Banyuwangi, 2015
"Nggak banyak orang yang bisa menerima kita tanpa menuntut lebih. Kalau ketemu orang seperti itu, jangan disia-siakan."
Kata-kata Nisa membuatku mengalihkan perhatian dari lalu lalangnya kendaraan di bawah sana. Kami saat ini sedang berada di lantai dua kantor, menghabiskan sisa jam istirahat dengan bersantai.
"Itu nasihat atau curhat?" Aku bergerak meninggalkan balkon, ikut duduk di sofa bersama Nisa.
Dia meringis. "Terserahlah mau mengartikan yang mana. Aku cuma pengen ngomong gitu aja."
Aku manggut-manggut. "Kamu lagi galau, ya?"
Nisa mengernyit. "Galau kenapa?"
"Kangen mantan?"
"Iyuh," balasnya pura-pura tak sudi.
Aku tertawa. "Udahlah, Nis. Nggak usah disembunyikan. Kelihatan kok. Tadi beberapa kali kamu ngeliat Reksa dengan cara gimanaaa gitu," godaku.
Kupikir dia akan membantah, ternyata hanya menghela napas pelan dan terdiam.
"Kalian putus kenapa, sih?"
"Kamu udah kenal keluarganya Fikri?" Nisa justru mengalihkan topik pembicaraan. Selalu begitu tiap kali aku menyinggung soal alasan hubungannya dengan Reksa berakhir.
Aku menggeleng. "Boro-boro. Nggak harus sekarang-sekarang juga, kan?"
"Dia nggak pernah ngajak? Ajakan pasangan buat ketemu keluarga itu tanda-tanda dia serius."
Aku terdiam. Hubungan kami sudah berjalan beberapa bulan. Tepatnya hampir enam bulan. Masih tak ada yang berbeda. Kami hanya bertemu di akhir pekan untuk melakukan perjalanan. Fikri pernah mengajakku 'ngewarung' cuma dua kali karena saat jam istirahat tak jelas dia berada di mana. Terlebih kantornya berjarak lumayan dari kota. Pekerjaan lapangan sepertinya tak punya jam pasti. Seringnya dari pagi sudah meninggalkan kantor untuk mencari nasabah dan baru kembali menjelang jam pulang. Di jam kerja begini jarang sekali kami berkomunikasi.
"Dia ngerti aku nggak bisa ke mana-mana. Makanya nggak pernah ngajak untuk melakukan sesuatu di luar keterbatasanku."
Yeah, seberapa banyak sih yang bisa diharapkan dari sebuah hubungan backstreet? Untuk saat ini aku lebih nyaman begini. Soal perkenalan keluarga rasanya masih sangat jauh.
"Iya, sih. Kamu beruntung," kata Nisa kemudian.
I am. Yes, I really am. Aku tak akan pernah ragu untuk mengakui betapa beruntungnya diriku.
Sejauh ini hubungan kami berjalan dengan lancar. Fikri tipe lelaki dewasa yang sangat bisa mengimbangi kekeras-kepalaanku dengan kesabarannya. Justru aku seringkali bersikap kekanakan dan dia tak pernah mengeluh atas kelakuanku itu.
Sebut saja ketika aku memaksanya menelepon padahal dia sudah mengantuk. Dia menuruti meski obrolan kami berjalan sepihak. Aku ngomong terus sedangkan dia tertidur pulas. Atau ketika aku merecokinya saat bermain game hingga kalah. Biasanya dia hanya menghela napas panjang lalu mencubit pelan pipiku atau hendak menggigit punggung tanganku dengan gemas. Yang tentu saja tak sampai terjadi karena aku sudah menarik tangan lebih dulu dan berakhir dengan dia tertawa.
Kalau sudah begitu aku akan beralibi, "Makanya jangan cuekin aku."
Dan dia menjawab dengan sabarnya, "Dari tadi kan ngobrol, Fi. Aku main game bentar doang."
Mengingat momen-momen itu selalu berhasil membuatku tersenyum sendiri.
Aku dan Nisa serempak menoleh saat mendengar langkah kaki beradu dengan anak tangga. Kami menunggu siapa yang akan muncul kemudian. Dan saat melihat siapa yang datang, Nisa langsung membuang muka.
Dia Ayuk. Salah satu karyawan juga. Ruangannya di lantai dua sini bersama Dian dan Cici. Sementara aku, Nisa dan Reksa dapat ruangan di bawah.
"Udah balik, Yuk?" tanyaku basa-basi. Kami tak terlalu dekat karena Ayuk tipe orang yang tertutup. Dia lebih senang menghabiskan waktunya sendirian. Juga karena dia pernah ada selisih paham dengan Nisa, jadi aku makin tak dekat dengannya. Bukan bermaksud ikut-ikutan, tapi memang aku selalu menghabiskan waktu bersama Nisa saat di kantor. Otomatis dengannya makin berjarak. Ayuk juga tak dekat dengan Dian dan Cici. Tapi masih lebih sering mengobrol dengan mereka berdua walau tidak dalam kategori akrab.
"Iya, barusan." Ayuk tersenyum cukup lebar kali ini, membuatku heran. Tak biasanya dia seramah itu.
Aku berpindah duduk ke sebelah Nisa. Kesannya seperti ikut melempar pandangan keluar jendela, padahal ingin membisikkan sesuatu.
"Ayuk happy banget kayaknya," ucapku dengan suara yang kupastikan hanya Nisa yang mendengarnya.
Namun, Nisa tak menanggapi. Aku yakin dia dengar tapi tetap diam.
"Turun, yuk," ajaknya kemudian.
Aku membuntuti. Begitu sisa beberapa anak tangga lagi, kulihat Dian dan Cici duduk di teras samping kantor yang biasa digunakan untuk menemui tamu atau klien. Aku duduk bersama mereka, tapi Nisa langsung masuk ke ruangan. Gerakannya hanya kuikuti melalui pandangan.
"Mbak," panggil Dian dengan suara cenderung berbisik.
Aku menoleh dengan heran.
"Udah denger belum?" lanjutnya sebelum aku sempat merespon panggilannya.
"Apa?" Entah kenapa aku justru ikut-ikutan bersuara pelan.
"Mas Reksa jadian sama Mbak Ayuk," katanya.
Aku terbeliak tak percaya. "Serius?" tanyaku masih dengan suara berbisik. Sekarang mulai paham kenapa Nisa bersikap aneh sejak tadi.
Dian dan Cici mengangguk hampir bersamaan. "Mbak Nisa nggak cerita?" Kini giliran Cici yang bertanya.
Aku menggeleng lemah. Entah kenapa rasanya bisa ikut merasakan kekalutan Nisa. Pasti menyesakkan sekali.
"Udahlah kita biasa aja. Nggak usah bahas di depan Nisa. Jangan godain Ayuk dan Reksa juga kalau ada Nisa," putusku yang langsung disetujui oleh kedua cewek di depanku.
Beberapa saat kami saling diam lalu memutuskan kembali ke ruangan masing-masing karena jam istirahat sebentar lagi habis. Nisa sudah mulai menggarap akta lagi. Dalam diam, senyap. Seperti bukan Nisa yang kukenal. Aku menghela napas berat melihatnya.
"Aku mau balik ke BPN. Ada berkas yang butuh dibawa?" Tiba-tiba Reksa masuk dengan tergesa-gesa. Tadi pasti Ayuk menghabiskan jam istirahat bersamanya. Pantas saja wajah gadis itu semringah.
"Punyaku nggak ada, sih," sahutku. "Bu Rossi juga nggak nitip berkas apa-apa."
Reksa mengangguk lalu beralih menatap Nisa. Perempuan itu bergeming menghadap komputernya. "Kamu, Nis?"
"Kalo ada, aku pasti bilang. Kalo diem, berarti nggak ada." Jawaban Nisa terdengar jelas seperti orang yang menahan kesal.
"Ya, biasa aja jawabnya. Aku cuma nanya. Ntar kalau langsung pergi, salah. Ada aja berkas yang ketinggalan. Kalian kan suka gitu."
"Kalian siapa?" Nisa memutar posisi duduknya menghadap Reksa. "Yang lain, kali. Aku nggak pernah!"
Aku menahan napas melihat perseteruan itu. "Udah, Mas. Berangkat aja nanti makin siang," saranku berusaha mengakhiri suasana panas ini.
Untungnya Reksa tak berminat memperpanjang karena langsung menenteng tas ranselnya lalu keluar.
Aku dan Nisa sempat bertatapan sebentar. Aku bisa melihat jelas ada sorot kesedihan di matanya. Di balik sikap cueknya ternyata dia masih menyimpan rasa.
Aku bergerak mendekati, meski sebenarnya bingung harus mulai dari mana. "Nis," panggilku sembari berpikir harus berkata apa lagi.
Dia tak menjawab, apalagi menoleh. Wajahnya terlihat mengeras.
"Aku udah tau," ujarku hati-hati.
Tetap tak ada respon. Dia terus melanjutkan pekerjaannya, tapi gerakan tangannya saat mengetik, mengambil kertas akta hingga mencetaknya terlihat jelas bahwa dia bergerak sembari memendam emosi.
Aku menghela napas pelan, tak lagi berusaha mengajaknya bicara kemudian kembali ke meja kerjaku sendiri. Mungkin dia hanya butuh ruang untuk menerima setiap rasa sakit yang menghampirinya. Katanya dengan begitu hati akan lebih cepat sembuh.
Dan sepanjang sisa hari itu, kami habiskan dengan bekerja dalam diam. Hanya suara lagu dari MP3 komputer yang mengalun pelan yang menjadi peramai ruangan.
***
"Kerja bareng pasangan itu nggak enak, ya." Aku membenarkan posisi headset yang melorot dari telinga.
"Kok gitu?" Suara Fikri tak terlalu jelas karena bicara sembari mengunyah. Dia pasti menelepon sambil makan.
"Kalau lagi baik-baik aja, sih, nggak masalah. Tapi kalau lagi berantem, nggak enak pasti. Ke mana mata memandang, dia lagi, dia lagi yang kelihatan."
Fikri tertawa. "Semua ada plus minusnya."
Aku berdeham mengiyakan.
"Kamu bakal bosen nggak sih dengan kondisi kita kayak gini? Cuma ketemu waktu weekend, nggak bisa ke mana-mana dengan bebas. Ngobrolnya banyakan lewat ponsel."
"Random banget topiknya, Neng. Abis bahas pasangan satu kantor, tiba-tiba tanya aku bakal bosen apa nggak."
Kali ini aku yang tertawa. "Tiba-tiba kepikiran. Kita nggak mungkin baik-baik terus, pasti bakal ada momen kita punya masalah."
"Ya, jelas. Mana ada hubungan yang mulus kayak jalan tol," sahutnya.
"Jadi bakal bosan, nggak?"
"Kenapa bosan? Toh, kita masih rutin ketemu. Hidup kamu kan bukan cuma tentang aku, Fi. Kamu punya keluarga, punya teman, punya pekerjaan. Aku juga gitu. Hubungan kita ini masih normal, kok. Apa yang harus dipermasalahkan?"
Aku diam mendengarkan karena tahu pertanyaan Fikri tak butuh jawaban.
"Lagian kamu tahu jam kerjaku gimana, aku malah bersyukur kondisi kita begini. Males banget kalo harus ngadepin drama cewek ngambek karena nggak bisa ketemu sewaktu-waktu."
Aku tertawa lagi. "Pengalaman, Mas?" godaku.
"Iya."
Aku yakin Fikri menjawabnya dengan spontan karena kata itu meluncur begitu ringan. Selama resmi berhubungan dengannya, dia pelit sekali jika ditanya tentang cinta masa lalunya. Yang aku tahu dia pernah punya satu mantan yang berpacaran cukup lama--selama masa kuliahnya. Hanya itu saja informasi yang kudapat, tapi cukup berhasil membuatku cemburu. Dan sekarang aku kembali merasakan kecemburuan itu.
"Hmm, ingat mantan nih kayaknya."
"Hah?"
Tuh, kan. Dia sepertinya tidak sadar kalau baru saja membicarakan kisah lamanya.
"Mantan kamu. Suka ngambek kalo nggak bisa ketemu?"
Fikri tak langsung menjawab. Hening beberapa saat lalu dia bersuara, "Eh, aku ngomong gitu, ya? Nggak sadar," sahutnya lalu tertawa yang terdengar seperti dipaksakan.
Aku berdecak sedikit sebal. "Terus dia minta putus gara-gara itu?"
"Kamu nggak ngantuk?"
Kebiasaan! Selalu saja mengalihkan topik jika sudah begini.
Aku baru akan menimpali lagi saat terdengar pintu kamar diketuk. Urung membahas soal mantan Fikri, aku memilih menanggapi ketukan itu. Tak lama wajah Tante Yuli melongok sedikit.
"Tante beli martabak manis. Yuk, temenin makan," katanya lalu keluar begitu saja tanpa menunggu responku.
"Ki, udah dulu, ya. Aku dipanggil Tante."
"Oke. Aku tidur, ya."
Setelah kuiyakan, Fikri langsung mengakhiri panggilan. Tak menunda, aku segera keluar kamar.
Kulihat Tante Yuli duduk sendirian di ruang tengah menikmati martabak manisnya sembari menonton sinetron. Aku ikut bergabung dan langsung mencomot sepotong jajanan manis itu tanpa pamit lagi.
"Raka mana? Tumben nggak keluar kamar padahal ada makanan."
"Barusan masuk kamar. Kenyang katanya, sudah Tante tawarin."
Aku mengangguk-angguk lalu melanjutkan menikmati cemilanku.
"Habis telepon siapa?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, perasaanku jadi tak enak.
"Teman."
"Cowok?"
Mendadak leherku terasa berat digunakan untuk mengangguk. Meski kaku, aku yakin Tante menangkap gerakan kepalaku sebagai jawaban atas pertanyaannya.
"Yang suka antar kamu balik dari stasiun itu?" Tak ada nada konfrontasi dari kata-kata yang Tante luncurkan tapi berhasil membuat jantungku seolah berhenti berdetak sejenak.
Kali ini leherku benar-benar menjadi kaku untuk sekadar digerakkan. Aku terpaku. Dari mana Tante tahu? Pertanyaan itu yang langsung berkelebat di kepalaku.
"Yang namanya Fikri itu?"
Sungguh, aku tak tersedak mendengar nama itu disebutkan. Justru makanan yang sudah lumat di mulut ini rasanya sulit sekali untuk ditelan.
Astaga, Raka! Dia sama sekali tak bisa jaga rahasia.