Part 6. Dia juga Berubah

1034 Words
POV Andre Aku yang sedang asyik berbicara kepada Medina via aplikasi hijau melalui ponsel sedikit tersadar seperti ada suara di rumahku, aku putuskan untuk mengakhiri obrolanku dengan Medina meskipun belum puas rasanya, aku takut ada penyusup yang masuk kerumahku karena pintu tidak ku kunci. Setelah keluar dari kamar aku menyapu sekeliling ruangan dengan mataku, ruang tengah dan ruang keluarga kosong Tampa ada tanda-tanda kehidupan di sana, lalu aku keruangan dapur untuk memastikan jika dirumah ini benar benar tidak ada orang. Namun aku mendengar suara yang berasal dari kamar anak anakku, ya! aku baru teringat kepada mereka dan Andin? mungkin saja mereka sudah pulang Tampa memberi kabar kepadaku, aku sedikit kesal dengan kepulangan Andin segera aku melangkahkan kaki kedepan pintu berencana langsung masuk saja untuk memberikan peringatan kepada Andin. "Andin? kalian ada di dalam?" ucapku sambil mengetuk daun pintu, aku bertindak seperti ini takutnya jika Andin sedang menidurkan Faiz, terlalu berisik membuat Faiz tidak bisa tidur bahkan bisa mengamuk meskipun sedang kesal kepada Andin aku tidak mau terjadi hal seperti itu. Pintu terbuka dan Andin berdiri tepat di ambang pintu yang terbuka hanya setengah "ada apa mas?" Tampa senyuman Andin langsung melemparkan pertanyaan kepadaku. "Ada apa? kamu bertanya ada apa Andin? tidak sadarkah kau sedang berbuat sebuah kesalahan?" aku mulai tersulut emosi, bisa bisanya Andin tidak menyadari apa yang telah di lakukannya. "Aku salah mas? memangnya aku berbuat apa? rasanya tidak ada yang aneh dengan yang aku lakukan, seharusnya aku yang bertanya demikian kepada kamu mas." "Kau sudah keterlaluan Andin, baru saja pulang kerumah ini kau sudah cari ribut, istri seperti apa kau ini Andin!." emosiku semakin bertambah, padahal baru saja aku berbicara dengan Andin, perbedaan antara Medina dan Andin semakin kentara saja. "Siapa yang cari ribut mas? kamu yang mulai duluan kok" ucap Andin Tampa rasa bersalah sedikitpun, tidak seperti biasanya Andin kali ini. "Sepuluh hari di tempat ibumu kau sudah berani melawan suami mu Andin? apa ini pelajaran yang kau terima dari ibumu selama berada di sana? bagus Andin, bagus, seratus buat kamu" aku bertepuk tangan untuk memberikan penghargaan kepada istriku. "Jaga mulut kamu mas! jika aku berani melawan kamu itu karena salah kamu mas, jangan bawa bawa ibu, ibu tidak ada hubungannya dengan masalah kita!" Andin semakin berani saja, dia berbicara sambil menunjuk wajahku dengan telunjuk aku semakin yakin jika ibu Andin sudah berhasil mempengaruhi anaknya untuk melawan padaku, toh ibunya Andin memang tidak menyukaiku, menyesal sudah mengizinkan Andin pergi kerumah ibunya. "Kok kamu semakin kurang ajar Andin!" aku membentak Andin dengan keras, habis sudah kesabaranku menghadapi Andin yang semakin susah di atur. "Kalau aku kurang ajar berarti kamu yang ngajarin mas, bukankah kamu adalah imamku" jawab Andin lantang, aku terkesiap mendengar andin berbicara demikian padaku ini tidak biasa di lakukan oleh Andin, biasanya Andin bicara dengan lemah lembut dan tenang, pengaruh ibu Andin sangat besar kali ini. "Aku ini suamimu Andin, ayah dari anak anakmu, hormati aku jika kau tidak mau menjadi istri durhaka, Allah murka Andin!" kubesarkan mataku untuk memberikan kesan sangar kepada Andin, kutunjuk jari telunjuk keatas untuk mengingatkan kepada Andin bahwa tuhan akan murka kepada istri yang durhaka. Andin membuang wajahnya kesamping saat aku berbicara kalimat yang terakhir, dia seakan mengejek ucapku barusan, sepertinya mengajar Andin tidak bisa lagi melalui kata kata, ya, aku akan menghukum dia, tidak lagi menunggu Andin berbicara aku langsung pergi dari hadapannya masuk kekamar dan membanting pintu dengan keras agar Andin benar benar sadar jika aku sedang marah besar. Aku duduk di tepian ranjang menunggu Andin menyusul untuk meminta maaf kepadaku namun setelah 15 menit tidak ada tanda tanda Andin masuk kekamar, aku semakin heran terhadap perubahan sikap Andin yang hampir 100%, Andin yang penurut tidak lagi ku kenal, apa dia sudah mengadu pada ibunya terhadap pertengkaran kami malam itu? sehingga ibunya menghasut Andin? aku frustasi mencari jawaban dari perubahan sikap Andin. Biarlah untuk sementara ini Andin dengan sikapnya yang baru, bukankah aku punya Medina tempatku mencurahkan segala isi hatiku, walaupun kami baru dekat beberapa hari ini aku merasa sangat akrab dengan Medina. "Kamu sudah tidur Din?" Aku mulai berselancar di aplikasi hijau untuk mengobrol dengan Medina, rencananya aku ingin curhat kepada Medina mengenai masalahku dan Andin, siapa tau Medina punya solusi buatku. "Belum mas, kok kamu belum tidur?" Aku dapat lampu Hijau untuk ngobrol dengan Medina, tak ku buang waktu sia sia, ku ceritakan pertengkaran antara aku dan andin untuk mengurangi beban pikiranku. "Kok mbak Andin seperti itu ya mas, sepertinya mbak Andin tidak mau menghargai mas lagi sebagai suaminya kalau aku sih jadi mas gak mau tinggal diam, harga diri sebagai seorang suami harus lebih tinggi mas" Setelah mendengar cerita dariku sepertinya Medina tidak setuju dengan sikap Andin, aku senang dengan jawaban Medina. "Jadi mas harus bersikap bagaimana terhadap Andin?" Aku penasaran dengan jawaban apa yang akan Medina berikan. "Mas, sebuah hubungan itu ibaratkan rumah, jika sebuah rumah mampu memberikan kita rasa nyaman kita akan betah berada di sana, namun sebaliknya jika rumah itu kenyamanannya sudah rusak sebesar apapun usaha kita untuk memperbaiki rasanya tidak akan pernah sama seperti semula" Jawaban yang sangat cerdas, aku semakin kagum dengan wanita yang bernama Medina ini, hatiku mulai berandai andai jika medina yang berada di posisi Andin aku tidak bisa menggambarkan kebahagian seperti apa yang aku dapatkan, dia benar benar wanita idaman. "Kita terlambat bertemu" Jariku berhasil mengetikkan kalimat yang mempunyai banyak arti setelah berperang melawan hati dan pikiranku, sekarang perasaanku tidak menentu menunggu balasan dari medina, mau di hapus pesannya sudah centang dua biru. "Biarlah terlambat tetapi di waktu yang tepat, aku tau rumah tanggamu sedang bermasalah meskipun tidak secara rinci dan aku juga sadar rumah tanggaku juga seperti itu, kita sudah di takdirkan mas bukan begitu? bukan kah saat ini kita sama sama membutuhkan?" Aku terperanjat mendapatkan pesan yang begitu berani dari Medina, maksud dari pesan yang dikirim oleh Medina membuatku kembali berpikir keras, kita sudah di takdirkan dan kita sama sama membutuhkan? kalimat itu memang sangat tepat mewakili aku dan Medina, aku butuh seseorang yang memberikan kenyamanan dan dia butuh seseorang untuk mengisi kesepiannya, aku kembali teringat saat makan malam bersama Medina, kami juga membahas tentang sebuah hubungan, pertemanan dan permasalahan kami dan sekarang semuanya semakin jelas dengan kedekatan kami, aku semakin yakin jika aku dan Medina memang sudah di takdirkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD