Paula terus menerus menggerakkkan kakinya, panik. Telunjuk tangan kanannya pun terus ia gigiti karena perasaan panik yang semakin menderanya kala panggilan itu terputus tanpa ada jawaban sama sekali.
“Kyra ... ayolah ... angkat Kyra. Angkat.” Ujar perempuan itu seraya mencoba memanggil sahabatnya lagi. Tapi ... nihil. Tetap tak ada hasil apapun. Kyra tidak menjawab panggilannya.
“Bagaimana ini Gabriel? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Kyra?” ujar Paula seraya melirik ke arah Gabriel yang tampak begitu tenang.
“Lakukan sesuatu Gab ... kau tak khawatir padanya?”
Lelaki itu tak mengatakan apapun selama dia sampai di flat-nya. Dia hanya termenung dan sesekali menghela nafas panjang. “Aku yakin Kyra akan baik-baik saja.”
***
Sementara itu objek yang dikhawatirkan mereka masih bergelung dibawah selimut tebal berwarna putih. Tubuhnya bergerak-gerak tak nyama, mengerjap lalu merenggangkan tubuhnya, menggeliat seraya mengerang perlahan. Matanya perlahan mengerjap ketika menyadari tempat tidur dan selimu yang ia gunakan terasa lain, ranjang yang ia tempati terasa begitu empuk, selimut yang ia gunakan terasa begitu lembut, lebih lembut dari yang ia gunakan di rumah.
Kelopak mata Kyra seketika terbuka, iris matanya bergulir menyisir setiap ruangan itu. Ruangan bernuansa coklat dan krem keemasan, ruangan luas yang hampir seluas lantai satu rumahnya. Matanya mengerjap beberapa kali mencoba memungut setiap ingatan yang tersisa dalam ingatannya. Tapi sayang ... tak ada satupun yang ia ingat. Tak ada satupun yang tersisa dalam kepalanya.
“Agrh!!!”
Kyra mengerang dengan kedua tangan yang mencengkram kepalanya sendiri.
“Kyra come on!!! Apa yang baru saja kau lakukan?! Apa yang terjadi Kyra!!!” erang Kyra kemudian mendudukkan dirinya, saat itu barulah ia sadar ia hanya mengenakan pakaian dalamnya saja dibalik selimut yang ia gunakan. Seketika matanya membulat sempurna, seraya menarik kembali selimut itu hingga menutupi tubuhnya.
Iris mata Kyra kembali bergerak panik. Apa yang baru saja terjadi ini? Apa?! Kenapa ia tak mengenakan apapun?
Iris mata Kyra terus bergerak mencari petunjuk, tapi tak ada apapun selain sebuah gaun berwarna sky blue yang tergantung di pintu lemari. Tak ada ponsel, tak ada dompet, tak ada tas yang semalam ia bawa, bahkan pakaian yang ia kenakan semalam pun tak tersisa. Semuanya raib. Tak mungkin ... ia baru saja di rampokkan?
“Bodoh! Argh! Seharusnya aku mendengarkan Gabriel untuk berhenti minum. Kenapa kau bodoh sekali Kyra? Kenapa kau keras kepala?”
Demi lapisan tata surya dan seluruh isinya. Sekuat apapun ia mencoba mengingat kejadian semalam, ia tak ingat apapun. Ia benar-benar melupakan semua hal yang terjadi padanya semalam.
Apa yang terjadi? Apa yang ia perbuat? Ia tak mendapatkan jawaban sama sekali.
Tak mau membuang waktu lebih lama, setelah ia pikir percuma mengingat kejadian semalam ia segera bangkit lalu mengenakan pakaian yang tergantung itu tanpa berpikir panjang lagi. Kemudian ia beranjak meninggalkan kamar menuju pintu masuk. Berniat kabur, meninggalkan apartemen itu.
Tapi ternyata ... usahanya gagal. Pintu apartemen itu di kunci.
“Oh! Ayolah terbuka!!! Aku harus pergi dari tempat ini! Aku harus pergi!”
Percuma, semua usaha yang ia lakukan ini percuma saja. Tak ada yang membuahkan hasil. Kyra mendesah pelan, tubuhnya luruh terjatuh diatas marmer mewah itu, menyandarkan kepalanya pada daun pintu.
Putus asa.
Kesialan macam apa ini? Kenapa ia harus terkurung di tempat ini? Kenapa ia harus terjebak di tempat seperti ini?
Ditengah kekalutan yang ia rasakan tanpa sengaja tangannya memegang sesuatu. Sebuah kertas post it yang mungkin seharusnya tertempel di daun pintu.
.
Jangan sekalipun berpikir untuk kabur.
Kau ... harus mempertanggung jawabkan semua yang telah kau lakukan.
.
Bencana.
Habislah sudah ketentraman dan kedamaian hidupnya.
***
“Mr. Rexford ... semua desain yang akan kita gunakan di musim panas terlihat sama persis dengan desain yang baru saja Archilles rilis.”
Gerald segera meraih dokumen yang berada di tangan ketua team yang bertanggung jawab dengan project musim panas itu. Iris matanya bergerak dengan cepat melihat perbandingan antar dua desain yang benar-benar sama persis dengan desain yang mereka miliki. Helaan nafas keluar dari hidung Gerald, kemudian ia sandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Mencoba tetap tenang untuk mencari solusi.
“Maafkan kami Mr. Rexford kami tak bisa menjaga kerahasiaan perusahaan. Kami pun tidak pernah menduga jika desain rahasia yang pihak Archilles katakan akan sama persis dengan desain yang kita miliki.”
Gerald menghembuskan nafasnya lagi. “Bagaimanapun Archilles mengadakan kontes terbuka untuk desain perhiasan mereka. Mereka pasti akan menerima desain apapun yang penting sesuai dengan tema yang mereka miliki. Ini bukan kesalahan Archilles, sebab kita sendiri masih merahasiakan desain yang akan kita gunakan. Kita tak tahu desain yang akan mereka rilis dan mereka pun pasti tak tahu dengan desain yang akan kita rilis.”
“Bukankah ini pagiarisme Mr. Rexford? Tidakkah anda ingin menuntut pihak Archilles?”
“Tak ada plagiarisme karena sebenarnya kita pun belum mendaftarkan hak cipta untuk desain kita ini.” Gerald mengalihkan pandangan ke arah ketua team. “Rombak semua konsep dari awal. Buat semua desainer membuat desain baru dan berikan padaku laporannya dalam dua hari. Kita harus bergerak cepat sebelum musim panas benar-benar tiba. Apakah kalian mengerti?”
“Mr. Ian apakah anda mengerti?” tanya Gerald pada seorang anggota team yang duduk di sudut kanan meja. Lelaki yang sejak beberapa saat lalu ia perhatikan tak fokus berdiskusi.
“Saya ... mengerti Mr. Rexford. Saya akan segera menanganinya.”
“Baiklah. Rapat selesai. Kembali ke ruangan kalian masing-masing.” Gerald melipat kedua tangan di d**a dengan iris mata tajam yang menatap lurus kedepan. Sementara itu pikirannya terus berputar mencari cara mendapatkan desain baru dan cara terbaik mengamankan desain yang akan mereka rilis.
Sebenarnya ia sudah merasakan akan terjadi hal buruk dengan project ini ketika ia mulai bergerak ketika perencanaan. Namun ia tak menduga sama sekali jika hal buruk itu mengenai desain yang akan mereka gunakan.
“Apa yang akan kita lakukan Mr. Archilles? Kita harus merilis sampel sebelum melakukan pre-order. Sementara itu waktu semakin mepet. Hanya tersisa satu bulan sebelum musim panas benar-benar datang.” Ujar Algio. “Apakah kita perlu melakukan pertemuan dengan Mr. Archilles?”
Gerald mengangguk kecil. “Buatkan jadwal pertemuan kami secepat mungkin Algio.” Ujarnya kemudian bangkit. “Jadwalku hari ini kosong?”
“Kosong. Weekend ini saatnya kau pulang.”
Gerald mendesah pelan sebelum beranjak pergi meninggalkan Algio. Malas mendengarkan ceramah tentang pulang dan pulang. Sebab ketika ia sampai di rumah yang akan ia terima pun sama saja. Orangtuanya pasti bertanya tentang menantu yang sampai saat ini masih belum bisa ia berikan.
***
Kyra duduk di sisi tempat tidur seraya menggerakkan kedua kakinya gelisah, dengan bibir bagian dalam yang terus ia gigiti, gugup. Apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan lelaki itu? Kalimat apa yang harus pertama kali ia berikan?
Krubuk
Kyra meringis ketika perutnya kembali berbunyi. Kelaparan. Setelah semalam mabuk, lalu bangun kesiangan sampai saat ini ia belum memakan apapun, ia hanya meminum segelas air yang memang tersedia di kamarnya. Perutnya sangat perih, meminta jatah untuk di isi, meminta haknya untuk diberi asupan.
Iris mata Kyra perlahan melebar ketika mendengar suara passwords pintu apartemen ditekan, menghasilkan gema yang terdengar begitu menakutkan. Jantungnya mulai berdebar kencang, kedua tangan dan kakinya pun mulai bergetar, gugup, cemas, mendadak lemas setelah mendengar suara itu tak terdengar lagi.
Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia katakan? Atau ... langkah apa yang harus ia ambil setelah ini?
Clek!
Tubuh Kyra menegang ketika pintu kamarnya terbuka. Ia semakin menggigit bibirnya lalu meneguk ludahnya kasar.
“Ternyata kau anak penurut.”
Iris mata Kyra semakin membulat setelah mendengar kalimat itu, ia pun berdiri menantang lelaki itu dengan berani. “Penurut? Kau bilang aku penurut? Kau mengurungku Sir. Kau menyandraku! Kau menculikku!” seru Kyra dengan sangat kencang.
“Apa kau bilang?” lelaki itu mendekatinya dengan langkah yang sangat pelan namun terasa penuh d******i, Kyra pun perlahan mundur hingga kakinya terantuk ranjang hingga terduduk, lalu terpojok di sudut tempat tidur. Nyalinya mendadak ciut kembali, keberanian yang sebelumnya tiba-tiba ia dapatkan menghilang. Apalagi ketika lelaki itu meraih dagunya lalu mendekatkan wajah mereka, seketika Kyra memejamkan mata ketakutan.
“Kau ... mungkin tak ingat apapun semalam.” Kyra semakin memejamkan matanya ketakutan seraua menjauhkan wajahnya dari jangkauan lelaki itu, terus mundur saat hembusan nafas hangat itu ia rasa semakin dekat, hingga tubuhnya terjatuh diatas pembaringan.
Kyra menahan nafas seraya membuka matanya. Menatap iris mata lelaki yang kini berada di atasnya, mengungkung tubuhnya.
“Sir ... .” Kyra menggigit bibirnya gugup. “A—aku ... aku minta maaf. Aku ... .”
“Berhenti menggigit bibirmu sayang ... atau ... .” lelaki itu menyeringai. “Biarkan aku yang menggigitnya.”