Taruhan

1907 Words
Jember, 2015 Jam 15.50 kereta yang mengantarku ke Banyuwangi akan berangkat. Masih ada waktu kurang lebih dua puluh menit untuk menunggu. Dan aku memilih membunuh rasa bosan dengan berkirim pesan. Me : Semoga aja aku nggak ketemu cowok itu lagi. Nisa : Kemarin aja doa semoga ketemu lagi dan lagi, sekarang malah gini. Hahaha Me : Aku masih malu, Nisaaa. Mau ditaruh mana mukaku kalau ketemu dia lagi. Nisa : Taruh aja di tong sampah stasiun. Hahaha Me : Ngawur! Nisa : Udahlah. Kan dia juga nggak tau pasti kamu ambil fotonya beneran apa nggak. Kamu juga nggak ngaku, kan? Cuekin aja. Me : Iya, sih. Tapi otomatis, Nis. Mana bisa aku sok santai seolah nggak ada apa-apa. Duh! Seseorang duduk di kursi tunggu sebelahku. Caranya duduk cukup kasar hingga bahu kami berbenturan. Aku mengangkat wajah yang semula terfokus pada layar ponsel untuk menoleh dan menunjukkan bahwa keberadaannya itu mengganggu. Namun, saat mengetahui siapa dia, leherku mendadak terasa kaku. Astaga! Dia tak menoleh, pandangannya tetap lurus ke depan. Sementara aku kembali memutar kepala mengalihkan pandangan darinya, berpura-pura mengabaikan. Me : Doaku nggak terkabul, Nis. Pesan itu kukirimkan pada Nisa dan sialnya tak kunjung dibaca. Entah ke mana dia. Baru saja aku mangkir dari ruang obrolan mungkin hanya satu atau dua menit, dia sudah menghilang saja. Demi Tuhan, aku mati gaya! Aku bahkan rasanya tak bisa bernapas dengan bebas. Seolah-olah oksigen di sekitarku menjadi langka. Hawa mendadak terasa panas, tapi sepertinya tubuhku justru berkeringat dingin. Reaksi macam apa ini? "Gerbong berapa?" Suara berat itu berhasil membuat jantungku tiba-tiba berdebar lebih cepat. Aku tak berani menoleh saat menjawab, "Tiga." Ya ampun, suaraku seperti suara tikus terjepit. Aku bahkan harus berdeham pelan untuk menghalau rasa gugup ini. "Sayang sekali," ucapnya. Kali ini aku menoleh dan mendapatinya juga sedang menatapku. "Sayang apanya?" Dia tersenyum dan senyuman itu berhasil membuatku tertegun. So cuteee! Kali ini dia menampakkan keramahannya. Membuatku lupa kalau di pertemuan sebelumnya, dia menampilkan senyum menyebalkan yang sukses membuatku ingin mengubur diri dalam rel kereta api karena rasa malu. "Kita beda gerbong kali ini." Aku ingin bertanya memangnya kenapa kalau beda gerbong? Kenapa dia sampai harus menyayangkan? Kami bahkan tak saling mengenal. Namun, mulutku terkunci. Aku tak berani. Suara pemberitahuan melalui station announcer terdengar. Penumpang sudah bisa menaiki kereta api yang sepuluh menit lagi akan berangkat. Aku berdiri dan memakai ranselku, bersiap menuju peron. Aku selalu tiba di stasiun setengah jam sebelum jadwal keberangkatan karena Ayah selalu bilang lebih baik menunggu daripada tertinggal. Kereta tidak akan menunggu penumpang. "Sebentar lagi aja." Suara itu menahanku ketika aku akan beranjak pergi. "Kenapa?" tanyaku. "Masih penuh. Ngapain desak-desakan, toh masih ada waktu." Benar juga. Kulihat banyak penumpang lain yang berebut untuk naik ke kereta. Menunggu sebentar lagi tak ada salahnya. "Ayo," ajaknya setelah sebagian penumpang telah naik. Aku seperti anak ayam yang mengekor pada induknya, berjalan mengikuti lelaki yang bahkan namanya pun tak kuketahui. Kami menuju peron dua. "Bukannya kita beda gerbong?" tanyaku saat dia ikut mengantri di depan pintu gerbong tiga. Dia tersenyum tipis sembari mengangkat alis. "Kan semua gerbong nyambung. Naik dari mana aja, sama kan?" Aku mengatupkan kedua bibir. Merasa bodoh. Terserahlah. "Aku Fikri." Dia menyebutkan nama tepat di saat penumpang di depanku naik. Kini giliranku. Jadi, aku hanya sempat menoleh sekilas lalu meneruskan langkah menaiki kereta tanpa sempat memberi respon. Luar biasa. Ini cara perkenalan yang tak pernah kupikirkan. Kenapa dia tak mengajak berkenalan sejak kami duduk di kursi tunggu tadi? Pasti lebih nyaman. Dia justru memilih momen di mana kami tak punya banyak waktu untuk berbicara. Aku langsung mencari nomor kursiku. Mengesampingkan perkenalan yang belum terbalas itu. Tak mungkin mengobrol di lorong kereta seperti ini. Sementara penumpang lain juga menunggu untuk lewat. Begitu mendapatkan kursiku, aku segera menepi. Seorang ibu paruh baya bersama anaknya sudah duduk di sana lebih dulu. Mereka duduk berhadapan. Nomorku tepat di sebelah anak perempuan gendut itu. "Lho, kok?" Aku berkomentar begitu melihatnya ikut duduk di sebelah ibu itu. "Iya, sebentar lagi aku pindah. Yang punya kursi juga belum datang, kan," sahutnya enteng. "Jadi ... nama kamu?" Aku menatapnya tak percaya. "Kamu ngikutin cuma demi tanya nama?" Tanpa beban, dia mengangguk begitu saja. Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Kurang kerjaan." Dia tersenyum. Sorot matanya terlihat geli. "Kasih tau namamu, setelah itu aku pergi." Aku memutar bola mata, merasa jengah. "Sofia." "Nice name. Dipanggil Sofi?" Aku menggeleng. "Fia." Dia mengangguk kemudian beralih pada wanita paruh baya di sebelahnya. "Turun mana, Bu?" Wanita itu menoleh. "Kalibaru, Mas." Dia merespon jawaban itu dengan senyuman sopan lalu kembali padaku. "Oke, see you ... Fia." Entah hanya perasaanku atau dia memang melafalkan namaku lebih lamban. Seolah sedang menghapalnya agar tak lupa. "Untuk apa? Aku bahkan nggak berharap ketemu kamu lagi," ucapku sebelum dia benar-benar beranjak. Dia tak menjawab, hanya mendengkuskan tawa kecil kemudian pergi begitu saja. Argh, ini tak normal. Aku bahkan tak bisa mengontrol detak jantungku yang makin menggila di dalam sana. Aku benar-benar tak suka ini. Fikri. Menyebut namanya dalam hati saja sudah berhasil membuatku merinding. Aku bukan tak menyukai pertemuan ini. Aku bukan tak senang dengan perkenalan ini. Hanya saja aku sering bertingkah tak normal di depan orang yang kusukai. Tunggu! Apa aku tak terlalu cepat menyimpulkan bahwa menyukai Fikri? Astaga! Pemikiran apa ini, Sofia! Tidak. Tidak. Mungkin perasaan ini hanya sebuah bentuk dari ketertarikan. Maksudku, tertarik bukan berarti menyukai seseorang lebih lagi, kan? Ah, sudahlah. Aku berniat mengambil novel dari dalam tas saat melihat lampu di ponselku berkedip tanda ada pesan BBM yang belum terbaca. Nisa : Maksudnya, Fi? Aku berdecak dalam hati. Ke mana saja dia tadi. Aku mengabaikan pertanyaan Nisa itu dan mengetikkan hal yang lain. Me : Kamu salah namanya bukan Hariyono atau Hariyanto. Nisa : Kok tau? Me : Tau dong. Nisa: Cerita dong, fiaaa! Aku mengulum senyum membaca balasan Nisa. Biar saja makhluk dengan tingkat kepo setinggi Nisa dirong-rong rasa penasaran. Akan kusimpan cerita ini untuk besok di kantor saja. Lalu aku mengambil novel dan mulai membacanya. Aku baru mengalihkan mata dari deretan kata di buku saat penumpang yang duduk bersamaku siap-siap turun. Ternyata sebentar lagi akan berhenti di stasiun Kalibaru. Saking asyiknya membaca, waktu terasa begitu cepat berlalu. Melakukan perjalanan sendirian seperti ini harus pintar mencari hiburan agar tak bosan. Meski hanya butuh waktu tak sampai tiga jam, tetap saja akan terasa lama jika cuma diam tak melakukan apa-apa. Aku bukan tipe orang yang ramah seperti Nisa. Yang dengan mudah memulai obrolan dengan orang baru. Alih-alih berbasa-basi dengan penumpang yang kutemui selama perjalanan, aku lebih memilih tenggelam dalam dunia fiksi atau dunia maya. Begitu wanita paruh baya dan anaknya turun, aku melanjutkan membaca. Dan kembali terjeda karena seseorang mengisi kursi di depanku. Aku mendongak, kukira penumpang baru, ternyata ... Fikri. Dia melempar senyum saat mata kami bertemu. Tanpa mengatakan apa-apa, dia menjejalkan headset ke telinganya. Sementara aku kembali menekuri buku meski sebenarnya konsentrasiku telah pecah. Ketika kebanyakan orang berusaha untuk mencari perhatian atau berusaha bisa dekat dengan seseorang yang membuatnya tertarik, aku justru sebaliknya. Aku tak pernah merasa nyaman berinteraksi lama dengan orang-orang yang berhasil membuat jantungku berdetak jumpalitan. Karenanya, aku lebih suka memasang mode acuh tak acuh. Terkesan sombong barangkali, padahal itu adalah caraku menyembunyikan kegugupan. "Nggak banyak kesempatan yang mempertemukan dua orang lebih dari sekali dalam perjalanan yang berbeda. Gimana menurutmu?" tanyanya sembari melepaskan headset dari telinga. Aku mengangkat wajah. "Siapa yang ingat pernah melakukan perjalanan bersama siapa kalau jumlah penumpangnya sebanyak ini." Sebenarnya aku juga takjub dengan kebetulan yang terjadi ini, tapi berusaha menutupinya. Dikulumnya senyuman sedikit lama mendengar jawabanku. Lelaki ini bisa dikategorikan sebagai seorang yang cukup murah senyum, tapi entah kenapa senyumannya terlihat misterius di mataku. Dia tak seperti tokoh-tokoh dalam novel yang sering k****a, berkarakter cool dan irit bicara. Dia justru tak segan memulai obrolan lebih dulu, tapi tetap saja membuatku penasaran. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, bukan jenis basa basi seperti pada umumnya orang asing saat bertemu. Entahlah apakah ini caranya bersikap di hadapan perempuan, sementara di hadapan orang lain dia menunjukkan hal yang berbeda, atau memang karakternya seperti itu. Kita lihat saja nanti. "Benar juga," akunya. "Aku ingat kamu pasti karena insiden ambil foto itu---" "Aku nggak ambil foto!" Potongku cepat. Fikri terkekeh geli. "Baiklah, aku akan pura-pura percaya." Aku berdecak menanggapi ucapannya. Dia seperti sedang mengolokku. "Kamu tinggal di Banyuwangi?" Aku menggeleng. "Jember." "Terus ngapain ke Banyuwangi?" Aku berusaha memasang tampang tak nyaman. "Untuk apa nanya-nanya?" Dia mendengkuskan tawa kecil. "Itu pertanyaan basa-basi yang biasa diajukan orang. Kenapa kamu menanggapi berlebihan?" Aku tak menjawab, memilih membuka novel kembali. Beberapa saat hanya suara bising gesekan dari roda kereta api dan rel yang terdengar. Sebelum dia kembali berkata, "sepanjang perjalanan Jember-Kalibaru tadi, aku sudah dapat info tentang alamat seseorang, pekerjaannya, jumlah anaknya, bahkan untuk urusan apa dia ke Jember pun aku tahu. See? Itu topik obrolan yang normal." Aku hanya mengerling sekilas dengan kepala tetap menunduk posisi membaca. "Aku juga tinggal di Jember. Tapi udah setahun ini bolak balik karena kerja di Banyuwangi." Mendengar pengakuannya, aku mendongak. "Aku juga kerja di Banyuwangi." Fikri malah tertawa kecil. Aku menatapnya heran. "Ada yang lucu?" "Kamu seperti ikan," sahutnya masih dengan ekspresi geli. "Harus dikasi umpan dulu baru bereaksi." Aku tersenyum masam mendengar analoginya itu. "Jadi, seberapa sering kamu bolak balik Banyuwangi-Jember?" "Tiap weekend." Sepanjang sisa perjalanan, kami habiskan dengan mengobrol. Dia banyak bertanya, sedangkan aku masih pelit memberi informasi tentang diriku. "Kamu kerja di Genteng, tapi ngekost di Banyuwangi? Nggak kurang jauh?" responku saat dia memberitahu kantornya. Dia bekerja di salah satu Bank Syariah yang cabangnya ada di kecamatan Genteng. Jarak tempuh antara Banyuwangi kota ke Genteng membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Fikri tertawa pelan. "Udah terlanjur nyaman di kost yang sekarang. Malas mau pindah," terangnya. Aku mengangguk-angguk paham. "Sepertinya kamu tipe laki-laki setia." "Kok bisa?" Aku mengedikkan bahu. "Analisa sok tau-ku sih bilang gitu." Dia tertawa lagi. "Analisa sok tau-mu nggak salah kalau gitu." Karena tak diucapkan dengan percaya diri, jadi jawabannya itu mengundang senyumanku. Dan membuat sedikit penasaran, apakah itu artinya dia sudah punya pacar? Namun, rasanya tak etis jika bertanya. Aku saja begitu pelit berbagi informasi, bisa-bisanya penasaran tentang hal yang terlalu privasi. Dia bahkan belum kuberitahu di mana aku bekerja, tapi aku sudah mendapat cukup banyak informasi tentangnya. Hampir pukul tujuh malam ketika kereta api yang kami tumpangi berhenti di stasiun Karangasem. Masih ada satu stasiun lagi setelah ini. Namun, tanpa bertanya, seperti yang kuduga Fikri juga ikut turun. "Aku nitip sepeda di parkiran stasiun. Kamu naik apa?" tanyanya saat kami jalan beriringan menuju jalan keluar stasiun. "Dijemput." "Ooh ... sama pacar?" Aku tak menyahut, hanya menanggapinya dengan senyuman. Dan dia tak mendesak untuk mendapat jawaban. Poin plus, dia bukan tipe pemaksa. "Sampai di sini, ya. Kamu mau ke parkiran, kan?" Aku menatapnya. Ini sudah waktunya berpisah, kan? Jika ini adalah pertemuan terakhir kami, maka akan menjadi pertemuan yang tak akan kulupakan. "Jemputanmu sudah datang?" "Biasanya dia nunggu di luar area stasiun. Aku mau jalan ke sana." Fikri mengangguk samar. "Oke, bye." Aku tersenyum lalu melambaikan tangan sebelum memutar arah untuk meninggalkannya. "Sofia." Panggilan itu menghentikan kakiku yang baru beranjak beberapa langkah. Aku berbalik. "Ya?" "Ayo bertaruh." Dia masih berdiri di tempat yang sama. "Bertaruh apa?" "Kalau Minggu depan kita ketemu lagi, kamu harus mengabulkan satu permintaanku." Aku mengernyit. "Kalau nggak ketemu?" "Kamu boleh mengajukan permintaan dan akan aku kabulkan. Kapan aja kalau kita ketemu lagi." Aku tertawa pelan. "Oke. Tapi nggak boleh minta yang aneh-aneh." Dia tersenyum sembari menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran. Baiklah, mari bertaruh. Apakah semesta akan kembali berpihak atau kami hanya cukup sampai di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD