Part 4. Awal sebuah Hubungan

1038 Words
POV Andre Sudah hampir seminggu Andin dan anak anak berada dirumah ibunya, hari hari kulalui seperti biasanya yang berbeda hanya Andin dan anak anak tidak bersamaku, rindu pun mulai menjalar perasaanku terutama pada si bungsu faiz, canda tawa dan celotehnya membuat aku sangat ingin bertemu dengan mereka. Tetapi aku tetap harus bisa menahan rindu itu, berpisah sementara ini adalah memberikan Andin ruang dan waktu untuk berpikir sejenak atas kekurangan dia sebagai seorang istri, aku harus kuat menahan ini semua. Semenjak Andin tidak ada di rumah aku juga jarang keluar rumah kecuali bekerja, tetapi untuk menghibur diriku aku mengisi waktu dengan berkomunikasi kepada tetangga cantik ku Medina melalui aplikasi hijau, sesekali menghibur diri selama istri tidak ada dirumah adalah sebuah kewajaran untuk menjaga kewarasan, selama itu hanya sebatas teman dan hanya sebagai hiburan semata, itu adalah buah pemikiranku. "Mas Andre, mbak Andin sudah pulang?" sebuah pesan dari Andin kembali masuk kegawaiku membuat konsentrasiku langsung buyar, padahal pekerjaan membuat perangkat pembelajaran untuk hari esok belum terselesaikan. "Belum, memangnya ada apa?" "Kalau kamu tidak keberatan aku mau ngajak kamu makan malam di luar" pesan Medina cukup menohok bagiku, apa maksud Medina mengajakku makan di luar? apakah dia mulai menyukaiku? atau hanya mengisi kekosongannya saja karena suaminya tidak pernah ada dirumah? berbagai macam dugaan muncul dalam benakku. "Baiklah, dimana kita bertemu?" entah mengapa jariku langsung menulis setuju dengan ajakan Medina, padahal hatiku menolak untuk pergi bersamanya, biar bagaimanapun aku takut mata orang akan sumbang melihat kami berduaan makan malam di luar, pekerjaanku yang masih menumpuk ku abaikan. Medina langsung menyebutkan sebuah tempat yang berupa sebuah cafe untuk tempat kami bertemu. *** Aku sudah sangat rapi dengan style santaiku ala anak muda, baju kaos hitam polos di padukan dengan jaket Levis bewarna biru muda dengan bawahan jeans bewarna senada dengan baju kaosku, stelan ini menjadi pilihan akhir setelah beberapa kali berganti pakaian. Setelah mendapat pesan dari Medina tadi aku langsung pergi memotong rambutku agar terlihat rapi dan lebih muda. Tingkahku sudah seperti anak muda yang ingin pergi ngapel, tetapi aku bukan seperti mereka, aku hanya malu kepada Medina jika aku tidak menyesuaikan diri dengannya, bukan maksudku ingin terlihat tampan di depan Medina. aku sadar diri jika aku sudah punya istri dan 3 orang anak. "Terimakasih mas sudah mau menemaniku makan malam" ucap Medina dengan senyuman manisnya, malam ini dia terlihat cantik sekali, sikapnya sangat anggun dan sangat tenang tidak seperti istriku jika di bawa makan diluar rumah, selain dari penampilannya yang amburadul dia juga sangat grasak grusuk mengurus anak anakku, bahkan terkadang kami jadi pusat perhatian orang tatkala anak anak bertengkar karena merebutkan sesuatu, pergi dengan istri dan anak anak sangat melelahkan. "Ada apa mas? kok bengong? kamu tidak suka dengan tempatnya" pertanyaan Medina mengagetkanku dari lamunan. "Eh, sorry Medina, bagus kok aku suka, selera kamu bagus juga" aku berusaha menyembunyikan pikiranku yang sebenarnya, kekagumanku kepada medina tidak boleh terlihat nyata. "Ini salah satu tempat favorit aku mas, makanannya enak enak disini, kamu pilih saja yang kamu suka, aku yang traktir malam ini" ucap Medina sambil tersenyum manis, aku mengangguk sungkan rasanya tak biasa aku di perlakukan wanita seperti ini, biasanya jika pergi bersama Andin pasti semuanya aku yang handle, mulai dari pemilihan tempat, makanan, minuman sampai pembayaran, Andin hanya mengurus anak anak saja, dengan alasan seperti itu aku jarang mengajak Andin makan diluar terlalu Ribet. "Lho, kok bengong lagi mas, ada apa? lagi ada masalah keluarga?" tanya Medina sambil menatap sendu kepadaku, aku yang di tatap seperti itu bertambah salah tingkah. "Hm! gak kok Medina, aku hanya bingung dengan nama menu seperti ini." sedikit alasan untuk membuang kekakuan sikapku malam ini. "Lho, mas ini kan menu biasa, kamu kan juga seorang ASN, ini tempat favorit para pegawai Lho mas, jadi aku rasa menu seperti ini tidak asing bagi kamu" Medina terlihat heran dengan alasanku. "Aku sangat jarang makan diluar Medina, Andin selalu masak dan aku selalu di buatkan bekal oleh Andin" "Oh, beruntung sekali menjadi Andin, bisa memperhatikan kebutuhan suami setiap saat" raut wajah Medina yang begitu bergembira berubah menjadi sedih. "Maaf ya Medina, bukan saya mau menyinggung kamu" aku berusaha menetralkan kondisi hati Medina. "Iya gak apa-apa, aku hanya bisa berandaikan jika aku berada di posisi Andin aku juga akan melakukan hal yang sama" "Apakah kau menginginkan posisi seperti Andin?" tanyaku heran, karena jika aku menjadi wanita sudah tentu aku lebih memilih menjadi wanita seperti Medina, dia wanita yang sangat beruntung. "Tentu saja mas Andre, Andin paket lengkap, semua yang dia punya aku tidak memilikinya" "Tapi aku lebih suka wanita sepertimu Medina, cantik setiap saat, pintar, berkarir dan pasti semua wanita ingin jadi seperti dirimu" akhirnya pujian yang berusaha aku simpan karena merasa tidak pantas akhirnya keluar juga dari mulut ku, padahal aku sudah berusaha agar tidak mengatakannya karena aku sadar Medina adalah istri orang dan aku adalah suami orang. "Tetap saja mas, aku merasa kesepian, suami sangat jarang dirumah, anak juga belum punya" Medina sepertinya ingin berbagi cerita kepadaku. "Jika masalahmu hanya kesepian kamu bisa minta temani aku, bukankah kita sekarang adalah teman" ucapku meyakinkan Medina, entah apa yang sedang aku yakin kan kepada tetangga cantikku itu. "Aku takut mbak Andin akan marah" mimik manja dari medina semakin membuatku gemas. "Apakah jika tidak ketahuan dia akan marah?" aku seperti mendapatkan sebuah kesempatan emas dari wanita impian ku, aku berusaha menolak kesempatan itu tapi dia terus kembali, aku akan mencobanya, Andin pasti mengerti. "Kamu serius dengan ucapanmu itu mas?" Medina menyambar tanganku yang terletak diatas meja, jariku di remasnya lembut membuat jantungku berdebar kencang, ah, mungkinkah aku sedang jatuh cinta kepada makhluk tuhan yang paling sempurna ini? wajar saja jika aku jatuh cinta kepadanya, aku rasa laki laki manapun akan jatuh cinta melihat kesempurnaan Medina. "Bagaimana dengan suamimu?" kucoba untuk memutar balikan pertanyaan yang sama kepadanya. "hahaha, mas Danu tidak akan pernah mengetahui apapun yang aku lakukan mas,n dia itu terlalu sibuk mengurus bisnisnya" Medina juga meyakinkanku, sama seperti ucapanku kepadanya entah apa yang sedang di yakinkan Medina kepadaku, apakah hanya sebatas hubungan teman atau ada hubungan selain itu, terlepas dari semua itu aku tidak merasa berdosa kepada Andin karena aku sedang tidak selingkuh, aku hanya sedang menjalin pertemanan yang berbeda kali ini aku berteman dengan seorang wanita lagipula wanita itu adalah tetangga kami, tidak ada yang lebih spesial dari itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD