POV Andin
"Kenapa suamimu tidak menjemput? sudah hampir sepuluh hari kamu disini" tanya ibuku tajam saat aku menikmati sarapan pagi berdua dengannya, hari ini anak anakku di ajak oleh Azran pergi bermain di kolam renang.
"Dia lagi sibuk! " jawabku singkat, aku tidak suka jika duduk berdua dengan ibu kalau harus membicarakan mas Andre, pasti aku dan ibu ujung ujungnya akan bertengkar.
"Sibuk? sepuluh hari sibuk semua?" ibuku tentu tidak akan percaya sepenuhnya dengan ucapanku.
"Hmm." ucapku sambil menyuap roti yang sudah aku olesi dengan selai kacang.
"Kau percaya begitu saja?" tanya ibuku serius dan aku balas dengan anggukan karena sambil mengunyah makanan.
"Kalian pasti sedang bertengkar bukan?, dan kau mencoba menutupinya dengan berbohong kepada ibu bukan?" perkataan ibu membuatku berhenti menguyah, ternyata benar kata orang feeling ibu terhadap keadaan anaknya tidak pernah salah.
Aku menghela napas dalam dalam, mencoba untuk menetralkan perasaanku sendiri, makanan yang aku kunyah segera kutelan jangan tanya soal rasa sudah pasti hambar di lidah ku karena ucapan ibu.
"Ibu merawatmu sejak kecil Andin, tidak ada yang bisa kau bohongi dari ibu, bahkan ibu bisa menilai perasaanmu dari sorot matamu Andin" ibu berbicara tegas tetapi sangat menyentuh perasaanku, betapa ibu mengenal diriku melebihi siapapun.
"Sku akan pulang jika hati ini sudah sedikit tenang, ibu tidak perlu mengantarku" ucap ku singkat.
"Tidak baik menyelesaikan masalah dengan menghindari masalah tersebut" jawab ibuku.
Aku kembali diam, ucapan ibu membawaku kembali teringat dengan ucapan mas Andre malam itu, dengan gampangnya mas Andre membandingkan aku dengan wanita lain, aku tidak menyangka ternyata selama ini dia tidak suka dengan penampilanku yang memang kuakui berantakan karena mengurus 3 orang anak laki laki dengan jarak satu tahun bukanlah hal yang gampang, di tambah lagi dengan pekerjaan rumah yang menumpuk tiada habisnya membuat aku kehilangan waktu untuk diriku sendiri.
Aku kira mas Andre tidak masalah dengan keadaanku dan dia mau memaklumi diriku, ternyata aku salah tidak protesnya mas Andre dengan penampilan ku selama ini adalah bentuk protes yang tidak bisa k*****a dari seorang lelaki yang telah menikahiku selama 6 tahun.
"Habiskan sarapanmu, setelah itu bereskan seluruh pakaianmu dan anak anak, ibu akan mengantarmu pulang" ucap ibu membuat aku tersadar dari lamunanku, kemudian ibu meninggalkan diriku sendiri di meja makan dengan sepotong roti yang baru ku gigit bagian pinggirnya.
***
Sepanjang perjalanan menuju pulang aku tidak banyak bicara, pikiranku berkelana entah kemana karena ibuku berencana menginap dirumahku selama beberapa hari. aku sangat khawatir jika keberadaan ibu membuat mas Andre tidak nyaman namun meminta ibu tidak usah menginap di rumahku juga tidak mungkin
Hari sudah menjelang isya ketika kami sampai di depan rumah, rumah terlihat sangat sepi dan tidak ada sambutan dari mas andre karena aku sengaja tidak memberitahu rencana kepulangan kami karena aku masih merasa jengkel kepada mas Andre, selama kami di rumah ibu tidak sekalipun dia menelpon kami.
"Ayo Bu!" aku yang sedang menggendong anakku karena tertidur dalam perjalanan dan menggandeng anak ku yang tengah menuntun ibuku yang juga menggandeng anak sulungku masuk kedalam rumah, pintu hanya tertutup rapat Tampa terkunci memudahkan akses kami masuk kedalam rumah yang 10 hari sudahku tinggalkan.
"Kemana suamimu?" tanya ibuku memecah keheningan dan kebingunganku yang juga mencari keberadaan mas Andre.
"Mungkin tidur." ucapku asal sambil terus menuntun ibu ke kamar anak anak karena rumah kami hanya memiliki 2 kamar, jika ada tamu terpaksa harus tidur di kamar anak anak, kadang anak anak terpaksa harus tidur bersama kami.
"Tidur kok jam segini!" cibir ibuku yang ku anggap sebagai angin yang lalu, aku terus menuntun ibu menuju kamar yang melewati kamar kami, kulihat pintu tertutup tetapi aku tidak sengaja mendengar dengan jelas seperti suara orang yang sedang berbicara di dalam sana.
"Aku tidak bercanda baby, kamu itu semakin cantik" ucapan mas Andre begitu jelas di telingaku, langkahku terhenti mendengar ucapan itu.
"Iya.. kita jalan-jalan ya.. kamu mau kita pergi kemana?" suara mas Andre terdengar sangat ramah, sepertinya dia sedang berbicara melalui ponsel tapi yang membuat hatiku panas adalah teman bicara nya itu sepertinya seorang wanita.
Tampa berpikir lagi ku langkahkan kaki kedepan pintu dengan tangan yang sudah menggantung di atas untuk mengetuk keras daun pintu yang tertutup rapat, tetapi dengan cepat tangan ibuku menyambar tanganku yang terkepal sempurna yang hampir mendarat pada daun pintu.
Aku menoleh kearah sumber pemilik tangan kutatap matanya, tidak ada ucapan yang keluar dari bibir hanya gelengan kepala menandakan ibu tidak setuju dengan tindakanku.
Ibu langsung menarik tanganku menuju kamar anak anakku, untung saja anak anakku sedikit kelelahan sehingga mereka tidak banyak bicara.
"Langsung tidur ya, besok nenek akan mengajak kalian bermain di taman "ucap ibuku pelan tetapi berhasil membuat anak-anak menurut, ku akui ibu selalu punya senjata ampuh dalam hal membujuk cucunya.
"Kenapa ibu melarangku memergoki mas Andre sedang berbicara mesra dengan seseorang" aku sudah tidak sabar lagi menunggu keterangan dari ibu.
Ibu yang sedang mengusap kepala tiga cucunya segera membalikkan badan menghadapku.
"Jangan bodoh menghadapi lelaki seperti dia Andin, dia akan punya banyak alasan untuk bersilat lidah, kau harus punya bukti yang kuat baru kau bisa menangkap basah suami tersayangmu itu " ibu memberikan saran sambil menyindir diriku.
"Bukti apa lagi ibu, malam ini dia sudah membuktikan dia tidak layak menjadi suamiku "air mataku mulai jatuh rasanya tidak sanggup lagi menahan tangisan ini, dan juga rasa malu kepada ibu karena tidak pernah mendengarkan nasehatnya.
"Bermain cantiklah Andin sehingga ketika dia terbukti menyeleweng darimu dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari pernikahan kalian kecuali apa yang ada pada diri nya, jika saat ini kau melakukannya kau tidak punya bukti yang cukup kuat" ibuku seperti mendapatkan alasan yang tepat untuk memisahkan aku dan mas Andre meskipun aku belum berpikir sejauh itu.
Aku tidak menjawab, pikiranku sangat kacau hingga tidak bisa mengeluarkan kata-kata hanya air mata tanpa suara yang terus mengalir dari sudut mataku, ucapan mas Andre yang kemarin masih terngiang di telingaku ditambah lagi dengan pembicaraan mesra yang kudengar langsung dari mulut mas Andre.
Apa yang salah dengan diriku, apakah aku benar-benar buruk di mata suamiku sehingga mas Andre mulai berpaling dariku tetapi aku tidak akan pernah menyangka mas Andre akan tega melakukan hal itu kepadaku seberapa banyak aku berpikir mas Andre tidak akan pernah berpaling dariku tapi kenyataannya sekarang dia mulai melakukannya.
"Andin! kalian ada di dalam?" sebuah ketukan di daun pintu menyadarkan aku dari lamunan, aku menatap ibu yang masih duduk di depanku untuk meminta pendapat apa yang akan aku lakukan selanjutnya karena untuk saat ini aku mulai ingin mendengarkan nasehat ibuku, mas Andre sudah mulai mencoreng rasa percaya ku kepadanya biasanya aku akan mati Matian membela mas Andre di depan ibu tetapi kali ini tidak kulakukan.