Banyuwangi, 2015
Aku menelan makanan di mulut dengan sedikit paksa hingga menyisakan rasa nyeri di kerongkongan. Aku harus bicara, tapi ternyata lidahku terlalu kaku untuk digerakkan. Pikiranku mendadak buntu, aku tak bisa menemukan kata yang tepat untuk diucapkan. Jadi, aku hanya bisa diam dan menunduk menyembunyikan rasa takut.
"Tante pernah lihat kalian berdua di depan. Tapi Tante nggak langsung nanya kamu karena seharusnya Raka yang bersama kamu saat itu. Jadi Tante tuntut tanggung jawab Raka dulu."
Aku menunduk makin dalam. Merasa buruk karena sudah berprasangka bahwa Raka tukang mengadu.
"Tante ngerti, karena juga pernah muda. Tapi, apa kamu pernah mikir, Sofia?" Saat namaku disebut secara utuh begitu oleh orang-orang terdekat, itu artinya mereka ingin ucapannya didengar dengan serius. "Ayahmu menitipkan kamu pada Tante. Lalu seandainya terjadi apa-apa di luar sana sementara kamu bersama orang lain, bagaimana caranya Tante mempertanggungjawabkan amanah itu?"
Kali ini aku mengangkat wajah untuk menatap adik ibuku itu. Ada kabut yang menghalangi pandanganku karena mata mulai berkaca-kaca. Aku tak pernah berpikir sejauh itu. Tak pernah mempertimbangkan efek yang akan menimpa Tante andai semua ini ketahuan. Yang kupikirkan hanya bagaimana caranya bisa menghabiskan waktu bersama Fikri lebih lama.
"Maafin Fia, Tante," ucapku sungguh-sungguh dengan suara agak bergetar karena menahan tangis. "Fia beneran minta maaf."
Tante Yuli tersenyum menenangkan. "Jangan tutupi apapun dari Tante. Kalau dia mau mengantarmu pulang, suruh antar sampai dalam, bukan malah menurunkan di pinggir jalan."
Aku cepat-cepat mengusap pipi yang basah. "Itu Fia yang minta karena takut." Aku tak berbohong. Seringkali Fikri menawarkan diri untuk ikut masuk dan berpamitan dengan baik pada Tante, tapi aku selalu melarangnya.
Tante mengangguk. "Tante paham. Lain kali jangan diulangi. Tante harus tahu semua orang yang berada dalam lingkaran pertemananmu. Tanpa kecuali."
Kali ini aku yang mengangguk. "Dia boleh main ke sini?" tanyaku dengan ragu. Aku butuh kepastian.
"Tentu saja. Tante nggak akan melarangmu berteman dengan siapa pun asalkan orang baik."
Aku tersenyum. "Makasi, Tante."
Hampir satu jam aku mengobrol dengan Tante. Isi obrolan seputar bagaimana aku mengenal Fikri, dia siapa, tinggal di mana dan pekerjaannya apa. Sesekali Tante bercerita pula tentang kisah romansanya di masa lalu. Kupikir perbincangan ini akan menegangkan, ternyata tak semenakutkan perkiraanku.
Saat masuk kamar, ada rasa lega yang menjalari hatiku, tapi anehnya seolah-olah ada beban lain yang datang. Sekarang aku takut kalau Tante akan keceplosan bilang pada ibu tentang Fikri. Sementara memintanya untuk tetap diam, aku merasa segan. Mungkin nanti setelah bertemu langsung dengan Fikri, aku bisa meminta Tante menyimpan ini dulu. Jika orang tuaku kelak tahu, itu harus dari mulutku sendiri.
Kulihat ponselku berkedip-kedip lampunya. Saat mengeceknya, kutemukan sebuah panggilan tak terjawab dan pesan dari Fikri.
Fikri : Kalo udah baca pesan ini, langsung balas, ya.
Aku segera mengetik balasan.
Me : Nggak tidur?
Pesanku langsung dibaca dan sebuah panggilan dari Fikri masuk setelahnya.
"Kamu nggak apa-apa?"
Kata-kata pertama yang keluar dari mulut Fikri begitu aku mengucap halo.
"Nggak apa-apa. Kenapa?"
Aku bisa menangkap embusan napas lega di seberang sambungan sana.
"Raka bilang mamanya tahu soal kita dan kamu diajak ngomong empat mata. Aku kepikiran dari tadi."
Wow, dasar Raka. Cepat sekali dia bikin laporan tentang yang terjadi.
"Iya, tapi nggak apa-apa, kok."
"Bener? Kamu nggak dimarahi?"
Aku menggeleng seolah-olah Fikri bisa melihat gerakan kepalaku. "Cuma diingatkan aja. Nggak boleh sembunyi-sembunyi. Tante nggak marah."
"Alhamdulillah," ucapnya lega.
Aku tersenyum. "Kata Tante kalau kamu mau main juga boleh."
"Alhamdulillaaah." Kali ini suaranya lebih keras dari sebelumnya.
Aku terkekeh pelan mendengar reaksi Fikri.
"Ya, udah. Tinggal cari waktu pulang kerja nggak terlalu malam buat ke sana."
Aku mengiyakan.
"Jadi aku bisa tidur tenang, ya?"
"Bisaaa," sahutku sambil tertawa.
***
Aku bisa melihat ada sedikit kegugupan yang memancar dari sorot mata Fikri saat dia berdiri di depan pintu rumah Tante Yuli malam ini. Namun, dia bisa membalut rasa gugup itu dengan baik. Dia tetap terlihat tenang dan bisa tersenyum sewajarnya. Sementara perasaanku sudah tak karuan, gugup berlebihan.
Bagaimanapun ini pengalaman pertama kali bagiku. Kedatangan teman dekat ke rumah meski bukan rumah sendiri, menumbuhkan rasa tak nyaman yang tak bisa kuabaikan. Mungkin nanti di kedatangannya yang kedua, ke tiga dan seterusnya, aku sudah mulai terbiasa.
"Masuk, yuk." Bahkan suaraku pun sedikit bergetar. Apa-apaan! Terakhir aku segugup ini kalau tak salah saat harus duduk di hadapan dosen penguji skripsi.
Fikri tersenyum. Sorot matanya yang tadi menyimpan gugup kini mulai memudar. Senyumnya turut terpancar dari manik hitam pekat itu. "Kenapa tegang banget, Fi?"
"Ish, nggak usah ngeledek."
Dia malah terkekeh kecil.
Fikri duduk di ruang tamu sementara aku memanggil Tante Yuli. Adik ibuku itu sudah kuberitahu sejak sore kalau akan ada tamu yang datang. Tante tak banyak bertanya saat itu, hanya mengiyakan.
Seumur hidup mengenal Tante, dia perempuan yang lembut. Sama sekali tak pernah bicara dengan nada tinggi padaku. Pada Raka saja jarang marah. Tapi entah kenapa aku tetap merasa gelisah. Jika harus memilih, aku justru lebih nyaman menjalani hubungan diam-diam seperti kemarin. Ini perasaan normal, bukan, sih? Atau aku berlebihan?
"Assalamu'alaikum," ucap Fikri begitu melihat Tante muncul di ruang tamu. Dia langsung berdiri.
Aku tak bisa melihat ekspresi Tante karena berjalan di belakangnya, tapi dari suara Tante membalas salam Fikri bisa dipastikan beliau sedang tersenyum.
"Saya tantenya Sofia." Tante mengulurkan tangannya. Saat itu aku baru bisa melihat dengan jelas keramahan yang memancar dari wajah wanita itu.
Fikri menyambut uluran tangan Tante sembari tersenyum tak kalah ramah. "Fikri, Tante."
Sepertinya sekarang hanya aku satu-satunya yang masih menyimpan kegugupan. Fikri sudah bisa bersikap normal. Mungkin karena dia sudah terbiasa menemui banyak nasabah yang notabene harus dia persuasi agar tertarik berhubungan kerja dengannya. Jadi menemui Tante bukanlah hal yang sulit baginya.
"Maaf, ya, Tante, saya baru ke sini. Maaf kalau selama ini hanya mengantar Sofia sampai pagar." Tanpa dipancing, Fikri sudah mendahului. Dia bahkan kini tampak begitu percaya diri dan sama sekali tak ragu dengan apa yang diucapkannya.
Jujur, aku terkesima melihatnya. Mungkin aku harus belajar darinya agar rasa percaya diriku bisa lebih tinggi.
Tante tersenyum. "Nggak apa-apa. Fia sudah cerita semuanya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?" Tak ada nada menyindir dari cara Tante bicara dan aku mensyukuri itu. Beliau menerima kedatangan Fikri dengan tulus.
Setelahnya mereka mengobrol dengan santai, sementara aku disuruh membuatkan minuman. Sekeras apapun aku mencoba memasang telinga, tetap tak terdengar obrolan mereka. Jarak dapur dan ruang tamu lumayan dan pendengaranku memiliki batas maksimal. Katakan saja aku overthinking. Aku tak mau ada obrolan yang terlewat sebenarnya, tapi tak punya pilihan karena harus menyingkir dari sana sebentar.
"Ciee, diapelin." Raka muncul di dapur sambil senyum-senyum menggoda.
Aku mendengkus tapi tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum. Di balik rasa khawatir berlebihan yang kurasakan, tetap ada rasa senang dengan kedatangan Fikri. Tapi untuk membayangkan mengenalkan Fikri pada ayah dan ibu, masih sangat jauh dari rencanaku. Rasa takut ini sungguh mengganggu.
"Jadi sekarang udah nggak perlu aku buat antar ke stasiun juga, ya? Pasti Mas Fikri yang bakal jemput Kak Fia."
Aku mengedikkan bahu. "Kalau bisa tetap kamu aja, sih, Ka."
"Lha, kok, gitu?"
"Keberatan, ya? Aku emang bikin repot, kan."
"Nggaaak. Mau sama aku, ayoook. Sama Mas Fikri, boleh. Tuan putri sih suka-suka."
Aku memutar bola mata, meninggalkan Raka yang cengengesan. Membawa nampan berisi tiga gelas minuman.
Semakin dekat langkah menuju ruang tamu, suara keduanya kembali terdengar. Mereka hanya mengobrol ringan.
Begitu aku meletakkan nampan di meja, Tante langsung beranjak berdiri. "Ya udah, kalian ngobrol aja," ujarnya.
"Fia udah bikin tiga minuman, Tante," tahanku sebelum Tante benar-benar pergi.
Wanita itu tersenyum manis lalu mengambil salah satu gelas minuman dari atas meja. "Oke, Tante minum di dalam."
Aku duduk di tempat Tante Yuli begitu beliau masuk dan mendadak bingung harus memulai obrolan dari mana. Apalagi melihat Fikri yang tak lepas pandangannya dari wajahku sambil tersenyum simpul.
"Ditanya apa aja tadi?" Akhirnya kutemukan juga pembuka obrolan yang pas.
"Kurang lebih kayak orang lagi interview gitu. Ditanya lulusan mana, kerja di mana, gaji berapa, udah punya apa aja, um---"
"Serius?!" potongku sembari terbeliak tak percaya sebelum Fikri menyelesaikan ucapannya.
Dia justru terkekeh geli. "Nggaklah, Fi. Cuma ngobrol santai."
Aku berdecak lalu menekuk muka. "Aku serius, kamunya bercanda."
"Abis kamu tegang banget. Padahal yang mau ketemu Tante kan aku." Sorot geli itu masih memancar dari matanya.
"Karena ini pengalaman pertama buat aku. Belum pernah ada cowok yang datang buat kenalan sama keluargaku sebelumnya."
Fikri mengumbar senyum lebar. "Sekarang udah tau rasanya, kan? Anggap aja buat belajar sebelum ketemu ayah kamu nanti."
Aku otomatis menelan ludah dengan susah. Lidahku mendadak pahit rasanya. Kalau untuk bertemu dengan Tante saja, perasaanku sekacau ini lalu bagaimana rasanya ketika harus mengenalkan Fikri pada ayah nanti? Oh, tidak. Hal itu masih jauh dan belum terbersit dalam kepalaku. Bukan karena aku tak menghargai hubungan ini, tapi aku butuh waktu untuk menyiapkan semua itu. Tentang keberanian dan kesiapan mental. Rasanya aku sudah bisa melihat seperti apa reaksi ayah nanti.
"Jangan jadikan pertemuan dengan Tante sebagai patokan. Jauh banget perbandingannya. Ayah nggak seramah Tante."
Dia mengulum senyum. "Segalak apa sih, Fi? Kalau orang punya niat baik, masa ditanggapi nggak baik?"
Aku diam, tak ingin membahasnya lebih jauh lagi. Sungguh, ini belum saatnya. Tak bisakah kami menikmati masa-masa penuh bunga dulu tanpa harus membahas durinya?
"Minum, Ki." Pada akhirnya aku memilih mengalihkan topik pembicaraan saja.
Belum jam sembilan, Fikri sudah pamit pulang. Kedatangan yang tak terlalu lama jika dihitung-hitung waktunya. Tapi sepertinya meninggalkan kesan baik bagi Tante Yuli. Saat kembali masuk ke rumah seusai mengantar Fikri, kulihat Tante sedang mengulum senyum ketika pandangan kami bertemu.
"Kenapa Tante keliatan lebih happy ya ketimbang Fia setelah Fikri ke sini?" Luar biasa aku justru menggodanya.
"Tante senang karena sepertinya dia anak yang baik, sopan juga," kata Tante dengan ekspresi wajah penuh senyum.
Aku ikut mengulum senyum. Anehnya, rasa bahagia justru baru muncul sekarang bukan sejak tadi saat Fikri masih di sini. Tadi rasanya masih ada beban yang mengganjal dan aku tak tahu itu jenis perasaan apa.
"Biasanya anak yang merasa terkekang akan melakukan hal-hal tanpa pikir panjang. Tante bersyukur kamu nggak seperti itu."
Aku jadi ingat kata-kata Fikri tempo hari tentang aku memiliki kesempatan untuk melakukan apa saja karena jauh dari orang tua, tapi tak melakukannya. Mungkin dia benar kalau ayah sudah berhasil menancapkan dalam alam bawah sadarku tentang mana yang baik dan buruk.
"Terima kasih sudah menjadi anak yang baik, Sofia." Tante mengucapkannya begitu tulus membuat hatiku bergetar oleh rasa haru.
"Tante cuma mau bilang, dari anak laki-laki orang tua mendapatkan kebanggaan dan dari anak perempuan orang tua mendapatkan kehormatan. Kamu adalah simbol kehormatan orang tuamu, jadi jagalah itu." Tante meraih tanganku lalu menggenggamnya. "Sebaik-baiknya lelaki adalah dia yang nggak merusak anak orang. Kamu harus ingat itu."
Aku mengangguk paham dan sangat setuju. Sebaik apapun laki-laki yang bersamaku saat ini, tetap ada batas-batas yang harus kubangun di antara kami dan tak boleh dilewati.