"Putri jelek dan tidak berguna seperti mu memang sepatutnya tidak berada di sini!" suara yang terdengar santai namun sangat menusuk itu menyuara.
Gadis kecil yang kini tengah meringkuk di lantai sudah menangis menumpahkan airmatanya.
"Bereskan semua barang mu karna sebentar lagi kamu akan pergi dari sini!" Valeno kembali bersuara, tatapan dinginnya menghunus tajam pada gadis kecil yang menangis.
"Ayah, tolong jangan jual aku!" Mohon Gwen yang telah bersimpuh di kaki Valeno.
Dengan kasar, Valeno menghentakkan kakinya hingga membuat tubuh mungil Gwen terhempas.
"Jangan sentuh saya dengan tangan kotor mu! menjijikkan!" Valeno tak menghiraukan isakan tangis Gwen, dirinya seakan sudah lupa jika Gwen juga bagian dari darah dagingnya.
Valeno melangkah keluar dari kamar- atau mungkin lebih tepat di sebut sebagai gudang itu.
Gwen terus terisak, dia sangat takut. Gwen bahkan benci pada dirinya sendiri, kenapa dia harus terlahir cacat seperti ini.
Tak lama Nana, selaku pelayan sekaligus pengasuh Gwen masuk dan memeluk gadis mungil itu. Nana merasa sangat iba pada Gwen, sedari kecil dia sudah di benci oleh keluarganya.
"Nona, jangan menangis lagi. Tenanglah, aku disini." Hanya itu hanya Nana mampu ucapkan untuk menenangkan Gwen.
"Aku tidak mau pergi Nana. Ayah akan menjual ku." racau Gwen yang tangisnya sudah sedikit reda.
Nana menggeleng, "Tidak nona, tuan tidak menjual nona.".
"Benarkah?" Senyum Gwen langsung terbit.
"Tapi mengapa aku harus mengemasi barang-barang ku?" tanya Gwen kemudian.
Nana menggenggam erat tangan Gwen, "Nona akan segera menikah."
Gwen mengernyit, setaunya menikah hanya dilakukan oleh orang dewasa yang saling mencintai.
"Tapi aku masih kecil dan tidak mencintai siapapun Nana. Bukankah dulu kau bilang jika menikah hanya dilakukan oleh orang dewasa dan juga saling mencintai seperti kak Belle dan Tuan Robert?"
"Nona, dengarkan. Cinta itu bisa datang dari mana saja, dia seperti sinyal yang terhubung satu sama lain. Jika kelak nona merasa jatuh cinta maka nona akan mendapat sinyal dari diri nona sendiri." Jelas Nana panjang lebar.
Gwen tidak terlalu mengerti namun dia langsung mengangguk, bagi Gwen, Nana adalah sosok ibu yang harus selalu Gwen dengarkan.
"Apa nanti aku tidak bisa menemui mu lagi?"
"Tentu saja bisa nona. Saya akan mengunjungi nona atau nona bisa mengunjungi saya di sini." jawab Nana tersenyum.
Gadis ini masih berusia 20 tahun, namun sudah bisa berpikir dewasa layaknya seorang ibu. Nana adalah sosok wanita penyayang dan baik hati.
"Baiklah, lebih baik sekarang nona tidur. Saya yang akan membereskan koper anda."
"Baik Nana."
Gwen naik ke atas tempat tidur yang nampak lusuh dan tidak terlalu besar itu. Dirinya mulai merapalkan impian yang selalu dia ceritakan pada bintang malam.
___
Pagi ini Gwen sudah rapi dengan gaun putih dan juga rambut perak yang di kepang satu dengan poni imutnya. Ya, Gwen sangat cantik.
Kini adalah saatnya, Gwen akan menikah dengan seseorang yang dia tak kenal dan bahkan tak tahu namanya.
Pernikahan ini tak memiliki acara yang mewah, hanya pengucapan janji di depan pendeta dan setelahnya, Gwen dan suaminya akan di antar ke kastil yang sudah di siapkan oleh Antonio.
Hanya memakan waktu sekitar 30 menit hingga acara benar-benar selesai, dan disinilah Gwen sekarang sedang duduk di dalam kereta kuda menunggu suaminya.
Saat pengucapan janji, Gwen tak di izinkan melihat wajah suaminya karna alasan membawa sial. Dan sekarang adalah kesempatan Gwen untuk melihat calon suaminya.
Tak lama terlihat seorang laki-laki kecil yang masuk ke dalam kereta. Gwen dan laki-laki itu duduk berhadapan.
Gwen menatap intens laki-laki kecil itu, dia sangat imut dan tampan. Pipi chubby, mata biru laut, hidung mungil yang mancung, bibir merah yang imut dan kacamata yang bertengger di pipinya menambah kesan imut pada laki-laki kecil itu. Oh astaga! jangan lupakan pipi yang sedikit kemerahan itu.
Gwen lalu mengalihkan pandangannya ke luar, dia tak pandai membuka topik pembicaraan. Gwen tak bisa.
Laki-laki kecil itu sedikit tersentak kala Gwen mengalihkan pandangannya darinya. Laki-laki kecil itu menunduk, semua orang pasti tak menyukai nya karna wajah nya jelek dan dia memakai kacamata, begitu pikir laki-laki kecil itu.
___
Hidup bersama selama 13 tahun tanpa saling menyapa bukanlah hal mudah, terlebih dengan kecanggungan yang seakan tak ada habisnya.
Gwen dan suaminya hanya bersapa formal beberapa kali, tanpa ada pembahasan dan interaksi lebih lanjut.
Gwen sibuk dengan hobinya melukis, sedangkan suaminya sibuk dengan pekerjaan sebagai penerus duke Antonio.
Hingga rumah tangganya benar-benar seperti di ambang kehancuran. Gwen melihat suaminya tengah berpelukan dengan wanita lain, wanita yang di tolong suaminya beberapa tahun lalu.
Perasaan yang selama ini Gwen pendam seakan menusuk sanubarinya, Gwen berlari meninggalkan pemandangan yang menyesakkan itu. Airmatanya mulai membasahi pipi nya.
Gadis itu berdiri di jendela kastil yang tinggi, menangis tersedu-sedu sambil memaki dirinya sendiri, memaki takdirnya, kenapa dirinya seakan tak berhak bahagia?
"Selamat tinggal Leon."
Ya, Gwen memilih untuk mengakhiri hidupnya. Dia melompat dan menemui ajalnya sesaat setelah terjatuh dari ketinggian.
Tak ada yang tersisa, hanya kenangan pahit itu. Gwen benar-benar sudah pasrah dan putus asa. Namun ternyata dia belum di biarkan untuk menyerah.