Emily berdiri di dekat jendela, menatap nyalang jalanan padat Manhattan. Dia beberapa kali menghela napas, sesekali tangannya memijit pelan pelipis kepalanya yang mulai terasa pusing. Langkah besar baru saja dia pilih, di mana dirinya dengan percaya diri menyanggupi project pernikahan antara George dengan wanita lain.
Oh, God! Semua ini sangat berat. Apakah aku sanggup ….
Dua bulan dari sekarang, pernikahan itu akan terjadi. Dia harus bersiap jika esok hatinya akan lebih sakit saat menyaksikan George mengucapkan janji suci pernikahan untuk Rebecca. Sebulir cairan bening keluar begitu saja dari sudut matanya, namun dengan cepat dia menyeka dan menggeleng pelan agar kepalanya berhenti memikirkan laki-laki itu.
Emily berbalik dan berjalan ke arah meja kerjanya, dengan secepat kilat tangannya meraih tas dan ponselnya lalu pergi ke arah luar. Emily butuh tempat menyendiri, bukan di sini tapi di tempat lain.
“Jessica, aku pergi dulu. Jika ada apa-apa kau bisa langsung menghubungiku,” ucap Emily kepada asistennya, wanita berambut hitam legam itu hanya mengangguk tanpa banyak bertanya.
Emily kembali berjalan dan secara kebetulan dia berpapasan dengan laki-laki yang paling dihindari untuk saat ini. Pandangan mereka bertemu, Emily menatapnya dengan tatapan sengit sedangkan laki-laki itu menatapnya dengan tatapan sendu yang sarat akan penyesalan. Laki-laki itu mencekal pergelangan tangan Emily dengan erat hingga Emily meringis kesakitan.
“Lepaskan aku, b******k! Kita sudah selesai,” desis Emily, kedua mata birunya menatap tajam laki-laki yang tidak lain adalah George.
“Emily, setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. You love me, right?” tanya George. Namun, Emily justru menatapnya dengan senyum mengejek.
“Sayangnya aku sudah tidak mencintaimu, Bastard.”
Aku masih mencintaimu, George. Tapi, kau juga yang memaksaku untuk membencimu. Lanjut Emily dalam hati.
George melepaskan cengkramannya meninggalkan luka yang memerah. “Aku tahu, kau masih mencintaiku.”
“Dalam mimpimu!” Emily berlalu meninggalkan George yang masih berdiri di sana. Dia segera berjalan dan masuk ke mobilnya.
George menatap kepergian Emily, tiba-tiba setumpuk penyesalan itu semakin nyata saat melihat bagaimana sorot kesakitan dari kedua mata Emily.
“Apa pun akan kulakukan nuntuk mendapatkanmu lagi, Emily. Termasuk membatalkan pernikahan konyol ini.”
Emily duduk di sebuah restoran cepat saji, tak ada yang dilakukannya selain mengaduk-aduk kopi yang bahkan sudah kehilangan suhu panasnya. Mood-nya benar-benar hancur, sesekali dia menghela napas kasar, merutuki bagaimana nasibnya. Lagi-lagi harus merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan, setelah ayahnya, lalu ibunya dan sekarang George. Laki-laki yang selalu dia jadikan sandaran saat benar-benar putus asa menjalani kerasnya kehidupan.
Emily masih ingat betul bagaimana George yang dulu selalu menghiburnya, mendengarkan keluh kesahnya dan dia juga yang dulu berjanji akan kembali dari Sidney hanya untuk menikahinya. Lagi, Emily merasa menjadi wanita terbodoh karena mau menunggu bertahun-tahun untuk laki-laki b******k seperti dia.
"Ehem ...." Seorang laki-laki bermata hazel dengan rambut sekelam cokelat berdeham pelan. Emily menatapnya sekilas sebelum akhirnya dia kembali menatap secangkir mug putih berisikan kopi.
"Bolehkah aku ikut duduk di sini?" tanya laki-laki itu dengan kedua tangan membawa nampan berisikan makanan.
Emily menghela napas kasar, dia melihat laki-laki muda di hadapannya. “Duduklah.”
Laki-laki itu dengan cepat duduk di hadapan Emily. Di jam makan siang seperti ini seluruh restoran cepat saji memang selalu dipadati pengunjung. Emily pikir dengan secangkir kopi panas dapat menghilangkan segala kekecewaan yang berkecamuk di hatinya. Terlebih pertemuannya tadi dengan George.
Waktu berlalu dengan begitu cepat, tak terasa laki-laki itu telah menghabiskan separuh pasta mashroom di hadapannya. Sesekali dia menatap Emily yang masih bergeming, tidak ada percakapan apa pun baik dirinya maupun wanita berambut ikal kecokelatan itu.
"Emh, maaf jika aku mengganggumu, tapi tempat di sini penuh semua," ucap laki-laki itu dengan ramah, satu tangannya meraih segelas minuman bersoda yang berada di sampingnya.
"Tidak masalah," balas Emily tanpa memandang laki-laki itu. Tangannya masih mengaduk-aduk kopi yang belum dia minum sedikit pun.
"Namaku Dylan Louis Hamilton, kau bisa memanggilku Dylan atau semaumu saja.” Laki-laki bernama Dylan itu menyodorkan tangan ke arah Emily. Namun, Emily hanya melirik sekilas tanpa berniat membalas uluran tangan itu.
"Aku Emily,” balas Emily singkat. Seketika raut muka laki-laki itu terlihat canggung lalu menarik kembali tangannya. Setidaknya Dylan tahu nama wanita cantik di hadapannya.
***
Emily baru saja tiba di rumahnya. Namun, dia tak lantas masuk ke dalam rumah, sebuah kursi rotan tua menjadi tujuannya kali ini. Dia berjalan gontai lalu duduk di kursi itu dengan tatapan kosong, sepanjang hari pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh pertemuannya tadi siang dengan George.
Emily tak bisa menyimpan ini seorang diri, dia butuh sandaran dan Clara adalah satu-0satunya nama yang terlintas di kepala. Dengan cepat Emily mengambil ponselnya lalu menghubungi Clara. Hanya butuh beberapa detik hingga akhirnya suara Clara dapat terdengar dari balik ponselnya.
"Cla, kau ada di rumah?" tanya Emily kepada Clara dengan cepat.
"Yes, apa kau akan ke rumah?"
"Sepertinya iya."
"Aku tahu sesuatu yang buruk tengah menimpamu, datanglah kemari dan ceritakan apa masalahmu."
"Kau memang sahabat yang baik."
"Harusnya kau menyadari itu," kekeh Clara di seberang sana lalu Emily memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Lalu dengan cepat Emily kembali berjalan ke arah mobilnya, dia kembali melajukan mobil ke arah rumah keluarga Johanson. Emily sebisa mungkin menghilangkan jejak laki-laki itu dengan mengencangkan suara musik yang hampir memekakkan telinganya.
Baru saja Emily beranjak, tiba-tiba laki-laki yang paling tak diinginkannya berdiri di halaman. Pakaiannya masih sama, hanya wajahnya lebih kusut dan rambutnya tak beraturan. Ingin rasanya Emily menghampiri laki-laki yang sudah dia rindukan lima tahun terakhir ini, memeluk dan mengatakan betapa dia merindukannya.
“Kau?”
“Emily, aku akan membatalkan pernikahanku. Tolong maafkan aku dan kembalilah padaku.” George mendekat, Emily bergeming dan tanpa diduga George memeluknya. Untuk sesaat Emily terenyuh dengan sikap George, hasratnya yang telah lama terpendam seolah menguar seiring pelukan George yang kian erat. Namun, tiba-tiba wajah wanita itu berkelebat di ingatannya. Emily mendorong, memaksa George agar melepaskan pelukannya.
“Pergi dan lupakan kita pernah bersama!” Emily mengentakkan kaki dan mengurungkan niatnya untuk ke rumah Clara. Dia masuk dan meninggalkan George yang masih bergeming di posisinya. Emily sungguh bukan wanita jahat yang akan menukar kebahagiaan wanita lain untuk kebahagiaannya.
"Betapa brengseknya kau George," lirih Emily seraya menyeka air matanya.