Brina kembali tak bisa berfikir. Lamaran pria yang berstatus sebagai karyawannya itu membuatnya sedikit mual. Belum pernah dia mengalami hal yang senekat itu. Selama ini, dia memang menjalin hubungan dengan beberapa orang. Yang lebih dewasa dan sangat hati-hati dalam mengungkapkan semuanya. Tapi Brian membuatnya sangat frustasi. Pria itu mengantarkannya pulang, dan menjemputnya kemarin. Lalu tiba-tiba menghilang lagi dari peredaran. Di kantor setiap bertemu pria itu hanya mengangguk hormat. Tapi sejak pagi tadi, dia mendapat telepon dari Brian yang mengatakan akan datang melamar dengan kedua orang tuanya tepat nanti jam 7 malam.
Bagaimana bisa dia tak merasa panik begitu saja setelah menerima telepon pria yang baru satu minggu ini di kenalnya. Tapi bagaimanapun juga dia harus memberi tahu mama dan papanya. Dan saat dia mengatakan itu, kedua orangtuanya langsung bersorak gembira. Sudah bukan rahasia lagi kalau mama dan papanya selalu memaksanya untuk segera menikah.
“Kamu kok nggak bilang sama Mama kalau punya kekasih, Brin. Tahu gitu Mama nggak usah repot-repot menjodohkan kamu dengan anaknya Tante Melvi, si perwira itu, Brin.” Brina memutar bola mata. Dia sedang membantu mamanya di dapur. Secara mengejutkan sang mama memintanya untuk membantu memasak menyambut kedatangan calon besannya nanti malam.
“Buat apa cerita sama Mama. Yang ada nanti Mama maksa Brina buat bawa ke sini terus.” Brina memasukkan sayur bayam yang baru saja dipetik ke dalam baskom dan mencucinya di wastafel. Sang mama tersenyum sebelum menuang kecap ke atas telur goreng dalam teflon.
“Pasti kali ini sangat tampan dan juga kaya, kan, mengingat kamu menyetujui lamarannya.”
Brina mendesah lalu mematikan kran air. Dia berbalik menghadap sang mama. “Dia karyawanku, Ma dan masih berusia 25 tahun. Nanti Mama sama Papa yang memutuskan sendiri mau menerimanya atau tidak. Brina sudah lelah.”
“Hah? 25 tahun?” Brina melihat sang mama terlihat syok tapi Brina mengangkat bahu, cuek.
“Toh ini hanya lamaran, Mamah Sayang. Terserah mau diterima atau tidak.”
***
Brina merasakan degup jantungnya berdetak begitu cepat. Seperti anak gadis tujuh belas tahun yang mau bertemu dengan kekasih pertamanya. Setelah membuat mamanya terkejut, Brina akhirnya menenggelamkan diri di dalam kamar. Berusaha untuk tak tegang, lucu memang. Harusnya dia menanggapi lamaran Brian ini dengan hati yang tenang. Toh pria itu mungkin hanya main-main dan tak serius. Tapi tetap saja hal itu membuat Brina tak tenang.
“Sabrinaaaaaaaaaaa, pangerannya sudah datang. Cepat turun.” Teriakan sang mama membuat Brina akhirnya menatap cermin yang ada di depannya. Dirinya terlihat cantik. Dengan gaun berwarna peach yang membalut tubuhnya dengan elegan dan sopan. Rambutnya dia biarkan tergerai, lalu wajahnya dia bubuhi make up tipis untuk menyegarkan muka. Menghirup udara sebanyak mungkin, Brina memantapkan hati. Lalu segera beranjak berdiri. “Ingat, Brin, ini hanya permainan.” Dia mengucapkan hal itu untuk membuat dirinya tenang.
“Nah ini dia.” Suara mamanya mampu membuat Brina mengangkat wajah. Dia terkejut mendapati pria yang kini duduk di sofa biru laut di ruang tamu rumahnya. Brian tampak begitu berbeda, dalam balutan kain batik yang senada dengan gaun yang dia kenakan, yaitu warna peach. Rambut Brian terlihat segar dan di wajahnya yang biasa bertengger kacamata, kini terlihat bebas tanpa kacamata.
“Ah cantiknya, Brian, kenapa kamu tidak pernah membawanya ke rumah?” Brina melihat seorang wanita paruh baya yang duduk di sebelah Brian nampak tersenyum kepadanya. Brina sendiri mengangguk sopan lalu segera mengulurkan tangan kepada mama dan papa Brian yang mengapit pria itu, sebelum Brina mengambil duduk di sebelah papanya.
“Maafkan kedatangan kami yang mendadak ini. Tapi putra saya, Febriano Andromeda, mengatakan kalau dia ingin segera melamar Sabrina. Yang tentu saja hal itu langsung membuat kami sebagai kedua orangtuanya merasa senang. Jadi tanpa berbelit-belit lagi, kami atau saya Gunawan, selaku ayah kandung dari Brian, meminta secara resmi, putri bapak yaitu Sabrina berkenan menjadi istri dari Brian.”
Sabrina terhenyak duduk di sebelah sang papa. Udara di sekitarnya terasa begitu sesak. Dia pikir pria itu hanya akan melamarnya, bukan menikah?
Suara tawa langsung terdengar dari sebelahnya, dan saat Brina melirik kepada papanya. Beliau langsung tersenyum senang.
“Tak usah sungkan dan formal begitu. Saya pasti menerima Brian menjadi menantu saya, tapi bagaimanapun juga keputusan terserah kepada mereka. Atau kita berikan waktu kepada mereka untuk berdiskusi?” Sang papa mencondongkan tubuhnya ke depan. Lalu memberi isyarat kepada orangtua Brian yang langsung diangguki antusias oleh mereka berdua. Sabrina tentu saja panik, merasa dia akan ditinggalkan hanya berdua dengan Brian.
“Paaaaaa.” Tapi sudah terlambat dia merengek, karena sang papa sudah merangkul papa Brian dan dilihatnya sang mama malah sudah berlalu begitu saja, berbincang akrab dengan mama Brian. Dan kini yang tertinggal hanya Brian yang terlihat masih tenang-tenang saja tanpa ekspresi.
“Kamu!” Brina menunjuk Brian yang kini tampak tersenyum di depannya.
“Apa istri?”
Amarah Brina langsung menumpuk begitu mendengar panggilan itu. “Kamu jangan lancang ya. Aku belum mengizinkan kamu untuk menikahiku. Dan aku pikir ... ini ....” Brina mengusap pelipisnya. Terlalu gusar dengan sikap bocah yang nekat di depannya ini.
Brian berdiri lalu tanpa menunggu Brina mengucapkan sesuatu, pria itu kini sudah berada persis di sampingnya. Duduk di sofa yang tadi diduduki sang papa. Lalu menarik jemarinya yang berada di pangkuannya.
“Sabrina, calon istriku yang cantik. Aku melamarmu karena aku serius. Dan bagaimanapun juga hal ini tak bisa kita hindari. Orangtuaku sudah setuju denganmu. Dan mungkin orangtuamu juga.”
Brina melepaskan genggaman Brian di tangannya. Lalu mengibaskan tangannya tepat di wajah pria itu. Masih terlalu marah untuk bersikap sopan.
“Aku akan meminta Pak Haris memecatmu. Dan aku tak akan menikah denganmu.”
Brian tampak tersenyum dengan percaya diri, lalu mencondongkan tubuh ke dekatnya. Aroma parfum Brian membuat Brina terkesiap. Lalu tiba-tiba bibir itu menyentuh bibirnya. Mengulaskan ciuman basah dan lembut. Brina terkesiap, tapi kemudian mendengar Brian membisikkan sesuatu yang membuatnya mendidih.
“Kita lihat saja, Sayang.”