Pagi pertama sejak kedatangan Sheila, kediaman Adiwangsa tak lagi terasa sama, Arumi turun ke ruang makna dengan gaun rumah berbahan satin yang angun wajahnya datar tanpa emosi. Di sana ia mendapati Sheila sudah duduk Di kerusi yang biasa ditempati Arumi, tempat Di setelah Reihan..
"Selamat pagi mbak Arumi" - sapa Sheila dengan senyuman Manis yang Di paksakan, ia tampak sengaja mengelus perutnya yang Masih rata, maaf mbak tadi aku ingin membantu memasak tapi mas reihan melarangku untuk masak, kata mas Reihan aku harus banyak istirahat demi si kecil".
Reihan menatap Arumi dengan tatapan membela "benar Arumi, Sheila sedang hamil Dan agak lemah aku harap kamu bisa memaklumi kalau Dia sedikit lebih manja sekarang", Arumi tidak membalas ia menarik kerusi Di hujung meja agar lebih jauh Dari Mereka, Arumi pun mengingatkan Sheila yang " Bi Bik Sumi yang urus dapur" kamu Sheila adalah tamu Di sini Dan tamu seharusnya tahun tempatnya Di mana.
mata Sheila berkilat mendengar kata "tamu" namun ia segera menunduk saat Reihan menoleh padanya "tidak apa-apa mas, aku mengerti posisi mbak Arumi pasti sedang sulit",
setelah Reihan berangkat ke kantor suasana rumah berubah seketika, Sheila yang tadinya tampak rapuh kini berdiri dengan punggung tegak Di depan Arumi yang sedang menyesap kopi Di teras belakang.
cukup sandiwaranya mbak"- ucap Sheila suaranya tak lagi lembut kini terdengar parau Dan penuh tantangan, mas Reihan tidak ada Di sini Dan kita tidak perlu berakting".
Arumi pun meletakkan cangkirnya perlahan" jadi ini wajah aslimu??''
Sheila tertawa kecil, melangkah mendekat hingga jarak Mereka hanya satu lengan. " aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk posisi ini, kamu mungkin punya akta nikah Dan harta tapi aku punya benih Reihan Dan Di keluarga ini anak adalah segalanya Dan setelah bayi ini lahir kamu pikir ibu mertuamu akan berpihak kepadamu??.."
Sheila mengambil vas bunga kecil Di meja samping Arumi lalu dengan sengaja menjatuhkannya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Ups, " Sheila menyeringai "sama seperti vas ini posisimu Di hati Reihan sudah hancur, Arumi sebaiknya kamu bersiap-siap mencari pengacara untuk gono-gini sebelum aku mengambil ya semula. arumi menatap pecahan kaca itu, lalu menatap Sheila dengan senyuman tipis yang membuat Sheila merinding, "kamu baru saja memecahkan barang yang harganya lebih mahal Dari seluruh isi lemari pakaianmu Sheila, tapi terima kasih kamu baru saja memberiku Alaskan untuk tidak merasa bersalah saat menghancurkanmu nanti.."
tanpa menghiraukan Sheila yang mulai emosi Arumi masuk ke ruang kerjanya Dan mengunci pintu, ia mengambil ponsel tersembunyi Dari laci meja yang terkunci. ia menghubungi sebuah nombor yang sudah lama Dia tidak hubungi.
"halo dewa?," ucap Arumi dingin, "aku butuh laporan audit internal perusahaan untuk tiga bukan terakhir, fokus pada pengeluaran peribadi Reihan yang Di samarkan sebagai biaya operational, Dan satu lagi cari tahu siapa Sheila sebenarnya sebelum bertemu dengan suamiku".
dewa orang kepercayaan mending ayahnya yang selama ini Di singkirkan oleh Reihan ke kantor cabang menjawab dengan nada tegas " siap buk Arumi, Saya sudah menunggu saat ini tiba",.
Arumi menutup Telefon, mata ya menatap foto ayahnya Di meja kerja " permainan baru saja Di mulai" Sheila fikir Dia sedang berhadapan dengan seorang isteri yang patah hati, padahal Dia sedang berhadapan dengan pemilik sah kerajaan yang kini siap mengambil kembali apa yang sudah menjadi miliknya.