Sabrina seharian ini uring-uringan tak jelas. Semua anak buah terkena bentakannya. Tak terkecuali Adi sang office boy yang baru magang di kantornya selama dua minggu ini.
“Kamu itu kalau mau ngerapiin yang bener dong Di. Udah aku bilang kalau beresin arsip itu sesuai abjad jangan amburadul begini.” Brina menatap galak Adi yang kini hanya menunduk ketakutan. Entahlah, semuanya dari pagi sampai sesorean ini tak beres. Hal itu membuat Brina mengusap pelipis.
Kemeja yang dipakainya terasa panas, padahal AC di ruangan menyala. Ditambah pekerjaannya sejak tadi tertunda karena interupsi dari beberapa orang yang meminta parafnya.
“Sudah sana kamu menyingkir. Ingat besok lagi, aku nggak mau lihat kamu begini lagi.” Brina mengibaskan tangan di depan Adi untuk mengusirnya.
“Baik, Bu. Maaf.” Pria itu langsung berpamitan dan segera pergi dari ruangannya. Menghela napas, Brina melihat Ayu yang melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Brin, rileks lah dari tadi kamu marah-marah terus. PMS kamu?” Ayu menyodorkan satu cup kopi hangat yang langsung diterima oleh Brina.
“Enggak tahu deh. Pengennya marah terus.” Brina menyesap kopi itu dan kembali merasakan denyut pada kepalanya. Ini gara-gara bocah songong itu pasti. Bocah yang seenaknya saja mencuri ciuman bibirnya.
Siapa lagi kalau bukan Febriano Andromeda. Pria yang sudah menjadi tunangan resminya. Kemarin malam, dengan santainya setelah menciumnya, Brian tak menampakkan penyesalan. Bahkan saat kedua orangtua mereka kembali ikut bergabung. Brian langsung mengajukan usul kalau dia akan menikahi Brina kurang dari satu bulan ini.
Tentu saja Brina seperti kucing yang diinjak ekornya. Terlalu gusar dengan kesombongan pria itu. Tapi mama dan papa Brina justru menyambut dengan antusias. Dan tak meminta pendapat Brina lagi. Mereka akhirnya sibuk berdiskusi tentang tanggal keramat itu.
“Ada apa sih?” tanya Ayu mengagetkan lamunannya. Brina hanya tersenyum kecut. Belum siap untuk menceritakan semuanya meski itu kepada sahabatnya sendiri.
“Terlalu lelah mungkin, kamu tahu sendiri deadline akhir tahun, Yu.” Brina berbalik dan meletakkan cup kopi itu di atas meja. Lalu merasakan tepukan pada bahunya.
“Santai, Brin, jangan terlalu dipikirin. Kamu ambil cuti aja sana.” Brina hanya tersenyum lagi dan mengerlingkan matanya ke arah Ayu.
“Emang siap aku tinggal? Kemarin aja aku tinggal dua hari kamu ributnya minta ampun.” Dan Brina bisa melihat Ayu langsung menjulurkan lidah.
“Iya deh, Bu Bos. Udah ah mau pulang. Kasihan Bima udah jemput.” Brina hanya menggelengkan kepalanya saat Ayu keluar dari ruangan.
Brina langsung memberesi semuanya. Ingin segera pulang dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Harusnya Senin ini dia akan mengajak bicara empat mata dengan Brian. Tapi bocah songong itu hari ini tidak masuk kerja, membuat Brina uring-uringan ketika mengetahui Brian tak ada. Padahal dia ingin mengembalikan cincin yang diberikan Brian saat Sabtu malam kemarin. Dia tak ingin menikah dengan Brian. Titik.
***
Memasukkan mobilnya ke dalam garasi rumahnya, Brina sempat mengernyit sekilas saat melihat ada mobil Pajero Hitam ada di pekarangan rumahnya. Dia tak mengenali mobil itu, atau tamu dari papanya?
Brina menarik tasnya dan kini keluar dari mobil setelah memarkir mobilnya. Melepas high heels yang dipakainya dan terasa menyiksa kaki itu. Lalu berbelok ke kanan dan langsung menuju teras depan rumahnya.
“Nah yang ditunggu baru datang. Brin dicariin mantu Mamah, loh.” Brina menghentikan langkahnya saat melihat Brian dan mamanya sudah duduk manis di sofa yang ada di teras depan rumah.
Pria itu nampak tersenyum ketika melihatnya. Emosi Brina langsung naik.
“Kamu!” Brina menunjuk Brian dengan sepatu yang di tentengnya itu. Tapi pria itu langsung beranjak berdiri dan melangkah mendekatinya.
“Brin, kamu itu tak sopan. Nak Brian, Mama tinggal ke dalam ya. Sana boleh kok kalau Brina mau dibawa ke butik sekarang.” Brina hanya melotot saat sang mama tersenyum menggoda dan langsung masuk ke dalam rumah.
“Aku mau masuk. Kamu ngapain ke sini? Bukannya kamu nggak masuk kerja tadi? Aku bisa memberimu SP karena membolos.” Kali ini pria itu malah menyeringai ke arahnya. Lalu bersedekap dan menatapnya.
“Aku udah izin kok sama Pak Hasan. Dan sebenarnya aku ambil cuti tahunan sih. Untuk mengurus pernikahan kita.”
Brina mendengus mendengar ucapan Brian. Dia tak suka pria itu begitu berkuasa kepadanya.
“Maksudmu apa? Siapa yang setuju menikah sama kamu?” Brina kini melemparkan sepatunya ke sembarang tempat dan berkacak pinggang.
Tapi Brian malah membungkuk dan memungut sepatu Brina. Lalu meletakkannya di tempat sepatu yang ada di teras rumah. Merasa tak suka, Brina melangkah menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana. Kepalanya makin berdenyut dan telapak kakinya terasa sakit.
“Kamu kenapa? Sakit?” Tiba-tiba usapan lembut pada rambutnya terasa, membuat Brina terkejut. Tapi langsung beringsut dan menatap tajam Brian yang sudah berdiri menjulang di depannya.
“Jangan ngelunjak, ya. Aku ini lebih tua lima tahun dari kamu. Nggak usah sok-sok perhatian. Itu namanya kurang ajar.”
Brina menatap galak Brian yang tampak tak bersalah. Bahkan kini berlutut di depannya dan menarik pergelangan kaki Brina, membuat Brina menjerit histeris.
“Heh, tak sopan. Lepaskan!” Brina memberontak, tapi kemudian dia merasakan pijatan pada telapak kakinya, membuat Brina membelalak terkejut. Tapi rasa nyaman itu langsung menguasainya.
Brian tersenyum di depannya lalu mengusap lembut pipinya dengan jari tangan.
“Aku akan menyembuhkannya.”