Jember, 2015
Aku belum pernah seantusias ini menyambut akhir pekan. Aku bahkan lebih banyak tertawa dan berceloteh riang bersama teman-teman kantor. Sesuatu yang kurasakan sebagai bukan Sofia yang biasanya. Luar biasa sekali efek euforia ini.
Meletup-letup tak terbendung. Aku bahkan tak merasakan detak jantungku segila ini saat pertama kali meninggalkan rumah untuk bekerja di kota asing. Namun, seorang lelaki asing telah berhasil membuat perasaanku tak karuan seperti sekarang. Membuatku seperti orang bodoh yang terus menoleh pada pintu masuk stasiun tiap kali ada penumpang baru datang. Dan terus menggaungkan harapan dalam kepala tentang sebuah pertemuan lagi.
Sayangnya, hingga kakiku melangkah keluar dari kereta yang telah berhenti di stasiun Jember, sama sekali tak kutemukan tanda-tanda keberadaan Fikri.
Aku kecewa? Oh, sebenarnya aku tak ingin merasakan begitu. Entahlah. Tapi kekecewaan ini tumbuh sendiri tanpa bisa aku memangkasnya. Miris sekali.
Memangnya ada berapa banyak kebetulan yang bisa terjadi berulang-ulang, sih?
Ayolah, Sofia! Jangan terlalu naif. Mungkin lelaki yang kuharapkan bisa kulihat wajahnya itu, sedang menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang sekarang dan tak ingat padaku lagi.
Karenanya, aku melangkah dengan gontai keluar stasiun menuju tempat Ayah biasanya menunggu. Beberapa kali Ayah mengajak bicara selama perjalanan menuju rumah dan aku menanggapinya dengan mulut yang terasa berat dibuka. Entahlah aku ini kenapa karena perasaan tak enak terus berlanjut bahkan hingga malam.
"Dulu anak-anak masih kecil, tiga aja sudah ramai. Sekarang pada besar, rumah jadi sepi."
"Anak sepuluh kalau jauh semua juga sama sepinya, Bu."
"Iya. Semoga jodoh Fia ndak jauh-jauh, ya, Pak. Biar ada cucu yang dekat kita nanti."
Aku yang sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi, menangkap obrolan Ibu dan Ayah. Sejak lulus kuliah, Bang Gahtan--kakak sulungku--bekerja di luar pulau. Setelah menikah, istrinya diboyong ke sana. Sekarang dia sudah memiliki dua anak. Sementara kakak perempuanku, Kak Mia, tinggal di Surabaya ikut suaminya dan sudah dikaruniai anak satu. Jadi, hanya aku satu-satunya yang masih tinggal bersama orang tua. Itu pun sejak bekerja, aku hanya pulang di akhir pekan. Persyaratan dari Ayah untuk bisa mendapatkan izin bekerja di luar kota. Meski rasanya melelahkan harus menempuh perjalanan selama hampir tiga jam setiap pekan, tapi rasanya ini lebih baik.
Bukan apa-apa. Aku senang berada di rumah, di tengah orang tua. Hanya saja karakter Ayah yang masih sedikit kolot membuatku merasa seperti katak dalam tempurung. Saat masih sekolah dulu, sulit sekali untuk bisa keluar rumah untuk sekadar ngumpul bersama teman. Meski bisa mengendarai motor sendiri, Ayah tetap mengantar-jemput tiap kali aku bepergian keluar rumah. Aku tahu itu bentuk kasih sayang Ayah, tapi tetap saja aku ingin merasakan pengalaman-pengalaman seru seperti anak muda lainnya.
Karenanya ketika Tante Yuli menawarkan lowongan pekerjaan, tanpa pikir aku langsung mengiyakannya. Sebagai konsekwensinya aku harus berada di atas kereta setiap Sabtu dan Minggu.
Tak apalah, setidaknya sesekali aku masih bisa berkumpul bersama teman-teman kerja di luar kantor. Tentu saja dengan mengajak Tante Yuli kongkalikong karena beliau sudah dititipi oleh Ayah agar aku tak keluar rumah bila tak ada keperluan.
"Fia nggak mau cepat-cepat nikah, ya. Pokoknya mau nikmati masa muda dulu. Mau puas-puasin kerja. Ya, Yah?"
Pria paruh baya itu mengangguk dengan mudahnya. Aku bersyukur karena untuk urusan jodoh, Ayah masih lumayan kendur. Tak ada anaknya yang dikejar-kejar untuk segera menikah. Sesiapnya saja.
"Tidur sana, Fi. Besok bangun pagi, antar Ibu ke pasar," titah Ibu.
Aku meregangkan tubuh, malas beranjak lalu bergumam, "Nggg...." Niat hati ingin Ayah saja yang mengantar agar aku bisa bangun siang.
"Kalau besok dingin, Ayah aja yang antar, ya. Hehehe." Aku cengengesan lalu bangkit dari sofa. Bukan apa-apa, aku dan hawa dingin bukan sahabat baik. Jadi malas saja harus berkendara menerjang udara subuh yang bisa menggeletukkan gigi.
Dan besoknya, Ibu sama sekali tak membiarkanku kembali bergelung di balik selimut seusai Subuh. Malah membawakan sweater tebal untukku. Jadilah, tanpa punya pilihan, aku berjalan di belakang ibu, mengekor ke setiap kios pedagang yang dihampirinya sembari membawa keranjang.
"Masih banyak, Bu? Beraaat," keluhku saat belum ada tanda-tanda Ibu akan mengajak pulang padahal keranjang yang kutenteng sudah penuh.
"Ibu masih mau cari pepaya untuk Ayah. Kamu balik ke parkiran aja dulu. Tunggu di sana."
Seperti mendapat angin segar mendengar ucapan Ibu itu. Tanpa berlama-lama, aku langsung putah arah menuju parkiran.
Awal bulan dan akhir pekan adalah kolaborasi sempurna untuk terjebak di tengah himpitan orang-orang yang berlomba berbelanja. Seperti macet di kota besar, aku sampai kesulitan berjalan dengan lancar. Bahkan harus beberapa kali mengucap kata permisi agar bisa lewat.
Aku baru saja meletakkan keranjang di samping sepeda motor saat tanpa sengaja melihat seseorang keluar dari pintu pasar. Wajah yang teramat ingin kulihat sejak semalam kini muncul di depan mata. Dia sedang tersenyum, menyapa petugas parkir sembari berbicara entah apa.
Saat sadar kalau langkahnya menuju ke arahku, aku cepat-cepat membuang muka. Bahkan menutup tudung sweater yang kupakai untuk menyembunyikan wajah.
Astaga! Ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu dengan seseorang yang membuat jantungmu berdetak hebat.
Aku tadi hanya cuci muka dan gosok gigi. Bahkan masih memakai baby doll yang kugunakan tidur semalaman. Mau ditaruh mana mukaku jika Fikri menemukanku dengan penampilan begini.
Aku baru bisa bernapas lega setelah meyakini lelaki itu telah pergi. Dan memberanikan diri menoleh ke arah tempatnya memarkirkan motor tadi. Namun, tak menemukan siapa-siapa. Cepat betul dia menghilang. Sementara jantungku saja masih berdetak dengan kencang.
Gara-gara pertemuan itu, suasana hatiku seketika berubah. Bawaannya ingin tersenyum terus. Bahkan begitu sampai rumah, nyaris semua perintah Ibu untuk melakukan ini dan itu--yang biasanya kutawar-tawar--kulakukan dengan hati yang lapang. Aku tak menyangka efek melihat wajah Fikri bisa luar biasa begini.
Aku juga mendadak suka berkhayal. Seperti saat Ibu menyuruhku membeli garam di warung dekat rumah, sepanjang jalan aku berandai-andai. Bagaimana kalau ternyata Fikri tinggal tak jauh dari sini lalu tanpa sengaja kami bertemu lagi. Namun, tentu saja hal itu tak terjadi. Bahkan ketika Ayah memintaku pergi ke minimarket untuk membayar air dan listrik, dengan kurang kerjaannya aku melihat setiap lorong rak-rak barang, siapa tahu ada Fikri yang sedang berbelanja di sana.
This is insane.
Seingatku, aku merasakan perasaan sehebat ini hanya pada satu orang di masa lalu. Dia masih kerabat Ayah yang tinggal tak jauh dari rumah. Namanya Baim. Ibrahim Hakam. Cinta pertamaku. Lelaki yang berhasil membuat jantungku berdetak tanpa bisa dikontrol. Lelaki yang bersemayam di hatiku selama bertahun-tahun dan kemudian perlahan mulai kulupakan saat dia ikut pindah bersama orang tuanya ke luar kota.
Ya, jatuh cinta memang seganjil itu, kan?
***
"Tiketnya ndak lupa?" tanya Ayah saat aku mengulurkan tangan untuk bersalaman sebelum memasuki stasiun. Pertanyaan rutin yang tak pernah luput diajukan. Terkadang menyayangi seseorang bisa ditunjukkan melalui hal-hal kecil yang terkesan tak berarti, padahal berasal dari hati.
Aku mengangguk, tersenyum sembari mengucap kata berpamitan yang ditanggapi oleh pesan agar berhati-hati. Mungkin suatu saat momen seperti inilah yang akan muncul sebagai kenangan manis antara aku dan Ayah. Bukankah bagi orang tua, anak selalu terlihat kecil di mata mereka?
Melangkahkan kaki menuju stasiun kali ini terasa lebih ringan meski aku tetap masih melambungkan harapan. Melihat Fikri ada di kota ini hari ini, seharusnya dia juga akan kembali ke Banyuwangi. Jika beruntung kami bisa bertemu, tapi bisa juga dia mengambil jadwal perjalanan selanjutnya. Masih as jadwal kereta ke Banyuwangi hingga nanti malam. Meski begitu aku tetap berharap, sekaligus mengingatkan diri agar tak terlalu kecewa jika keberuntungan belum berpihak.
Masih ada tiga orang penumpang yang mengantri untuk screening tiket sebelum giliranku tiba. Tiba-tiba saja kurasakan pundak sebelah kananku ditepuk seseorang. Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki tinggi besar berdiri di belakangku. Dia meminta maaf karena tak sengaja. Aku hanya mengangguk untuk menanggapinya. Bisa-bisanya aku sempat berpikir mungkin tepukan tadi dilakukan oleh Fikri.
Aku kembali menghadap ke depan lalu memukul kepala sendiri. Efek terlalu banyak baca novel roman, sepertinya membuatku jadi suka berkhayal yang bukan-bukan.
Setelah menyodorkan tiket beserta kartu kependudukan kemudian aku masuk melewati bagian pengecekan tiket. Sebagian kursi tunggu sudah terisi. Aku mengedarkan pandangan untuk mencari kursi kosong di sisi pinggir agar tak perlu melewati orang yang sudah duduk lebih dulu. Saat itu, kulihat Fikri. Dia baru akna meninggalkan stand roti O. Di tangannya terdapat dua bungkus kertas coklat.
Aku melangkah dengan antusias untuk menghampirinya, tapi seketika melambatkan gerakan kaki ketika menyadari ke mana arah yang dituju Fikri. Dia tak sendiri. Ada seorang perempuan yang duduk bersamanya. Terbukti dengan berpindahnya satu bungkus roti ke tangan perempuan itu dan mereka saling melempar senyuman. Tak mungkin hanya sesama penumpang yang kebetulan baru kenal.
Aku mengurungkan niat menghampirinya, memilih duduk di kursi yang paling dekat dengan posisiku berdiri. Kemudian menunduk dalam-dalam, memainkan ponsel agar Fikri tak menangkap keberadaanku.
Rasa apa ini? Ada yang berdenyut nyeri di dadaku. Yang benar saja, Sofia! Lelaki itu bahkan baru kutemui tiga kali sebelum hari ini, tapi sudah berhasil mengacak-acak perasaanku. Ini tidak benar.
Aku menghela napas dalam, berusaha menetralkan perasaan. Ingin mengadu pada Nisa, tapi tak sanggup untuk ditertawakan. Nisa bahkan mengolokku mulai terkena gejala Fikrizofrenia. Saat kutanya gejala apa itu. Dia bilang semacam gangguan jiwa yang membuatku berhalusinasi berlebihan tentang Fikri. Sembarangan memang!
Sialnya, sekuat apapun aku menahan agar mata ini tak mengerling ke arah Fikri, pandanganku tetap saja terarah ke sana. Mereka sedang mengobrol akrab dan tertawa kecil beberapa kali. Seketika aku merasa begitu bodoh. Bisa-bisanya berpikir kalau Fikri mungkin saja masih jomlo. Sikapnya di pertemuan sebelumnya membuatku berharap berlebihan.
Ini pasti karena taruhan sialan yang dia cetuskan. Aku mengerang pelan karena frustrasi sembari meruntuki diri sendiri dalam hati.
"Hei."
Aku mendongak saat mendengar sapaan itu begitu dekat. Rasanya belum lama saat aku memutus pandangan tak lagi memperhatikan Fikri. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di hadapanku.
Aku memaksa diri untuk tersenyum. "Hai."
Aku berusaha mengingatkan diri untuk tak melambung tinggi melihat senyumnya yang kelewat lebar. Dia terlihat begitu semringah. Pasti karena akan melakukan perjalanan ini bersama pacarnya, bukan karena bertemu denganku lagi. Sudah cukup, aku tak boleh ke-geer-an terus.
"Aku baru liat kamu," katanya. "Aku duduk di sana."
Aku tersenyum lagi, kali ini sudah tak sekaku tadi. "Iya, aku tahu. Mau nyapa, tapi nggak enak. Takut pacarnya terganggu."
Dia mengernyit. "Pacar?" tanyanya lalu menoleh ke arah di mana mataku tertuju barusan karena aku sempat melirik perempuan yang duduk di sana. Detik selanjutnya Fikri terkekeh pelan. "Dia kakak sepupuku. Ada perlu mau ke Banyuwangi, jadi barengan."
Sebenarnya dia tak perlu klarifikasi selengkap itu. Jangan-jangan tadi nada bicaraku terdengar seperti sedang menuduh atau cemburu. Duh, memalukan.
"Oh." Aku tak tahu lagi harus merespon apa selain satu kata itu.
"Mau duduk di sana? Aku kenalkan," tawarnya.
Aku menggeleng cepat. "Aku di sini aja. Tanggung mau pindah duduk, bentar lagi keretanya berangkat."
Dia mengangguk, tak memaksa lalu berpamitan kembali ke tempatnya semula.
Entah kenapa aku justru berharap dia berdiam bersamaku sedikit lebih lama atau membujuk lagi agar mau ikut bersamanya. Tapi lagi-lagi aku kecewa karena ekspektasi yang kuciptakan terlalu tinggi. Padahal sejak dia berdiri di sini aku sudah menyugesti diri untuk tak berharap lagi.
Saat pihak stasiun mengijinkan penumpang menuju peron, aku langsung bergegas. Sempat kutangkap dari ekor mata, Fikri tak ada di tempatnya. Tak berniat mencari, aku meneruskan langkah menuju kereta.
Setiap kali melakukan perjalanan, aku selalu berdoa semoga penumpang yang duduk satu kursi denganku bukan orang yang mengganggu. Seperti rombongan yang kalau mengobrol tak bisa dengan suara pelan atau orang yang terus mengajakku berbicara dan mau tak mau aku harus meninggalkan keasyikanku membaca novel. Yang paling menakutkan kalau penumpang itu berbau badan. Aku akan sangat bersyukur jika selama perjalanan tak menemui tiga macam penumpang yang kusebut itu. Tapi jika itu Fikri, aku rasa akan jadi pengecualian.
Karena belum lama kereta berangkat, aku dikejutkan oleh kedatangan sepupu Fikri ke kursiku.
"Sorry, Mbak. Keberatan nggak kalau kita tukar kursi," katanya tiba-tiba.
Aku sempat melongo beberapa saat sebelum memberikan respon, "Eh, kenapa?"
"Aku mau tidur, kasian sepupuku kalau sendirian," jelasnya. "Kayaknya kalian kenal, jadi mending Mbak duduk di kursi saya biar dia ada teman ngobrolnya."
Aku bergeming, masih mencerna setiap kata-katanya.
"Bisa sekarang, nggak? Aku nggak enak nih berdiri di jalan kayak gini."
Tersadar dari rasa bengong, aku segera bangkit dari duduk. Keluar dari baris kursi dan membiarkan perempuan yang belum kuketahui namanya itu mengambil tempat dudukku.
"Gerbong tiga nomor sebelas A, ya, Mbak," ujarnya sebelum aku bertanya.
Aku mengangguk lalu menuju gerbong yang dimaksudkan. Saat sampai, kulihat Fikri sedang memandang keluar jendela.
"Permisi," ucapku begitu mendaratkan tubuh ke kursi kereta.
Fikri menoleh dan tampak terkejut. "Lho, kok?"
"Sepupu kamu ngajak tukar tempat duduk."
"Serius?" Jika menilik dari ekspresi wajah dan nada bicara Fikri, sepertinya dia tidak tahu-menahu. "Dia bilang mau ke toilet."
Aku mengedikkan bahu. Aku sempat berpikir kalau dia yang menyuruh sepupunya itu. "Katanya dia mau tidur. Kasian kamu nggak ada yang nemenin ngobrol."
Fikri menangkup wajahnya dengan sebelah tangan sambil geleng-geleng kepala. "Iya, sih, dia memang hobi tidur kalo di jalan," katanya kemudian. "Tapi ...."
"Tapi?" ulangku karena dia tak kunjung menyambung ucapannya.
Fikri tersenyum. "Nggak apa-apa," lanjutnya lalu terlihat sibuk mencari. "HP-ku ke mana, ya." Dia merogoh ranselnya, tapi tak terlihat tanda-tanda menemukan benda yang dicari.
Aku diam sejenak menyaksikan dalam kebingungan. "Nggak ketinggalan, kan?"
Dia menggeleng. "Bisa minta tolong missed called, nggak, Fi?
Aku menekan tombol dial setelah dia menyebutkan nomornya. Tak berapa lama nada dering telepon terdengar berasal dari saku celananya.
"Masa nggak terasa?" tanyaku heran saat Fikri mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong.
Dia tersenyum lebar. "Terasa, kok. Aku cuma menerapkan trik dari teman untuk dapetin nomor ponsel seseorang."
Aku mendelik tak percaya. "Kurang kerjaan," omelku. Sementara dia tertawa menang.
"Jadi, kamu mau minta apa?" tanyanya setelah tak lagi tertawa.
"Minta apa? Maksudnya?"
"Soal taruhan."
Oh, aku baru paham. "Bukannya kamu yang menang? Kita ketemu lagi weekend ini."
"Iya, permintaannya aku kasi ke kamu aja karena permintaanku sudah terkabul."
Aku bingung lagi. "Kapan? Kamu belum minta apa-apa dan aku belum mengabulkan." Duh, aku serasa lemot kalau begini.
Dia tersenyum penuh arti. "Aku mintanya ketemu kamu lagi dan terkabul sekarang."
Mendadak aku kehilangan kata-kata. Meski kereta ini difasilitasi dengan AC, entah kenapa aku bisa merasakan wajahku menghangat. Semoga saja tak memerah dan bisa dia lihat.
"Jadi, minta apa?" tanyanya lagi dan aku masih belum menyiapkan permintaan apapun.
"Nggak ada expired date-nya, kan?" Pertanyaanku ditanggapi dengan gelengan. "Kalau gitu akan kugunakan lain kali."
Lalu dia tersenyum manis sekali. Saat itu aku sadar bahwa ada yang tak beres dengan hatiku. Entah bagaimana bisa dia menawanku dengan begitu mudahnya.