“Vhiya.” “Vhiya.” Aku terbangun. Mataku perlu waktu menyesuaikan pencahayaan ruangan. Deva menatapku khawatir. “Ada apa?” tanyaku sambil mendudukan badan. “Kamu mengigau dan mengerang. Kamu mimpi buruk?” Deva membantu menatap bantal di belakang punggungku. Kami sudah tinggal bersama selama sebulan dan aku tidak heran menemukan dia berada di ranjangku. Aku melirik jam dinding dan terkejut menemukan pukul setengah tujuh. Deva biasa berangkat kerja pukul enam untuk menghindari kemacetan. “Kamu nggak pergi kerja?” Aku memindai penampilan Deva yang rapi. Tidak mungkin dia tidak kerja dalam setelan ini. “Aku mau kerja, tapi kamu belum bangun.” “Tinggal tulis post it,” kataku enteng. “Dan meninggalkan kamu mimpi buruk? Nggak akan!” Deva membuatku tertawa. Aku mengamati gerak-geriknya sel

