POV Andin
Setelah enam tahun mengarungi biduk rumah tangga kukira gelombang yang kami lewati semakin lama akan semakin mengecil, ternyata aku salah, firasatku gelombang yang akan kami lewati adalah gelombang yang sangat besar dan sangat menguji kekuatan biduk rumah tangga kami, aku tidak meragukan diriku tetapi aku mulai meragukan mas Andre!
Malam ini aku putuskan tetap tidur sekamar dengan mas Andre, meskipun aku tidur membelakanginya. aku sudah melupakan salah satu dosa seorang istri kepada suami karena rasa sakit hatiku terhadap sikap dan ucapannya malam ini.
Air bening dari sudut mataku terus menetes bagaikan curahan hujan yang tidak bisa berhenti, puasku tahan namun usahaku sia sia, hanya saja aku berharap mas Andre tidak menyadari jika aku sedang menangis karena aku tidak ingin terlihat lemah dengan tangisan ini.
***
"Mana suamimu Andin?" tanya ibuku tajam, karena biasanya jika aku berkunjung kerumah ibu aku pasti memaksa mas Andre untuk ikut, tetapi kali ini bahkan mengajaknya pun aku tidak ingin.
"Sedang sibuk Bu, biasanya akhir bulan mas Andre banyak kerjaannya Bu, rekap inilah, itulah" ucapku berbohong, jika aku mengatakan yang sebenarnya sikap mas Andre akhir akhir ini hingga membuatku marah sudah pasti ibu akan memintaku bercerai dengan mas Andre, aku tidak melakukan itu karena aku memikirkan anak anakku yang masih kecil, bagaimana nasib mereka jika aku bercerai dengan mas Andre.
"Baguslah, ibu lebih senang kau datang sendiri dari pada bersama suamimu itu, karena ibu ingin berbicara hal yang penting kepadamu" ucap ibu sambil menghirup secangkir teh hangat, kami sedang duduk di teras rumah sambil memperhatikan anak anakku bermain di halaman bersama sepupu dan kakeknya.
"Memangnya ibu mau berbicara apa denganku, lagi pula ada mas Andre dan tidak ada apa bedanya sih Bu?" aku tetap protes jika ibu masih menunjukan rasa tidak sukanya kepada suamiku, biar bagaimanapun saat ini rasa cintaku pada mas Andre tidak berubah.
"Kamu kenapa sih masih bertahan sama suami kamu itu, apa yang kamu lihat dari dia?" ibuku memulai pembicaraan serius, tapi sejujurnya aku tidak suka jika ibu membahas tentang mas Andre, sejak awal menikah mas Andre bukanlah menantu idaman ibuku, pekerjaannya Guru Pegawai negeri di salah satu sekolah yang cukup terkenal tidak membuat ibuku bangga.
"Bu, mas Andre itu adalah lelaki pilihanku, jadi jangan tanya kenapa aku masih bertahan dengannya, tentu cinta dan sayangku serta anak anak kami adalah alasannya" masalah sebesar apapun aku tidak pernah menceritakan kepada ibuku, terlebih aku tau ibuku tidak menyukai mas Andre.
"Bercerai lah dengan dia apapun alasannya, ibu akan mencarikan mu pria yang lebih mapan dan gagah" ucapan ibuku berhasil menyemburkan air teh yang hampir sampai di tenggorokanku, tidak ku sangka ibu sampai menyuruhku melakukan sesuatu yang di benci oleh Allah karena rasa bencinya kepada mas Andre.
"Tidak ibu, aku tidak akan melakukan hal seperti itu, seberapa besarpun rasa benci ibu kepada mas Andre tidak akan pernah bisa mempengaruhi perasaanku" ucapku mantap.
"Buka matamu Andin, hidup pas Pasan dengan suamimu itu apa tidak membuatmu bosan? hanya mengandalkan gaji yang tidak sampai 5 juta per bulan kau sanggup bertahan dengannya, luar biasa " ejek ibuku membuat aku sedikit emosi, kuakui usaha ibu dan ayah di bidang sembako sangat sukses sehingga mereka memiliki beberapa toko grosir, tetapi aku tidak suka dengan cara ibu menilai kehidupan keluarga kecilku.
"Kebahagiaan tidak selalu tentang materi Bu!" jawabku sinis sambil melemparkan pandanganku kepada anak anak yang masih asyik bermain di halaman.
"Benar ucapanmu, tetapi jika tidak karena ibu sudah pasti kalian akan tinggal di rumah kredit yang akan kalian cicil hingga anak anakmu sudah ingin berkeluarga nanti" ejek ibuku yang sangat menyentuh perasaanku, kenapa kalimatnya itu sangat benar, aku terdiam tidak menjawab, karena meladeni ibu sepertinya tidak akan pernah ada akhirnya.
"Jadilah wanita yang sedikit realistis Andin, ibu hanya kasihan melihat dirimu, penampilan mu saja tidak sama dengan orang lain, apa aku harus menegur suamimu secara langsung?" ucapan ibuku kembali membuat hatiku seperti teriris belati tumpul, sangat perih. ternyata bukan saja suamiku, bahkan ibuku juga mengomentari penampilanku.
"Ini salahku ibu, bukan salah mas Andre, aku tidak ingin membuang buang uang hanya untuk sebuah penampilan, bagiku untuk anak anak sudah cukup" aku tetap membela mas Andre, meskipun kenyataannya benar jika uang yang di berikan oleh mas Andre kepadaku hanya cukup untuk belanja dapur dan sekolah anak anak dengan sedikit menabung sudah cukup bagiku.
"Tentu saja untuk berhemat kan? heh! si Andre itu sangat pandai mendidik mu, seharusnya dia dapat empat jempol dariku" ucap ibuku putus asa, berulang kali ibu ingin menjatuhkan harga diri mas Andre aku selalu membela mas Andre, menurutku itulah salah satu tugas istri yang sesungguhnya, menjaga harga diri suami selama kita menjadi istrinya.
"Sudahlah ibu, bagaimanapun aku membela suamiku di depan ibu dia tetap tidak ada benarnya bukan, karena sejak awal ibu tidak menyukai mas Andre, tapi setidaknya ibu lihat dia, selama ini apa pernah ibu mendengar dia menyakitiku? memukulku? berselingkuh dariku? hal hal yang ditakutkan oleh semua wanita tidak ada pada dirinya ibu" aku coba meyakinkan hati ibu, semoga hatinya luluh dengan ucapanku.
"Hingga saat ini memang aku tidak mendengar, tapi waktu masih panjang bukan? bisa saja esok atau lusa dia melakukannya, jangan terlalu percaya Andin" ucapan ibu bagaikan petir di siang hari, bagaimana mungkin ibu mengucap sesuatu seperti sebuah harapan dan do'a, rasa bencinya kepada suamiku membuat ibuku menginginkan sesuatu yang buruk terjadi dalam rumah tangga kami.
"Astaghfirullah ibu! ibu sadar dengan ucapan ibu barusan? apa ibu lupa bahwa ucapan seorang ibu bagaikan sebuah do'a yang akan langsung tembus ke langit tampa halangan apapun? ibu sudah mengharapkan hal yang buruk terjadi padaku" ucapku penuh emosi.
Aku kemudian berdiri dari kursi melangkah masuk kedalam rumah besar milik ibu, semakin lama berbicara dengan ibu membuatku semakin banyak dosaku, selain dari dosaku kepada suamiku dan dosaku kepada ibuku.
***
"Ibu, ibu, Faiz lapar" samar sama aku mendengar rengekan putra bungsuku.
"Hmmm, apa sayang?" ucapku lemah, aku sangat mengantuk karena semalaman boleh dikatakan aku tidak tidur karena berperang dengan pemikiranku sendiri, ditambah lagi ucapan ibu yang membuat pikiranku semakin semrawut.
"Adek lapar... adek mau makan ayam pop seperti kak nazwa" Faiz menggoyangkan bahuku agar aku segera bangun.
"Dimana belinya nak?" tanyaku sambil berusaha duduk untuk mendengarkan lebih banyak ocehan putraku.
"Di depan ibu, adek juga mau beli mainan seperti kak Najwa, mobil mobilan ibu.. bagusss banget" rengek anakku manja.
"Nanti ya sayang, kalau ayah sudah gajian" pujuk ku, bukannya aku tidak mau menuruti permintaan anakku, tetapi aku tau mainan yang dimaksud oleh Faiz bukanlah mainan yang murah sudah tentu jika aku membeli aku akan mengirit belanja selama 3 hari.
"Faiz, Faiz mau beli apa? ayo sama nenek saja" tiba tiba ibu muncul dari arah pintu, entah sejak kapan ibuku berada di sana menguping pembicaraan antara diriku dan anakku.
"ibu! " aku berusaha memberi kode kepada ibu agar dia tidak menuruti keinginan putraku, tujuanku adalah untuk mendidik faiz agar tidak semua keinginan bisa terpenuhi.
"Ayo Faiz, om azran dan kak nazwa sudah menunggu di mobil" ibu tidak sedikitpun mengindahkan aku.
"Hore... " Faiz bersorak kegirangan.
"Faiz tidak boleh ikut ya nak, Faiz pergi sama Ibu saja" aku harus mengambil keputusan, bukannya aku tidak suka Faiz di belikan sesuatu oleh ibuku ataupun Azran adik kandungku, aku juga ingin mengajarkan kepada anakku untuk tidak memenuhi segala keinginan dengan multicara.
"Kamu ini gimana sih, masa ibu tidak boleh membelikan makanan dan mainan untuk Faiz, kamu tidak kasihan lihat anakmu!"
"Hiks hiks hiks" Faiz menangis lalu memeluk ibuku, tentu saja karena pembelaan yang dilakukan oleh ibuku membuat Faiz tidak mendengar ucapanku.
"Ini semua gara gara suami tersayang kamu kan?kasihan sekali cucuku, ayo sayang ikut nenek" Tampa meminta persetujuanku ibu langsung menggandeng tangan Faiz meninggalkan diriku yang masih belum sempat mengucapkan kalimat apapun.
Ibu sangat mendominasi dalam keluarga kami, apapun ucapannya harus diikuti oleh anggota keluarga, oleh sebab itu mas Andre kurang suka dengan sikap ibu, begitupun ibu dia juga tidak menyukai suamiku karena perkejaan mas Andre hanya seorang Guru Pegawai negeri yang menurut ibuku gajinya tidak mencukupi, padahal menurutku gaji mas Andre sudah lebih dari cukup untuk hidup sederhana kecuali jika kami ingin berfoya-foya tentu seberapa besarpun gaji mas Andre tidak akan pernah cukup.