuk akal.” Ujar Kyra. “Dia menyukai Gabriel? Seorang Adara yang kaya raya dengan penampilan yang sangat glamour menyukai Gabriel? Seorang pelayan café yang makan di kedai pinggir jalan saja masih aku traktir. Tidak ... tak mungkin. Sangat tak masuk akal.”   Gabriel mendesis. “Kau menghinaku?”   “Bukan menghina Gab. Tapi fakta.” Ujar Kyra. “Benarkan Miss Adelia?”   Mata Adelia mengerjap lalu menatap ke arahnya kemudian tersenyum tipis. “Cinta terkadang tak memandang status Kyra. Mau dia miskin atau kaya, mau dia jahat ataupun baik. Mau dia pengusaha atau pengangguran. Saat hatimu memilih orang itu menjadi orang yang kau cintai kau tak bisa mengelaknya, kau tak akan memedulikan apapun yang terpenting kau bisa bersama orang yang kau cintai.”   Kyra mengerjapkan mata sesaat. “Benarkah?”   Adelia mengangguk. “Kau ... akan percaya saat kau merasakannya Kyra. Bisa saja kau dan Paula benar-benar mendapatkan lelaki kaya raya yang mencintai kalian kan di masa depan? Tak ada yang tahu. Begitu juga ... Adara ... .” Adelia melirik Gabriel yang ternyata kini sedang menatapnya sesaat sebelum kembali berujar. “... mencintai apa adanya Gabriel. Tanpa memandang status apapun.”   Kyra termenung, bibirnya sedikit tertarik ke atas saat tiba-tiba sekelebat wajah Gerald hinggap dalam benaknya. Jika memang cinta tak pernah memandang status dan latar belakang, bisakah ... ia bersama Gerald ... ?   Kepala Kyra menggeleng dengan cepat. Tidak! Tidak! Apa yang baru saja kau pikirkan Kyra? Kau hanya bekerja untuk Gerald, kau hanya menjadi pelayannya. Jangan memikir apapun! Jangan!   “Kyra ... kau kenapa?”   “Hah?” Kyra membulatkan matanya, lalu menggeleng pelan. “Tidak. Aku tak apa.”   ***   Gerald tersenyum puas saat melihat orang-orang yang berada di ruang rapat berdecak kagum atas desain yang ia bawa. Mereka sama terpukaunya dengan Algio saat pertama kali melihat desain tersebut.   “Aku sudah kirim semua desain ke team produksi dan besok aku pastikan desain ini sudah di publikasi. Tak ada lagi penundaan sebab kita tak memiliki banyak waktu.” Jelas Gerald.   “Apa tidak terlalu terburu-buru Mr. Rexford?”   Gerald menatap ke arah salah satu anggota team. Senyumnya luntur, matanya pun menatap dengan tatapan yang begitu dingin. “Apa menurutmu kita masih memiliki waktu untuk berpikir? Aku ... sudah memikirkannya dengan sangat matang dan kalian harus memublikasinya besok atau mungkin seseorang akan mencuri desain kita lagi.” ujar Gerald dengan penuh penekanan.   “Sampai di sini, masih ada masalah?” tanya Gerald lagi.   “Tidak Mr. Rexford. Semua masalah kini telah terpecahkan. Kami akan bekerja lebih keras lagi untuk mengamankan sistem data pengguna sebelum besok kami merilis desain tersebut.”   “Bagus. Sekarang kembali ke ruangan kalian masing-masing.”   “Gerald ... apakah tidak terlalu cepat? Kita bisa menjeda hingga dua atau tiga hari untuk publikasi.” Ujar Algio.   “Tidak. Tak ada lagi penundaan. Aku sengaja ... aku ingin mengejutkan publik dengan desain ini, aku yakin ... mereka pasti akan sangat tertarik dan penjualan justru akan semakin meningkat. Aku pun berpikir untuk membuat barang limited edition dari desain  Aku rasa ... hasilnya tak akan buruk.”   Algio menggeleng-gelengkan kepalanya. “Otak bisnismu. Semalaman menggambar dan memikirkan konsep, siang hari masih terpikir untuk mendulang keuntungan yang sangat banyak.”   Gerald tersenyum simpul. Tak tahu saja dia ... jika desain yang ia bawa bukan hasil dari tangannya sendiri. Tapi ... biarkan saja, tak penting baginya untuk membagi rahasia ini pada Algio.   Gerald bangkit dari kursinya. “Oh ya ... siang ini kau free?”   “Free, kenapa?”   “Jemput Adara.”   “Kenapa tak kau saja yang jemput? Kau juga tak ada kegiatan Gerald.”   “Tak bisa. Aku harus kembali ke apartemen segera.”   “Tumben?” Algio menatapnya penuh selidik.   Gerald kembali tersenyum simpul. “Hanya ingin?”   Ya ... hanya ingin ... untuk segera melihat Kyra.   Gerald menyunggingkan senyumannya. Entah mengapa, hari ini ... sejak pagi. Semakin ia melihat desain itu, ia semakin merindukan Kyra. Apalagi ketika membayangkan tingkah manis yang perempuan itu berikan pagi tadi, cara Kyra menatapnya, cara Kyra memperlakukannya ... benar-benar manis, hingga hasratnya untuk bertemu perempuan itu meningkat dua kali lebih banyak. Menjadi lebih menggebu dan semakin membuatnya semangat.   “Yasudah ... aku pulang. bye.”   “Hei! Gerald! Kau belum menjawab pertanyaanku!”   Gerald tak menanggapi itu, ia hanya terkekeh perlahan kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Algio di ruangan rapat.     ***   Kyra melihat jam yang melingkari tangannya sesaat setelah Gabriel dan Paula pamit meninggalkannya untuk bersiap membuka café. Ia tersenyum pada Adelia yang masih setia menemaninya.   “Miss ... sepertinya aku juga harus pergi sekarang. Aku harus menyiapkan makan siang untuk majikanku. Dia mengatakan dia akan pulang untuk makan siang nanti.”   “Kyra tunggu. Boleh aku tahu kau kerja dimana? Atau ... pada siapa? Aku hanya mengkhawatirkanmu.”   Kyra menggelengkan kepalanya sesaat. “Maafkan aku Miss. Aku belum siap mengatakannya pada siapapun. Aku takut ... dia tak nyaman dan aku pun takut menjadi tak nyaman.” Kyra menghela nafas. “Nanti ... aku pasti akan mengatakannya pada kalian.”   Adelia menghela nafas panjang. “Baiklah kalau begitu, aku tak akan memaksa.”   Cring!   “Selamat datang di—kau!!! Untuk apa kau kemari?!”   Kyra dan Adelia menoleh ke arah pintu masuk dengan cepat, setelah mendengar seruan Paula. Perempuan itu sedang berdiri berhadapan dengan lelaki berstelan rapih didepannya.   “Sir! Aku tahu ... aku ini memang mempesona tapi kau tak perlu mengikutiku sampai sejauh ini. Apa maumu? Kenapa kau datang ketempatku bekerja?”   Kyra segera mendekat ke arah Paula. Ia meraih bahu sahabatnya itu, berusaha menenangkannya. “Paula ... tenang. Ada apa?”   “Dia ... dia lelaki yang aku ceritakan Kyra.” Paula menatapnya dengan tatapan berang. “Dia yang aku ceritakan sok kaya tapi ternyata dia hanya ... Ugh! Aku malas mengulangnya. Hampir saja aku tertipu. Sekarang apa maumu?!”   Lelaki itu tak membalas rentetan pertanyaan Paula sama sekali, dia hanya menatap Paula diiringi dengan tawa geli yang terbentuk di wajahnya. “Kau sangat percaya diri ... aku bahkan tak tahu kau bekerja di sini. Aku datang untuk membeli segelas americano.”   “Bohong! Kau pasti berbohong!”   “Untuk apa?”   .   “Algio! Sedang apa kau di sini? Aku sudah bilang tunggu aku di parkiran.”   Paula memutar bola mata ketika melihat sosok yang menghancurkan harinya berada di hadapannya.   “Jangan bilang kau ... .” perempuan itu menggeleng perlahan seraya menghela nafas. “Tak mungkin, Algio tak mungkin tergoda oleh kalian. Pasti kalian kan yang mengajaknya kemari? Kau menggodanya agar Algio menjadi kekasihmu! Dasar murahan. Tak bisa melihat mobil mentereng sedikit langsung berniat di kencani.”   Kyra mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Rahangnya pun mengatup tajam. Sudah cukup! Sudah cukup hari ini ia dipermalukan oleh perempuan itu! kesabarannya sudah habis, harinya yang indahpun sebenarnya sudah hancur.   “Kenapa? Mau marah?” Adara tersenyum miring, tampak meremehkannya. “Memang apa yang perempuan macam kalian bisa lakukan? Sudahlah terima saja kenyataan kalau kalian memang penggoda. Tak perlu di tutupi la—.”   “CUKUP! Tutup mulutmu Adara!” Kyra berseru dengan kencang, membuat perempuan itu diam, mengatupkan bibirnya. Kyra melangkah maju seraya menunjuk Adara, menekan bahu perempuan itu dengan keras.  “Kau pikir diamnya aku berarti kalah?! Aku ... hanya tak ingin memperkeruh masalah tak jelas ini. Aku tak ingin memperpanjang masalah dengan perempuan kekanak-kanakan sepertimu.”   “Ap—.”   “Dengar! kau pikir kau lebih baik dari kami? Kau ... hanya perempuan manja! Kau hanya perempuan yang mengandalkan uang orangtua! Tanpa orangtuamu kau tak akan pernah sampai seperti ini! Menurutmu siapa yang lebih baik? Tak ada! karena perempuan dengan mulut busuk sepertimu sama saja seperti sampah! Kau bahkan lebih buruk daripada sampah yang ada di dapur café ini!”   “Beraninya kau! Dasar perempuan rendahan!”   “Memang kenapa? Kenapa kalau aku berani? Kenapa kalau aku rendahan?! Kau pikir aku takut padamu? Kau! Memiliki kekuasaan hanya karena orangtuamu. Sementara kau sendiri?! kau harus sadar Miss Adara yang terhormat. Kau ... bukan apapun dibanding denganku.” Seru Kyra tanpa rasa takut.   Kyra menoleh ke arah Paula dan Adelia sesaat. “Aku pulang sekarang. Usir saja manusia satu ini. Tak berguna. Sekarang ... minggir! Kau menghalangi jalanku!” ujar Kyra sarkas seraya beranjak pergi meninggalkan café itu dengan bahu yang sengaja ia benturkan pada bahu Adara.   “Silahkan kalian juga pergi.” Ujar Adelia. “Kalian berdua membuat kami tak nyaman.” Lanjutnya sebelum beranjak meninggalkan bagian depan café.   ***   Kyra mengerut keningnya yang tiba-tiba terasa begitu pening. Sepanjang perjalanan ia hanya mendesah, seraya memblak balikan tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan tak nyaman. Kyra membasahi bibirnya kemudian menautkan kedua tangannya dengan erat.   Jujur saja ... ia tak pernah melemparkan hinaan seperti itu pada seseorang. Ia pun tak pernah berusaha mencari masalah dengan seseorang. Hingga ... ia merasa, begitu kalut. Ia merasa tak seharusnya ia semarah itu. Tapi mau bagaimana lagi? Hatinya sudah terlanjur luka, ia sudah terlalu sakit hati dengan ucapan perempuan itu.   “Miss sepertinya Mr. Rexford juga sudah sampai.”   Kyra terjengit lalu melihat jam yang melingkari tangannya. Padahal ia tak salah, ini masih jam 11 kenapa dia sudah datang? Kyra mendesah lagi.   Apakah ia tak bisa mendapatkan hari yang indahnya lagi seperti sebelumnya? Apakah sekarang ia akan mulai di marahi lagi oleh lelaki itu?   Kyra tak tahu ... ia hanya bisa pasrah saja.   .   Senyum Gerald mengembang saat melihat mobil antar jemput yang selalu Kyra gunakan sampai di parkiran, bersamaan dengan kendaraannya yang juga parkir tepat di samping mobil itu. Ia terkeke kecil saat melihat mata Kyra yang membulat, terkejut saat melihat kendaraannya.   Ia yakin ... perempuan itu pasti panik ketika melihat kendaraannya ini. Padahal ia sudah mewanti-wanti untuk menyiapkan makan siang sebelum ia sampai di apartemen. Gerald menggelengkan kepalanya sesaat dengan bibir yang menyeringai, otak jahilnya mulai bekerja untuk membuat skenario agar Kyra berdecak atau mencebik kesal.   “Master.” Sapa Kyra seraya membungkuk diiringi dengan senyuman tipis.   Senyuman jahilnya hilang, pikiran jahilnya pun menguap begitu saja ketika ia di sambut dengan pemandangan wajah Kyra yang tampak sedikit lebih lesu daripada pagi tadi. Iris matanya pun tampak sayu, terlihat sedang tak bersemangat. Lebih tepatnya ... tampak begitu sedih. Kebahagiaan perempuan itu yang sebelumnya tampak tak akan hilang, tampaknya kini hampir tak bersisa lagi.   Gerald mengerjapkan matanya sesaat, kedua tangannya tanpa sadar membelai wajah Kyra. Menarik wajah perempuan itu, mendongak, agar semakin mendekat. “Ada apa dengan wajahmu Kyra? Pagi tadi kau terlihat senang tapi siang ini sangat berubah.”   Kyra menggeleng kecil seraya menepis kedua tangannya perlahan. “Tak ada apapun Master.”   “Tak ada apapun?” tanya Gerald memastikan.   “Benar. Tak ada apapun.”   Gerald melirik perempuan itu lagi, menatapnya dari samping ketika mereka berdua sudah memasuki lift. Ia menghela nafas saat merasakan suasana sendu yang melingkupi mereka berdua. Ia pikir ... ia akan bisa berbagi tawa lagi dengan Kyra. Tapi ternyata sepertinya ia salah.   Sepertinya terjadi sesuatu dengan perempuan ini ketika di kampus.   “Biasanya saat aku seperti ini aku akan menemui Mama, aku akan memeluknya sampai tidur. Setidaknya walaupun aku tak bisa mengungkapkan kesulitanku, aku mendapat ketenangan.” Ujar Kyra dengan sangat pelan. Bahkan hampir tak bisa ia dengar.   Tangan Gerald terulur, merangkul bahu perempuan itu lalu menepuk-nepuknya perlahan. “Kau bisa mengatakan apapun padaku Kyra.”   Kyra terkekeh kecil seraya menggelengkan kepalanya. “Aku tak yakin kau akan mengerti masalah orang rendahan sepertiku Master. Kau ... orang berada. Sementara aku ... .”   “Hei ... ada apa denganmu? Kemana kepercayaan diri yang selalu kau miliki itu?”   Kyra tersenyum masam seraya melangkah keluar dari dalam lift. Gerald segera mengikuti langkah Kyra lalu menghadapkan perempuan itu ke arahnya.   “Kyra ... kau kenapa? Jujur saja aku merasa tersinggung dengan ucapanmu. Kau tahu ... aku pun bukan seseorang yang terlahir kaya raya, sejak kecil aku bukan orang yang kaya raya sampai aku bertemu Papaku. Jadi ... jika kau pikir aku tak pernah merasa susah, itu salah. kau salah besar Kyra. Kau ... benar-benar menyinggung perasaanku.”   Mata Kyra mengerjap. “Master ... aku tak bermaksud begitu.” Ujar Kyra dengan sangat pelan. “Aku hanya ... aku pikir semua orang kaya sama. Aku hanya merasa ... .”   “Katakan. Kau kenapa? Apa yang mengganggumu?” Gerald memegangi bahu Kyra, memaksa Kyra untuk bercerita.   Kyra menunduk, tak siap memperlihatkan sisi lemah dan manjanya pada orang lain. “Seseorang sangat menyebalkan. Dia mendapatkan nilai lebih rendah dariku lalu dia menghinaku habis-habisan, dia tak terima ketika lukisanku dinilai lebih baik. Dia bahkan mengatakan aku menjajakkan tubuhku pada setiap team penilai. Awalnya aku berusaha untuk tak terganggu ucapan itu tapi ... dia mengatakannya berulang kali, bahkan setiap ada kesempatan kami bertemu. Dia benar-benar jahat! Apakah aku terlihat serendah itu? Apakah aku tampak seperti perempuan rendahan? Murahan? Apakah perempuan miskin sepertiku tak pantas mendapatkan tempat yang layak? Tak pantas mendapatkan nilai sempurna?”   Gerald dengan cepat meraih Kyra dalam pelukannya. Tak membiarkan perempuan itu terus-menerus merancau, membuat hatinya pun merasakan sakit yang perempuan itu rasakan.   “Apakah ... aku benar-benar tak pantas? Apakah aku tak pantas?”   “Tidak ... jangan berpikir begitu Kyra. Kau sangat pantas, kau sangat pantas mendapatkan posisi itu. kau ... layak. Dia pasti hanya iri padamu. Dia seperti itu karena dia tak mampu menyaingimu. Bukan karena kau buruk, tapi dia ... tak sanggup melampauimu Kyra. Dia ... hanya iri.”   Gerald mengelus punggung Kyra beberapa kali saat perempuan itu membalas pelukannya dengan erat. “Percayalah ... kau lebih pantas. Kau sangat pantas Kyra.”   Selama beberapa saat mereka berpelukan. Gerald bahkan terus mengelus punggung sempit itu, berusaha menenangkan emosi yang Kyra miliki. Sampai perempuan itu sendiri yang mengusaikan pelukannya, lalu menatapnya.   “Terimakasih ... .”   Gerald tersenyum simpul seraya mengelus wajah Kyra dengan kedua tangannya. “Tak perlu berterimakasih. Jika kau memang kesulitan, katakan saja padaku. Aku ... akan selalu mendengarkanmu. Kyra.”   Gerald memeluk Kyra lagi, menekan tengkuk perempuan itu hingga terbenam di dadanya. Sampai ... sebuah suara tak asing mengintrupsi. Membuat tubuh Gerald menegang.   “Gerald ... kau sedang apa? Siapa perempuan ini?”            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD