Brian tersenyum sendiri saat merasakan bibir Brina mengecup pipinya. Tubuhnya Bahkan sangat gemetar karena tak menyangka Brina, wanita yang menjadi impiannya itu menciumnya. Memang dia pernah mencium bibir ranum milik Brina tapi itu kan dia yang mencium. Bukan atas kemauan Brina sendiri. Dan itu rasanya spektakuler untuk dirinya. Kalau Brina sudah berani menciumnya berarti wanita itu sudah bisa menerimanya, kan? Masih terbayang di benak Brian bagaimana wanita itu dulu menolaknya. Benar-benar tak menerima kehadirannya sepuluh tahun yang lalu. Tapi toh dia juga masih bocah saat itu. Meski saat ini hatinya menghangat, tapi masih ada yang mengganjal karena Rani belum bisa ditemukan. Gadis itu selalu membuat kepalanya pening bila memberontak seperti ini. Dia sudah menganggap Rani seperti adik

