6

1106 Words
Sudah sebulan sejak kabar pertunangan Pepep dan Deva tersebar di kampus. Banyak mahasiswi yang diam-diam menyukai Deva merasa patah hati. Para penggemar Deva bahkan ada yang dengan terang-terangan menyatakan ketidaksetujuannya pada pertunangan Deva dan Pepep. Mahasiswa yang naksir Pepep membuat taruhan, langgeng tidaknya hubungan mereka sampai pernikahan. Hanya Admiral yang memanfaatkan momen patah hatinya sebagai ajang melarikan diri. Pelarian diri Admiral tidak pernah jauh dari Vhiya. Dan selalu berakhir di belakang gedung kampus pada saat matahari akan terbenam. Dinaungi langit senja yang eksotis, Admiral duduk di sebelah Vhiya. “Kalo mau nangis, ntar aja di rumah lo. Gue nggak sedia tisu ato sapu tangan,” sindir Vhiya yang melihat gelagat Admiral ingin curhat. “Kejam banget. Gue kan belom cerita.” “Nggak usah. Gue udah tau tadi Deva dibawain bekal sama Pepep. Kalo lo mau bekal, ntar gue bawain.” “Ogah makanan bikinan lo. Nggak enak.” Admiral menatap horor atas tawaran Vhiya. “Ntar gue minta adek gue yang masak.” Vhiya menjawab kekhawatiran Admiral dengan enteng. Masakannya pernah kena cela Admiral karena salah menakar garam dan menyebabkan rasa masakannya seperti dimasak menggunakan air laut. “Adek lo yang cowok, kenapa lebih terampil urusan rumah tangga sih? Lo ketuker ya kelaminnya sama adek lo?” Admiral menyipitkan mata pada Vhiya. “Sialan, kagaklah. Cewek asli gue.” Vhiya berdiri, menepuk-nepuk pantatnya dari debu  yang menempel. Dia mencangklongkan tas selempangnya ke bahu. “Gue balik duluan ya Bang, Ciao.” Admiral hanya melambai sebentar lalu kembali menikmati rokoknya yang tinggal setengah. Ditemani sebungkus rokok dan kopi yang menjadi cemilan wajib tiap sore dan dibumbui celotehan judes Vhiya malah menambah nikmat hari-harinya di tahun terakhir. Setahun belakangan, Admiral selalu berpikir kenapa bukan Vhiya saja perempuan yang dia suka. Vhiya mungkin tidak secantik dan sepintar Pepep, namun Vhiya punya aura kecantikannya sendiri. Ya, meski Vhiya bukan sosok lemah lembut. Vhiya sangat tangguh menghadapi kesulitan ekonomi keluarganya sejak kedua orangtuanya meninggal. Hal yang sangat membanggakan, menurut Admiral. Sayangnya hatinya masih berputar pada Pepep. Dia tidak akan menawarkan hubungan semu pada perempuan lain jika hatinya masih terpatri nama Penelophe. Vhiya berjalan ke arah parkiran. Dia tidak datang untuk mengambil kendaraannya. Malahan, dia tidak punya kendaraan. Setiap hari dia berjuang di dalam kopaja untuk mencapai kampus. Sesekali Admiral akan mengantarnya pulang. Kali ini dia ke sini karena ada maksud yang lain. Di kejauhan, ada segerombolan pemuda berjalan ke deretan mobil yang terparkir. “Dev,” panggil Vhiya pada pemuda yang memakai kaos putih. “Oh, hai, Vhi. Mau pulang?” Deva menyapanya ramah. Deva memang selalu ramah pada siapa pun. Faktor yang memudahkan perempuan jatuh cinta padanya, selain ketampanan dan kekayaannya. “Itu, Dev. Lo mau langsung balik nggak?” tanya Vhiya agak ragu. “Iya. Kenapa?” “Gue nebeng sampe depan kompleks rumah lo ya,” pinta Vhiya memelas. “Oh, lo mau ke tempat kerja lo?” Vhiya pernah satu kali bertemu Deva di depan kompleks perumahan Deva. Saat itu, Vhiya baru saja pulang dari bekerja membantu pembukaan cabang rumah makan angkringan baru milik bosnya. Deva yang pertama memanggilnya. Vhiya jelas tidak akan tahu siapa yang mengemudi di balik sedan berkaca gelap itu jika Deva tidak menurunkan kaca jendelanya. Vhiya terkejut mendengar Deva memanggil namanya. Vhiya bukan golongan gadis populer dan mustahil dikenal seorang bintang kampus, “Iya, Dev. Boleh nggak?” Vhiya gelisah. Dia tidak biasa meminta bantuan orang, kecuali Admiral. “Boleh. Yuk,” jawab Deva. Vhiya masuk ke kursi penumpang di sebelah pengemudi. Matanya sesekali melirik Deva yang sudah melajukan mobilnya ke jalan raya. “Dev.” “Hmm.” “Ini gue nebeng, nggak akan bikin Pepep cemburu kan?” Dahi Deva mengerut. Dia melirik Vhiya lalu balik fokus ke depan. “Kok bisa cemburu?” “Ya, namanya cewek. Nggak mau lihat cowoknya deket sama cewek lain.” “Nggak kayaknya. Gue kan cuma ngantarin lo aja. Dia kan tau lo deket sama Bang Admiral.” “Lo nggak masalah Admiral deket sama Pepep?” Vhiya bertanya lagi. Kedua alisnya yang naik sarat akan kesan nakal. “Hmm, lo kali yang cemburu liat Bang Admiral deket sama Pepep.” “Serius. Admiral suka sama Pepep kan udah bukan kabar baru. Lo nggak khawatir Pepep akhirnya suka balik sama Admiral?” Pertanyaan Vhiya sangat berbahaya, tapi dia tidak mungkin melepaskan kesempatan mereka berdua untuk bertanya. “Nggak. Gue percaya sama Pepep,” jawab Deva enteng. “Kalo Pepep percaya nggak sama lo?” “Gue selalu mengusahakan menjaga kepercayaan Pepep. Kenapa nanya gitu? Kalo mau curhat soal Bang Admiral, terbuka aja, Vhi.” Deva menoleh pada Vhiya saat mobil berhenti di lampu merah. “Kok Admiral?” Vhiya mengangkat kedua alis. “Bukannya lo ada apa-apanya sama Bang Admiral?” Deva bertanya dengan menyelipkan nada geli. “Kok gue?” “Loh, semua bilang gitu. Lo nempelin Bang Admiral mulu.” Deva kembali menjalankan mobil. “Idih, mana sudi gue nempelin Admiral. Yang ada, dia tuh yang ngerengek ngikutin gue mulu.” Deva terkekeh. “Gue dengarnya lo suka sama Admiral,” kata Deva lagi. “Gosip nggak bener tuh.” Vhiya memberengut tidak suka. Bukan baru kali ini dia tidak tahu gosip itu. “Beneran lo nggak ada apa-apanya sama Bang Admiral. Kalian deket banget. Temen gue yang naksir lo aja pada mundur karena nggak berani dibandingkan sama Bang Admiral.” “Admiral baik. Dia yang setia nemenin gue pas orang tua gue meninggal. Gue sama dia murni temenan.” “Dia baik banget, ya?” Vhiya mengangguk dan berkata, “Makanya, ikhlasin Pepep buat Admiral.” “Kenapa gue harus ikhlasin Pepep? Sejak awal Pepep bukan barang yang bisa dipindah tangan. Dia sendiri yang milih bertahan sama gue setelah kita berkali-kali putus nyambung.” Deva sedikit tersulut. “Lo cinta banget sama Pepep?” tanya Vhiya polos. “Menurut lo, kenapa gue sampai berani ajak tunangan Pepep kalo bukan karena cinta?” Deva melirik Vhiya sekilas. “Nyaman, barangkali. Malas cari pacar baru.” “Lo tuh skeptis ya Vhi.” “Gue itu realistis.” “Kalo gitu belajar membuka diri buat kenal cinta.” “Lo mau bantu gue?” goda Vhiya sambil menyipitkan mata. “Tentu aja kalo gue bisa.” “Gue pegang ya omongan lo.” Vhiya menunjuk wajah Deva seperti orang mengancam. Deva hanya mengangguk sambil tersenyum. Menurutnya, Vhiya tidak seperti yang diceritakan teman-temannya. “Hore! Gue punya teman baru. Gue mau meninggalkan Admiral. Bikin gue susah dapat pacar gara-gara dia nempelin gue terus.” Deva tertawa terbahak-bahak. Tingkah Vhiya yang seperti bocah diberikan lolipop sangat menggemaskan. Rasanya, dia tidak akan bosan bersama Vhiya. Mungkin itu juga alasan Admiral mau berteman bersama Vhiya, pikirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD