Emily duduk di bangku yang terletak dan tertata rapi di tepian sungai East. Dia menghirup dalam-dalam udara pagi yang masih terasa sangat segar. Ia menoleh ke arah kanan, di sana tampak beberapa orang sedang asyik bersepeda ada juga yang hanya sekedar duduk berjemur di bawah sinar mentari.
Emily sudah mengambil keputusan bahwa George haruslah ia lupakan. Cukup sudah ia menjadi wanita bodoh dengan menanti cinta yang sekarang menghujam jantungnya.
“Aku sudah yakin bahwa kau akan pergi ke sini.”
Emily menoleh ke arah sumber suara, hatinya kembali diremas saat melihat sosok tegap yang berdiri di sampingnya. Betapa Emily ingin menghambur kepelukan lelaki yang ia rindukan bertahun-tahun lamanya. Namun, ia seakan tertampar dengan kenyataan bahwa dia akan menikahi wanita lain.
“Untuk apa kau ke sini,” ucap Emily lirih. Ia memalingkan wajah, berusaha sekuat mungk agar air mata tak mengaliri kedua pipinya.
Lelaki itu George, kembali menghela napas kasar. “Dengarkan aku, emily ….”
“Stop it, George! we are finished. Nothing to talked or heard anymore.”
Untuk sesaat keheningan menyelimuti mereka, tatapan mereka bertemu, hanya deru napas yang terdengar saling bersahutan. “Tolong, lupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Kau sudah memilih jalanmu, sekarang biarkan aku memilih jalanku.”
Emily mundur, lalu melangkah pergi meninggalkan George yang masih mencerna semua ucapan darinya. Pagi hari yang Emily harapkan akan menjadi sempurna justru berubah menjadi kelam karena kehadiran orang yang sudah tak di harapkan lagi dikehidupannya dan bahkan dalam mimpinya sekali pun.
Emily terus berjalan mengabaikan segelintir orang yang menatap aneh padanya. Sesekali Emily menyeka air mata yang sedari tadi tertahan, hingga tangisnya pecah saat dia sudah berada di dalam mobil. Jemari lentiknya mencengkram seat kemudi mobilnya hingga buku-buku kukunya memutih.
Emily tak mengerti kenapa George kembali masuk ke kehidupannya. Dia juga tak paham dengan maksudnya yang memilih wedding organizer tempatnya bekerja untuk mengurus segala pernikahannya. Tak bisa dipungkiri, George masih berada di dalam hatinya, bukankah melupakan itu tak bisa semudah saat kita jatuh cinta?
Emily menggeleng pelan. Dia tak bisa terus nampak menyedihkan seperti ini, kurang dari beberapa minggu lagi Emily akan melawan batinya, katakan saja wanita berambut pirang itu sedang menggali lubang kesedihannya dengan menerima umpan dari George.
Jika sedang gelisah, di sinilah tujuan Emily. Sebuah pusara tempat bersemayamnya sang ibu.
“Mom, apakah aku salah jika mencintai. Seperti cintamu yang salah saat terlabuh kepada Daddy? apakah aki salah jika pada akhirnya memilih setia walaupun terkhianati sepertimu?”
Emily menggigit bibir bawahnya, suaranya tercekat. Tangannya mengelus sebuah nisan yang bertuliskan Isabelle Clark.
“Mom, harusnya kau berada di sini. Mengajariku agar menjadi kuat sepertimu saat menunggu Daddy pulang hinga tengah malam.”
Emily kembali menyeka air matanya. Sudah hampir sejam dia berdiam diri di tempat peristirahatan ibunya. Sudah selama itu juga ia habiskan untuk menangis dan berbicara tentang perasaannya.
Jadilah wanita terkuat dengan melawan kesedihanmu.
Kata-kata sang ibu masih menari-nari di memorinya, dengan cepat Emily menghapus jejak air mata yang masih tertinggal di wajah cantiknya. Dia adalah Emily, bukan wanita cengeng seperti para tokoh wanita di novel-novel romance yang selalu dia baca, di mana mereka akan terus meratapi kisah cintanya.
***
Emily telah kembali ke butik, akan tetapi penat di kepalanya belum juga hilang. Sedikit berbelanja mungkin tidak akan terlalu buruk, dia pernah membaca sebuah berita bahwa dengan berbelanja rasa penat akan sedikit berkurang.
Wanita berbaju merah dengan rok pensil hitam selututnya berjalan ke kuar ruangan. Dilihatnya Jessica yang manata beberapa manekin yang terpasang gaun-gaun malam yang terlihat gkamour.
"Jesicca, aku akan pergi ke kuar. Katakan aku sedang sibuk dalam beberapa hari ini aku sedikit lelah,” ucap Emily seraya berlalu tanpa menunggu balasan dari asistennya.
Emily berjalan di sekitar trotoar sepanjang Seventh Avenue. Emily sedikit ingin berbelanja dan melupakan sejenak beban di hatinya. Mungkin menambah koleksi tas atau sepatu bukanlah ide yang buruk.
Dia terus masuk dari satu toko ke toko yang lain entah itu berbelanja atau hanya melihat-lihat dan benar kata orang belanja adalah obat yang tepat untuk para wanita jika sedang dalam keadaan yang tak baik.
Emily terus menenteng tas belanjaannya hingga kedua iris birunya tertuju pada anak kecil berambut cokelat yang sedang duduk di kedai ice cream.
Princessa Bella!
Dengan segera Emily berjalan mendekati Bella—anak angkat dari atasannya. Dia tak tahu bahwa Nona Bellatrix datang ke Manhattan. Biasanya Bellatrix jika melakukan kunjungan akan menghubungi Emily dahulu.
"Bella!" Emily melambaikan tangan kepada anak kecil yang masih sibuk memakan ice cream-nya.
Merasa namanya di panggil anak bernama Bella itu pun menatap ke arah pusat suara tersebut.
"Aunty Em!" pekik Bella dengan mulut yang masih dipenuhi ice cream cokelatnya.
Emily menyebrang jalanan yang sedang lengang, ia terus berjalan mendekati Bella hingga akhirnya ia mendaratkan bokongnya tepat di sebelah anak berpipi chubby itu.
“Kau tumbuh semakin cantik,” ucap Emily seraya mencubit pipi gembil Bella.
“Aww … sakit, Aunty!”
Emily melihat ke sekeliling, bahkan dia menengok ke arah dalam kedai, tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran Bellatrix ataupun suaminya. Tatapannya kembali tertuju pada Bella kecil yang masih fokus pada ice cream-nya.
"Dengan siapa kau ke sini, Sayang?" tanya Emily dengan mengerutkan dahinya. Hanya ada seorang lelaki berjas hitam sedang serius membaca sebuah majalah bisnis.
Tunggu aku pernah bertemu dengannya. Sial, aku lupa namanya.
"Daddy," balas Bella singkat tanpa melihat Emily. Bella masih asyik menikmati cemilan dan es krimnya mengabaikan wanita dewasa di hadapannya yang sedang menatapnya lekat.
"Daddy? tapi Aunty tak melihat daddy-mu di mana pun.” Emily semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Bella yang tak memandangnya sedikitpun.
"Aunty, lihat daddyku sedang duduk di hadapanmu."
Emily memutar pandangannya, matanya membola mendapati bahwa lelaki berjas hitam itu adalah yang disebut Bella sebagai Daddy-nya. Tampan, itulah yang pertama terlintas di pikiran Emily. Seorang lelaki yang memiliki warna mata sama persis dengannya duduk dengan gayanya yang terbilang sangat classy.
"Tap-tapi bukankah daddymu itu Mr.Winston?" tanya Emily sedikit berbisik.
"Daddy!” Bella tak menjawab pertanyaan Emily, justru dia menarik lengan pria yang dipanggilnya Daddy itu.
“Daddy dengar, Sayang,” ucap lelaki itu seraya melihat Emily dengan seksama. Dia mengulurkan tangannya untuk menjabat Emily.
"Antonio MacKenzie." Antonio mengulurkan tangannya kepada Emily yang masih pada posisi awalnya. Perlahan Emily duduk seraya tersenyum canggung, dia menyelipkan sehelai rambutnya, lalu membalas uluran tangan itu.
"Emh … ah, iya saya Emily Paulina Clark, orang kepercayaan Mrs. Winston di sini."
Antonio menaikan sebelah alisnya, entah mengapa wanita di hadapannya terlihat aneh dengan segala sikap dan kegugupannya.
"Baby, sudah waktunya ayo kita segera pergi," ucap Antonio kepada Bella.
"Yes, Dad," ucap Bella seraya mengangguk lalu berdiri. "Aunty, aku pergi dulu, senang bertemu denganmu lagi. Lain kali aku akan mampir ke butik Mommy dan menemuimu." Bella mencium pipi Emily lalu pergi mengekor pada lelaki yang ia panggil Daddy itu.
Setahun tak bertemu dengan gadis kecil itu sungguh sifatnya semakin baik, dia memiliki wajah yang cantik dengan kedua bola mata cokelatnya. Emily terus memuji Bella, betapa beruntungnya Mrs Winston memiliki anak sebaik Bella. Emily berlalu pergi dengan menenteng beberapa bag shoping-nya, dalam pikirannya dia masih dihantui beribu pertanyaan tentang lelakk tampan yang dipanggil Bella dengan sebutan Daddy.
Emily terus berjalan hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukan pukul enam sore, mentari pun sudah kembali ke peraduannya. Emily masih berjalan di sekitar trotoar, menikmati udara sore yang sudah lama tak Emily nikmati dengan berjalan kaki seperti sekarang ini.