“Seperti yang aku katakan kau akan menjadi asisten rumah tangga selama empat bulan. Hm ... mungkin lebih? Karena kau tak menjawab panggilanku semalam.”
Kyra membulatkan matanya, mendongak menatap lelaki itu tak terima. “Mana bisa begitu?! Kau tak bisa berbuat seenaknya seperti itu Sir!”
Gerald menatapnya dengan sebelah alis naik. “Sir?”
“Ah ... maksudku ... Master? Master ... dengarkan aku, aku harus menyelesaikan tugas akhirku, jika aku bekerja dalam waktu sebanyak itu. Bagaimana caranya aku membagi waktu? Aku harus bekerja part time untuk memenuhi kebutuhanku, lalu ke kampus mengurus tugas akhirku dan sekarang ... empat bulan? Itu sudah terlalu lama Master! Aku akan terlambat untuk tugas akhirku jika caranya seperti ini.”
Gerald melipat kedua tangan di d**a, menunduk, menatap ke arahnya dengan tatapan penuh selidik. “Kenapa tugas akhir dijadikan alasan? Kau bisa melukis di kamarmu itu. Apa kamarnya kurang luas untuk menyimpan tugasmu? Dengar ... Kyra. Tak ada bantahan lagi karena semua alasanmu tak masuk akal.”
“Masuk akal! Kalau aku tak bekerja part time bagaimana aku—.” Kyra mengatupkan bibirnya dengan cepat. Hampir saja ia keceplosan mengatakan bahwa ia harus membeli minuman terbaik demi karya terbaiknya.
“Alasan apa lagi yang masuk akal untuk kudengar? Dengar Kyra ... kebutuhan sehari-harimu akan kupenuhi. Mobil untuk berangkat ke kampus, makanan untuk kau makan. Apa aku perlu membelikanmu pakaian untuk kau gunakan? Kau memusingkan apa lagi?”
Kyra menggeram dengan kedua tangan yang terkepal. Gemas dengan semua penjelasan Gerald yang tak bisa ia terima itu. “Aku bilang tugas akhirku! Aku harus mendapatkan banyak uang untuk tugas akhirku!”
Gerald menghela nafas panjang. “Baiklah ... aku tahu, kau pasti memerlukan tempat terbaik untuk karya terbaik bukan? Jika kau tak nyaman melukis di kamar, kau bisa melukis di studioku. Semua kebutuhan melukis yang selalu kugunakan ada di sana.” Tunjuk Gerald pada sebuah ruangan yang tertutup rapat. “Apa lagi yang kurang? Alasan apa lagi yang akan kau buat?”
Oh! Sialan. Lelaki ini sungguh menyebalkan. Dia ... sepertinya tak akan melepaskannya dengan mudah. Lelaki itu seperti sengaja menjeratnya hingga ia tak bisa berbuat apapun.
Kyra menghela nafas panjang, menatap lelaki itu dengan tatapan lelah. Ingin menyerah. Ia tak ingin berdebat lagi, sebab ... tak ada gunanya. Lelaki keras kepala itu pasti tak akan mengalah.
“Kau ingin menjadikanku pembantu atau ingin menyekapku? Kenapa aku seolah tak boleh bergaul di luar sana?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan.”
Kyra menggeram. Kesal dengan lelaki yang berada di hadapannya ini, sepertinya tak ada waktu baginya mengalah pada lelaki itu. Lelaki dengan kepala sekeras batu yang enggan di bantah tapi sungguh sangat ingin ia bantah. Selalu ingin ia bantah.
“Master! Tugas asisten rumah tangga itu membarsihkan rumah dan memasak. Jika sudah melakukan itu semua aku rasa sudah cukup. Kau ingin menjadikanku pajangan di rumah ini atau bagaimana?” Kyra menatap Gerald menuntut penjelasan. “Kau ingin mendengarkan penjelasan masuk akal dariku. Kau juga harus menjelaskan alasan paling masuk akal padaku! Katakan! Apa gunanya jika aku hanya diam di rumah? Lebih baik aku bekerja juga di tempat lain.”
“Kau harus melayaniku!”
Bola mata Kyra membulat, hampir keluar dari tempatnya. “APA MAKSUDMU MELAYANIMU?! DASAR GILA! LELAKI m***m! AKU PIKIR KAU LELAKI BAIK TAPI TERNYATA SAMA SAJA! LELAKI MEMUM TAK BERMORAL!”
Gerald mencengkram kedua bahunya. “Heh! Siapa yang kau bilang m***m?”
Lelaki itu mendengus sesaat. “Dengarkan aku Kyra. Kau memang harus melayaniku. Kau harus menyiapkan semua kebutuhanku setiap saat. Selain membersihkan rumah dan memasak, kau harus menyiapkan pakaian untukku, kau harus mengikatkan sepatuku, memasangkan dasiku dan menyiapkan perlengkapan kantorku, termasuk memilih jam tangan dan warna dasi. Lalu ... kau harus tahu, aku tak suka makanan dingin atau makanan yang dipanaskan dengan microwave. Aku ingin kau menyiapkan makanan yang masih baru dan segar untukku ketika aku datang. Jadi ... bagaimana kau akan menyiapkan itu jika kau bekerja diluar? Jika kau bekerja dengan orang lain bagaimana bisa kau menyiapkan semuanya secara tepat waktu? Kau mau masa kerja denganku bertambah?!”
Kyra mendengus, matanya memicing, bibirnya pun mencebik kesal. “Kau ingin menjadikanku asisten rumah tangga atau ibu rumah tangga sih? Perkataanmu membuatku merasa kau sedang memberikan tugas pada ibu rumah tangga Master! Bukan asisten rumah tangga. Tugasku tak masuk akal.”
“Terserah. Aku tak peduli. Kau ... ingin semakin lama tinggal denganku atau singkat tapi ikuti semua keinginanku? Semua pilihan ada di tanganmu.”
Kyra menatap Gerald dengan tangan kanan yang memegangi kepalanya dan tangan kiri yang berada di pinggang. Pusing. Ia sudah tak memiliki apapun lagi untuk di katakan. Lelaki ini ... sungguh. Dia ... benar-benar membuat tekanan darahnya naik!
Kyra kemudian menatap Gerald lagi lalu menunjuk lelaki itu dengan telunjuk tangan kanan. “Kau! Kau memang lelaki kejam Gerald! Kalau aku tak lulus tahun ini aku bersumpah akan menenggelamkanmu di bak mandi!” Kyra mengerang lagi seraya mengacak-acak rambutnya dengan kesal. “Sudahlah! Lebih baik aku pergi ke kampus daripada aku harus menghadapimu!”
“Kau harus membersihkan rumah.”
Kyra mendelik pada Gerald yang menatapnya dengan datar.
“BERSIHKAN SAJA SENDIRI!”
.
.
.
Bukannya marah, Gerald yang menerima teriakan itu justru terkekeh kecil dengan kepala yang menggeleng-geleng perlahan. Perempuan itu benar-benar menggemaskan, dia mudah sekali marah dan tersulut emosi. Hingga membuatnya ingin terus menerus memanacing emosi sampai perempuan itu terus mengomelinya.
Gerald terkekeh lagi ketika membayangkan bibir tipis mungil perempuan itu bergerak-gerak lucu, mencebik dan mengomelinya.
Brak!
Kyra menutup pintu apartemen dengan sangat kencang. Gerald semakin terkekeh mendengar hal itu.
“Menggemaskan.”
Tak lama kemudian sebuah seringaian jahil muncul pada wajahnya saat sebuah ide untuk memancing emosi perempuan itu muncul kembali, berkelebat dalam otaknya. Gerald tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya menjahili perempuan itu akan menjadi salah satu hobi barunya, alternatif penghiburnya.
Gerald jadi tak sabar melihat bibir itu mencebik, mengerucut dan mengomelinya lagi.
.
.
.
Kyra menghentakkan kakinya begitu ia memasuki lift, lalu mengerang dengan kedua tangan yang mencengkram rambutnya. Bodoh! Kau bodoh sekali Kyra! Kenapa kau malah berdebat dengan lelaki itu? Seharusnya kau bersikap santun agar dia luluh dan mempersingkat masa kerjamu. Tapi kenapa kau begitu bersemangat mendebati ucapannya? Bodoh! Dasar bodoh!
Kyra mendengus, ia kemudian merapihkan rambut dan hoodie putih kebesarannya. Tidak ... aku tidak bodoh. Lelaki itu saja yang terlewat menyebalkan. Dia lelaki paling menyebalkan yang aku temui di bumi ini. dia ... lelaki yang harus aku musnahkan!
Ting!
Kyra membulatkan matanya ketika melihat Gerald yang sudah berdiri di depan lift. Matanya mengerjap sesaat kemudian melirik ke angka lift. Rasanya ia benar berada di lantai dasar gedung apartemen ini. bagaimana bisa Gerald turun lebih cepat?
Kyra memutar bola mata kemudian beranjak meninggalkan lelaki itu. Satu langkah ... dua langkah. Langkahnya kembali mundur saat hoodie yang ia kenakan di tarik tak manusiawi, hingga tubuhnya tertarik, limbung hingga akhirnya terjatuh tepat pada d**a lelaki itu.
“Ah!”
Kyra mendongak, menoleh ke arah Gerald. Menatap lelaki itu bagaikan gerakan yang diperlambat. Iris mata mereka bertemu. Gerald menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam namun dingin. Sementara itu Kyra menatap tak berkedip, menatap wajah dengan pahatan sempurna dihadapannya itu. Rahang tampak tegas, alis tebal, bulu mata tampak tebal, membuat iris matanya semakin terlihat tampak tajam. Hidungnya runcing ditambah dengan bibirnya yang tebal.
Bibir itu ... bibir yang ... sempat melumatnya. Kyra meneguk ludahnya kasar kemudian menggigit bibirnya sendiri. Bagaimana rasanya jika bibir itu menciumnya kembali? Melumat bibirnya hingga ia rasa akan dihabisi.
“Apa? Ingin kucium lagi?”
Mata Kyra mengerjap. Kemudian dengan gerakan yang sangat cepat ia berdiri menghadap lelaki itu, menatapnya dengan nyalang.
“Dalam mimpimu!!!”