Sesuai undangan makan malam dari Antonio tadi, Emily kini tengah disibukkan dengan memilih gaun mana yang akan digunakannya untuk gala dinner petang ini. Emily sibuk keluar masuk walk in closet, dia memuntahkan seluruh isi lemari. Memilih gaun yang pas dan simple, sudah hampir satu jam dia habiskan untuk mencoba seluruh pakakaiannya, tapi lagi-lagi Emily dibuat bingung.
Emily menyandarkan tubuhnya pada tembok pembatas antara kamarnya dan ruangan yang disediakan khusus untuk menampung seluruh pakaian. Entah kenapa malam ini Emily ingin terlihat cantik, setelah hampir semua baju dia coba, akhirnya pilihannya jatuh pada gaun berwarna putih selutut berlengan tiga perempat, mini dress sederhana yang terlihat elegan dengan hiasan belt kecil di pinggul serta brukat yang mendominasi hampir di seluruh dress-nya.
"Perfect."
Emily melihat pantulan dirinya sendiri pada cermin besar di Walk In Closet-nya, dia terus meyakinkan diri bahwa penampilannya malam ini sudah sangat sempurna. Emily menatap puas penampilannya malam ini, bibir bergincu merah serta potongan rambut yang sengaja dia Curly.
Oke, Emily. Ini hanya makan malam biasa. Bersikaplah sebaik dan sebiasa mungkin.
Emily berjalan menuruni anak tangga, dengan cepat dia menyambar kunci mobil yang tergeletak di nakas. Namun, langkah Emily terhenti saat melihat sebuah mobil sport hitam telah terparkir cantik di depan gerbang rumahnya. Terlihat lelaki berjas hitam senada dengan celanan bahannya tengah berdiri menatapnya dari kejauhan. Cepat Emily berjalan dan menghampirinya.
"Kau?” tanya Emily dengan mengerutkan dahinya hingga kedua alisnya saling bertautan satu sama lain. Dia semakin mendekat dan meyakinkan bahwa lelaki itu adalah Antonio MacKenzie. Lelaki tengil yang menyebalkan.
Antonio seketika menoleh sekilas, lalu kembali fokus kepada ipad yang sedari tadi dia pegang. Emily mencebik kesal, tidak mungkin jika Antonio datang ke sini hanya untuk mengabaikan dirinya. Emily berkacak pinggang dengan mulut mengerucut.
“So, jelaskan padaku apa tujuanmu ke sini?”
Antonio melirik sekilas, lalu kembali menjatuhkan pandangannya pada benda pipih di tangannya yang menjadi pusat perhatiannya saat ini.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Emily kembali.
"Menjemputmu,” balas Antonio tanpa melihat wajah kesal Emily. Dia meraih sebuah kacamata hitam dari balik jas mahalnya.
"Tapi aku bisa ke sana sendiri, Mr. MacKenzie.”
“Jangan jadikan aku bersalah di hadapan Bella karena tak membawamu pulang bersamaku.” Antonio berjalan memutar, lalu masuk mendahului tanpa mempersilakan Emily.
“Apa kau perlu aku gendong untuk memasuki mobil?” tanya Antonio bernada sarkastik. Emily membuka pintu mobil lalu beringsut duduk di samping kemudi Antonio. Sekilas Emily melihat rahang kokoh Antonio yang begitu membuatnya terkesima untuk beberapa saat.
Tampan, itulah yang pertama terlintas di kepala Emily. Namun, dengan cepat dia menggelengkan dan memilih menatap keadaan dari balik kaca mobil. Mata biru Emily terus memadangi pemandangan malam kota Manhattan yang ramai. Banyak orang yang berlalu-lalang di sepanjang trotoar, mereka asik bercengkrama dengan rekan atau para sahabatnya. Tak lama kedua mata Emily melihat sepasang kekasih yang sedang berjalan bergandengan tangan mereka tampak begitu bahagia.
Kapan aku memiliki kebahagiaan seperti meteka tadi.
Emily memejamkan matanya, kehidupan mereka normal dengan seluruh orang yang menyayangi mereka, tidak seperti dirinya yang hanya mendapat kemalangan semenjak kecil. Emily mendesah pelan, lagi-lagi kenangan masa lalu terlintas di kepalanya. Bahkan malam ini pun dia merasa malang karena harus menghabiskan malam dengan Antonio.
"Sebentar lagi kita sampai," ucap Antonio memecah keheningan di dalam mobilnya. Emily diam tak menjawab ataupun merespon. Dia hanya menatap sekilas Antonio, lalu kembali melemparkan tatapannya ke arah luar.
Antonio memerhatikan Emily. Wanita itu asyik dengan jalanan di luar. Cantik, itulah yang terlintas di kepala Antonio. Tanpa sadar sebuah senyuman tercetah di wajah Antonio, untuk sesaat dia mengagumi kecantikan Emily. Antonio tak pernah senyaman ini jika berada di sisi seorang wanita, bahkan Emily adalah sosok berbeda menurutnya, di saat para wanita di luar sana memuja dan dengan suka hati memberikan mahkotanya justru dialah satu-satunya yang bersikap acuh dan seakan tak tertarik pada uang dan kharismanya.
Mobil sport hitam Antonio sudah berada di depan mansion mewah berwarna putih yang berdiri menjulang tinggi dengan beberapa taman yang dipenuhi lampu-lampu kecil di sekitarnya. Sebelum wanita di sampingnya membuka pintu Antonio sudah terlebih dahulu mempersilakan Emily untuk turun. Entah kenapa, Emily malam ini tampak gugup. Terlebih dengan sikap dan perlakuan Antonio malam ini.
"Ayo.” Antonio berjalan mendahului Emily yang masih terpaku di tempatnya. Sadar bahwa Antonio telah berlalu sedikit jauh meninggalkannya Emily dengan segera mencoba mengimbangi langkah Antonio.
"Hey tunggu aku," ucap Emily sedikit terengah-engah. Dia mencoba berjalan sedikit lebih cepat, akan tetapi lelaki itu tanpa aba-aba justru berhenti dan berbalik ke arahnya hingga membuat Emily menabrak d**a bidang Antonio yang membalikan badan secara tiba-tiba. Untuk sesaat Emily menikmati aroma parfume Antonio yang begitu memabukkan, dia menghirup napas dalam-dalam. Merasakan sensasi nyaman tersendiri saat berdekatan langsung dengan lelaki di hadapannya.
"Sudah puas?" tanya Antonio dengan suara bariton yang terdengar sedikit serak.
Dengan cepat Emily menjauhkan kepalanya dari d**a bidang Antonio, merapikan tatanan rambutnya. Wajah Emily merah padam, bagaimana bisa dia melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Jika kemarin dia memeluknya maka sekarang Emily menghirup aroma tubuh Antonio. Secara terang-terangan.
"Bi-bisa kau lepaskan tanganmu dari pinggang ku?" tanya Emily sedikit terbata, dia menunduk menahan malu juga debaran jantung yang mulai tak terkontrol. Antonio menuruti kemauan Emily, namun Emily justru hampir terjungkir ke belakang. Dengan sigap Antonio kembali menahan tubuh Emily hingga mereka berada pada posisi yang sangat dekat.
Mata mereka bertemu, embusan napas yang terasa di kulit wajah Emily semakin menambah jantungnya memompa lebih cepat. Emily masih merasakan tangan kokoh itu memegang pinggangnga sangat erat.
"Ehem … maaf, Mr. MacKenzie.” Antonio yang memahami maksud Emily kemudian membantunya berdiri, lalu kembali mengajaknya masuk kedalam mansion.
***
Hanya dentingan sendok dan garpu yang mengisi ruang makan, baik Antonio maupun Emily masih sama-sama bungkam. Rasa canggung atas kejadian tadi masih sangat terasa di antara mereka. Emily tak tahu apa yang harus dia lakukan, kejadian tadi sungguh di luar dugaannya. Bolehkah Emily mengagumi Antonio untuk sesaat?
"Dad, kenapa kau diam saja?" tanya gadis kecil berbaju serba pink dengan bandana mirip seperti telonga mickey mouse itu. Dia menatap bergantian kedua orang dewasa di samping dan di depannya.
"Em... yeah, hanya memikirkan sedikit pekerjaan." Antonio mengedikkan bahu, lalu memasukan potongan beef ke dalam mulutnya. Ponselnya kembali berbunyi, lalu sebelum menjawab panggilan telepon itu Bella kembali mengatakan sesuatu yang membuat Antonio menghentikan aktivitasnya.
"Bisakah kau menyimpan sejenak pekerjaanmu saat bersamaku?" tanya Bella dengan wajah sendu, dia menunduk memainkan pasta yang ada di hadapannya.
"Maafkan Daddy sayang, ini yang terakhir. Promise.”
Emily terhenyak saat mendengar penuturan anak sekecil Bella yang memprotes Antonio.
Emily jadi teringat saat di mana Darren yang selalu mengajaknya bermain selepas kepulangannya dari kantor. Dulu Daren akan melupakan pekerjaannya jika sudah bermain dengannya. Namun, itu dulu jauh sebelum kepergiannya. Daren juga selalu memberikan buah tangan jika dia pulang dari kantor. Entah itu kembang gula, boneka atau sepatu baru, Darren selalu memberikannya hadiah.
"Aunty.” Bella menatap Emily yang ikut melamun mengaduk-aduk pastanya, "kenapa kau juga melamun?"
Emily tersenyum, tapi mataya menyiratkan kesedihan. “Aku hanya teringat Daddy juga sayang,"
Antonio memperhatikan interaksi dua wanita berbeda generasi di hadapannya, tapi ada yang janggal yang menyentil pikiran Antonio. Sorot kesedihan Emily tadi seakan berbeda, entah mengapa dia penasaran tentang wanita berambut pirang di hadapannya sekarang. Antonio tahu, Emily sedang berpura-pura tersenyum.
***
"Terima kasih makan malamnya, Mr. MacKenzie.”
"Antonio, cukup Antonio jika memanggilku, aku seakan tua jika kau memanggilku seperti itu,” ucap Antonio dari dalam mobilnya.
"Bukan kah kau sudah tua?" kekeh Emily.
"Baiklah, selamat malam," ucap Emily pelan, akan tetapi masih bisa di dengarkan oleh Antonio. Emily melambaikan tangan dan mulai menjalankan mobilnya. Tanpa menunggu waktu lama mobil sport hitam Antonio melesat keluar dari pekarangan rumah mungil Emily.
"Hugo, cari tau tentang latar belakang Emily Paulina Clark," ucap Antonio kepada asistennya melalui sambungan telepon.
"Baiklah, Sir. Segera akan saya cari info yang Anda mau."
Antonio kembali menyimpan ponsel pintarnya ke dashboard mobil, dia kembalu memacu mobilnya membelah ramainya manhattan di malam hari.