Brina menahan napas saat menunggu jawaban dari Brian. Dia memang harus tahu sepenuhnya siapa Brian yang membuat kepalanya pening sejak pertemuan pertama mereka. Dia tidak mau seperti membeli kucing dalam karung. Harus tahu jati diri pria yang sudah menikahinya itu. Tapi laki-laki itu selalu menghindar dari pertanyaannya mengenai identitasnya, seperti sekarang ini ketika Brina melihat tatapan dan gerak tubuh suaminya. “Sayang, kamu tanya apa, sih? Aku ini Brian. Karyawan kamu. Bukan orang lain.” Brina menggeleng untuk kesekian kalinya. Tangannya terangkat dan mengibas di udara. Menghentikan apa pun yang akan dikatakan Brian. Dia sudah lelah dengan permainan laki-laki depannya. “Terserah apa katamu, tapi aku nggak akan percaya sedikit pun dengan omong kosongmu. Nggak akan pernah!” Bri

