Mentari telah beranjak dari peraduannya. Cahaya yang menyilaukan perlahan masuk dari celah tirai berwarna dusty pink itu, seakan menepuk-nepuk pelupuk mata Emily yang masih larut dalam tidur panjangnya.
Emily mengerjapkan dan membuka matanya, benar saja suara-suara kicauan burung sudah terdengar dari luar. Memaksanya agar segera bangkit dan kembali memulai aktivitasnya.
Ah, sudah pagi ternyata.
Masih menggunakan gaun semalam, Emily berjalan gontai ke arah kamar mandi. Dia segera melakukan rutinitas mandi paginya, entah kenapa bayangan kejadian semalam kembali berputar di pikirannya. Tentang Antonio yang memeluknya dengan erat, bagaimana tatapan mereka bertemu, hingga bagaimana rasanya hati dan jantungnya yang memompa lebih cepat jika berdekatan dengannya.
Dengan cepat Emily menggeleng. Menepis semua kenangan semalam, dia beranjak dari bathup dan segera mengeringkan badan.
Stop it, Emily! ini konyol, jangan memikirkan lelaki bastard itu lagi.
Emily melangkah ke luar kamar mandi, segera memilih baju mana yang akan dia kenakan hari ini. Emily ingin tampil santai dan elegan hari ini, kejadian semalam benar-benar mendorong mood baik wanita berambut pirang itu. Sesekali Emily bersenandung, lalu memoles tipis riasan di wajahnya.
Beberapa menit berlalu, Emily telah siap dengan kemeja berwarna soft blue dan rok hitam pendek beberapa senti di atas lutut. Emily berjalan perlahan menuruni anak tangga dan melangkah ke arah dapur, dengan cekatan Emily mulai membuat sarapan untuknya sendiri. Emily tampak lihai memegang aneka peralatan dapur, bagaimana pun Emily memang tinggal seorang diri, sudah sewajarnya dia harus serba bisa baik dalam urusan pekerjaan, rumah maupun untuk sekadar memasak.
Kesepian sudah menjadi temannya setiap hari, apalagi semenjak keluarga Johanson memutuskan untuk hijrah ke komplek yang terbilang jauh dari rumahnya. Emily menyuapkan sepotong pancake bersaus cokelat, dia mengunyah dengan perlahan dan memperhatikan bangku kosong di hadapannya.
Bahkan makanan seenak apa pun tetap terasa hambar di mulutku, Mom. Andai kau masih ada di sini menemaniku setiap saat.
Emily menggeleng pelan, lalu segera beranjak tanpa menghabiskan sisa makanannya. Emily dengan cepat membersihkan sisa-sisa bekas saus berwarna cokelat pekat itu, beginilah Emily setiap hari. Harus selalu lari dari kenangan dan kesepian seorang diri. Setiap kali memori masa lalu itu datang, setiap saat itu juga dia merasakan siksaan yang menghunus hati.
Di tempat lain, seorang lelaki paruh baya yang sedari tadi menunggui rumah mungil Emily dengan menyunggingkan senyum kecil di wajahnya yang mulai mengeriput. Mata tuanya tak lepas dari memandang wanita yang kini sudah tumbuh menjadi seorang yang cantik dan mengagumkan.
"Aku bersyukur kau baik-baik saja," gumam lelaki tua itu dari balik kaca mobil yang dinaikinya. Dia masih memperhatikan gerakan Emily dari kejauhan dengan hati yang bergemuruh hebat.
Mobil Emily melaju perlahan keluar dari pekarangannya, meninggalkan sebuah mobil hitam mewah yang terparkir tepat di seberang jalanan depan rumahnya. Hanya dengan beberapa menit saja dia sudah tiba di mana tempatnya menyambung hidup selama ini. Entah jika dia tak bertemu Bellatrix kala itu apakah kariernya bisa secemerlang sekarang ini.
Emily masih ingat betul saat di mana dia dan Bellatrix yang selalu duduk termenung di tepi sungai East, berasal dari latar belakang yang hampir sama, membuat mereka lambat laun menjadi teman akrab. Baik Emily maupun Bellatrix telah merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan saat cinta sedang merangkak naik memenuhi rongga hati.
Mereka selalu menyempatkan diri untuk duduk berdua dengan bertukar kisah kehidupan masing-masing, Bellatrix masih dibilang beruntung karena dia tumbuh dan besar di keluarga yang harmonis dan berkecukupan. Hingga saat Emily menceritakan asal-usulnya yang terbilang pahit, dari situlah Bellatrix menawarkan pekerjaan kepada Emily, sebuah posisi yang bahkan tak pernah terbayangkan oleh Emily.
Pantaslah jika sekarang dia harus merawat dan menjaga butik Bellatrix, karena dari sinilah kehidupannya mulai berubah.
Entah itu kehidupannya ataupun percintaannya. Semuanya berubah, tatapannya beralih kepada sosok wanita berambut panjang yang berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum mengembang. Namun, senyum Emily terasa pahit saat melihat siapa yang datang menemani wanita itu.
"Selamat pagi Mrs. Clark." Suara lembut itu meraba indera pendengaran Emily, dengan cepat Emily beranjak dan menjabat tangan wanita di hadapannya.
"Selamat pagi juga Mrs. Phoebe," jawab Emily tak kalah ramah, mengabaikan lelaki yang sedari tadi menatapnya tajam. Emily mencoba sebisa mungkin untuk tak menatap lelaki di samping Rebecca.
"Ah ... ya, bagaimana kabarmu Mrs. Clark?"
"Seperti yang kau lihat sekarang,” kekeh Emily, dia mempersilakan duduk Rebecca dan George di sofa yang khusus disediakan butik untuk para pelanggannya.
"Jadi?" tanya Emily to the point.
"Kami hanya ingin mengetahui perkembangan rencana acara pernikahan kami, Nona Emily,"
"Aku masih mencari tempat yang bagus, karena kau tahu cuaca saat ini sedang tidak kondusif," papar Emily yang hanya diangguki Rebecca.
"Itu juga yang ingin aku sampaikan kepadamu." Rebecca memandang George sesaat. "Kami ingin mengubah lokasi pernikahan, bagaimana jika di hotel saja?"
Emily tampak berpikir, sebenarnya ini bagus dia tak harus repot-repot mencari tempat yang pas untuk acara lelaki sialan di hadapannya.
"Baiklah kalau itu memang keinginan kalian." Emily tersenyum ramah melihat aura kebahagiaan dari sorot mata Rebecca. Dia hanya merasa kasihan bahwasanya wanita sebaik Rebecca harus bersanding dengan lelaki seperti George.
"Bagaimana jika di The Morgan Vale Hotel?"
Rebecca tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk dan menyetujui saran yang Emily usulkan. “Not bad. Aku tahu hotel itu menjadi salah satu tempat mewah di kawasan Manhattan.”
"Ya, dan The Vale Morgan Hotel memiliki Ballroom yang luas, cocok jika Anda ingin mengundang banyak teman, rekan, sahabat ataupun kolega-kolega."
"Kau atur saja, Nona Emily. Dalam beberapa minggu ke depan aku ingin kau segera memberiku kabar baik dan satu lagi, aku suka gaun pengantin rancanganmu."
"Kau salah, itu bukan rancanganku, tapi rancangan dari tangan dingin Mrs. Winston." Emily tersenyum ramah, bagaimanapun kelamnya masa lalu dirinya dan George, dia masih harus bisa bersikap profesional, memberikan yang terbaik untuk kepuasan pelanggan.
Akhirnya percakapan itu selesai juga, Rebecca dan George menjabat tangan Emily sebelum akhirnya mereka pergi. Emily mengembuskan napas lega, karena baru saja dia sudah seperti mayat hidup yang duduk terpaku saat mata cokelat George terus menatapnya lekat. Emily sungguh tak mampu melawan pandangan George yang terus melihatnya dengan tajam.
Emily masih mengingat betul bagaiman George yang hendak menodainya saat berada di Central Park bersama Bella dan Antonio. Jika bukan karena Antonio entah apa yang akan terjadi padanya saat itu.
Antonio?
Mengingat nama itu dia kembali teringat kejadian semalam, di mana jarak dekat antara wajahnya dengan Antonio. Sebuah senyuman seketika tercetak jelas di wajah Emily, menimbulkan rona merah yang tambah jelas terlihat di kedua pipinya.
Shit, kenapa setiap mengingat Antonio jantungku bekerja lebih cepat. Aku tak mungkin jatuh cinta pada lelaki menyebalkan itu. Tidak mungkin.
Emily membolak-balikan majalah fashion di pangkuannya, berharap dia bisa mengenyahkan wajah tampan Antonio dari pikirannya. Dengan cepat Emily menggeleng, dia pasti salah memuji lelaki menyebalkan itu. Deritanya saat ini, saat Tuhan mempertemukannya dengan dua lelaki yang menyebalkan dengan kadar yang berbeda. Hanya saja, Antonio lebih mendominasinya saat ini.
***
Ponsel Emily terus berdering, Emily melirik sekilah ponsel yang sedari tadi bergerak di atas nakas kerjanya. Sudah sepersekian kali benda pipih itu berbunyi hingga membuatnya mau tak mau harus mengangkat panggilan tersebut.
"Ya Hallo, Emily in here."
"Hey, ini aku Clara, bagaimana bisa kau mengacuhkanku, Sister," protes Clara di seberang sana.
"Ya maafkan aku, Cla. Kau tahu pekerjaanku menumpuk."
Terdengar suara kekehan di seberang sana. “Jadi ada perlu apa kau meneleponku, Cla?"
"Datanglah malam ini, apa kau melupakan tanggal dan hari apa ini?" tanya Clara dengan suara yang di buat sesendu mungkin.
Emily mencoba berpikir, apa yang dilupakannya hari ini. Dia mengetuk-etukkan ujung ballpoinnya ke atas keybord laptop miliknya.
"Hari ini ulang tahun pernikahan Mom dan Dad, Em!"
Emily menepuk jidatnya, dalam hati dia mengumpati kebodohannya yang melupakan hari besar untuk kedua orang tua angkatnya.
"Maafkan aku Cla, aku tidak bermaksud melupakannya, kau ta—”
"Ya aku tahu, kau sibuk mempersiapkan pernikahan lelaki sialan itu."
"Baiklah, aku akan datang."
"Aku membenci Emily yang tak peka seperti ini."
"Dan aku menyayangimu, Cla.” Emily terkekeh, malam ini adalah ulang tahun pernikahan orang tua Clara, dia akan memberikan hadiah yang tak kan membuatnya melupakan siapa yang memberinya.