8. It’s a Good Day?

1713 Words
Kyra memasak seraya bersenandung riang. Kakinya bahkan sesekali berjinjit, tubuhnya memutar bagaikan balerina saat harus berpindah dari kitchen set ke arah meja makan, menaruh beberapa masakan yang sudah ia siapkan untuk Tuan-nya. Iris mata Kyra berpendar bahagia saat melihat makanan sudah tersaji dengan sangat rapih di meja makan sesaat sebelum Gerald keluar dari dalam kamarnya.   Kyra tersenyum lebar. “Selamat pagi Master!”   Gerald menatapnya dengan kening mengerut. Menatapnya memicing, penuh dengan kecurigaan. Kyra terkekeh kecil melihat hal itu, lalu tanpa diperintah ia berjalan mendekat ke arah Gerald kemudian membuat simpul pada dasi lelaki itu yang masih tergantung di leher.   “Kau tak menjawab sapaanku?” Tanya Kyra kemudian mendongak ke arah Gerald yang masih menatapnya dengan sangsi.   Gerald tak menjawab, lelaki itu justru meletakkan punggung tangan di atas keningnya. “Tak panas, kau tak demam. Kenapa kau sangat aneh?”   Kyra mencebik, ia mengerucutkan bibirnya sesaat. “Senyum bahagia salah, marah-marah salah, mengeluh salah. apa yang harus aku lakukan untuk menghadapimu Master?” Kyra mendengus. “Tapi sudahlah ... hari ini hari yang sangat baik jadi aku tak ingin berdebat denganmu. Setelah ini langsung sarapan ... aku akan menyiapkan jas dan tasmu terlebih dulu.”   “Oh ya! Kau yang merapihkan gambarku semalam?”   Kening Kyra mengerut. “Gambarmu?”   Gerald mengangguk kecil. “Ah! Itu ... .” lagi-lagi Kyra tersenyum lebar. “Iya ... Semalam aku merapihkannya untukmu. Takut ada yang tertinggal. Aku pikir ... gambar-gambar itu sangat penting bukan?”   Gerald mengangguk. “Benar, semalam aku terlalu mabuk untuk merapihkannya. Jadi aku tinggalkan.”   Kyra tersenyum simpul. “Terjadi masalah di kantormu?”   “Sedikit.”   “Jika kau membutuhkan bantuanku katakan saja Master. Mungkin ... aku sedikit bisa membantumu jika kau ijinkan.” Ujar Kyra lagi diiringi dengan senyuman yang manis.   Gerald semakin mengerutkan keningnya. “Kau ... benar-benar aneh jika begini.”   Kyra mendesis. “Kau ini! Nah, sudah.” Kyra menepuk d**a Gerald merapihkan kemeja yang lelaki itu kenakan. “Sana sarapan, aku akan mengambil jasmu.”   “Terimakasih.”   Kyra tersenyum lagi. “Terimakasih kembali Master.” Ujarnya seraya berlalu meninggalkan Gerald ke arah kamar lelaki itu dengan senyuman yang masih terpatri apik di wajah cantiknya.   Sudah ia bilang bukan ia sedang sangat bahagia? Mood-nya pun sedang sangat baik. Jadi ... tentu saja ia akan menjadi anak yang baik, dan penuh keramahan.   ***   “Kau terlihat kacau Algio? Ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat seperti lelaki yang baru saja di campakkan.”   “Ini semua gara-gara kau yang tiba-tiba menelponku Gerald! Kau yang mengacau!”   Gerald memutar bola matanya. “Aku memintamu untuk membantu memikirkan perusahaan dan kau malah pergi ke bar?”   Asistennya itu mencebik, dia mengerjapkan mata seraya menggelengkan kepala sesaat. “Aku juga ikut memikirkan masalah di kantor. Di bar ... aku pun terus memikirkan itu. Aku pergi ke sana hanya untuk relax, mencari ketenangan. Kau pikir mencari inspirasi itu mudah?”   “Kau tak akan mendapatkan ide jika hanya ke bar tanpa ada niatan membuat konsep.”   “Aku pergi demi mencari ide untuk konsep.”   Gerald menoleh. “Lalu, apa kau menemukannya?”   Algio terkekeh sengau. “Tidak.”   “Sia-sia.”   “Memang kau mendapatkan ide? Kau mendapatkan konsep apa? Kau selesai menggambarnya?”   Gerald tak menanggapi pertanyaan itu, ia hanya melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja dengan langkah lebar, sementara Algio mengekorinya hingga mereka sampai di meja kerja Gerald. Gerald kemudian duduk di balik meja kerja lalu membuka tas yang ia bawa. Mengeluarkan sebuah buku sketsa dari dalam sana.   “WOW! Darimana kau mendapatkan inspirasi ini? Gambarmu terlihat lebih baik.” komentar Algio.   Gerald termenung melihat gambar-gambar yang berada di buku sketsa itu. Rasanya ... semalam ia tak menggambar sebanyak ini, yang ia ingat terakhir kali adalah ia menemukan konsep untuk project lalu membuat sketsa kasar untuk gambarnya. Tapi kenapa ... gambar-gambar ini sudah selesai? Bahkan telah di warnai dan tampak begitu indah, juga rapih.   “Aku ... tak akan meremehkanmu lagi Gerald. Kau ... benar-benar cerdas.” Ujar Algio lagi.   Gerald tak menanggapi ucapan itu. Ia masih termenung di tempat tanpa mengatakan apapun lagi. Pikirannya masih di selimuti pertanyaan-pertanyaan. Darimana gambar ini berasal? Mungkinkah ... Kyra?   “Jika kau membutuhkan bantuanku katakan saja Master. Mungkin ... aku sedikit bisa membantumu jika kau ijinkan.”   Gerald tersenyum simpul saat bayangan perempuan itu hadir kembali dalam ingatannya. Kyra ... kau benar-benar sulit di tebak.   ***   Kyra menguap, sesekali ia merenggangkan badannya yang terasa begitu lelah. Ia merenggangkan kedua tangannya lalu menggerak-gerakkan lehernya yang terasa begitu kaku.   “Miss Kyra. Sudah sampai.”   Kyra mengerjapkan matanya sesaat seraya menghela nafas panjang. “Terimakasih banyak. Satu jam sebelum makan siang tolong jemput saya lagi.”   “Baik Miss.”   Kyra keluar dari dalam mobil tersebut, melangkahkan kakinya memasuki gedung fakultas dengan sesekali menguap. Hari ini ia mendapatkan panggilan dari dosen, mereka mengatakan bahwa pameran sudah selesai dan secara tiba-tiba mereka mengatakan akan merilis hasil review dari berbagai kalangan atas lukisan yang mereka pamerkan.   “Kyra.” Paula melambaikan tangan padanya. Perempuan itu bangkit menyambut kedatangannya.   “Oh ... aku kira hanya aku yang akan terlihat kelelahan. Tapi sepertinya kau juga tampak kacau Kyra. Lihatlah mata pandamu.” Paula membawa tubuh mereka duduk berdampingan di kursi tunggu.   Biasanya Kyra akan mengeluhkan sesuatu ketika tampak lelah begitu. Tapi kali ini, bukannya mengeluh, Kyra justru tersenyum lebar seraya merangkul Paula dengan erat.   “Apa yang kau lakukan semalam sampai terlihat belum tidur?”   Kyra tersenyum lebar saat mendengar pertanyaan itu. Bayangan semalam saat ia hendak melukis di studio itu pun kembali berkelebat dalam ingatannya.   . . .   Kyra yang sudah menenggak habis minumannya memasuki ruang kerja Gerald lagi. Ia melangkah dengan tenang, berusaha tak mengeluarkan suara sama sekali. Di depan kanvas yang ternyata benar-benar sudah Gerald siapkan ia mulai tersenyum lebar, apalagi ketika gambaran yang akan ia lukispun perlahan mulai tergambar begitu jelas dalam imajinasinya. Ia menuliskan beberapa hal dalam ponsel untuk menguatkan imajinasinya sebelum ia mulai memegang kuas.   Namun ... saat kuas itu hampir mengenai kanvas putih tersebut ia mendengar erangan frustasi dari Gerald. Ia berbalik, menatap ke arah Gerald yang sedang meremat kepalanya. Lelaki itu mendengus lalu melemparkan buku sketsa dan juga pensil di tangannya.   “Master.”   Gerald tak menanggapi ucapannya sama sekali. Lelaki itu ...  dia justru pergi begitu saja. Meninggalkan buku sketsa dan pensil yang sudah tercampakkan di lantai.   Kyra menghela nafas panjang, ia menyimpan kuasnya kembali kemudian berjalan ke arah meja kerja Gerald. Mengambil buku sketsa dan pensil itu., lalu memindai buku sketsa tersebut sesaat seraya melihat satu kalimat yang ia duga sebagai konsep dari project yang sedang lelaki itu kerjakan.   Kyra mendudukkan dirinya dibalik meja kerja itu, ia mulai menggambar mengikuti sketsa kasar yang terlihat samar. Senyumannya perlahan mengembang saat gambar yang ia buat ternyata tampak tak buruk dan cukup pantas untuk konsep yang akan lelaki itu gunakan. Tangannya pun dengan lincah mulai membuka lembaran lain, mulai membuat sketsa, lalu menggambarnya secara utuh ketika satu persatu ide mulai hinggap dalam ingatannya.   Hingga ... tanpa terasa waktu sudah bergulir, berganti hari. Bahkan Fajar mulai menyingsing. Kyra merenggangkan tubuhnya seraya membuka satu persatu lembar buku sketsa itu dengan senyuman yang tampak begitu puas.   Lima belas ... aku rasa ini cukup?   Senyuman Kyra kembali berpendar puas. Melukis memang menjadi salah satu passion-nya. Hingga ... ia merasa kebahagiaan selalu hinggap dalam benaknya setelah ia selesai menggambar sesuatu.   Cantik. Ujarnya dalam hati.   . . .   Kyra tersenyum saat bayangan itu kembali. Jujur ... sebenarnya ia penasaran. Bagaimana reaksi Gerald setelah melihat gambar itu? Apakah dia akan senang? Atau ... marah karena ia ikut campur?   Entahlah ... ia tak bisa menebak.   “Kyra! Kyra! Kau kenapa kau melamun? Katakan! Kau membayangkan apa hah? Kau pasti membayangkan yang tidak-tidak ya?”   Kyra terkekeh pelan seraya merangkul bahu Paula.   Paula bergidik. “Kau ... membuatku takut Kyra.”   Kyra pun kembali tertawa. “Tak usah di pikirkan Paula. Pokoknya aku sedang sangat bahagia. karena aku sudah mendapatkan konsep untuk lukisan tugas akhirku.”   “Wah? Benarkah?” Paula menatapnya dengan iris mata membulat. “Hebat! Darimana kau mendapatkannya? Kau punya kemajuan ya ternyata, tak perlu minuman lagi hm?”   Kyra terkekeh menanggapinya. Tak tahu saja dia apa yang baru saja terjadi padanya. Jika bukan karena minuman mewah yang ia ambil dari Gerald... ia pun tak akan mendapatkan inspirasi itu. Tapi ... ia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Paula bukan? Tidak! ia malu mengakuinya.   Kyra mengalihkan pandangannya kembali pada Paula yang kembali bercerita.   “Kau tahu Kyra, kemarin aku ke bar ... aku mencari inspirasi, tapi ... aku tak mendapatkan apapun.”   Kyra menggelengkan kepala seraya menyunggingkan senyumannya. “Kau ke bar mencari inspirasi atau mencari pasangan? Aku sangat tahu tabiatmu ya Paula!”   “Ya ... sambil menyelam minum air?” Paula tersenyum masam. “Sayangnya aku tak seberuntung kau Kyra. Aku malah bertemu dengan lelaki aneh yang sok kaya.”   Kyra terkekeh kecil. “Sok kaya?”   “Iya!! Aku pikir dia benar-benar kaya, tapi ternyata dia hanya seorang asisten.” Paula mendesis. “Benar-benar hanya bergaya saja seperti orang kaya.”     Tiba-tiba terdengar sebuah desisan tajam tak jauh dari mereka. “Cih! Dasar murahan. Tapi memang pantas. Orang murahan seperti kalian saling bersahabat. Sebelas ... dua belas.”   “APA KAU BILANG?!” Seru Paula seraya berdiri berhadapan dengan perempuan itu. Perempuan berpenampilan anggun yang memang selama hampir empat tahun ini selalu bertingkah seperti itu pada mereka.   “Apa? Aku bilang ... perempuan murahan. Perempuan yang hanya mendekati lelaki karena dia orang kaya!” sindirnya lagi.   “Kau!”   Kyra menarik tangan Paula seraya menghembuskan nafas kasar.  Ia menatap perempuan di hadapannya itu dengan tatapan malas. “Adara ... aku rasa sudah cukup. Apa kau tak merasa lelah selama empat tahun kau terus begini?”   “Sudahlah ... aku malas berdebat.” Ujar Kyra seraya menghela nafas lagi lalu menarik Paula menjauh dari hadapan perempuan itu.   “Kyra!!! Aku belum puas membalasnya!” Paula memberontak, membuat Kyra melepaskan genggaman tangannya lalu menatap ke arah Paula lagi.   “Jika kau ladeni dia akan semakin semena-mena Paula. Jadi ... sudahlah ... lupakan.” Kyra kembali menyunggingkan senyumannya lebar. “Sekarang lebih baik kita makan-makan dulu ... ayo! Daripada menghadapi perempuan macam itu.”   “Kau traktir?”   Kyra terkekeh pelan lalu merangkul Paula lagi. “Iya iya! Aku traktir karena aku sedang sangat bahagia.”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD