7. Kyra! Kyra! Kyra!

1796 Words
  “Kau tampak berbeda dari yang terakhir kali kita bertemu Gerald. Wajahmu terlihat begitu bercahaya.”   Gerald duduk di hadapan lelaki itu dengan bibir yang tak berhenti menyunggingkan senyuman tipis, apalagi ketika bayangan Kyra kembali hinggap dalam pikirannya.   . . .   “Demi apapun! Kau! Jangan coba-coba mengantarkanku sampai ke halaman kampus! Aku akan sangat membencimu. Aku akan sangat membencimu seumur hidupku!” Seru Kyra dengan telunjuk tangan kanan yang menunjuk wajah Gerald dengan berani.   Gerald menyeringai. “Ah ... jadi kau akan mencintaiku seumur hidupmu? Baiklah. Akan kuantarkan.”   “Orang gila!” Kyra mendesis. “Kalau kau mengantarku sampai ke halaman kampus, aku bersumpah akan meracuni makananmu!”   Bertepatan dengan itu sebuah panggilan masuk dari Algio yang mengingatkan tentang pertemuannya dengan pihak Archilles siang ini.   Gerald menatap Kyra yang masih menatapnya dengan mata memicing. “Hari ini kau selamat Kyra. Pak! Turunkan Kyra di halte depan kampus.”   Kyra menghembuskan nafas lega. “Sekarang kau terdengar lebih waras.”   . . .   “Untuk pertama kalinya seorang Gerald Rexford terlihat sedang jatuh cinta. Kau ... nyaris seperti orang gila Gerald.” Ujar lelaki di hadapannya seraya menuangkan cairan berwarna bening tepat di hadapannya.   “Tunggu sampai kau jatuh cinta Sean Archilles.”   “Aku akan sangat menunggu. Perempuan macam apa yang bisa masuk dalam kehidupanku.” Lelaki itu Sean Archilles. Saingan bisnis sekaligus sahabatnya. Sean sekarang merupakan pemimpin tunggal perusahaan besar yang merupakan perusahaan terbaik dari big 3 company, Archilles Group. Satu tingkat di atas perusahaannya.   “Oh ya ... ada apa kau ingin bertemu denganku? Tak mungkin hanya mengajakku nongkrong kan? Ini masih di hari dan jam kerja.”   Gerald menghembuskan nafasnya perlahan ketika mengingat tujuannya bertemu dengan Sean. “Seseorang mencuri desain milikku dan diikut sertakan pada kontes di perusahaanmu. Tujuh dari dua belas desain mendapatkan tempat di perusahaanmu.”   Alis kanan Sean naik. “Bagaimana bisa? Aku sudah menekankan pada semua pihak agar memastikan karya itu adalah karya yang original. Bukan hasil curian seperti itu.”   “Salahku yang belum mendaftarkan hak cipta.”   Sean mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau begitu aku akan batalkan perilisannya.”   “Tidak. Tak perlu. Lanjutkan saja. Lagipula aku sedang merancang ulang tema untuk project yang kubuat, jadi desain sebelumnya menjadi tak berguna lagi.” Gerald menghembuskan nafasnya perlahan. “Tapi Sean masalah terpentingnya bukan itu, aku menemuimu bukan untuk memintamu membatalkan project-mu.”   “Lalu?” kening Sean mengerut. “Tunggu ... apakah maksudmu ada yang sengaja melakukannya?   Gerald menumpukkan kedua tangannya di atas meja seraya menganggukkan kepalanya. “Aku berpikir seseorang sengaja ingin merusak persahabatan kita dengan cara kotor seperti ini. Seseorang mungkin ingin kita berselisih.”   Sean tersenyum masam seraya meneguk minumannya lagi. “Apakah kita perlu bekerja sama untuk mengungkap pelakunya? Aku bisa membantumu menyelidiki kasus ini Gerald.”   “Aku pun sedang menyelidikinya, aku akan meminta bantuanmu saat aku membutuhkannya nanti. Sekarang aku datang hanya untuk mengatakannya secara langsung, agar kau pun mulai berhati-hati. Aku tak ingin persahabatan kita hancur hanya karena tuduhan tak mendasar.”   “Aku mengerti. Mungkin mereka pikir persahabatan kita sedangkal itu Gerald. Tapi ... tenanglah. Aku pun tak akan mudah terpengaruh.”   “Baguslah ... aku senang mendengarnya.”   “Sudah jangan terlalu dipikirkan. Ayo minum.” Sean mengacungkan gelas berisi cairan bening itu, begitu juga dengan Gerald. Keduanya menyentuhkan gelas itu sesaat hingga berbunyi ‘ting’ yang cukup nyaring.     ***   Sepeninggal Gerald, Kyra tidak beranjak memasuki area kampus. Ia justru menyebrang, lalu memasuki sebuah café tempat kerja paruh waktunya. Helaan nafas berat tak henti-hentinya terdengar keluar dari mulut Kyra, dari mulai melihat café itu hingga ia memasukinya. Ia masih tak rela, ia masih enggan mengikuti semua keinginan lelaki itu. Hatinya masih berperang, antara mengikuti semua yang lelaki itu inginkan atau melakukan apapun sesuai keinginannya.   Rasanya berat sekali jika ia harus meninggalkan tempat ini. Tapi ... mau bagaimana lagi? Dariapda ia terjebak lebih lama bukan dengan lelaki itu? Ia lebih baik melepaskan pekerjaan paruh waktunya ini untuk sementara waktu.   “Miss Adelia.” Panggil Kyra, membuat Adelia yang sedang bersama Gabriel menoleh secara bersamaan.   “Oh? Kyra. Aku pikir kau tak akan datang. Paula bilang kau bekerja di tempat lain.” Ujar Adelia, menyambutnya dengan senyuman hangat.   Kyra menghela nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. “Memang ...  .” Kyra merengut, menatap Adelia dengan tatapan tak rela. “Karena itulah aku akan berpamitan padamu Miss Adelia. Maafkan aku keluar secara mendadak begini. Tapi aku terpaksa melakukannya.”   Adelia menarik tangannya, membuatnya duduk diantara Adelia dan Gabriel yang duduk berhadapan.   “Ada apa?”   Kyra melirik Gabriel dengan ekor matanya, bermaksud meminta tolong untuk mencari alasan yang masuk akal, sayangnya lelaki itu bungkam. Seolah tak ingin meringankan kebohongan yang akan ia ungkapkan sama sekali. Kyra meneguk ludahnya kasar setelah itu membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa mengering.   “Tak ada apapun Miss. Hanya ... masalah pribadi. Aku pun harus fokus pada tugas akhirku jadi ... aku mengurangi aktivitasku yang lain.”   “Dengan bekerja di tempat lain?”   “Tidak. Bukan begitu Miss.” Kyra menatap Adelia dengan tatapan penuh rasa bersalah. “Aku tak bermaksud begitu. Maafkan aku. Aku berjanji akan menceritakannya nanti. Sekali lagi maaf Miss ... aku mengabari ini secara mendadak.”   “Baiklah. Tak masalah. Kau bisa mengambil sisa gajimu dibagian keuangan Kyra. Jika memang kau tak betah di sana dan ingin kembali bekerja di sini, kau bisa kembali kapanpun.” Ujar Adelia diiringi dengan senyuman yang begitu anggun.   Kyra menyunggingkan senyumannya, lega. Adelia memang perempuan yang sangat baik, perempuan itu tak pernah sekalipun menghardiknya atau pegawai lain, perempuan itu selalu menghadapi mereka dengan senyuman tenang yang membuat semua orang begitu nyaman. Kyra menatap Adelia, terkadang ... ia berpikir. Lelaki macam apa yang akan mendapatkan Adelia? Perempuan cantik, anggun, baik hati, mandiri dan juga sangat rendah hati. Rasanya hanya lelaki-lelaki hebat yang pantas mendapatkan hati Adelia.   . . .   Hari itu Kyra masih membantu Adelia di café, sebelum ia benar-benar tak bekerja di sana besok. Langkah kaki mungil itu tak hentinya berjalan ke sana kemari, begitu lincah diiringi dengan senyuman ramah yang tampak begitu cantik, seolah bibirnya tak lelah menyunggingkan senyuman.   “Kau tahu Kyra bekerja dengan siapa Gab?”   Gabriel yang sejak beberapa saat lalu memperhatikan Kyra menoleh pada Adelia yang berdiri di sampingnya. Ujung bibirnya tertarik, memberikan senyuman tipis.   Iris mata Gabriel kembali memperhatikan Kyra sesaat sebelum menatap Adelia lagi. “Kyra tak memberitahuku, tapi aku sangat tahu ... pada siapa dia bekerja.”     ***   “Kyra siapkan air hangat untukku.”   “Kyra makanannya sudah siap?”   “Kyra dimana bajuku?”   “Kyra tolong ambilkan tasku di ruang tengah.”   “Kyra antarkan minuman ke ruang kerjaku.”   “Kyra ... .   “Kyra ... .   Dan ...   “Kyra ... .” lagi.   Sejak pulang dari kantor, lelaki itu tak henti memerintahnya seperti b***k. Dari mulai menyiapkan air hangat untuk mandi. Makanan untuk makan malam, baju untuk tidur sampai keperluan lain yang harus ia bawa ke ruang kerja lelaki itu. Ruang kerja yang merangkap dengan studio pribadi.   Kyra meluruskan kakinya setelah bokongnya menyentuh sofa, merentangkan kedua tangannya seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Apakah begini rasanya menjadi asisten rumah tangga? Rasanya ... benar-benar lelah. Setelah setengah hari ia bekerja di café lalu melayani semua kebutuhan lelaki itu, rasanya ia tak memiliki tenaga lagi untuk bekerja.   Lelah ... benar-benar lelah. Sangat lelah.   Jangankan memikirkan konsep untuk tugas akhirnya, berpikirpun rasanya ia sangat malas. Ia ingin segera tidur, ia ingin segera berlabuh di alam mimpi.   “Kyra!”   Kyra mendengus lalu mengeratkan kepalannya, menahan rasa kesal.   “Yes, Master!”   “Ambilkan vodka.”   Kening Kyra mengerut seraya menegakkan tubuhnya. “Dimana aku mendapatkan vodka?”   “Elite club.”   Kyra membulatkan matanya. “Kau gila?”   “Kau saja yang terlalu bodoh. Kau tak melihat di lemari kaca di dekat bar ada apa?”   Kyra mengedarkan pandangannya. Ia masih belum hafal betul dengan apartemen ini, hingga setiap sudutnya masih terasa sangat asing. Saat iris matanya menangkap dua kursi tinggi lalu sebuah lemari kaca dibalik meja. Barulah ia sadar, ternyata berderet minuman mewah dari brand ternama hampir semuanya ada di sana. Brendy, Whisky , Wine, Vodka, Cocktail. Semua jenis minuman beralkohol berada di sana. Lengkap selengkap-lengkapnya.   Mata Kyra berbinar, senyumannya perlahan merekah sempurna kala melihat berbagai merk minuman mewah yang ia impikan berada di sana. Kyra membasahi bibir lalu meneguk liurnya kasar.   Bolehkah ia mencicipinya satu persatu?   “Kyra! Kau sedang apa? Kenapa lama sekali?”   Rahang Kyra mengatup saat mendengar seruan itu, matanya memejam sesaat sebelum kembali terbuka diiringi dengan dengusan tajam. Tak bisakah lelaki itu diam sebentar? Kyra hanya ingin menikmati kebahagiaannya melihat minuman-minuman itu, sekalipun ia belum bisa mencicipinya sekarang.   “Kyra! Vodka!”   Kyra mendengus lagi kemudian mengambil sebotol vodka dari dalam lemari itu. Senyumannya terbentuk, menyeringai saat dengan sengaja ia mengambil vodka terbaik yang berada di dalam lemari itu.   . . .     Kyra membawa sebotol vodka dan dua buah gelas di tangannya. Ia meletakkan gelas itu tepat dihadapan Gerald kemudian ia menuangkan vodka tersebut pada kedua gelas itu dengan sangat tenang.   Kening Gerald mengerut, menatapnya dengan mata yang memicing. “Kenapa dua gelas?”   Kyra mendudukkan dirinya tepat di depan Gerald. “Tentu saja, untukmu dan ... untukku. Memang apa asyiknya minum sendiri? Bukankah lebih baik aku temani?” tanya Kyra seraya mengambil salah satu gelas kemudian ia sentuhkan pada gelas yang masih tergeletak.   “Cheers.” Ujar Kyra diiringi dengan senyuman yang cukup lebar.   Gerald menghembuskan nafasnya kemudian meraih gelas yang tersisa. “Minumlah di luar. Aku sedang membutuhkan konsentrasi. Aku sedang tak ingin banyak berdebat denganmu.”   Kyra menatap Gerald yang membuang muka, menanggapi ucapannya pun dengan begitu dingin. Apakah dia marah karena ia mengambil minuman ini tanpa permisi?   Iris matanya kembali bergulir pada kertas-kertas yang berserakan di atas meja dan beberapa berserakan di lantai. Sepertinya Gerald memang sedang sangat sibuk menggambar sesuatu. Kyra melirik Gerald sesaat sebelum berdiri ... ia pun sedang tak ingin berdebat, sehingga tanpa di perintah dua kali ia mengikuti keinginan Gerald, beranjak pergi meninggalkan ruangan itu, membiarkan lelaki itu berpikir sendiri.   Lagipula ... ia sudah mendapatkan segelas vodka ini. Segelas minuman mewah yang akan memberinya banyak inspirasi, terutama untuk konsep dan latar belakang lukisannya. Sehingga tak ada alasan lagi baginya untuk berlama-lama bersama Gerald bukan?   “Haaahhh ... .” Kyra merentangkan tangan seraya memutar tubuhnya dengan senyuman yang terpatri indah di wajah itu.   Jika tahu tinggal bersama Gerald ia bisa mendapatkan minuman mewah ini secara gratis. Ia tak akan berpikir dua kali untuk menyetujui ajakan lelaki itu. Jangankan empat bulan. Sampai tugas akhirnya selesaipun akan ia hadapi!   Kyra duduk kembali di atas sofa kemudian terkekeh kecil. Menertawakan dirinya sendiri yang tampak terlihat begitu bodoh. Hanya karena minuman mewah, ia luluh.   “Ya ... benar. Jika begini caranya, aku akan rela tinggal sampai tugas akhirku selesai.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD