5. Kesepakatan Kedua

1936 Words
Kyra mengemas pakaiannya satu persatu kedalam sebuah koper. Tak banyak yang ia bawa, hanya beberapa kaus, jeans yang sering ia pakai kemudian beberapa stel piama dan tiga potong pakaian santai.   “Apakah kau perlu sampai menginap di tempat Paula, Kyra? Apakah tugas akhirmu sangat sulit?”   Dalam hatinya Kyra meringis, rasa bersalah perlahan muncul semakin membelenggu dan semakin membuatnya menyesal telah membohongi ibunya yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih sayang.   Ya ... beberapa saat lalu ia memang berbohong tentang ia harus menginap di flat Paula selama ia menyelesaikan tugas akhir. Padahal yang sebenarnya, ia akan menginap di rumah seorang lelaki asing yang baru tiga kali ia temui.   “Sebenarnya tak sesulit itu Ma ... hanya saja Kyra ingin meminimalisir ongkos jika sewaktu-waktu Dosen meminta Kyra datang tiba-tiba ke kampus. Apalagi lukisan Kyra ada yang sedang di pamerkan di pameran kampus. Jadi ... Kyra pikir akan lebih baik tinggal bersama Paula untuk sementara waktu. Kebetulan Paula memang tinggal sendiri dan flat hunian Paula juga tepat berada di belakang kampus. Rasanya tak buruk bukan jika Kyra tinggal di sana? Justru akan semakin memudahkan Kyra.”   Perempuan paruh baya yang tak lain merupakan ibunya itu menyentuh kepalanya, mengelus surainya sesaat sebelum memeluk tubuhnya dari samping. “Baiklah. Terserahmu saja Kyra. Bagi Mama yang terpenting kau merasa aman dan nyaman.”   Kyra mengangguk kecil seraya membalas pelukan itu. “Kyra berjanji akan sering pulang jika Mama rindu. Mama ... kau dan Papa juga jangan terlalu sering bekerja ya? Jangan terlalu lelah bekerja.”   “Tenang saja ... majikan kami sangat baik Kyra. Keluarga mereka benar-benar baik dan memperlakukan kami pun dengan sangat baik. Jadi ... kau tak perlu memikirkan apapun, kau tak perlu mengkhawatirkan apapun sebab mereka menjamin apapun untuk Mama dan Papa.”   Keluarga mereka memang bukan berasal dari keluarga berada. Phillip dan Reynalda, kedua orangtuanya. Ayah dan ibunya. Mereka berdua bekerja di rumah seseorang yang sebenarnya Kyra pun tak tahu hampir tujuh sampai enam tahun ini. Ayahnya sebagai sopir dan ibunya sebagai kepala asisten rumah tangga. Karena hal itulah Kyra juga memutuskan untuk bekerja paruh waktu demi sedikitnya membantu menutupi biaya hidupnya yang tidak sedikit. Karena itu pula ia merasa bersalah pada kedua orangtuanya itu. Bagaimanapun ia telah membohongi mereka dan jika mereka tahu dengan semua hal yang anaknya ini lakukan, mereka mungkin akan sangat kecewa.   Tapi mau bagaimana lagi? Ia tak ingin menempatkan orangtuanya dalam kesulitan yang lebih besar lagi. Mereka sudah cukup sulit dengan membiayai kuliahnya, ia tak ingin membuat mereka lebih sulit lagi dengan menanggung kesalahan yang ia lakukan. Biarlah ia menanggungnya dan berusaha untuk mempertanggung jawabkan semua yang telah ia perbuat.   Kyra menghela nafas panjang lalu mengeratkan pelukannya pada sang ibu. “Baiklah ... jika seperti itu. Sekalipun aku memintamu untuk berhenti kau pun tak akan pernah mau berhenti ‘kan? Jadi ... yasudah. Semoga kalian selalu sehat Ma ... semoga selalu merasa bahagia dan nyaman. Maaf ... Kyra belum bisa membahagiakan kalian. Kyra belum bisa membalas apapun yang sudah kalian berikan untuk Kyra. Kyra ... hanya membuat kalian sulit dan membuat kalian selalu bekerja keras.”   Reynalda mengelus kepalanya lembut seraya mengecupi puncak kepalanya. “Tak apa sayang ... orangtua tak pernah meminta balasan untuk semua yang telah diberikannya. Kami pun hanya ingin melihat kau bahagia, kami ingin hidupmu lebih baik daripada kehidupan kami ini. Kami ingin ... kau tak merasa kekurangan apapun.”   Hati Kyra bergetar, rasanya ingin sekali ia menangis setelah mendengar semua penuturan yang ibunya itu katakan. Rasa bersalah yang bersarang dalam hatinya pun semakin besar, semakin menganga lebar kala menyadari bahwa ia telah membohongi mereka, ia pasti ... akan sangat mengecewakan mereka jika sampai mereka tahu semua yang ia rahasiakan ini.   “Sudah ... ya? Sebaiknya sekarang kau beristirahat. Mama pun akan kembali ke kamar untuk beristirahat.” Reynalda mengelus kepalanya dengan lembut lalu membubuhkan sebuah ciuman ringan tepat pada puncak kepalanya. “Good night princess ... have a nice dream.”   Kyra tersenyum kecil kemudian mencium pipi sang ibu. “You too Mom.”   Kyra menatap punggung sang ibu yang kini telah beranjak pergi meninggalkan kamarnya yang hampir menyerupai studio lukisan. Helaan nafas kembali terdengar saat Kyra merebahkan tubuhnya di atas pembaringan, menatap kosong langit-langit kamar berwarna putih yang akan sangat ia rindukan.   Matanya mendelik, menatap ke arah ponselnya yang sejak beberapa saat lalu bergetar, tanda panggilan masuk yang dilakukan berulang kali. Kyra meraih ponsel itu lalu mendengus saat melihat nama Gerald terpampang jelas di layar. Namun ia mengabaikan panggilan itu, ia menolaknya lalu meletakkan ponselnya kembali.   Kyra memejamkan matanya perlahan seraya menghembuskan nafasnya lagi. Hari ini Kyra hanya ingin menikmati ketenangan hidupnya. Sebab setelah hari ini ... mungkin ia tak akan pernah mendapatkan ketenangan seperti hari ini. Semuanya akan sangat berubah, sangat amat berubah. Apalagi saat ia menyadari kenyataan ia harus menghadapi lelaki yang sangat amat menyebalkan seperti Gerald.   Ponsel Kyra kembali berdering pertanda sebuah pesan masuk. Kyra pun meraih ponselnya lagi lalu membaca pesan tersebut. seketika matanya membulat sempurna.   Mengabaikan panggilanku berarti kau siap bekerja lebih lama denganku Kyra. Sampai berjumpa besok. Semoga mimpi indah sayang ...   Lihat! Jauh saja lelaki itu sangat amat menyebalkan! Bagaimana jika dekat? Sepertinya setiap hari ia harus mengecek tekanan darahnya. Memastikan dirinya sehat tanpa terserang serangan darah tinggi.   ***   “Hati-hati ya ... di tempat Paula, jika kau butuh sesuatu katakan pada Mama.” Kyra mengangguk seraya memeluk Reynalda dengan erat.   “Pasti Ma ... Ingat. Jika terjadi sesuatu pada kalian berdua. Kalian harus segera menghubungi Kyra ya?”   Reynalda dan Phillip mengangguk. “Mobilnya sudah menunggu.” Ujar Phillip. “Hatu-hati dijalan Kyra.”   Kyra mengangguk lagi sebelum meraih koper yang akan ia bawa. Kyra berbalik sekali lagi menatap raut wajah orangtuanya dengan perasaan bersalah yang masih bersarang dalam hatinya. Ia tersenyum sekilas, melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi memasuki kendaraan tersebut.   Aku tahu ... aku salah. Kau berjuang menyekolahkanku bukan untuk membohongimu Ma. Tapi ... aku terpaksa. Maafkan aku. Batin Kyra.   Helaan nafas terdengar keluar dari hidung Kyra. Sekalipun ia membohongi mereka ... setidaknya ia cukup lega orangtuanya percaya padanya. Sekarang saatnya ia menghadapi Paula yang akan menjadi rintangan terakhirnya. Ia harus bisa membuat Paula mengikuti semua permintaannya, ia harus membuat Paula setuju dengan langkah yang akan ia ambil ini. Sebab ... jika Paula tak bisa di ajak bekerja sama, habislah sudah. Ia tak bisa membayangkan lagi apa yang akan terjadi padanya nanti. Sebab Paula pasti akan melaporkan semua hal yang yang selama ini ia sembunyikan pada orangtuanya. Termasuk kebiasaannya ke bar dan meminum-minuman keras.   Kedua tangan Kyra mengatup, gugup, dalam hatinya berdo’a agar Paula bisa lebih mengerti dirinya dan bisa setuju dengan mudah akan semua keputusan yang ia ambil.   ***   “Paula! Apa harus sejauh ini?” tanya Gabriel seraya memandangi beberapa orang yang sedang mengambil benda yang terbungkus oleh kertas-kertas itu. “Kyra pasti akan sangat marah.” Lanjutnya.   “Lalu ... apa yang bisa aku perbuat Gab? Kau ingin aku di penjara karena masalah ini?”   “Kau bisa berbicara padaku, aku bisa membantumu Pau.”   “Membantu bagaimana Gabriel? Uang dari kerja part-time-mu sama saja dengan uang yang aku terima. Tak akan cukup untuk membayar kerugian itu sekalipun gajimu dan gajiku digabung.” Paula menghembuskan nafas perlahan. “Aku yakin ... Kyra tak akan marah. Aku yakin dia akan mengerti dengan---.”   “Apa yang akan aku mengerti Paula?” Kyra muncul di ambang pintu. Perempuan itu menatapnya dengan tatapan penuh tanya dan kening mengerut heran.   Paula meneguk ludahnya kasar ketika melihat iris mata Kyra mulai menyisir seluruh setiap sudut flat-nya seraya melangkah mendekat, hingga perempuan itu berdiri tepat di hadapannya dan Gabriel. Paula menyenggol lengan Gabriel, melirik lelaki itu, meminta pertolongannya.   “Kyra ... .”   “Dimana lukisanku Pau?” Kyra menatap ke arahnya.   “Kyra dengarkan aku.”   Kyra terdiam, sahabatnya itu menatapnya dengan datar. “Jangan bilang barang-barang yang orang-orang tadi bawa adalah lukisanku?”   Paula meneguk ludahnya kasar lagi.   “Kyra aku bisa menjelaskannya.”   Mata Kyra membulat sempurna. “Jadi benar?”   “Kyra tenang.” Gabriel meraih lengan Kyra, “Biar aku bantu jelaskan. Sekarang kau duduk.”   Kyra menatap ke arahnya dan Gabriel secara bergantian, tapi beberapa saat kemudian ia duduk, mengikuti ucapan Gabriel.   “Malam kemarin Paula tanpa sengaja menjatuhkan Wine mahal saat dia mencarimu. Saat orang itu datang ke flat ini untuk meminta pertanggung jawaban dari Paula, dia tertarik dengan lukisanmu karena itulah sebagai bayaran atas minuman yang terjatuh itu Paula dengan sangat terpaksa memberikan lukisanmu. Karena jika tidak Paula akan dijebloskan ke penjara.” Jelas Gabriel dengan sangat tenang.   Paula menahan nafas, ia dan Gabriel bertatapan sesaat berharap perempuan itu mengerti dengan posisinya. Iris mata Paula terus menerus menatap Kyra dengan tatapan gugup. Ia takut jika sahabatnya itu tak memaafkannya.   “Ky ... .”   “Baiklah. Aku anggap kau tak pernah melakukan itu Paula.”   “Serius? kau serius Kyra?”   “Dengan satu syarat.” Kyra menghela nafas panjang. “Kau harus mengatakan pada orangtuaku bahwa aku tinggal di sini.”   “Maksudmu?”   .   Kyra menghela nafas panjang kemudian menceritakan tentang kejadian malam itu hingga kesepakatan yang harus ia ambil sebagai konsekuensi tanpa menjelaskan bahwa lelaki itu adalah Gerald.   “Demi Neptunus. Pembantu Kyra? Kau akan menjadi pembantu?”   Kyra mendengus. “Terpaksa.”   “Apakah dia lelaki baik-baik?” tanya Gabriel. “Jangan-jangan dia lelaki m***m yang ingin memanfaatkanmu.”   “Tidak ... tidak Gab. Dia lelaki baik-baik. Dia terpelajar, terpandang dan mempunyai nama yang besar juga. Jika dia m***m dia mungkin akan memperkosaku yang sedang tak sadarkan diri, tapi dia tak melakukannya.”   Gabriel menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Lelaki itu tampak tak puas dengan penjelasan yang ia berikan. Iris matanya bergulir, menghindari tatapan lelaki itu, menatap Paula kembali.   “Jadi ... bagaimana? Kau setuju dengan kesepakatan kita? Aku akan memaafkanmu dengan catatan kau harus merahasiakan tentangku atau kau harus mengambil kembali seluruh lukisanku.”   “Baik aku setuju Kyra. Tentu saja aku akan setuju. Aku akan merahasiakannya dengan baik sampai orangtuamu tak curiga sama sekali.”   “Pau!” Gabriel memberikan peringatan.   Paula menggeleng ke arah Gabriel, lalu mengalihkan pandangan ke arahnya lagi. “Jadi ... sepakat? Kau akan merelakan lukisanmu ‘kan?”   Paula mengulurkan tangannya.   Kyra menyeringai seraya membalas uluran tangan itu.   “Ok. Deal.”   Gabriel mendesis. “Kesepakatan yang sangat dangkal.”   Kyra dan Paula mendelik kompak pada Gabriel.   “Memang kau bisa mengambil jalan lain apa lagi Gab? Membantu kami membayar kerugian dengan uang?” Paula mencebik. “Bekas makan malam kita saja kau masih berhutang padaku. Bagaimana bisa kau membayar utang kita berdua?”   Gabriel mendengus pelan. “Baiklah-baiklah. Perempuan memang selalu menang.”   Kyra terkekeh pelan melihat ekspresi pasrah yang Gabriel berikan. Bertepatan dengan itu sebuah panggilan masuk, dari Gerald.   “Sayang ... aku sudah menunggumu dibawah.”   “Berhenti memanggilku seperti itu! Iya! Aku turun sekarang!” ujar Kyra seraya mematikan sambungan telepon itu tanpa perasaan.   “Pau ... Gab. Aku berangkat sekarang. Mungkin hari ini aku akan cuti kerja di café, aku akan mulai bekerja lagi lusa. Sampaikan pada Miss Adelia ya?” Kyra melangkah kembali keluar dari flat itu dengan membawa koper di tangan kanannya. “Sampai bertemu besok.” Pamit Kyra sebelum meninggalkan flat itu.   Setelah Kyra menghilang di balik pintu, Paula dan Gabriel melangkahkan kaki ke arah jendela, menatap sebuah mobil mewah yang terparkir di depan flat sederhana itu.   Paula mendesis. “Pembantu macam apa yang di jemput dengan mobil mewah seperti itu? Pembantu untuk mengurus rumah tangga, atau pembantu yang akan diajak berumah tangga?” ujar Paula sarkas.   Sementara itu Gabriel tak mengeluarkan pendapatnya sama sekali. Ia hanya menatap lurus penuh rasa curiga pada kendaraan itu dengan ekspresi datar, penuh rasa curiga.            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD