Part 2. Cinta yang Pudar

1060 Words
POV Andre Setelah pertengkaran kecil dengan Andin aku pergi meninggalkannya seorang diri di ruang tamu lalu masuk kekamar dan menguncinya dari dalam, hatiku sangat kesal dengan Andin yang tidak tau malu telah menuduhku menyukai Medina tetangga baruku. Sebenarnya tuduhan Andin tidaklah benar, aku tidak menyukai Medina tetapi aku sangat mengagumi wanita itu, wajahnya yang cantik dan segar serta tubuhnya yang sangat bagus di tunjang dengan penampilannya yang selalu modis di setiap aku melihatnya membuat mataku betah menatap Medina dari ujung kepala hingga kaki, wanita itu bagaikan tiada cacat dan cela. Jauh berbeda dengan istriku, jangankan berkarir seperti Medina, wajahnya saja tidak terurus, jika di dalam rumah rambutnya sangat berantakan dan kusut, wajahnya sangat kusam dan penampilannya itu baju daster yang di gunakan istriku sama sekali tidak memanjakan mataku di tambah lagi dengan bau keringat yang selalu tercium di hidungku, ahhh! dia sangat berbeda jauh dengan Medina. Aku kembali membuka gawai yang sempat aku simpan di dalam kantong celana, sambil berbaring aku membuka aplikasi biru, aku berniat melanjutkan blusukan pada profil Medina di aplikasi itu. Medina baru saja meng-upload foto makan malam dirumahnya, bukan hanya aku tetangga lain juga di undang oleh Medina, bedanya mereka semua datang membawa pasangan hanya aku saja yang datang sendiri karena aku malu membawa Andin ikut serta bersamaku. "Mas Andre sedang apa?" tiba tiba Medina mengirimkan pesan mesengger kepadaku. Hatiku berdebar, wanita yang akhir akhir ini mengalihkan perhatianku mengirimkan sebuah pesan kepadaku, aku bingung harus menjawab apa, beberapa kali mengetik aku hapus kembali. "Kenapa tidak balas mas, kamu sedang sibuk? maaf ya mengganggu" kembali pesan dari Medina membuatku bingung harus membalas apa, tetapi aku tidak boleh mensia-siakan kesempatan, aku harus membalas pesan darinya. "Tidak kok mbak Medina, saya sedang ingin istirahat" akhirnya aku membalas pesan dari Medina. "Oh ya mas, tadi kok mbak Andin tidak di bawa?" Aku kembali memikirkan alasan yang paling tepat untuk aku sampaikan terhadap pertanyaan Medina. "Andin memang tidak ingin ikut, aku tidak bisa memaksakannya bukan" aku rasa ini alasan yang paling tepat atas pertanyaan Medina. "Owh, sepertinya mbak Andin agak sentimen dengan aku ya mas" diakhir kalimat Medina tidak lupa menambahkan emotion sedih. Aku tidak menyangka jika Medina menyadari sikap istriku yang tidak suka kepadanya. "Jangan di ambil hati ya mbak" hiburku. "Jangan panggil aku mbak, Medina saja" aku tersenyum, ternyata tetanggaku sangat ramah, di luar dugaanku. "Mas, buka pintunya!" suara Andin dari luar mengalihkan perhatianku, aku ragu untuk membukanya atau mengabaikan panggilan Andin, jika pintu ku buka sudah pasti berkirim pesan dengan Medina harus ku hentikan untuk malam ini, karena jika ketahuan Andin akan terjadi bencana besar nantinya. "Mas! kenapa pintunya di kunci?" kali ini suara Andin di ikuti dengan ketukan yang begitu nyaring pada daun pintu. Aku terdiam sejenak dalam dilema. "Mas, buka pintunya sekarang!" suara Andin semakin keras saja, aku khawatir tetangga akan mendengarnya sudah tentu aku akan menjadi malu, Andin benar benar tidak memberikanku kesempatan sedikitpun. "Ahhh, mengganggu saja" aku bangkit dari pembaringan dan beranjak kearah pintu. "Apakah mas tidak ingin aku tidur denganmu malam ini?" setelah pintu di buka Andin langsung melemparkan pertanyaan kepadaku dengan mimik wajah yang tidak bisa aku artikan. Aku diam, rasanya tidak ingin menjawab karena sudah pasti jawabanku salah dan Andin kembali akan marah padaku. "Diam tanda iya, baiklah, untuk sementara malam ini aku akan tidur di kamar anak anak dan besok aku akan pulang kerumah ibu untuk beberapa hari, anak anak aku bawa semua" Andin berjalan melewatiku menuju lemari pakaian. "Apa kau ingin aku ikut serta?" tanyaku hati-hati, meskipun aku tidak ingin ikut karena aku tidak kerasan berada di rumah mertuaku karena mereka tidak begitu menyenangi ku, Andin tau betul kalau aku sangat enggan jika di ajak kerumah orang tuannya. "Tidak perlu, aku meninggalkanmu agar kau introspeksi diri, merenungi kesalahan yang sengaja kau lakukan" ucap Andin sambil memasukan pakaiannya kedalam sebuah tas. Tentu saja aku sangat tersinggung mendengar ucapan Andin "introspeksi?" ucapku sambil mengerutkan kening "seharusnya kamu yang introspeksi diri Andin!" "Mas... kalau sudah salah mengaku saja apa susahnya sih! aku akan memaafkan mu kok jika kamu mau berubah" Andin berdiri mantap sambil menatapku seperti sedang menantang. "Seharusnya kau sadar akan kesalahanmu Andin, coba kau pikir lelaki mana yang tidak akan terpukau melihat mbak medina, dia wanita yang sangat cantik dan rapi, dia sangat menjaga penampilannya meskipun suaminya jarang dirumah, sedangkan dirimu.. heh, " mulutku dengan lancar memuji Medina dan meremehkan istriku, aku tau ini salah, tetapi aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran kepada ibu yang telah melahirkan anak anakku itu, semoga saja ucapanku membuat Andin sadar akan dirinya. Andin menatap diriku setelah aku meremehkan dirinya, entah apa maknanya pandangan itu, sepertinya sangat dalam dan aku tidak bisa mengartikannya, tidak ada tetes air mata yang jatuh dari pipinya karena ucapanku yang cukup tajam, kuakui istriku cukup kuat. "Aku selalu mendukungmu dalam segala hal mas, aku yang menemanimu dari nol hingga sekarang, aku mengorbankan seluruh kehidupanku, kesenanganku, pendidikanku demi kamu dan anak anak, apa ini balasanmu" ternyata mata Andin sudah mulai berembun, tetapi aku tidak mengerti mengapa ucapanku tidak membuat istriku itu paham juga malahan dia dengan lancangnya berucap seperti seorang pahlawan yang telah di khianati. "Aku sedang tidak membicarakan soal pengorbanan mu Andin, tetapi kau selayaknya seorang istri bisa menyenangkan hati suamimu ini, bukan saja soal makan dan pakaianku, rumah bersih ataupun anak anak yang terawat, tetapi soal dirimu yang tidak bisa merawat wajah, tubuh dan penampilanmu, mataku tidak kuat jika harus menatapmu setiap hari dalam keadaan seperti itu, cukup 6 tahun ini saja" aku harus berkata jujur kepada Andin, sekali lagi demi kesadaran Andin terhadap kesalahannya. "Owhh jadi mas menginginkan aku seperti mbak Medina?" tanya Andin menantang, akhirnya dia sadar juga. "Iya .. aku butuh istri yang bisa menyegarkan mataku" aku luruskan saja ucapannya agar Andin semakin paham dengan apa yang aku butuhkan. "Baik, aku akan melakukannya mas, aku akan menjadi seperti yang kau inginkan, tetapi ingat!" "Apa? masalah uang?" tentu saja aku langsung dapat menebak apa yang ada dalam pikiran istriku, bukankah semua wanita punya pola pikiran yang sama "apakah uang yang aku berikan kurang?" Andin diam tidak menjawab, diamnya ku artikan sebagai iya. "Baiklah, aku akan memberikan sebagian uang Tunjanganku untuk dirimu" tidak apa, walaupun uang gajiku sudah ku berikan semua kepada Andin mungkin itu tidak cukup sebagai perawatan dan pakaian modis untuknya. Kulihat Andin menghembuskan napasnya secara kasar, yang ku katakan seperti sebuah beban berat saja padahal aku hanya memintanya untuk merawat diri bukan memintanya untuk bekerja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD