4. Kesepakatan

1600 Words
  “Berhenti menggigit bibirmu sayang ... atau ... .” lelaki itu menyeringai. “Biarkan aku yang menggigitnya.”   “A—apa?”   Jemari lelaki itu meraih dagunya, membuka celah bibirnya menjadi lebih terbuka. Matanya kembali mengerjap gugup diiringi dengan degup jantung yang mulai menggila, apalagi ketika ia menyadari lelaki itu tengah memindai wajahnya.   Tunggu ... lelaki ini ... kenapa ia merasa mengenalnya? Wajah lelaki dihadapannya ini tampak tak asing, dia ... tampak begitu familiar dalam ingatannya. Satu persatu ingatan masa lalunya berusaha ia gali, hingga ... ingatannya kembali pada kuliah umum yang ia hadiri satu minggu lalu.   Dia ... .   Krubuk!   Seketika wajah Kyra memanas setelah mendengar suara yang bersumber dari dalam perutnya. Matanya membulat, kedua tangannya terulur memeluk perutnya sendiri yang memang sudah sangat terasa perih.   Lelaki yang berada di atasnya itu tertawa geli, beberapa saat kemudian bangkit lalu membantunya duduk. Hingga mereka duduk bersama di tepi ranjang, saling bersisian.   Setelah beberapa saat lelaki itu masih saja terkekeh geli dengan kepala yang menggeleng perlahan, sementara itu Kyra bahkan sudah kehilangan cara untuk tertawa. Saat ini Kyra sudah sangat gugup, ia hanya bisa menggigit bagian dalam bibirnya, dengan kedua tangan yang saling meremat ketakutan. Sesekali ia melirik lelaki itu dengan ujung matanya, sementara dalam hati ia terus berdo’a dan terus berharap agar lelaki itu tak mengingatnya. Agar lelaki itu melupakan kejadian masa lalu ketika ia merebut minumannya dan melupakan bahwa ia mahasiswa yang pernah lelaki itu temui.   Karena sungguh ... jika lelaki itu ingat, ia akan habis. Ia akan kehilangan semuanya.   “Sebaiknya sekarang kau makan. Isi energimu sebelum kita melakukan kesepakatan.”   Kyra mendongak, menatap lelaki itu yang tengah menatap ke arahnya dengan tatapan mata datar dan terasa begitu dingin.   “Kesepakatan?”   Lelaki itu mengangguk. “Kau harus mempertanggung jawabkan semua yang sudah kau lakukan padaku. Pertama kau merebut minumanku, kedua kau ribut di kelasku dan yang ketiga kau muntah pada pakaian mahalku. Kau tahu ... coat dan kemeja yang kupakai bahkan harus kubuang karena aroma tak sedap dari muntahanmu itu.”   . . .   Kyra menunduk dengan mulut yang penuh dengan makanan. Wajahnya masih terasa begitu panas, malu terhadap lelaki yang berada di hadapannya ini. Sungguh ... saat ini ia masih sangat malu. Ia benar-benar malu ketika baru menyadari bahwa lelaki dihadapannya ini adalah lelaki yang sama dengan pembicara di kuliah umumnya. Lelaki yang sama pula dengan lelaki yang ia rebut minumannya. Ia bertambah malu lagi ketika lelaki itu ternyata mengingatnya.   Sungguh ... ia tak mengerti. Kesialan macam apa lagi yang sedang ia hadapi ini? Mengapa rasanya ini begitu rumit dan akan terasa lebih rumit lagi.   “Kalau kau kelaparan, kenapa tak membuka kulkas sejak tadi? Kau bisa menghangatkan makanan apapun. Kau bisa ‘kan menggunakan microwave?”   Kyra mencebik seraya mendengus, mengunyah dengan sangat kencang seolah ia tengah mengunyah lelaki dihadapannya itu. “Memangnya siapa yang mau makan saat disandra?”   “Terus saja kau bilang aku menyandramu padahal kau sendiri yang jatuh dalam pelukanku.”   “Aku tidak sengaja! Aku sedang mabuk dan aku ... .”   “Sama saja. Kau sama-sama menjatuhkan dirimu padaku. Bukan aku yang memaksamu datang.” Lelaki itu mendengus kecil seraya meneguk miumannya. “Sudah untung aku tolong, kalau bukan aku kau pasti sudah habis. Kau pasti sudah digauli atau sudah di bunuh lalu mencuri organ yang ada dalam tubuhmu.”   “Sir! Kau ... keterlaluan.”   “Aku hanya berbicara apa adanya. Kau tahu? Kasus seperti itu sedang marak. Seharusnya gadis kecil sepertimu tak usah keluar malam, apalagi pergi sendiri.”   Kyra mendengus lagi kemudian menghentakkan sendok ditangannya. “Aku bukan anak kecil! Aku sudah dewasa! Aku sudah dua puluh dua tahun!”   “Tetap saja ... kau ... .” lelaki itu mendorong keningnya dengan ujung sendok. “Masih kecil.”   Kyra menepis sendok itu lalu memutar bola matanya tanpa membalas ucapan lelaki itu lagi. Rasanya percuma saja ia melawan, lelaki itu akan terus-menerus membalas ucapannya hingga ia kehilangan alasan lagi.   “Kyra ... seharusnya gadis sepertimu tak ketempat seperti itu sendiri. Aku sudah bertemu denganmu dua kali dan kedua-duanya dalam kondisi yang sangat buruk. Memang kau tak takut pada orang-orang yang berada di dunia malam?”   “Terpaksa. Aku hanya akan mendapatkan inspirasi untuk melukis ketika aku mabuk. Aku harus melukis saat mabuk jika aku ingin menghasilkan karya yang indah. Semakin mahal minuman yang kuminum, semakin nikmat juga imajinasi yang mengalir dalam otakku.” Kyra mengerjapkan matanya lalu terdiam kemudian menatap ke arah lelaki itu.   “Tunggu ... kenapa aku menceritakan semua itu padamu Sir? Dan ... bagaimana bisa kau tahu namaku?” iris mata Kyra membulat. “Sir! Jangan bilang kau ... menyelidikiku?”   Lelaki itu tersenyum kecil, menertawakan kesimpulan aneh tersebut. “Memang kau sepenting itu untuk kuselidiki? Kau ... terlalu percaya diri sayang ... .”   “Aku tahu namamu dari ID yang ada di dalam dompetmu dan berhenti memanggilku Sir, aku memiliki nama.”   Kyra memandang lelaki itu. Nama? Biar ia ingat-ingat. Siapa nama lelaki ini? Ia ... hampir tidak mengingatnya sama sekali. Tak penting juga bukan mengingatnya?   “Atau ... lebih baik kau memanggilku Master?”   Kelopak mata Kyra kembali mengerjap dengan cepat. “A—apa? Master?”   “Yes, Master. Kenapa? Ada masalah? Toh mulai hari ini kau akan menjadi pembantu di rumah ini. Tak ada masalah bukan?”   “Sir! Aku belum sepakat dengan menjadi asisten rumah tangga.” Seru Kyra tak terima. Beberapa saat lalu ketika lelaki itu dengan baik hati menghangatkan makanan untuknya dia mengatakan bahwa ia bisa bertanggung jawab atas semua kerugian yang ia lakukan dengan menjadi asisten rumah tangga di rumahnya ini. Tapi ... demi langit dan seluruh isinya, ia belum menyepakati itu. Ia belum setuju dengan semua usulan yang lelaki itu layangkan.   “Kau tak bisa seenaknya begitu Sir! Pokoknya aku belum setuju! Aku belum memberikan keputusan. Jadi kau tidak bisa seenaknya mengaturku seperti itu. Tidak.”   “Lalu ... kau akan membayar semua kerugian yang kau lakukan dengan apa? Uang? Kau yakin bisa membayar semuanya dengan uang dalam waktu cepat?”   “Aku ... .”   “Satu minggu. Jika kau ingin membayarnya dengan uang kau harus membayarnya dalam waktu satu minggu.”    “What?!” Kyra membulatkan matanya. “Sir! Jangan bercanda. Darimana aku mendapatkan uang sebanyak seratus ribu dollar dalam waktu satu minggu?”   “Apa peduliku? Aku tak mau tahu. Jika kau ingin membayar semua kerugianku dengan uang, kau harus melakukannya dalam waktu satu minggu. Jika kau memilih menjadi asisten rumah tanggaku kau cukup melakukannya dalam waktu empat bulan.” Lelaki itu mengedikkan bahunya seraya menyandarkan punggung pada sandaran kusri. “Ya ... Meskipun secara hitungan aku tetap dirugikan, tapi setidaknya dengan adanya kau di sini, sudah menjadi jaminan bahwa kau akan tetap bertanggung jawab.”   “Aku tak akan melarikan diri meskipun aku tak tinggal di tempat ini! Kau pikir aku gadis seperti apa?!”   “Siapa yang tahu? Banyak penipu berwajah polos.” Jeda sesaat. “Oh ya ... satu lagi pilihan yang bisa kau ambil Kyra.”   Kyra menatap lelaki itu dengan tatapan penuh antisipasi, penuh harap agar pertanggung jawabannya di ringankan seringan-ringannya. Membayar dengan uang selama satu tahun misalnya?   “Aku laporkan kau pada polisi. Bagaimana? Mana yang akan kau pilih?”   Kyra mendengus dengan kedua tangan yang terkepal. Iris matanya menatap berang lelaki dihadapannya itu dengan nafas yang sudah berat, menahan amarah.   Brak!   “Kau ... .” Kyra menunjuk wajah lelaki itu. “Kau memang lelaki yang kejam!”   Lelaki itu menarik tangannya, membuat jarak antara wajah mereka terkikis. Setelah itu menyeringai penuh kemenangan.   “Kau tak tahu Kyra? Aku Gerald, dan kejam adalah nama tengahku.”   . . .   Gerald kembali menyeringai saat mendengar Kyra yang menggeram. Sungguh ... ia merasa sangat puas dengan seluruh respon yang diberikan Kyra. Perempuan itu ... benar-benar menggemaskan. Apalagi ketika kesal. Pipinya yang memerah menggembung, bibirnya mengerucut, sesekali mencebik lucu, matanya yang bulatpun terlihat menggemaskan kala memutar dan mendelik tajam.   Semua yang berada pada perempuan itu ... benar-benar mengesankan.   Kyra menggeliat, berusaha melepaskan cengkraman tangannya. Tapi tak sekalipun ia mengendurkan pegangannya itu. Ia justru semakin mengencangkannya, mempertahankan posisi mereka yang hampir tanpa jarak itu.   “Berhenti membuatku jengkel Sir! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?”   “Kau tahu betul, kau tak memiliki jawaban lain Kyra.” Gerald memiringkan wajahnya, hingga ujung bibir mereka saling bersentuhan dengan ringan. Gerald menyeringai kembali dengan iris mata yang tak lepas menatap iris mata Kyra yang semakin membesar. “Jadi ...  aku rasa kau cukup mengerti jawaban seperti apa yang aku inginkan.”   Kyra mengatupkan rahangnya, dengan tangan yang terus memberontak ingin di lepaskan. Tapi ia masih tak mau kalah, ia terus mencengkramnya sampai perempuan itu berhenti memberontak lalu menghembuskan nafasnya perlahan.   Kyra kini menatapnya lagi, terlihat lebih tenang dari sebelumnya. “Yes, Master.”   “Apa? Aku tak mendengarnya.”   “Yes, Master!” Seru Kyra dengan kencang lalu mendengus. “Puas?! Aku harap kau tak mendadak tuli dengan berpura-pura tak mendengarku lagi. Aku juga berharap kau juga tak berpura-pura bodoh dengan bertingkah seolah tak mengerti dengan jawabanku.”   Gerald menatap bibir tipis yang tak hentinya bergerak itu dengan intens kemudian mengecupnya, meraupnya, lalu melumatnya dalam waktu singkat.   Iris mata mereka kemudian bertemu kembali. Mata Kyra masih membulat, terlihat sangat terkejut. Membuatnya kembali terkekeh lalu menyeringai.   “Ingin lagi?”   Mata cantik itu mengerjap beberapa kali, kemudian menatapnya dengan tatapan nyalang, penuh amarah.   “Dalam mimpimu!” seru Kyra seraya berlalu meninggalkannya begitu saja.   Gerald tersenyum puas seraya membasahi bibirnya sendiri, merasakan kembali manisnya bibir tipis itu yang masih tersisa pada bibirnya.   Gerald menyeringai seraya menatap punggung sempit itu.   “Kau ... cukup menarik sayang.”              
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD