Athar mengerutkan hidung dari balik buku kedokteran yang dibaca. “Aku ingat bulan lalu Kakak galau nyari kerja. Sekarang, Kakak mau jadi pengantin. Hidup Kakak nggak tertata banget,” kata Athar. Vhiya menempeleng kepala Athar. “Enak saja kamu nyebut hidup Kakak nggak tertata? Takdir yang menuntun Kakak, adik kecil. Kuliah aja yang benar, terus jadi dokter. Kakak itu cewek dan perlu suami. Kamu cowok dan terbebas dari tekanan umur produktif.” “Harusnya Kakak jadi dokter dan bukan ambil jurusan bisnis.” Athar mengelus kepalanya yang terkena kesadisan Vhiya. “Mana baju pengantinnya? Kakak paksa aku ke sini untuk pamer baju pengantin, kan? Cepat deh.” Vhiya melotot dan Athar pura-pura tidak melihat. Seorang perempuan datang menyapa. Pada lehernya menggantung tali pengukur. “Ini adik saya,

