BAB I : RASA SYUKUR
*Syukur adalah rasa. Layaknya cinta, ia juga butuh untuk dipraktikkan*
“Medina.. Bangun!” Suara lembut Ummi mencoba membangunkan putri sulungnya.
Karena Medina tidak juga terdengar menjawab, Umi kembali memanggil.
“Medina!”
Sementara Medina di kamar sedang menggeliat di atas tempat tidurnya. Alarm ponsel sebenarnya sudah berulang kali berdering. Namun, Medina berulang kali pula menekan snooze. Hanya saja untuk alarm manual dari suara Ummi mana mungkin di-snooze.
“Astaghfirullah.” Seru Ummi begitu melihat putri sulungnya masih berada di atas tempat tidur.
“Medina, bangun! Berapa kali Ummi bilang? Jangan tidur lagi setelah sholat subuh!”
Ummi menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Medina.
“Iya, Ummi. Ini Medina bangun.”
“Itu temen kamu sudah jemput! Sudah nungguin di luar! Kata dia kamu ada seminar hari ini!”
“Seminar?” Medina mencoba untuk mengingat-ingat apakah ia ada jadwal mengisi seminar hari ini?
“Ya Alloh, Ummi!” Beberapa detik kemudian Medina baru ingat kalau ia harus mengisi seminar entrepreunership di sebuah kampus.
“Ya Alloh, Ummi..” Ummi meledek Medina dengan menirukan gaya bicara Medina, “Ingat sekarang? Ayo mandi sana!”
***
Medina namanya. Adalah seorang gadis berusia 25 tahun yang cukup sukses untuk ukuran usianya. Ia adalah seorang selebgram dengan 1,5 M follower. Semuanya adalah follower organik dan masih bertambah terus setiap harinya.
Awal mula Medina menjadi selebgram yang kerap kali membuat konten tutorial makep up dan mix and match fashion untuk OOTD.
Sebagai selebgram terkenal Medina sangatlah sibuk. Ia sering di minta untuk endorse beberapa produk. Dari mulai baju, tas, sepatu, pemutih kulit, bahkan sampai obat pembesar payudara yang tentunya Medina selalu menolak untuk endorse yang satu ini.
Selain menjadi selebgram dan menerima endorse, Medina juga sudah memiliki bisnisnya sendiri, bisnis itu pun kian hari kian berkembang. Bisnisnya bergerak di bidang fashion, sesuai dengan passion Medina.
Sebagai seorang selebgram dan pebisnis Muda, Medina sering sekali di minta untuk menghadiri beberapa acara talkshow dan seminar motivasi mengenai entrepreuner.
Seperti halnya hari ini, harusnya Medina bersiap-siap sedari pagi untuk mengisi acara seminar entrepreneurship di sebuah kampus. Malangnya, seperti biasa Medina tidur lagi setelah sholat subuh sehingga ia bangun kesiangan.
“Sayang, ini sarapannya udah Ummi masukin ke kotak makan. Nanti kamu makan di sana ya.”
Ummi mengulurkan satu tas berisi kotak makan lengkap dengan sebotol sari lemon.
Beruntung ada Natasha yang setia mengantarkan Medina. Mencari jalan tikus di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang macet. Siapa itu Natasha? Kita akan bahas nanti saja ya, karena Medina sedang terlambat.
Sepuluh menit kemudian, dengan ajaibnya kemampuan Natasha mengendarai motor, kedua orang itu sudah sampai di depan gedung auditorium kampus. Tempat seminar dilaksanakan.
Natasha berusaha untuk meminta waktu tambahan 5-10 menit lagi agar bisa mendandani Medina.
“Maaf sekali, tadi saya harus cari jalan tikus dulu. Jadi terlambat.” Rengek Natasha pada tim panitia.
“Tidak apa-apa. Kami bisa mengerti. Kami akan ulur waktu 5-10 menit dengan ice breaking. Silahkan bersiap dulu.”
Medina menghela napas lega. Ia segera menempatkan diri di ruang yang disediakan oleh panitia. Wajahnya kemudian dipoles dengan make up oleh Natasha.
Selain jago mengemudi, Natasha juga jagonya untuk MUA. Sepuluh menit waktu yang sudah sangat cukup bagi tangan terampil Natasha untuk mengaplikasikan beberapa peralatan make up.
“Sudah selesai kan Kak Medina? Ice breaking sudah selesai. Sekarang waktunya kak Medina mengisi materi.” Panitia mengingatkan.
Medina mengangguk. Ia sudah bertambah cantik dengan make up polesan Natasha.
“Semangat!” Natasha menyemangati! Ia mengepalkan tangannya di udara.
Medina yang gugup meskipun sudah sempat mengisi seminar beberapa kali, melompat memeluk Natasha agar mendapat dukungan untuk mengurangi groginya.
“Kamu pasti bisa!” Bisik Natasha.
***
Medina kini sibuk memandangi outletnya. Memandangi bangunan seluas 5x7 meter berlantai 2 itu. Outlet dengan papan nama “Medina’s Outfit”yang sudah dikontrak selama dua tahun terakhir.
Bangunan ini bisa dikontrak dengan harga murah setelah sempat ditawar dengan susah payah. Pada akhirnya si empunya setuju memberikan gedung ini untuk di kontrak oleh Medina.
“Halo, mbak Medina!”
Medina menoleh.
Orang yang menyapanya adalah seorang bapak kurir langganan yang datang ke outlet Medina untuk mengambil barang-barang pesanan online untuk kemudian siap diantarkan ke seluruh Indonesia.
“Eh, Bapak.”
“Ngelamun aja mbak Medina!”
“Iya, Pak. Ngeliat perkembangan outlet satu tahun ini saya ngerasa bersyukur banget, Pak.”
“Oalah.” Si Bapak kurir tertawa, tangan yang sibuk menulis-nulis beberapa catatan kini terhenti, “Syukur itu dipraktekkan, mbak Din. Jangan dilamunin.”
“Kok dipraktekkin sih, Pak? Kan syukur itu rasa.”
“Cinta kan juga rasa, mbak Din. Tapi tetep butuh praktik kan? Jadi syukur juga harus dipraktekkan. Supaya nikmatnya bertambah. Misalnya, ucap Alhamdulillah, sholat tepat waktu, sedekah. Bisa juga sedekahnya ke Bapak.”
Si Bapak kurir tertawa, “Eh, saya kok malah jadi ceramah ya?”
“Nggak papa, Pak. Terima kasih atas ilmunya.”
Ada sejumput rasa malu sebenarnya terhadap bapak Kurir itu. Ia tahu lebih banyak hal daripada Medina. Lebih tahu ilmu bersyukur meski mungkin karunia rezeki yang ia dapat tidak semelimpah Medina saat ini.
“Ada yang perlu saya tanda tangani, Pak?” Tanya Medina sambil mengintip kertas catatan yang dibawa bapak Kurir.
“Sudah, Mbak. Sudah ditanda tangani sama mbak Bella.”
Medina mengangguk sambil menyunggingkan senyum. Ia undur diri untuk masuk ke dalam outletnya.
Bella-orang yang selama ini dipercaya Medina untuk menghandle outletnya-sedang terlihat sibuk di depan komputer. Karyawan outlet total sekarang baru ada 4. Bella sebagai karyawan utama yang membantu Medina menghandle bagian marketing dan keuangan. Satu karyawan lain melayani penjualan di toko, dua lainnya menghandle proses packing barang yang sudah dibeli secara online.
Jika sedang tidak ada pemotretan untuk endorse, syuting, atau acara seminar maka Medina akan banyak menghabiskan waktunya di outlet sampai tutup yaitu jam 16.30.
“Semua terkendali dengan baik, Bella?”
Bella yang sedari tadi sibuk menatap layar komputer kini mengalihkan pandangannya ke arah suara yang mengajaknya berbicara.
“Sudah semua, Bu Bos.” Bella tersenyum lebar.
Medina menggangguk mengerti. Giliran ia mengecek karyawannya yang sedang di gudang untuk mengepak beberapa barang pesanan online. Jika sedang tidak padat jadwal, Medina juga sesekali ikut membantu melayani pembeli. Menjelaskan berbagai macam mengenai produk fashion yang ia jual agar pembeli tertarik.
***