Suka Kopi?

1784 Words
Banyuwangi, 2015 Sebelumnya, aku tak pernah merasa percaya diri untuk dekat dengan laki-laki. Bukan karena fisikku terlihat buruk, tapi aku punya banyak kekurangan di luar itu. Seperti saat masih berseragam putih abu-abu dulu, ada seorang teman yang datang ke rumah. Boro-boro bertemu denganku, dia justru diinterogasi oleh Ayah dari A sampai Z lalu disuruh pulang. Sejak itu aku membangun benteng tinggi tak kasat mata untuk makhluk berjenis laki-laki. Dan tiap kali ada yang bertanya di mana rumahku, maka jawabanku jika dianalogikan mungkin bisa seperti lagu Ninja Hatori. Mendaki gunung, lewati lembah, mengarungi samudera alias njlimet. Ketika kuliah, aku mulai penasaran setengah mati seperti apa rasanya memiliki pacar. Aku iri pada teman-teman seusiaku yang bisa pamer pasangan bahkan ada yang dalam setahun sudah ganti beberapa kali. Sementara aku satu pun belum. Karena itu, pada akhirnya dari beberapa teman lelaki yang berusaha mendekati akhirnya kupilih salah satu. Resmi sudah status jomlo sejak lahir aku tanggalkan. Namun sayang, karena hubungan itu dimulai dengan dasar coba-coba, aku justru tak bisa menikmati prosesnya. Belum dua bulan, aku memilih mengakhiri hubungan. Lelaki itu terlihat sangat patah hati bahkan sampai mengatakan bahwa kelak aku akan merasakan sakit yang sama sepertinya. Ketika itu, aku hanya bisa meminta maaf berulang kali dan kapok untuk main-main lagi. Sekarang, sejak mengenal Fikri dan makin dekat, rasa tak percaya diri itu muncul lagi. Sejauh ini aku masih merasa nyaman dalam zona teman dengan perasaan meletup-letup tak tertahan. Mungkin begini kali rasanya ketika seseorang terlibat friendzone. Ada rasa suka yang terlibat, tapi berat meninggalkan kenyamanan persahabatan. Aku dan Fikri tidak bersahabat, karena beberapa kali dia memberi kode ketertarikannya padaku. Namun, aku seringnya mengalihkan topik pembicaraan bila sudah begitu. Aku terlalu takut mengakhiri semua ini. Takut jika dia memilih pergi saat tahu segala keterbatasanku. "Ayah tuh ketat banget orangnya. Mana pernah temen cowok main ke rumah. Beliau bisa lebih galak dari singa," kataku di suatu hari dalam perjalanan kami menuju Banyuwangi. Sejak bertukar nomor ponsel dan pin BB, Fikri berinisiatif mengajak melakukan perjalanan ini bersama-sama. Dia sampai-sampai datang ke kantor hanya untuk meminjam KTP-ku. Masih dengan setelan baju kerjanya tentu saja. Kemeja biru berpadu dengan celana hitam yang masih terlihat sangat rapi padahal jam sudah menunjukkan waktu kerja akan usai. Dan penampilannya seperti apapun itu selalu berhasil membuat jantungku berdegup kehilangan ritmenya. Setelah kedatangannya ke kantor, kami selalu duduk di kursi penumpang yang sama. "Ya, bagus. Berarti beliau menjaga anaknya dengan baik." Ada senyum di sorot matanya yang membuatku seolah-olah tersedot ke dalam. Merasa nyaman dan aman. Dia berhasil menarik keluar sisi diriku yang baru bisa mengobrol bebas dengan orang yang sudah akrab bahkan hanya dalam waktu tak sampai dua bulan. Karenanya aku tak siap saja kalau tiba-tiba dia menjauh saat aku sudah merasa amat nyaman. Jadi, sebelum terlalu dalam mungkin lebih baik kulihat reaksinya sekarang. "Biasanya cowok yang aku kasi tahu begini langsung mundur teratur." "Berarti kamu nggak perlu susah-susah seleksi cowok yang serius pengen maju," katanya sembari tersenyum kecil. Senyumnya kemudian menular kepadaku yang menjelma menjadi kekehan pelan. "Mungkin mereka mikir masih ada jutaan cewek di bumi, buat apa ngejar-ngejar 'anak singa'," kekehku selanjutnya merupakan cara mengasihani diri sendiri. "Ayah singa selalu melindungi anaknya dari hyena di luar sana. Kamu harus bersyukur." Aku takjub mendengar jawabannya, tapi tetap saja aku ngeyel, "Dan aku jadi kehilangan banyak momen di masa remaja," keluhku. "Aku selalu iri sama teman-teman yang bebas mau ngapain aja." "Masa muda itu bukan dilalui dengan bebas, tapi dilalui dengan berkualitas, Fi," timpalnya dengan nada ringan, sama sekali tak terdengar seperti sedang menggurui. Bahkan terkesan seperti bergumam pada dirinya sendiri. "Kamu kok belain Ayah, sih?" Dia justru terkekeh geli. "Bukan gitu," elaknya. "Tapi setiap orang tua punya pola asuh yang berbeda. Selagi nggak mendzolimi anaknya, cara itu nggak harus diprotes hanya karena nggak sama dengan cara orang lain." "Iya, tapi aku ngerasa tersiksa karena seperti di penjara." Kali ini dia tak langsung menanggapi, hanya mengulum senyum cukup lama hingga membuatku salah tingkah. "Kamu punya kesempatan untuk bebas sekarang karena jauh dari pantauan orang tua, tapi kamu nggak melakukannya. Menurutku itu hebat dan ayahmu sudah berhasil menanamkan mana yang baik, mana yang buruk di alam bawah sadarmu. Makanya meski jauh, jalanmu tetap lurus." Aku tercenung mendengar kata-katanya. Benarkah begitu? Selama ini aku tetap patuh karena merasa takut. Atau mungkin saja kata-kata Fikri itu benar. Jika tak ada rasa takut itu, mungkin aku akan kebablasan. "Ayo, berandai-andai." Fikri berbicara dengan nada ringan seperti tadi, membuat obrolan sebelumnya yang sebenarnya bertopik agak berat jadi terasa ikut ringan. "Kalau kamu punya satu hari free, kamu pengen ngelakuin apa?" "Banyaaak," sahutku antusias, membuatnya tertawa. "Sebutkan." Aku diam, bisa kurasakan wajahku berbinar hanya dengan membayangkan punya satu hari kebebasan. Namun hingga beberapa waktu berlalu, aku belum bisa menyebutkan apa yang ingin kulakukan. Jadi aku mengedikkan bahu pada akhirnya. "Kayaknya aku butuh waktu buat milih apa aja yang pengen aku lakuin. Nggak bisa spontan." Dia berdecak sembari tertawa kecil. "Padahal yang spontan itu lebih seru." Aku ikut tertawa. "Aku pengen tahu rasanya malam mingguan," sebutku dengan perasaan malu. Hebatnya Fikri sama sekali tak memasang tampang meremehkan atas keinginanku itu. "Terus?" "Baru itu yang terpikir." Dia mengangguk, tak berkata apa-apa, tapi wajahnya meninggalkan ekspresi yang bikin adem. "Kasian ya kalo ada cowok yang jadi pacarku," celetukku begitu saja. Fikri tak merespon. Dia hanya mengulum senyumnya. Setelahnya kami saling diam cukup lama. Karena sepertinya belum ada topik baru yang akan kami perbincangkan, aku memilih melempar pandangan keluar jendela. Menatap hijaunya dedaunan yang tumbuh subur di hutan Gumitir, sesubur perasaan ganjil yang memenuhi hatiku di setiap perjalanan belakangan ini. Dan untuk ke sekian kalinya novel di dalam tasku tak tersentuh karena tokoh fiksi yang selalu berhasil menawanku kini tersisihkan oleh sosok nyata yang sedang duduk di sebelahku. What a beautiful life. Ya, paling tidak sampai nanti tiba-tiba Fikri menemukan perempuan yang tepat untuk mengakhiri perjalanannya. Sementara aku akan kembali melakukan perjalanan sendiri tanpanya. Yeah, aku memang suka berharap punya kisah cinta seindah kisah di novel, tapi tetap saja aku hidup dalam dunia nyata. Setinggi-tingginya khayalanku, aku harus tahu diri perempuan yang hidup terlalu banyak aturan sepertiku tidaklah bisa dijadikan kekasih yang menyenangkan. Ibarat burung, Fikri bisa terbang bebas ke manapun. Sementara aku hanya bisa menatapnya dari dalam sangkar. Anggap saja sekarang dia sedang bertandang ke sangkarku sebelum terbang bebas lagi di angkasa. Memikirkannya saja berhasil membuatku tersenyum miris. Cukup membuat hati nyeri ternyata. "Suka kopi?" Aku menoleh saat tiba-tiba Fikri menanyakan hal itu. Kudapati ekspresinya masih setenang tadi, tapi sorot matanya tampak berbeda. Aku tak tahu apa yang tersimpan di manik hitam itu. Sorot mata yang tak pernah kulihat sebelumnya, tak bisa kujelaskan artinya. "Ngga, kenapa?" Dia tersenyum tipis lalu menggeleng. "Ngga apa-apa, cuma nanya." Aku mengernyit heran, tapi tak bertanya lagi. Memilih kembali melihat keluar jendela. Rintik-rintik hujan mulai turun. Daun-daun kecil pohon kopi bergerak-gerak tiap kali tertimpa tetesan air dari langit. Mungkin karena melewati perkebunan kopi di sepanjang lintasan ini, jadi Fikri tiba-tiba tercetus ingin bertanya apakah aku suka minuman dari biji-bijian hitam itu. "Aku suka hujan," ucapku tanpa menoleh, masih terus memperhatikan rimbunnya pepohonan di luar sana. "Aku suka bau tanah, tapi nggak suka guntur dan petir. Aku nggak suka suara terlalu berisik." Tanpa ditanya, kata-kata itu keluar dengan lancar dari mulutku. Aku bisa menjadi sosok yang suka bicara saat berada bersama dengan seseorang yang membuatku merasa nyaman. "Suka aku?" Aku tersentak lalu menoleh cepat. "Hah?" Senyumnya kini seperti menyimpan rasa gugup. Sekarang aku paham arti sorot matanya tadi saat bertanya soal kopi. Dia sedang menyembunyikan kegugupannya. "Kamu nggak dengar atau cuma ingin diulang?" "Ehm ... dua-duanya," sahutku ragu. "Suka aku?" Seketika tenggorokanku terasa menyempit mendengarnya mengulang pertanyaan itu. Sulit sekali menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang mendadak kering. Aku tak tahu harus berkata apa, jadi jawaban yang kuberikan hanya berupa anggukan kepala. "Aku juga," katanya pelan. Teramat pelan, tapi terdengar begitu memenuhi pendengaranku. Kini senyumnya melebar membawa kehangatan sekaligus rasa canggung yang membuncah di hatiku. Aku bahkan bisa mendengar suara detak jantungku sendiri saking tak terkontrolnya. Semoga saja detak ini tak sampai ke telinga Fikri juga. Kemudian tak ada sepatah kata lagi yang keluar dari mulut Fikri. Bibir itu hanya tak berhenti menyimpan senyum. Dan itu sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana perasaannya. Hari ini segala macam rasa yang begitu rumit untuk kujelaskan menyerangku habis-habisan. Hanya karena satu kata. Suka. *** "Mulai minggu depan biar aku yang antar kamu pulang." Aku yakin Fikri berkata begitu karena melihatku mengirim pesan pada Raka minta dijemput. Aku ingin menolak, tapi kemudian sadar adalah sebuah kewajaran dia memutuskan begitu dan akan sangat tidak wajar kalau aku tak mau. "Oke. Tapi berangkat ke stasiun biar tetap sama Raka aja, ya?" Dia mengangguk. "Tante kamu segalak serigala, nggak?" Aku tertawa. "Nggak. Tante baik, tapi udah diwanti-wanti sama Ayah buat jaga anak perempuannya." Fikri meringis. "Jadi nggak bisa main ke rumah Tante juga, ya?" Aku diam sebentar, menimbang-nimbang. Mungkin Tante Yuli bisa sedikit memberi kekendoran soal ini. Bisa kutanyakan nanti. "Liat nanti, ya," sahutku pada akhirnya. Kami keluar dari kereta masih dengan gesture seperti biasa. Dia tak menggandengku dan aku tak akan pernah berinisiatif meraih tangannya lebih dulu. Begitu sampai di luar area stasiun, Raka sudah standby di tempat biasanya dia menjemputku. Aku sudah pernah mengenalkan Fikri pada Raka karena beberapa kali remaja itu melihat kami keluar stasiun bersama dan berpamitan sebelum berpisah. Tentu saja adik sepupuku itu kepo pada sosok lelaki yang tergolong sering dia lihat di akhir pekan. Jadi agar tak menimbulkan dugaan-dugaan yang ambigu, kukenalkan saja mereka. Kami berpisah di depan tempat penitipan motor. Fikri selalu menitipkan kendaraannya di sana tiap weekend. Sementara aku langsung menuju ke tempat Raka menunggu. "Weits, ada apa nih?" Tiba-tiba saja bocah tujuh belas tahun itu menceletuk. "Apanya?" tanyaku bingung. "Lagi seneng kayaknya." Aku menutup muka sebentar. Bukannya bisa menetralkan ekspresi, aku justru tersenyum lebar. Sebegitu kentarakah raut wajahku yang semringah? Duh, mendadak aku malu. "Ayo, pulang." Mengabaikan pertanyaan Raka, aku langsung naik memboncengnya. Raka tak bertanya lagi. Dia langsung melajukan motornya. Sedangkan aku sibuk meraba d**a di mana segala macam keganjilan rasa berkumpul di sana. "Rakaaa!" Panggilku setengah memekik. Raka langsung menoleh sekilas lalu kembali melihat ke depan. Dia pasti terkejut karena kupanggil dengan suara cukup keras padahal jarak kami dekat. "Apaan, sih, Kak? Kok teriak-teriak," protesnya. "Aku udah nggak jomlo lagiii!" Meski tak sekeras tadi, tapi aku masih bicara dengan nada tidak normal. Beruntung di sisi kiri kanan tak ada kendaraan lain yang mensejajari. Mungkin mereka akan menoleh secara spontan. "Sudah kuduga kalian ada apa-apa." "Eh, baru jadian tadi, kok." "Asyiiik, traktiran." Kupukul pelan bahu Raka. "Main todong aja. Nanti tunggu gajian." "Okeeeh." Aku mengulum senyum cukup lama lalu kembali memekik tertahan. "Rakaaa!" Hanya itu yang aku ucapkan. Raka tak bereaksi apa-apa. Dia hanya tertawa hingga bahunya berguncang pelan. Sementara aku merasakan dadaku seperti akan meledak karena rasa senang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD