Banyuwangi, 2015
"Gimana ceritanya ketemu Hariyanto?" tembak Nisa begitu aku datang. Aku yakin dia sengaja menunggu di teras kantor demi memenuhi rasa penasarannya. Luar biasa memang.
Dengan sengaja aku berjalan melewatinya tanpa memberi jawaban apa-apa. Biar saja dia penasaran lebih lama. Dia bahkan terus membuntuti hingga ke meja kerjaku.
"Jadi, siapa nama aslinya?" tanyanya lagi terdengar tak sabar.
Aku dengan santai meletakkan tas ke dalam lemari, kemudian mulai menghidupkan komputer. Menikmati tiap detik penantian Nisa.
"Sofia!" panggilnya setengah gusar. Aku justru terkekeh geli.
"Kerja, Nis. Nanti aja pas makan siang aku cerita."
"Nggak! Nggak! Aku udah penasaran dari semalam. Dan kamu nyebelin banget karena BBM-ku sama sekali nggak dibuka," cerocosnya. "Buruan cerita mumpung Bu Rossi belum datang."
Aku memutar kursi menghadapnya. "Namanya Fikri."
Dia mengangkat alis tampak tertarik. "Kamu ngajak dia kenalan duluan?"
"Enggaklah. Tengsin, kali. Dia yang ngenalin diri duluan," jelasku dengan nada sedikit berbangga.
"Whohooo. Terus ... terus ...."
Dan cerita pun mengalir begitu saja. Aku begitu antusias berkisah dan Nisa tak kalah semangat menanggapi seolah bukan aku yang habis berkenalan, tapi dirinya.
"Jadi, kalian tukeran nomer HP? PIN BB?"
Aku memutar bola mata. "Beluuum. Eh, maksudnya, enggak. Ya kali baru kenalan langsung tukeran nomor. Kalau dia bukan cowok baik-baik gimana? Naksir boleh, b**o jangan."
Nisa mencibir. "Betul. Jangan b**o-b**o. Apalagi sampai ketahuan waktu ambil fotonya."
"Idiiih!" Aku memekik sembari tertawa. Ingin protes atas kata-kata Nisa yang tanpa filter itu, tapi dia benar. Aku memang bodoh dan mempermalukan diri sendiri karena kebodohan itu. Namun, kalau dipikir-pikir kebodohan itu berujung pada hal yang lebih baik, bukan? Yah, meski belum tentu juga aku akan bertemu lagi dengan Fikri.
Untuk taruhan yang dibuat oleh Fikri dan sudah aku setujui, tak kuceritakan pada Nisa. Biar kusimpan saja buat nanti jika takdir kembali berpihak pada kami.
"Dia bisa diprospek nggak?" celetuk Nisa tiba-tiba.
Astaga. Teman siapa, sih, ini?
"Plis deh, Nisa. Kalau ngajuin pertanyaan itu dipikir dulu. Aku cuma tahu namanya dan nggak tahu bakal ketemu lagi apa nggak. Tapi pertanyaanmu itu ...." Aku bahkan tak menemukan kata yang tepat untuk meneruskan ucapanku. Lebih-lebih karena Nisa tertawa cekikikan.
"Mbak Fiaaa. Tolong akuuu." Dian, salah satu karyawan juga, datang-datang teriak lebay.
Aku geleng-geleng kepala. Kok, teman kerjaku pada ajaib semua, ya.
"Apa? Ada apa? Kenapa?" Belum sempat aku bersuara, Nisa sudah lebih dulu menyela. Yang namanya Sofia, dia atau aku, sih?
"Gini amat nasib jomlo lumutan," keluh Dian membuatku makin tak paham.
"Apaan, sih, Di? Yang jelas," todongku.
Dian meringis absurd. "Kemarin tuh Pak Dimas minta nomerku. Terus kami BBM-an kan. Aku udah girang dong, kirain bakal di-pedekate-in. Eh, taunya dia ngorek-ngorek info tentang Mbak Fia. Nasib. Nasib," cerocosnya.
Aku tercenung sebentar sebelum rasa tak enak menjalar. "Oops, sorry," ucapku. "Kamu beneran naksir, ya?" Rasanya makin tak enak saat melihat ekspresi Dian yang terlihat kecewa.
Dia tertawa kecil. Iya, benar-benar tertawa, bukan cuma bikinan. Hanya saja aku tetap bisa menangkap kekecewaan itu dari sorot matanya.
"Nggaklah. Cuma kena sindrom GeEr aja. Hehehe," sahutnya masih sambil tersenyum. "Dia nanya Mbak Fia udah punya pacar belum. Nah, aku bingung mau jawab apa." Dian ini tipe orang yang bisa ngomong panjang lebar untuk satu topik saja. Dia tidak cerewet. Tidak. Hanya saja suka bicara. Eh, sama nggak sih artinya? Ya, begitulah. Aku lebih senang memilih kata yang bermakna positif saja.
"Mau aku bilang nggak punya, takutnya Mbak Fia nggak suka. Mau bilang punya, ternyata Mbak Fia mau ngasih kesempatan. Kan serba salah akunya. Jadi, BBM dia belum aku buka sampai sekarang. Nunggu ketemu Mbak dulu buat nanya jawaban," lanjutnya.
"Jawab aja 'Sofia otw ada yang punya'," celetuk Nisa berhasil menciptakan ekspresi penasaran di wajah Dian. Naasnya, Cici yang baru saja datang, ikut mendengar kata-kata itu hingga langsung ikut nimbrung.
"Mbak Fia lagi dekat sama cowok? Kok nggak cerita?" Cici langsung heboh. "Siapa? Siapa?"
Aku nyari memutar bola mata. "Apaan sih, Nis. Jangan ngarang cerita," tegurku tak senang.
"Ngarang dari mana?" kilah Nisa membela diri. "Beneran, kok. Fia abis kenalan sama cowok cakep di kereta."
Dan seketika ketiga cewek itu semakin heboh membahas soal pertemuanku dengan Fikri. Nisa yang jadi juru bicara, sedangkan dua lainnya menjadi penyimak yang manis.
"Wah, beruntungnya," komentar Cici setelah Nisa selesai cerita. Tiba-tiba saja pipiku terasa hangat.
Susah payah aku menahan diri agar tak tersenyum malu-malu karena perlahan detak jantungku mulai menambah kecepatan ritmenya. "Apa, sih, kalian? Nggak usah berlebihan. Cuma kenalan doang. Bakal ketemu lagi apa nggak juga nggak tahu. Udah, ih. Syuh, syuh, pergi ke meja masing-masing," usirku dengan mengibaskan kedua punggung tangan agar Cici dan Dian menuju ruangan mereka.
"Terus aku bilang ke Pak Dimas gimana, nih?" Dian kembali pada pertanyaannya semula. "Aku suruh tanya Mbak Fia sendiri aja, deh," putusnya kemudian.
Aku mengedikkan bahu tak acuh. Terserah saja.
***
Sudah satu tahun lebih aku bekerja di kantor notaris ini, bahkan sejak belum wisuda. Setelah selesai ujian skripsi dan ada jeda waktu tunggu kelulusan, Tante Yuli--adik ibu--menawarkan lowongan kerja di sini. Kebetulan notarisnya adalah saudara jauh suami Tante. Saat itu masih aku satu-satunya karyawan karena kantor ini baru buka. Dua bulan kemudian Reksa--satu-satunya karyawan lelaki hingga sekarang--masuk kerja di sini. Baru disusul oleh Nisa tak sampai berselang satu bulan. Cukup lama kami bertiga bekerja bersama hingga Bu Rossi--bos kami--menambah karyawan lagi. Karena itulah aku dan Nisa sangat dekat. Bisa dibilang kami jungkir balik bersama dengan sang bos memulai kantor ini.
Jika aku bisa bekerja atas rekomendasi Tante, Nisa dapat pekerjaan atas rekomendasi Reksa. Dulu mereka sempat punya hubungan dekat yang kemudian harus berakhir, entah apa penyebabnya. Sampai sekarang Nisa tak pernah mau bercerita. Terlalu sakit untuk mengingatnya, selalu begitu dia beralasan tiap aku bertanya. Ya, sudahlah. Yang terpenting mereka tetap bisa bekerja secara profesional. Tidak mencampuradukkan urusan pribadi di dalamnya.
Untuk urusan job desk, bisa dibilang pekerjaanku cukup banyak. Jika Reksa khusus tugas luar, aku pemegang kendali untuk urusan internal kantor. Mulai dari menemui tamu yang datang untuk berkonsultasi soal surat-surat pertanahan hingga cek-cek harga kepengurusan surat-surat itu. Mana boleh para tamu langsung dipertemukan dengan Bu Rossi. Jika anak-anak lain masih bisa meng-handle, maka aku biarkan mereka sekalian belajar. Kalau urusannya lebih rumit dan mereka kewalahan, maka jika bukan Nisa, akulah yang akan menangani konsultasi klien lebih dulu.
Selain menemui tamu, aku juga mendapat kepercayaan untuk menaruh semua arsip akta kenotariatan maupun akta PPAT ke dalam ruangan penyimpanan arsip. Sedangkan apabila ada yang butuh arsip tersebut yang punya wewenang untuk mengambilnya adalah Dian. Jadi tugasku menyimpan sedangkan tugas Dian mengawasi keluar masuknya kembali akta yang sudah kuarsipkan.
Tugasku yang lain adalah mengerjakan akta-akta yang baru saja ditandatangani oleh para pihak yang terkait dengan akta tanah tersebut. Untuk tugas ini, semua staf dapat bagian karena banyaknya akta yang harus dikerjakan sebelum didaftarkan ke kantor pertanahan. Sementara ntuk pendaftarannya adalah bagian Reksa.
"Mba Fi, ada Pak Dimas tuh." Dian berdiri di ambang pintu ruangan penyimpanan arsip. Sementara aku sedang duduk bersila di lantai dengan kondisi dikelilingi tumpukan arsip akta yang sudah selesai dan siap dimasukkan ke dalam lemari.
"Mau apa?" Aku menoleh sekilas lalu kembali fokus pada akta-akta yang kupegang. Karena tumpukannya agak banyak, aku sedikit kesulitan menjaga agar akta-akta itu tetap rapi saat dimasukkan ke dalam lemari.
"Ngga bilang mau apa, cuma tadi langsung nanyain Mbak Fia. Kan nggak enak kalo aku nanya mau apa," jelas Dian.
Aku mengembuskan napas. Pekerjaan ini saja masih belum selesai. Aku sudah terkurung di sini sejak pagi dan sebentar lagi akan menjelang jam istirahat. Sementara tumpukan akta yang belum kugarap juga tak kalah banyak. Jika marketing Bank itu mencariku hanya untuk mendapat jawaban aku sudah punya pacar atau belum, rasanya dia bisa jadi santapan makan siangku. Rasa lapar, penat dan lelah bisa menjadi kombinasi yang cukup bagiku untuk makan orang.
"Kamu tanya aja mau apa. Bilang kalau aku lagi repot. Males banget kalo cuma mau nanya aku udah punya pacar apa belum. Kurang kerjaan apa."
Dian tetap bergeming. "Yaelah, Mbak, ntar pasti dia bakalan maksa buat dipanggilin Mbak Fia. Temuin aja deh sebentar, yaaa," bujuk Dian.
Aku menghela napas lelah dan pada akhirnya berdiri juga. "Ya, udahlah."
Dian langsung menyunggingkan senyum kemenangan. Entah karena malas menghadapi Dimas atau dia masih jengah dengan rasa GeEr-nya itu. "Gitu dong," ucapnya sebelum berlalu dari ruang arsip mendahuluiku.
Aku melihat Dimas duduk di teras samping kantor yang memang difungsikan sebagai tempat tunggu bagi tamu. "Pak Dimas cari saya?" Aku menyunggingkan senyum yang mungkin terlihat kaku. Tapi sepertinya lelaki ini terlihat lebih kaku dan ... kikuk.
"Maaf, ya, ganggu bentar."
Kalau dipikir-pikir, jika memang dia memiliki ketertarikan padaku, tentu kami tak akan menjadi pasangan yang ideal. Karena perempuan yang tak mudah akrab dengan orang baru sepertiku seharusnya bertemu dengan laki-laki supel. Bukan justru sama kakunya, seperti si Dimas ini.
"Ada yang bisa dibantu?"
"Bagini, saya ada nasabah baru. Ini sertifikat dan beberapa berkasnya." Dia menyerahkan sebuah map padaku.
Astaga! Kalau hanya begini, dia bahkan bisa langsung menyerahkannya pada Dian tadi. Tapi namanya orang cari kesempatan bertemu, apa saja bisa dijadikan alasan, bukan?
"Oke, biar dicek dulu di BPN. Nanti saya sampaikan ke Bu Rossi."
"Nanti kalau sudah tau hasil pengecekannya tolong kabari, ya."
Aku mengangguk. "Pasti, Pak."
Jangan berpikir kalau Dimas ini sudah tua karena aku memanggilnya pak. Kami memang menggunakan panggilan formal pada semua staff marketing Bank yang bekerja sama dengan kantor ini. Jika menilik dari garis wajahnya, usia Dimas mungkin hanya terpaut tiga atau empat tahun lebih tua dariku.
"Oke. Bisa minta nomer handphone kamu?" tanyanya membuatku mengerutkan dahi.
"Buat apa?"
"Ehm, buat nanya hasil pengecekannya."
Wow, untuk level usahanya mendapatkan nomer ponselku lumayan juga. Dia bisa mencari alasan cukup bagus, meski sebenarnya kentara sekali. Biasanya semua staff marketing bertanya ke telepon kantor, bukan ke ponsel pribadi karyawan.
"Saya kasi nomer HP kantor aja, ya," tawarku.
"Saya udah punya kalo nomer kantor, Sof. Cuma kalau di-SMS lama banget jawabnya. Kalau ditelpon yang angkat beda-beda lama juga jadinya."
Aku tersenyum kecut. "Namanya juga HP bersama, Pak. Nanti pasti langsung saya kabari kok kalo sudah tau hasilnya."
"Selama ini selalu saya yang follow up duluan. Makanya kalau nanya langsung ke kamu kan enak biar cepet."
Well, aku sudah tidak bisa berargumen lagi. "Pin BB aja." Pada akhirnya kusebut juga rentetan kombinasi nomor dan huruf agar BBM kami bisa tersambung. Untuk hal ini aku dan Nisa punya kesepakatan bahwa jangan pernah memberikan nomor telepon pada orang yang belum membuat kita nyaman. Pin BB adalah pilihan aman. Jika merasa terganggu tinggal delete contact saja. Sementara nomor ponsel ranahnya sudah lebih privasi lagi. Jadi jangan bermudah-mudah membaginya.
Setelah mendapatkan pin BB-ku, Dimas langsung berpamitan. Tak lupa dia melempar senyum manisnya sebelum melangkah keluar kantor. Saat itu aku tak langsung kembali ke ruang arsip, tapi tiba-tiba saja terbersit sebuah pertanyaan. Jika nanti aku ditakdirkan bertemu dengan Fikri lagi, mungkinkah lelaki itu akan meminta nomor ponselku? Ah, aku mendadak tidak sabar untuk segera akhir pekan.