Piknik Bersama

1399 Words
Emily, sudah membulatkan tekadnya untuk menjadi wanita kuat, terutama saat menjalankan tugasnya sebagai wedding organizer George dan Mrs. Phoebe. Sakit, sudah pasti. Namun, sekali lagi Emily adalah wanita yang sudah berteman dengan rasa sakit sedari kecil. Tepatnya saat dia mulai hidup berdua saja dengan ibunya. Emily tertegun sejenak, dia menatap wajahnya dan postur tubuhnya dari sebuah kaca besar di butiknya. Emily meraih sebuah gaun berwarna hitam dengan beberapa mutiara di bagian pinggulnya. Mematut dan berputar-putar memantaskan diri dengan gaun cantik itu. Benar kata Clara, Emily masih harus bahagia walaupun tanpa pendamping, tanpa semua lelaki yang menyakitinya. Sesekali Emily bernyanyi mengikuti irama yang terdengar kencang memenuhi seisi butik. Alunan lagu Love On Top seakan menyihir Emily. Sesekali Emily menari mengikuti musik ke sana dan kemari. Emily ingin membuktikan bahwa tanpa George kehidupannya masih akan tetap berjalan, tanpa lelaki itu Emily masih bisa menikmati hidup seperti orang lain. Jessica hanya menggeleng pelan saat melihat Emily tampil lain seperti dari biasanya. "Nona, kau tampak berbeda hari ini." Jesicca berjalan mendekati Emily lalu meraih gaun malam yang Emily pegang sedari tadi. "Kau tahu, Jessy? ada hal lain yang akan kau dapatkan selama hatimu merasa bahagia. Yaitu ketenangan." Emily memegang pundak wanita berambut hitam sebahu itu, lalu melangkah pergi ke arah ruangannya. Bagaimanapun Emily harus membuktikan bahwa pernikahan antara George dengan wanita itu bukanlah bencana untuk hidup Emily. Dia justru harus berterima kasih kepada Tuhan, bahwa lelaki itu bukanlah yang terbaik untuknya. Bukankah lelaki baik hanya akan datang pada waktu yang tepat dengan membawa cinta yang tulus dari dasar hati? Bukankah cinta sejati datang untuk menemani sampai akhir hayat? Ini tentang cinta, tentang kesetiaan yang masih Emily cari. Samar-samar terdengar suara ketukan pintu, Emily melepas kacamata bacanya, meletakkannya di atas nakas. "Ya silakan Masuk." Bukan Jessica melainkan anak dari pemilik butik, tempatnya bernaung saat ini. "Bella!!" pekik Emily kegirangan. Tanpa pikir panjang dia berlari menghampiri anak berpipi gembil itu, Emily sudah jatuh cinta pada Bella sejak pertemuannya dulu saat acara pembukaan hotel keluarga Winston. Anak cantik bermata cokelat yang sudah dia anggap sebagai anaknya juga. Emily menghambur ke pelukan Bella mengabaikan seseorang yang menatapnya tajam di balik bola mata birunya. "Ehem." Suara dehaman itu menyadarkan Emily bahwa dirinya tak berdua saja, dilihatnya lelaki berbadan tegap yang menatap lurus ke arahnya. "Maaf, Mr. MacKenzie. Saya tidak menyadari kehadiran Anda," ucap Emily ramah, dia tersenyum kikuk bagaimanapun Emily tak pernah mendapat tatapan seperti saat lelaki itu yang menatapnya dingin dan begitu menusuk. Antonio berjalan acuh, tanpa menunggu sambutan Emily dia berjalan dengan tatapan menilai ke sekeliling ruangan yang masih sama seperti saat pertama kali memasukinya dulu. "Apakah ini juga yang menjadi ruangan Bellatrix dulu?" tanyanya tanpa memandang Emily. Kedua bola mata birunya masih mengamati setiap sudut ruangan hingga tatapannya jatuh pada sebuah frame di atas nakas kerja Emily. Untuk sesaat Antonio terkesima dengan wanita bergaun merah dalam frame itu. Sosok itu tampak cantik dengan gaun malam dengan belahan dari bawah hingga ke paha. Dialah Emily. Ternyata dia cantik juga. Antonio dengan cepat mengalihkan pandangannya, dia menatap beberapa dekorasi yang bahkan tak berubah sedikitpun. "Ya, ini masih dekorasi dari Nona Bellatrix. Hanya saja aku mengubahnya sedikit." Emily duduk tepat di hadapan Antonio, dia masih mengapit Bella. Sesekali sebuah ciuman mendarat di pipi dan puncak kepala anak perempjan itu. Kali ini Emily ingat bahwa lelaki yang dia tabrak tempo hari adalah Antonio Mackenzie. "Sayang duduklah bersama Daddy." Antonio menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. "No Dad, aku rindu Aunty Emily, sudah lama aku tidak bertemu dengannya." "Oh sayang, kau manis sekali, besok sudah masuk akhir pekan. Bagaimana jika kita berjalan-jalan ke Central Park?" tanya Emily dengan senyum yang mengembang. Bella terdiam sejenak, gadis kecil itu tampak berpikir sebelum akhirnya memeluk Emily dengan cepat. "Aku mau, Aunty," sorak Bella seraya melompat-lompat kecil di atas sofa. Antonio mencebik kesal, dia tidak bisa membiarkan anak perempuannya pergi begitu saja dengan seseorang yang masih terbilang asing. "Tidak, kau tidak boleh pergi, Princess." Bella yang mendengar ucapan Antonio seketika berubah menjadi murung. "Dad, please ...." "Jika Daddy bilang tidak berarti kau harus mematuhin, Sayang." Antonio menghela napas kasar. "Daddy merindukanmu, setahun begitu lama untuk Daddy, kenapa justru kau ingin pergi lagi." Antonio berjalan mendekati Bella, lalu berlutut menyamakan tingginya dengan anak perempuannya. Bella mendongkak melihat raut muka Antonio yang muram. Saat Emily melihat keadaan yang hampir mirip dengan adegan drama di depannya tiba-tiba dia ikut menyela. "Kalau begitu kau ikut saja, Sir." "Ya, Daddy ikut saja," ucap Bella bersemangat, Antonio menghela napas kasar, hatinya enggan, akan tetapi melihat bagaimana putrinya begitu bersemangat mau tak mau Antonio harus menganggukan kepala. *** Sebuah potret keluarga bahagia, mungkin itulah yang terpikir bagi beberapa orang saat melihat bagaimana Antonio dan Emily menggandeng tangan Bella. Sesuai rencana mereka pergi menikmati akhir pekan di Central Park. Menikmati udara sejuk di bawah pepohonan yang rindang dengan beberapa makanan dan minuman. Sesaat Emily mengagumi penampilan Antonio saat ini. Dengan kemeja putih yang digulung hingga ke siku lelaki itu tampak begitu menawan. Emily memalingkan wajahnya, dia tak ingin tertangkap basah sedang mengangumi lelaki di hadapannya. "Daddy, aku suka berpiknik bersamamu juga Aunty Emily," ucap Bella dengan mulut di penuhi makanan ringan. Antonio berbalik dan berjalan menghampiri Emily dan Bella. "Daddy-pun begitu, Sayang. Harusnya kau di sini bersamaku, biarkan Mommy Bellatrix bersama Daddy Edwarmu di sana." Bella terkekeh sedangkan Emily menggeleng pelan, bagaimana bisa dia mengagumi lelaki angkuh dan menyebalkan seperti Antonio. "Dad, ayo kita berjalan di tepi danau." Bella menarik paksa Antonio, mereka berjalan bergandengan tangan meninggalkan Emily yang masih asyik menyantap semangkuk sereal dan orange jusnya. "Ternyata kau juga di sini." Sebuah suara bariton membuat tubuh Emily menegang, jantungnya seakan-akan berhenti berdetak, ada rasa enggan untuk menengok ke arah di mana suara tersebut berada. "Ternyata dia kekasih barumu," ucap lelaki itu kembali. Tangan Emily mengepal, bahkan di saat seperti ini mengapa harus ada kesialan yang menghampirinya. Setelah pertemuan buruknya beberapa hari lalu, mengapa Tuhan mempertemukannya kembali dengan lelaki yang bahkan Emily sudah muak untuk menatap wajahnya. "Bukan urusanmu," ucap Emily penuh penekanan. Lelaki itu terkekeh, berjalan perlahan mendekati Emily. Setiap langkah lelaki itu maka selangkah juga Emily mundur dari tempatnya. "Kau terlihat tambah... cantik," ucap lelaki itu tepat di belakang telinga Emily. "Stop, George! jangan mengusik kehidupanku lagi!" Jantung Emily memompa lebih cepat, kali ini dia tak melihat sorot ketenangan dari kedua mata hazel George. Lelaki itu kembali mendekat dengan seringainya. "Kenapa, Sayang. Bukankah kau masih mencintaiku?" George memegang kedua pundak Emily erat, mencengkramnya, lalu menghimpitnya di batang pohon tempatnya berada. "Lepaskan aku b******k!!" teriak Emily. Namun, lelaki itu semakin mencengkram bahu Emily. Seakan-akan ringisan kesakitan Emily adalah lelucon untuk George. "Aku merindukanmu, Babe. Aku sudah mencoba dengan cara halus kemarin. Namun, kau mengabaikanku." Wajah George mendekat, hidung mereka bersentuhan. Ingin rasanya Emily berlari tapi nihil, kekuatan George tidaklah bisa dia hadapi. "Menjauh dariku!!" teriak Emily semakin kencang, tubuhnya bergetar, ini bukanlah George yang Emily kenal dulu. George yang tenang dan bijaksana. Kedua mata Emily terpejam, pasrah akan apa yang terjadi. Emily terus memohon agar siapa saja ada yang sudi membantunya. Terdengar suara hantaman, dengan cepat Emily memhuka kedua matanya dan George tiba-tiba tersungkur di tanah dengan luka memar di rahangnya. Antonio datang di saat yang tepat. Dia menghujani George dengan beberapa pukulan di wajahnya. Dialah yang menolong Emily, dengan membabi buta Antonio kembali menghajar George hingga lelaki itu tak berkutik. "Jauhi wanitaku," ucap Antonio dingin dengan wajahnya tanpa ekspresi, matanya menggelap karena emosi. d**a bidangnya naik turun menahan emosi yang sangat terlihat begitu menggebu. "Pergi! jauhi Emily Mr. Rodriguez atau besok sahammu akan berada di titik terbawah," lanjut Antonio, George yang menyadari lelaki itu adalah Antonio MacKenzie segera bangkit, lalu pergi menjauh dari Emily. Emily masih terduduk di tempatnya, seluruh badannya bergetar. Ada rasa takut yang masih menyeruak di hatinya. "Tenanglah, aku akan menjagamu dari lelaki b******k itu." Tanpa pikir panjang Emily menghambur ke pelukan Antonio, dia menangis tersedu di d**a bidang Antonio. Menikmati aroma musk yang begitu membuainya dan membuatnya tenang untuk beberapa saat. Menyadari posisinya sekarang membuat Emily tiba-tiba mendorong tubuh Antonio hingga lelaki itu hampir saja jatuh tersungkur. "Hei, kau yang memelukku." "Maaf, Sir. Itu kesalahan." Emily menunduk menahan malu. "Kau baik-baik saja Aunty?" tanya Bella yang sukses mengembalikan pikiran Emily. Gadis kecil itu menghambur memeluk Emily yang masih berdiri didekat Antonio. Tanpa menjawab, Emily hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Bella. Antonio terkekeh melihat bagaimana perubahan raut muka Emily, pipinya berubah seperti kepiting rebus. Wanita keras kepala yang sedang salah tingkah adalah hiburan tersendiri untuk Antonio.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD