BAB 04 WILL YOU?

1100 Words
Brina benar-benar merasa kesal dengan pria songong yang ada di depannya. Walaupun sebenarnya tadi Brian sempat menyembuhkan rasa sakit di kakinya dengan pijatan tangannya, tapi tetap saja pria itu kembali songsong dengan memaksanya ikut ke butik untuk fitting gaun pengantin. Brina tentu saja menolak, tapi karena paksaan mamanya, dia pun dengan terpaksa menurut. Tidak mau mendengar rentetan bujukan sang mama yang akan memusingkan kepalanya. Lalu, sekarang, laki-laki itu justru membuatnya kesal kembali, dengan sikap Brian yang sejak tadi menyuruhnya bergonta-ganti gaun pengantin. Layaknya model yang akan memperagakan busana di atas catwalk. Brina melotot pada Brian yang untuk kesekian kalinya menggeleng, tidak suka dengan gaun yang melekat di tubuhnya saat ini. “Duh, Rian, ini udah gaun keenam Tante, loh. Khusus sesuai keinginanmu yang kemarin lusa kamu telepon itu. Warnanya juga udah Tante lengkapin. Dari baby blue sampe biru navy.” Brina menoleh ke arah Tante Nency yang diperkenalkan Brian sebagai pemilik butik ini. Wanita yang sangat cantik dan seksi di usia yang tak muda lagi itu. “Ck, Tante, semua ini, kan, Brian juga yang bayar. Tapi kok sepertinya semua terbuka itu di bagian ininya.” Brina langsung membelalak lagi saat Brian dengan sikap cueknya memperagakan dengan tangannya untuk menggambarkan sebuah p******a. Tentu saja Brina kali ini makin memerah wajahnya. Tapi saat Brina menunduk dan menatap belahan dadanya yang memang terlihat sangat menonjol, sontak Brina langsung menutupi dengan kedua tangannya. Tante Nency tergelak begitu melihat Brina yang tampak malu. Lalu menghampirinya dan menepuk bahunya dengan lembut. “Nggak usah malu, toh punyamu itu memang gede, Bri ... salah satu yang Rian suka, tuh.” Tante Nency makin membuat Brina merasa wajahnya seperti kepiting rebus saat ini. Panas dan juga merah. “Tante, itu yang boleh liat sama menikmatinya cuma Brian, nggak boleh ada yang lain. Titik.” Suara tegas Brian membuat Brina kini segera menghambur lagi masuk ke dalam kamar pas. Sudah cukup Brian mempermalukannya. Tapi belum sempat dia membuka kancing gaun itu tiba-tiba pintu kamar pas sudah terbuka dan sosok Brian yang berdiri di depannya membuat sesak kamar pas yang sempit itu. “Astaga! Apa yang kau lakukan?” Brina langsung mendorong tubuh tegap Brian tapi pria itu justru bersedekap dan menutupi jalan untuk keluar. Tentu saja Brina sangat panik. Bagaimana bisa Brian dengan begitu cueknya ikut masuk ke dalam kamar pas? “Keluar!” Brina membentak dan kali ini amarahnya sudah tak bisa dibendung lagi. Bocah di depannya ini sudah begitu lancang. Brian mengangkat tangan lalu menyentuh rambut Brina yang tergerai panjang sebahu, menutupi leher jenjangnya, dan Brian menyentuh sisi kanan rambut Brina lalu menyibakkannya ke samin membuat lehernya terpampang dengan jelas di depan Brian. Dengan gaun model Sabrina di mana potongan lehernya lebar sampai ke bahu, otomatis membuat leher Brina terekspos dengan jelas di hadapan Brian. “Ma-mau apa kamu?” Brina agak gugup dengan sikap Brian yang tampak mengintimidasi. Nadi di lehernya berdenyut begitu kuat dan dia menelan ludah dengan susah payah. Entah kenapa kamar pas itu terasa begitu panas. Brina merasa keringat sudah akan menetes dari kening. “Kamu cantik.” Ucapan Brian membuat Brina menatap Brian dengan bingung. Dari semua pikiran yang terlintas di benaknya dia benar-benar tak menyangka Brian akan mengatakan itu. “Cantik dan juga seksi. Aku sudah tidak tahan.” Dan bersamaan dengan itu, kecupan basah dan hangat mendarat di cuping telinganya, membuat Brina seketika seperti dialiri ribuan listrik bertegangan tinggi. Tubuhnya memanas dan dia tak bisa bergerak. “Aku menunggumu di luar.” Brina masih kehilangan orientasinya saat tiba-tiba pintu terbuka dan Brian menghilang dari depannya. Merasa tubuhnya limbung akan sensasi yang membingungkan itu, Brina mencoba bersandar di dinding kamar pas yang sempit. Napasnya memburu dan jantungnya berdegup begitu kencang. Meraba cuping telinganya yang masih menyisakan gelenyar panas, untuk sesaat Brina masih meresapi rasa yang baru saja ditinggalkan Brian. *** “Aku sudah belikan semua gaun yang kamu pilih. Tapi, aku pikir kamu lebih cocok pakai yang warna Fushia, pas dengan kulit putihmu. And well ... nggak akan memperlihatkan ehm ‘itu’mu yang besar.” Brina menatap tajam Brian. Mereka tengah makan di restoran masakan Sunda selepas dari butik Tante Nency. “Jangan kurang ajar, ya. Kamu sudah buat aku malu di depan Tante Nency.” Brina menyeruput jus jeruknya lalu mengamati Brian yang tengah menyantap karedok dengan lahap. Padahal baru saja pria itu menghabiskan ayam bakar dan juga ikan kakap bakar yang membuat Brina sudah merasa kenyang hanya dengan melihatnya saja. “Apa istri? Kenapa harus malu, Tante Nency itu tanteku sendiri kok, yang pastinya akan jadi tantemu nanti, jadi tenang aja nggak usah sungkan gitu.” Brina mencibir mendengar ucapan Brian. Lalu melirik tas-tas yang bertuliskan nama butik Tante Nency. “Jadi karena dia tantemu kamu seenaknya saja mengambil gaun itu sebegitu banyaknya?” Brina menunjuk tas-tas yang ada di bawah kursi mereka. Brian hanya mengangguk acuh dan mengunyah makanannya lagi. “Tenang aja, itu semua aku yang bayar, kok. Spesial buat kamu,” jawab Brian masih dengan nada sombong. Alis Brina mengerut. “Sebanyak itu? Dan itu mahal-mahal, loh. Kenapa kamu menghabiskan uang sebanyak itu? Bukankah satu saja sudah cukup? Ini kenapa ada enam gaun pengantin?” Brina masih tak habis pikir dengan jalan pikiran bocah tengil di depannya ini. Yang kini malah menyeringai dengan lebar. “Semua itu setimpal untuk wanita teristimewa.” *** Semalam, Brina tidak bisa tidur. Paginya kacau, kepalanya berdenyut nyeri mendengar teriakan sang mama yang mengatakan kalau dirinya terlambat bekerja. Dalam hati, Brina merutuki Brian yang menjadi sumber kekacauan paginya. Gara-gara pria itu yang memaksanya menonton midnight movie di bioskop yang mereka lewati setelah makan malam, dia jadi bangun kesiangan. Belum lagi perlakuan Brian yang begitu manis padanya semalam ketika dia turun dari mobil dan laki-laki itu mencuri ciuman dari bibirnya, membuat pikirannya tak berhenti memikirkan tingkah bocah tengil itu. Brina memasuki lobby kantor dengan santai seperti tak ada apa-apa. Muka kacau tanpa make up seperti lipstik, maskara, eyeliner, eyeshadow, dia abaikan. Tidak dia hiraukan tatapan orang-orang yang mengernyitkan alis ketika bertatap muka dengannya. Dia masih berjalan tegak menuju lantai ruangannya berada. Tapi, berhenti ketika keanehan semakin terasa. Para karyawan tidak hanya mengernyitkan alis, tapi juga tersenyum, bahkan ada yang secara terang-terangan mengucapkan selamat padanya. Merasa tak ada yang spesial dengan hari ini, Brina bertanya-tanya dalam hati. Dan pertanyaannya itu terjawab ketika dia berbelok ke arah ruang tempat di mana karyawan mendapat informasi dan bahan bacaan. Jeritan keras memekakkan telinga terdengar, membuat Brina bergegas membaca pengumuman apa yang membuat mereka heboh. “SABRINA WILL YOU MARRY ME?” Mata Brina membulat membaca tulisan besar yang tertempel di etalase kaca. Seketika kepalanya kembali berdenyut nyeri. Dia tahu siapa pelaku kekacauan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD