Brian hanya menatap dalam diam Brina yang masih menanti jawabannya. Dia belum siap membuka semuanya, mengenai jati dirinya, meski dia yakin betul saat seperti ini pasti akan segera tiba. Jika bukan hari ini, mungkin besok, lusa, atau entah kapan. Dia tatap wanita yang sudah jadi impiannya sejak lama. Mengamati Brina yang nampak begitu cantik, dengan bibir merah alaminya, mata bulat yang cantik, alis mata yang tebal, serta bulu mata yang tak kalah lentik itu. Rasanya Brian ingin berteriak sekuat tenaga, tak percaya jika wanita sempurna di hadapannya saat ini benar-benar sudah sah menjadi istrinya. “Tuh, kan bengong. Kamu itu tiap kali ditanya soal jati diri atau sejak kapan mengenalku, pasti akhirnya seperti ini. Kalau nggak bengong kayak gini, ya pasti mengalihkan pembicaraan seperti bias

